EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 222


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Ada apa?” Tanyaku berharap asap itu segera menghilang agar aku bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi.


 


 


“T—tabrakan. Mobil itu melaju ke arah, aku kira dia akan belok di persimpangan ini tapi—tapi ada motor di belakang yang mendahului kita lalu menghalangi mobil itu.”


 


 


“APA?!” Refleks aku berbalik melihat ke belakang, berharap motor Bayu ada di sana tapi rupanya tidak ada.


 


 


Jantungku berdetak cepat, keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku dan pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan. Padahal beberapa detik lalu aku melihat lelaki itu ada di sana, baik-baik saja!


 


 


Tanpa menunggu, aku segera membuka pintu mobil.


 


 


 


 


 


 


 


 


“BAYU!!” Teriakku berlari takut menuju ke depan taksi.


 


 


 


 


 


“Tidak tidak tidak!!” Aku menahan napas saat melihat motor sport Bayu tergeletak di depan mobil abu di depanku, sisi kanan motornya terlihat penyok dan kaca spionnya hancur tapi lelaki itu tidak ada di sana.


 


 


Mataku mulai panas, tenggorokkan ku sakit, aku ingin menangis.


 


 


 


 


 


 


“BAYUUU!!”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“Boo, cepat panggil polisi!!” Suaranya dari mobil abu yang salah satu pintu mobil depannya terbuka. Dari balik pintu itu, aku melihat bayangan lelaki sedang memegangi seseorang di balik kemudi.


 


 


Aku berlari cepat menghampirinya dan seketika itu juga perasaan lega mengalir di rongga dadaku. Leherku rasanya mendingin menemukan Bayu sedang menodongkan salah satu spionnya yang pecah kepada pria di balik kemudi.


 


 


Kakiku rasanya lemas sekali, aku jongkok sambil mengusap dadaku. Menghembuskan napas panjang untuk meredakan detak jantungku.


 


 


 


 


“Ada apa ini?”


 


 

__ADS_1


“Tolong panggilkan polisi.”


 


 


“B—baik.” Supir taksi yang sudah menghampiri kami segera mengeluarkan ponselnya dan mulai berbicara di telpon.


 


 


Mataku masih memperhatikan Bayu yang sedang mencabut kunci mobil abu itu, menutup pintunya lalu mengunci pria yang hampir menabrak kami dari luar. Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya juga untuk mengambil gambar kejadian, mulai dari motornya yang rusak juga bagian depan mobil penabrak yang penyok.


 


 


Bagaimana bisa dia tidak ada di atas motornya saat motornya sendiri tertabrak?


 


 


Kakiku yang masih lemas dan keringat dingin yang dengan cepat membasahi keningku tidak membuatku berniat untuk berdiri melihat sisa kejadian lebih dekat.


 


 


Aku tidak ingin melepaskan tatapanku padanya, seolah hanya dengan mengerjap saja mungkin Bayu akan menghilang dari pandanganku.


 


 


 


 


Aku baru sadar jalanan yang sepi karena tidak ada kendaraan yang mendekati kami. Baru setelah tiga menit berikutnya, sebuah mobil hitam yang lewat, menepi, melihat apa yang terjadi


 


 


Bayu yang melihatku duduk di pinggir jalan tak jauh darinya segera melangkah mendekat.


 


 


 


 


“Kau tidak apa-apa, ‘kan?”


 


 


“Apa yang terjadi? Kenapa motormu sampai rusak sedangkan kau ada di sebelah pengendara itu?” Tanyaku yang sudah di ujung lidah.


 


 


Bayu menunduk, dua tangannya ia tempatkan di bawah ketiak ku, sambil dia mengangkatku untuk berdiri, lelaki ini menjawab. “Melompat sebelum motornya tertabrak.”


 


 


 


 


Bayu menepuk-nepuk celanaku sebentar sebelum menjawab. “Aku punya refleks dan gerak yang bagus—“


 


 


“Ohh peduli apa dengan gerak yang bagus! Kau hampir tertabrak tadi!”


 


 


“Itu lebih baik dari pada taksi yang kau tumpangi yang tertabrak!” Bayu membalasku, menatap serius padaku.


 


 


“Setidaknya aku di dalam mobil!”


 


 


“Tidak ada setidaknya! Kau tahu, mobil itu sengaja menerobos lampu merah di depan dan menginjak gas lebih cepat ketika mobil kalian berhadapan, tapi saat aku yang menyelip, dia langsung menginjak rem! Itu artinya dia memang berniat menabrak taksi kalian!” Lelaki ini berseru padaku hingga aku bisa melihat nadi di leher dan keningnya. Wajahnya tampak memerah seperti menahan amarah. Aku tahu dari sorot matanya dia sangat mengkhawatirkanku tapi aku juga mengkhawatirkannya.


