EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 333


__ADS_3

...


“Ada apa??” ekspresi wajah Bayu kaget dan khawatir melihatku.


“…aku ingin muntah—huft.” Ini adalah pertama kalinya rasa mual terjadi setelah dokter mengatakan tentang kehamilanku.


Aku langsung berdiri, sebelah tangan menarik tangan Bayu dengan maksud agar menemaniku ke toilet bandara.


Sesaat Bayu bingung dan bengong menatapku, itu terlihat lucu, tapi dia tidak menolak saat aku mengajaknya berlari mencari toilet.


“Icha? Bayu? Ada apa?” Aku mendengar suara teriakan bunda yang khawatir saat berlari menjauhi mereka.


“Toilet!...Kalian, ikut!” Bayu setengah berteriak menjawab sekaligus memerintah pada 4 orang yang menjaga kami. 3 dari mereka mengikuti kami.


Aku menggeleng, berusaha menahan sesuatu yang sudah ada di ujung tenggorokkan, sembari mencari papan bertuliskan toilet, Bayu membantuku menemukan arah. Dia menarikku menuju arah toilet.


Begitu sampai di depan toilet wanita, Bayu membiarkan ku masuk sendiri, lalu dia meminta Lucy untuk mengikutiku ke dalam.


Sesuatu yang sejak tadi tertahan di ujung tenggorokkan, langsung keluar begitu aku sudah ada di dalam bilik toilet.


“Nyonya, anda tidak apa-apa?” terdengar ketukan pelan dari Lucy. Aku tidak menjawabnya sekaligus, hanya berharap rasa mual ini cepat berlalu.


Begitu di rasa tidak lagi yang harus keluar dari tenggorokkan, aku membuka pintu bilik toilet dan melangkah keluar.


Lucy yang menunggu sejak tadi masih menatapku dengan ekspresi khawatir. Dia tidak lagi bertanya seiring dengan aku yang ada di depan wastafel untuk mencuci mulut dan tangan.


Ketika aku keluar, Bayu yang menunggu bersama 2 orang pengawal langsung menghampiriku. Ekspresinya khawatir namun dia tidak mengatakan apa-apa selain meraih tanganku sembari memperhatikan wajahku.


“Ayo kembali.” Kataku mengeratkan genggamannya, dengan kepadatan di bandara, Bayu mengangguk sebelum menarikku berjalan di sampingnya.


Kepadatan arus orang-orang di bandara membuat penjagaan 3 orang yang mengawal kami semakin dekat. Langkah orang yang terburu-buru hingga menabrak bahu lain semakin di waspadai oleh Bayu. Aku bisa merasakan genggamannya di tanganku semakin kuat.


Adegan saat ada terror bom palsu di gedung apartemen berputar jelas di ingatanku, mungkin Bayu juga mengingat hal yang sama seperti ku.

__ADS_1


Ketika pikiran itu baru terlintas, suara jeritan tak jauh di depan kami seolah memukul kesadaranku dengan keras.


Sial!


Tidak lagi!


“Lanjutkan rencananya.” Itu suara Bayu, dia tiba-tiba saja memberi perintah pada 3 orang yang mengawal kami.


Mereka semua mengangguk, bahkan aura Lucy berubah menjadi mode tentaranya. Aku menatap mereka yang berlari menjauh dari kami sementara jeritan masih terdengar tak jauh di depan kerumanan, orang-orang yang mulai berlarian membuatku gugup.


“Apa? Apa kau merencanakan sesuatu?” Aku penasaran, mendongaknya tapi Bayu menarikku untuk berbalik dan ikut berlari mengikuti arus orang-orang yang juga mulai berlarian.


Namun baru saja kami berlari sepanjang lima meter, Bayu menghentikan langkah kami dan melirikku dengan cepat. “Apa?”


Tiba-tiba Bayu mengangkat, menggendongku ala putri yang membuatku semakin heran, “apa yang kau lakukan?”


“Kamu tidak boleh lari! Aku akan menggendongmu.”


“Hah! Apa yang—” namun aku belum bisa menyelesaikan kalimatku karena Bayu sekarang berjalan cepat sembari menggendongku.


