EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 267


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


 


 


Semua orang terdiam mendengar suara penuh penekanan dan sarat akan kekesalan itu, mereka bingung dengan perkataan Ayah tertuju untuk siapa, tapi aku yakin, Ayah sedang bertanya padaku.


 


 


Aku pintar membaca emosi orang lain, jadi aku yakin kalau Ayah pasti kesal sekali melihat perlakuan tim kantor pusat padaku, hari ini hari terakhirku bekerja tapi mereka seolah sudah benar-benar menggantikanku di hadapan semua orang, terlebih, di gantikan oleh Hanna yang Ayah sendiri pasti tahu, kalau wanita ini terakhir kali membuat keributan denganku.


 


 


Bayu juga menatapku penuh arti, dia mengangguk kecil seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Maka aku tidak bisa lagi membantah kalau sudah seperti ini, Ayah selalu hati-hati agar tidak menyinggungku, aku bisa lihat kalau dia berusaha sebaik mungkin memerankan peran seorang Ayah meski aku sudah dewasa, dia ingin menjagaku dan membuatku selalu nyaman, bahagia.


 


 


 


 


Sepertinya aku memang harus mulai terbiasa dan menerima identitas baru ku, sebagai bagian dari keluarga Danendra.


 


 


Aku menghela napas panjang dan tersenyum kecil, lalu melangkah dengan percaya diri menghampiri Ayah Evano, membiarkan bahuku sedikit menyenggol bahu Hanna ketika melewatinya. Semua mata memperhatikanku ketika aku berhenti dua langkah di belakang Ayah Evano yang sedang memunggungi kami.


 


 


 


 


“Ya, Icha mengerti… Ayah.” Suara bisik-bisik langsung menyebar seperti lebah pekerja di dekat sarang.


 


 


Aku tidak peduli pada pembicaraan mereka, sekarang yang aku pedulikan adalah sosok Ayah di hadapanku.


 


 


Bayu bergerak dan mengambil posisi untuk berdiri di sampingku, menghadap punggung Ayah sembari dia berkata, “Ayah, Bayu pikir, lebih baik kalau Ayah membicarakan langsung pikiran Ayah padanya. Icha lebih senang jika seseorang jujur apa adanya.”


 


 


Ayah Evano berbalik cepat menatap Bayu tapi lelaki ini justru tersenyum kecil, berusaha menenangkan Ayah. “Putri Ayah ini punya harga diri yang tinggi, tapi itulah salah satu pesonanya. Dia ingin berusaha dengan kemampuannya sendiri dan menunjukkan nya pada Ayah.”


 


 


Aku mengerutkan kening menatap Bayu.


 


 


“Icha selalu ingin Ayah bangga padanya. Dia pintar dan pengertian, juga lebih peka pada detail kecil, hal itu selalu berhasil membuat orang-orang nyaman di dekatnya.”


 


 


Aku mendekat padanya dan berbisik, “berhenti membuatku jadi pusat perhatian.”


 


 


“Apa?? Yang sedang bicara adalah aku. Tentu saja mereka sedang memperhatikanku.” Bayu tidak mau kalah.


 


 


“Kamu sedang membicarakan aku!”


 


 

__ADS_1


“Enggak lah! Suaraku yang terdengar.”


 


 


“Tapi--”


 


 


 


 


Taak


 


 


 


 


“Awww…” Kami berdua memekik pelan ketika ada rasa sakit berasal sisi kepala. Ternyata Ayah yang menjitak pelan kepala kami dengan jari tangannya.


 


 


Sekarang ekspresi Ayah terlihat lebih rileks dan santai, jejak senyumnya kembali membayangi wajah paruh baya nya.


 


 


“Anak-anak ini! Malah berdebat sendiri.”


 


 


“Maaf, Ayah.” Aku dan Bayu menjawab kompak, seperti anak TK yang ketahuanmenjahili temannya.


 


 


Ayah Evano justru tertawa, lalu kepalanya menoleh ke belakang punggungkusembari berkata. “Maaf atas gangguannya. Anak-anak ini selalu membuatku tegang.”


 


 


 


 


Aku tidak berani menatapnya, hanya mendengarkan Ayah menjawab, “betul, mungkin sekarang bukan timing yang pas untuk memperkenalkan Icha, tapi karena sudah terlanjur, maka saya harus mengatakan kalau dia adalah putri kesayangan saya, satu-satunya!”


 


 


Pipiku merona, bagaimana Ayah menjelaskan semua itu dengan penuh penekananmengartikan kalau dia sedikit tersinggung dengan sikap tim kantor pusat padaku sebelumnya.


