EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 34


__ADS_3

...


 


Lelaki ini mengangguk melirikku sekilas dan kembali melihat pertarungan di hadapan kami. “Dia masih muda dan dia baik dalam segala hal. Bayu bisa melihat dan memanfaatkan kemampuan anggota timnya dengan baik. Dia juga baik dalam strategi. Terlebih instingnya sangat tajam. Maka dari itu orang-orang memanggilnya sebagai alpa.”


Aku melirik sekilas Bayu yang tampak tenang dengan dua penjahat itu sudah tersungkur kesakitan. “Dia tidak banyak bicara, tapi dia juga bukan orang yang memiliki sifat dingin. Dia hanya lelaki muda normal yang selama ini merindukan pacarnya.”


Dokter Stefan melirikku sedikit menggoda. Aku pura-pura mengabaikan ucapannya sambil menyentuh kedua pipiku.


Rasanya hangat dan jantungku berdetak kencang. Sekarang aku gugup.


Kemudian terdengar suara tepuk tangan diiringi sorakan. Aku berbalik melihat apa yang terjadi, Bayu sedang berjalan menghampiriku dengan di belakangnya dua penjahat itu tampak berusaha menarik napas. Tidak banyak memar di wajah penjahat itu bahkan aku tidak melihat pertumpahan darah di sana.


“Dasar bocah sombong! Kamu tidak melihat pacarmu ini enggan melihatmu berkelahi!” Dokter Stefan mengomeli Bayu untuk mewakiliku.


Aku mengangguk menyetujui ucapannya. Bayu justru tersenyum sambil menepuk puncak kepalaku. Keringat tampak menetes di sisi wajahnya tapi napasnya tampak normal. Benar-benar sulit di percaya!


“Dok, aku hanya sedang kesal saja. Lagi pula sudah dua hari ini aku tidak latihan. Tubuhku sedikit kaku.” Kilah


Bayu tersenyum senang menatap Dokter Stefan.


“Ada apa kamu memanggilku kesini? Aku ini dokter yang sibuk!”


“Ah ya ini.” Bayu langsung mengeluarkan suntikan yang tadi sempat berebut denganku.


“Ini suntikan dari Rey. Dia lagi-lagi mengincar Icha, mengancamnya untuk menyuntikkan ini. Tolong periksa isinya.”


Ucapan Bayu membuat dokter Stefan refleks melirikku.


“Dan kamu akan menyuntikkan ini pada tubuhmu?” Tanyanya tidak percaya. Aku hanya tersenyum kikuk tidak membantah.


“Boleh aku menjitak kepalanya?” Tanyanya pada Bayu. Cepat-cepat aku berdiri di belakang punggung Bayu, sembari terkekeh pelan untuk menghindarinya.


“Tidak dok! Hanya aku yang akan menjitak kepalanya!”


“Hei! Kepalaku bukan kelereng! Kenapa kalian ingin sekali menjitak kepalaku?” Aku bergumam protes yang justru di sambut gelak tawa dua lelaki ini.


.


..


...


Hari ini adalah hari minggu. Aku yang biasa malas-malasan sambil menonton drama harus terganggu saat Daniel


datang dengan wajah cemberutnya.


“Ada apa? Dari tadi kamu diam aja.” Aku meletakkan jus jeruk dingin di hadapannya. Dengan sekali minum Daniel sudah menghabiskan semuanya dalam hitungan detik.


Sudah lima menit dia masih diam tidak ingin menjawab. “Apa ini ada hubungannya dengan ibu?” Tebakku.

__ADS_1


Daniel tiba-tiba menatapku tajam lalu menjawab. “Lusa kemaren ayah datang ke sini ‘kan? Kenapa Kakak tidak


memberitahuku?! Aku ingin bertemu dengannya!”


“Dia hanya datang sebentar.” Mengingat sebenarnya ayah ada maksud tertentu datang ke sini membuat hatiku tiba-tiba sakit. Ingin rasanya aku menghilangkan ingatan tentang percakapan ayah dan ibu di telpon.


“Tapi setidaknya aku ingin bertemu dengannya! Kakak tahu, aku juga merindukannya sama seperti kakak merindukan ayah!”


Aku terdiam mentap Daniel. Memang benar, anak ini belum pernah bertemu ayahnya sejak kecil. Bahkan mungkin tidak pernah mengenalnya.


“Nanti kalau ayah ke sini lagi, kakak akan memintanya menemuimu.”


“Janji?”


