
JANGAN LUPA DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE, KOMEN, VOTE & TAMBAHKAN KE FAVORIT KALIAN!
…
Aku mengulurkan tangan meminta uang padanya, Bayu segera merogoh saku celanannya dan mengeluarkan dompetnya. Lalu sebuah kartu warna hitam dia berikan padaku.
“Enam digit angkanya adalah ulang tahunmu.”
“Kau tidak bercanda ‘kan?” Bayu menggeleng tenang menjawab pertanyaanku.
Kemudian aku tersenyum lebar padanya lalu segera berdiri. “Ingin pesan apa?”
“Aku tidak pilih-pilih makanan. Asalkan kau yang pesan, aku akan memakannya.” Sekali lagi Bayu membuatku tersenyum lebih lebar.
Aku segera berjalan menjauhi meja dengan langkah ringan menuju tempat pemesanan, ikut bergabung ke dalam antrian.
Sambil memilih menu apa yang akan aku pesan, antrian dalam barisan semakin bergerak maju. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, aku segera kembali ke tempat duduk sembari menunggu pesanannya di antar.
Tepat ketika aku kembali, Bayu yang sedang menelpon segera memutuskan sambungannya. Dia lalu melirikku dan menyimpan ponselnya di atas meja sembari berkata. “Minggu ini kamu engga ada acara kan?”
“Belum ada rencana sih, kenapa?”
“Di rumah kakek ada acara, aku mau ajak kamu ketemu kakek.”
“Acara apa?”
“Katanya sih kumpul keluarga, tapi kalau kakek udah bikin acara biasanya ada niat tersembunyi, engga tahu apa yang mau dilakukan kakek kali ini.” Aku mengangguk memikirkannya.
Selama aku mengenal Bayu, aku belum pernah bertemu dengan kakek dan ayahnya. Kalau Ibunya, aku sudah tahu dan kenal karena dulu kami pernah bertemu beberapa kali.
Mendengar perkataannya aku sudah tidak heran lagi, dulu Bayu pernah menceritakan tentang kakeknya yang mengadakan kumpul keluarga yang ternyata bukan benar-benar berkumpul seperti yang di pikirkan, tapi untuk mereka yang datang di paksa melawan kakek bermain tenis meja satu persatu hanya karena kakek melihat
pertandingan tenis meja di daerah kompleknya.
***
“Hati-hati di jalan.” Aku melambai pada Bayu setelah lelaki itu balas melambai dari jendela mobil yang terbuka lalu berlalu dari hadapanku setelah mengantarku sampai ke depan gerbang rumah.
__ADS_1
Sekarang pukul delapan malam dan Bayu tidak bisa berkunjung dan harus segera pulang karena tadi ayahnya menelpon. Rencanaku untuk mengenalkannya pada tante Yuan dan bibi Nuri harus batal. Kedua wanita ini sudah ada di rumahku karena sepuluh menit yang lalu mereka menelpon dan aku memberitahu mereka kunci cadangan yang di simpan rahasia menempel di bawah kursi.
Saat aku membuka gerbang, aku bisa melihat kedua wanita itu sudah berdiri di ambang pintu. Tersenyum padaku dan menyambutku pulang. Udara malam yang dingin sehabis hujan tadi membuatku cepat-cepat berlari masuk rumah.
“Apa tadi itu pacarmu? Kenapa engga di suruh masuk?” Tanya bibi Nuri melirik ke jalan.
“Tadinya emang mau aku kenalin ke tante dan bibi, tapi dia ada urusan mendadak jadi harus segera pergi.” Jawabku sembari membawa kedua wanita ini untuk masuk.
Mataku melihat dua cangkir kopi panas ada di atas meja, asapnya yang masih mengepul tercium manis. “Maaf sudah membuat tante dan bibi menunggu, aku ke kamar dulu.”
Kedua wanita ini mengangguk dan mereka kembali duduk. Aku segera bergegas masuk ke kamar untuk menyimpan tas dan amplop coklat yang tadi siang di berikan Bayu. Aku akan membukanya nanti setelah pembicaraan ini selesai.
Laluaku melangkah ke dapur mendapati ternyata aku belum mencuci piring bekas sarapan lusa kemarin, tapi niatku ke dapur bukan untuk itu, aku ingin membuat minuman hangat segera.
“Bagaimana kabarmu, cha?” Suara tante Yuan yang lembut menyapaku saat aku sudah duduk di hadapan mereka dengan membawa secangkir kopi latte hangat.
“Aku sudah jauh lebih baik.” Jawabku tersenyum menatap kedua wanita ini.
“Baiklah, kami akan langsung saja.” Tante Yuan sempat melihat bibi Nuri sesaat seperti meminta persetujuan wanita itu.
Aku hanya diam, menunggu sembari menyeruput gelas yang sedang aku genggam ini. Entah mengapa aku bisa melihat ada keraguan di antara keduanya.
“Tidak apa tan, katakan saja.”