 


 


“Pantas saja, Icha sangat berbakat. Bisa menjabat jadi kepala bagian di usia muda, juga terkenal dengan menciptakan tim avenger nya sendiri. Bahkan, orang-orang di perusahaanku juga mendengar julukan itu beberapa tahun ini. Ternyata, Icha adalah putri Pak Evano, pemimpin perusahaan yang juga di sebut monster dalam bisnis.” Pak Roni terdengar kaget sekaligus kagum.


 


 


Aku tidak pernah memikirkan itu, tapi mendengar penjelasannya sekarang aku baru sadar, dulu bibi Rose memintaku untuk masuk ke jurusan bisnis pasti karena dia tahu aku memiliki bakat dari Ayah.


 


 


“Pak Roni terlalu berlebihan. Tapi untuk sementara, semuanya, tolong rahasiakan identitas Icha. Putri ku ini belum ingin orang-orang tahu tentangnya.”


 


 


“Hahaha…. Tapi tadi saya sudah mencoba mengajaknya untuk masuk ke perusahaan saya. Karyawan berbakat seperti Icha pasti jadi rebutan perusahaan lain juga.” Kata Pak Roni yang di balas tawa oleh Ayah.


 


 


Aku hanya diam menunduk, tidak biasa mendengar pujian yang di tujukan untukku.


 


 


“Ayah--” Bayu menatapnya, ada semacam satu paham yang sama di antara keduanya ketika Ayah mengangguk.


 


 


“Aku ingin berbicara padamu. Ayo.” Ajak Bayu yang sudah melangkah menuju pintu kaca geser menuju keluar.

__ADS_1


 


 


Aku menatapnya dan Ayah bergantian, setelah mendapat kesan kalau Ayah tidak protes, aku segera melangkah cepat menyusul Bayu.


 


 


 


 


“Apa seperti ini perlakuan mereka padamu? Tim kantor pusat apanya! Mereka seolah sudah menggantikanmu!” Bayu mengepalkan kedua tangannya, marah-marah ketika kami sudah di luar gedung.


 


 


“Mereka terlalu percaya pada gosip. Lagi pula lihat saja bagaimana Hanna, dia lebih cantik dan seksi dari pada aku. Tentu saja orang-orang itu akan mendukungnya.” Jawabku merangkul lengannya.


 


 


“Ha! Dia tidak lebih cantik dan seksi dari pada kamu.” Senyumku semakin lebar mendengar perkataannya.


 


 


“Jadi, kau kembali lebih cepat?” Tanya ku mengalihkan pembicaraannya sebelum dia semakin meledak marah. Seolah sadar dengan tujuan utamanya, emosi lelaki ini langsung menguap tapi wajahnya berubah muram.


 


 


“Aku belum bisa mengambil cuti panjang untuk bulan madu kita. Rencana awal harus tetap di jalankan.”


 


 


Senyum ku juga luntur tapi aku tidak terlalu kaget. “Jadi, kau tetap akan pulang setelah enam bulan?”


 


 


“Ya. Aku tidak yakin kapan bisa menyempatkan pulang di sela-sela itu.”


 


 


“Baiklah. Aku akan menunggumu.” Bayu menepuk-nepuk puncak kepalaku.


 


 


“Kau benar-benar wanita yang pengertian.”


 


 


“Tidak sepenuhnya pengertian, hanya agak pasrah karena nyatanya cinta tak selalu harus berdampingan dan jalan beriringan, ada kalanya cinta akan lebih terasa bermakna ketika dijalani dengan jarak yang memisahkan.” Kataku yang justru di balas kekehan dari lelaki ini.


 


 


“Tapi selalu ingat sayang, kau sudah menjadi bagian dari keluarga Jeremy. Di masa depan, tidak ada lagi yang boleh memperlakukanmu seperti tadi.”


 


 


“Bee…” Aku bergelayut manja padanya dan melanjutkan “aku akan selalu ingat tentang itu, tapi, apa yang terjadi tadi, aku tidak ingin mengandalkan apapun. Hanya kemampuan yang berbicara. Lagi pula aku sudah puas dengan hasilnya, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, perusahaan akan menyesal telah kehilanganku.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


Aku meringis pelan dan berbisik, “Kesan pertama Hanna pada tim ku itu buruk, mereka pasti tidak akan mudah di ajak kerjasama. Juga, dari penilaianku, dia tidak punya pengalaman bekerja sama sekali dan itu buruk. Sangat buruk.”


 


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


__ADS_2