“Ap—siapa mereka? Jangan bilang mereka—”


‘Orang-orang yang terlibat dengan Wendy?’ aku tidak meneruskan kalimat, hanya menduganya dalam hati.


Bayu tidak menjawab, dia seolah fokus untuk membawaku ke tempat aman sampai kami belok ke area mini market kecil yang ada di bandara. Dia masuk begitu saja menuju pintu khusus karyawan, mengabaikan tatapan orang-orang yang sempat melihat kami dan di sambut oleh pria yang memakai pakaian serba hitam dan helm serta masker hitam, pria itu membuka pintu yang bertuliskan staff only agar Bayu yang menggendongku bisa masuk ke dalam tanpa terhambat.


Aku yang masih berusaha memproses semua ini, tak sadar kalau kami sudah sampai ke tujuan. Bayu menurunkan ku di sudut ruangan itu, pria yang tadi membuka kan pintu berjaga di sana, lengkap dengan senjata api di tangannya.


“Kamu harus tunggu di sini, tunggu sampai bunda datang maka kalian akan pergi ke terminal bersama. Dika sudah menunggu di sana. Mengerti?” Bayu menatapku serius, meski perkataannya cepat dan setengah berbisik, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas


“Kamu akan kemana?” Jantungku berdetak kencang karena suasana ini memacu ardenalinku. Tanganku menggangam erat tangannya, ingin menahannya tapi Bayu melepaskan genggaman kami untuk menangkup wajahku.


“Misi terakhir ini untuk menangkap Wendy sampai akar-akarnya. Ini akan segera berakhir, bersabarlah sebentar lagi. Setelah ini kita akan hidup dengan tenang.” Rasanya jantungku seperti naik ke tenggorokkan, aku tidak siap mendengar bagaimana Bayu menjawab tentang kata terakhir.

__ADS_1


“Aku selalu mencintaimu, sejak dulu, sekarang dan yang akan datang, aku akan selalu mencintaimu.”


“A—apa yang kamu katakan!” Pernyataan cintanya yang mendadak membuatku marah.


Keringat membasahi telapak tanganku, aku menatapnya hingga rasanya ingin menangis. Tidak ada yang tahu masa depan. Firasatku mengatakan misi ini ada di skala yang berbeda, jauh lebih besar di bandingkan dengan kasus di desa.


“Pak… kita harus cepat.” Suara pria asing yang menjaga pintu menginterupsi pikiranku.


Semuanya terjadi begitu cepat, aku tidak ingat apa yang di katakan Bayu setelah itu, dia hanya menatapku dengan lembut, mengecup keningku penuh kasih sayang sebelum melepaskannya, lalu tubuhnya berbalik menuju anggota tim nya, tidak berbalik lagi sampai dia menghilang di balik pintu.


Suara teriakkan orang-orang di luar ruangan ini seolah menjadi musik latar yang menyeramkan. Mataku masih menatap pintu tertutup itu, jantung yang berdetak cepat membuat dadaku sakit.


Aku ingin mengejarnya keluar, tapi tidak ingin membantah permintaannya yang tidak ingin aku keluar dari ruangan ini. Tanganku bergetar pelan, aku memejam mata, mengontrol napasku yang terasa sesak.


Aku harus tenang.


Aku harus lebih kuat.


Aku harus percaya padanya, menunggu adalah peranku. Aku tidak bisa mengacaukan misi yang mungkin sudah di rencanakan sejak lama.


Tarik napas… lalu keluarkan…


Aku terus melakukan itu untuk lebih tenang dan berpikir jernih. Tubuhku sekarang bukan hanya milikku sendiri, ada kehidupan lain di dalam perutku. Aku harus menjaganya juga seperti bagaimana Bayu menjagaku.


Baiklah, kalau seperti ini yang harus aku lakukan sekarang adalah menuruti rencana Bayu. Aku harus menunggu bunda datang agar kami bisa segera menuju terminal.


Semua akan baik-baik saja.


Benar, ini yang terakhir.


...


Sampai jumpa hari senin, :)

__ADS_1


**:***


__ADS_2