“Ibu mu benar-benar sudah mengaggap pertunangan ini akan berjalan lancar. Dia sudah memberitahu semua keluarga tentang ini dan sudah hampir delapan puluh persen persiapan acaranya selesai. Bibi juga melihat Henry ada di sana, mengatur gedung untuk acara.” Aku terdiam mendengar penjelasan bibi Nuri, memang sudah menduga ibu akan terlalu cepat bertindak tapi tetap saja mendengarnya langsung membuatku berpikir keras untuk menggagalkannya.
Aku melihat foto buku rekening di sana, uang yang di transferkan Henry pada ibu mencapai tujuh puluh juta. Jika aku harus membayar hutang ibu sebagai alasan membatalkan pertunangan ini, di tabunganku tidak sampai memiliki uang sebanyak ini.
“Melihat ibu mu akhir-akhir ini, tante hanya punya firasat kalau kalian bertunangan dulu agar ibu mu bisa meminjam lebih banyak uang pada Henry sebelum kalian menikah.” Tante Yuan berucap yang membuatku setuju dengan pendapatnya.
“Bibi benar-benar tidak habis pikir apa yang dilakukan kakak! Dia sebegitu kejamnya sampai melakukan ini.” Bibi Nuri berseru emosi.
“Bi, apa ada yang mengetahui tentang ini selain kalian berdua?” Tanyaku mengembalikan ponselnya pada bibi Nuri.
“Sepertinya hanya kita berdua.” Jawabnya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kalau kau membatalkan pertunangan ini, semua orang akan mulai bergosip tentangmu.” Tante Yuan bertanya khawatir.
Tapi entah mengapa, mendengar semua ini tidak membuatku gugup sama sekali. Kepalaku bisa berpikir dengan jernih dan hatiku baik-baik saja.
Apa mungkin ini efek dari dukungan Bayu? Sekarang aku merasa lebih percaya diri.
“Aku tidak khawatir tentang gosipnya. Hanya berpikir bagaimana mengeksekusi pembatalannya.”
__ADS_1
“Kalau kau ingin mengembalikan uang Henry, tante akan akan coba membantu berbicara dengan pamanmu—“ Aku cepat-cepat menggeleng, menghentikan ucapan tante Yuan.
“Aku tidak khawatir dengan uang. Meskipun aku tidak memiliki uang sebanyak ini di tabungan, tapi aku memiliki warisan uang dari bibi Rose yang belum aku sentuh sama sekali. Aku akan menganggapnya mengembalikan pada ibu.”
“Oh ya satu lagi, tante punya ini. Semoga membantu.” Tante Yuan menyerahkan ponselnya padaku setelah sebelumnya kami mendengar suara pesan masuk.
Aku segera menerimanya dan bibi Nuri berdiri untuk pindah duduk di sampingku, sama-sama penasaran. “Itu baru saja di kirimkan oleh seseorang.”
“Aku sudah mentransfer uangnya tan. Jangan lupa, sesuai perjanjian, aku tidak akan menagihnya dengan syarat
aku ingin menikah dengan Icha.”
“Kalian harus bertunangan dulu, kalau langsung menikah anak itu akan menolak keras dan curiga. Tante tidak
menyangka kau sebegitu jatuh cintanya dengan putri tante.”
“Hahahah.. tentu saja tan, sejak dulu aku menyukainya. Hanya dia satu-satunya yang peduli padaku. Setelah
aku kembali dari amerika, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan melamarnya. Orang tuaku akan datang ke Indonesia sehari sebelum pertunangan. Mereka tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Icha.”
“Ohh bagus! Syukurlah! Kalau tidak ada hambatan lagi, tante akan merepotkanmu dengan persiapannya.”
“Tante tenang saja. Apapun yang terbaik akan aku berikan pada Icha. Untuk persiapan pestanya, tante jangan
sungkan, beritahu aku apa saja yang di perlukan. Soal biaya tidak perlu cemas.”
Rekaman suaranya berhenti. Aku melirik tante Yuan heran. dari mana wanita ini mendapatkannya?
“Tante meminta seseorang untuk mendapatkannya dari ponsel ibumu. Dia ternyata menyimpan rekaman seperti ini.” Jawab tante Yuan tanpa aku harus bertanya.
“Kenapa kakak sampai seperti ini? Dia sudah gila sejak jatuh cinta dengan pria itu, Gunawan Davindra!” Bibi Nuri tampak semakin kesal.
“Icha, apa rencana kamu? Biarkan bibi membatumu menggagalkannya! Apapun itu!” Aku tersenyum lebar mendengar semangat bibi Nuri.
“Apa minggu depan acara pertunangannya?” Aku bertanya yang di angguki mereka berdua.
“Aku akan membatalkannya minggu ini. Aku akan merepotkan bibi dan tante sekali lagi.”
“Tidak perlu khawatir.” Tante Yuan menggeleng. Aku mengangguk dan sebuah rencana terpikirkan olehku.
__ADS_1
...