“Hmm…” Sekarang aku bisa melihat senyum lebar anak ini. Dia tampak puas dengan janjiku.


Perhatian kami teralih ketika mendengar suara ketukan pintu. Aku yang sudah menduga siapa yang datang segera


berlari kecil untuk membukanya.


“Kau terlambat!” Protesku.


Sebenarnya perutku terlalu lapar menunggunya karena Bayu berjanji akan membeli nasi kari dan ayam sambal matah.


“Kau protes aku terlambat datang atau karena makanannya terlambat datang?”


“Dua-duanya. Hehehe.” Bayu selalu tahu apa yang aku pikirkan.


“Dia adikku. Daniel.” Aku memperkenalkan mereka. Keduanya saling bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing.


“Kak, dia pacarmu?”


“Hei! Kamu ini terlalu to the point.” Protesku malu. Bayu hanya terkekeh pelan menanggapi.


“Kak Bayu, sudah berapa lama pacarana dengan kak Icha? Apa yang kakak suka darinya? Dia tidak sefeminim yang kakak pikir loh. Kak Icha itu hobinya mengomeliku, dia terlalu berisik—“


“Yaak!! Bocah ini!” Aku berteriak. Ingin melemparnya dengan soda kaleng di tanganku ini.


“Sayang sekali Aku tidak melihat semua itu darinya. Cinta itu memang buta.” Kedua lelaki ini justru tertawa kecil.


“Oh aku tidak tahu adikmu ada di sini. Aku tidak membeli makanan lebih.” Bayu bergumam padaku saat kami sudah


mengeluarkan makanan yang di bawanya dari dalam plastik.


“Jangan pedulikan aku. Kalian makan saja. Aku juga sebentar lagi akan keluar.”


“Pantas saja kakak menolak ajakanku untuk makan di luar.” Tambahnya lagi.


 


Aku yang sudah mulai membuka nasi kari hanya menatapnya sebentar sembari tersenyum kecil.

__ADS_1


“Karena kau selalu ingin di traktir. Itu salah satu strategimu.” Gurauku.


Daniel mengangkat kedua bahunya dengan senyum jahil. “Kakak sudah tahu apa yang aku pikirkan.”


Bayu yang duduk di sampingku membuka minuman kaleng soda yang tadi di bawanya untukku. Hal baik lain yang tanpa sadar selalu dilakukannya sejak kami makan bersama. Bayu tidak melewatkan bagiannya membuka minum untukku.


“Daniel, apa kegiatanmu? Kamu bekerja?” Tanya Bayu sembari mulai memakan nasi karinya.


“Aku baru lulus kuliah. Sedang mencari pekerjaan yang cocok.”


“Kadang mencari pekerjaan yang cocok itu sulit.”


“Aku professional dalam segala hal.” Aku tergelak mendengar jawaban bocah ini.


“Kak Bayu bekerja dimana?” Tanyanya mengabaikan aku yang tadi hampir tersedak.


“Hanya seorang tentara.”


“Woahh benarkah? Kak Icha dulu sangat ingin menjadi tentara.”


Bayu melirikku sekilas dan mengangguk. “Yaa.. Dia memang ingin menjadi tentara. Sebenarnya kami berniat


akan masuk bersama.”


Ingatanku berputar mengingat lagi saat itu, ketika kami lulus sekolah menengah dan berjanji ingin masuk menjadi anggota tentara bersama. Nyatanya aku yang mengingkari janji itu.


Aku tidak berniat ingin bergabung dengan obrolan mereka seputar menjadi anggota tentara. Aku hanya sibuk memberikan kacang tanah pada Bayu dan Bayu menukarnya dengan bawang.


Kami sudah membiasakan ini sejak dulu sebenarnya. Bertukar daftar kesukaan dan ketidaksukaan. Seperti salah


satunya aku tidak menyukai kacang yang tercampur di dalam makanan dan Bayu tidak menyukai bawang goreng.


.


..



Hari senin adalah hari yang paling tidak aku sukai karena hari senin masih terlalu jauh menuju ke hari minggu.


Seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah berangkat bekerja tidak lupa dengan buku dan tugas yang harus aku bawa untuk kuliah hari ini.


Bayu juga sudah mulai bekerja. Katanya seharusnya dia masih memiliki hari libur tapi karena insiden kemaren di


mall, Bayu harus segera kembali.


Aku sudah menduga, jika Bayu kembali bekerja maka waktu kami untuk bertemu akan sangat sedikit karena dia pun jarang pulang ke rumah. Terlebih Bayu memiliki timnya sendiri.


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2