 


 


“Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkan aku? Jika aku kehilanganmu bagaimana?!” Emosiku meluap karena lelaki ini sama-sama keras kepala denganku. Pertengkaran kami selalu dengan masalah yang sama, kami tidak ingin mengalah untuk melindungi satu sama lain.


 


 


“Sebagian pekerjaanku selalu berhadapan dengan bahaya, aku lebih berpengalaman untuk hal seperti ini! Jika aku tidak melakukan apa pun saat tahu kalau semuanya sudah jelas, itu lebih pengecut dari pada orang bodoh.” Katanya keukeuh yang justru semakin membuatku marah.


 


 


“Aku lebih suka kau jadi orang bodoh dari pada mempertaruhkan nyawamu sendiri, tuan Bayu Christ Jeremy!”


 


 


“Apa?? Kau ingin aku jadi orang bodoh?”


 


 


“Ya ampun! Tentu saja tidak! Itu pilihan yang aku pilih dari pernyataanmu tadi!” Aku berteriak gemas, tapi Bayu yang sedang menatapku dengan mulut terkatup dan bibir melengkukng ke bawah membuat marahku seketika menguap entah kemana.


 


 

__ADS_1


Dia sedang cemberut kesal.


 


 


 


 


Seharusnya yang pertama aku lakukan tadi adalah menanyakan apa dia baik-baik saja? Marah karena takut kehilangannya membutakan ku.


 


 


Aku menghela napas panjang, berusaha mengatur napasku yang masih memburu, sampai akhirnya lebih tenang aku segera mendekatinya dan berjinjit untuk memeluk bahunya.


 


 


Bayu lebih tinggi dariku dan aku harus menggapainya, aku harus memastikan dia tidak apa-apa.


 


 


“Maaf, aku terlalu emosi. Apa kamu baik-baik saja?” Bisikku di samping telinganya.


 


 


Aku tahu sesaat tadi tubuh Bayu tampak kaget karena perubahan sikapku.


 


 


Setelah mendengarnya membuang napas panjang, lelaki ini balas memelukku seerat mungkin sampai rasanya aku susah bernapas.


 


 


 


 


“Konyol! Kenapa kita harus bertengkar? Tidak ada gunanya, ‘kan?” Tanyanya.


 


 


“Aku hanya takut.”


 


 


“Aku hanya takut.”


 


 


Kami tertawa kecil karena mengatakan hal yang sama.


 


 


“Camila kehilangan suaminya secara tiba-tiba. Aku jadi lebih mengkhawatirkanmu.”


 


 


“Maaf karena membawamu ke duniaku yang seperti ini.” Aku segera melepaskan pelukan kami untuk melihatnya wajahnya lebih jelas.


 


 


“Kenapa harus minta maaf? Sumpah pernikahan kita tentunya tidak aku anggap remeh.” Bayu tersenyum kecil mendengarnya, jari tangannya mengelus pipiku sangat lembut lalu kembali memelukku.


 


 


“Berikan kunci mobilnya padaku.” Kataku tiba-tiba teringat kami masih di tengah kecelakaan.


 


 


“Untuk apa?” Bayu melepaskan pelukan kami, tapi aku segera merebut dari tangannya, tanpa menjawab aku segera melangkah cepat menuju mobil abu yang hampir menabrak kami tadi.


 


 


Sebuah pemikiran yang sangat jelas terpikirkan saat ini olehku. Semua ini pasti bukan kebetulan.


 


 


Aku memungut kaca spion pecah yang tadi di todongkan Bayu pada pria itu, lalu jari tanganku menekan tombol pada kunci mobil sampai bunyi bip pelan terdengar sambil membuka pintu kemudi dan melihat seorang pria memakai topi hitam sedang menundung di atas stir kemudi. Dia tampak ketakutan tapi aku segera menarik paksa jaket hitamnya untuk keluar dari mobil.


 


 


“Icha...” Bayu memanggilku dari belakang tapi aku sudah terlanjut penasaran dan langsung mendorongnya di depan pintu mobilnya sendiri, menyudutkan lelaki brengsek ini dengan siku tangan kananku menahan lehernya dan


tangan kiri ku menodongkan kaca spion pada sisi wajahnya.


 


 


Pria ini bergetar ketakutan tapi aku tidak peduli!


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2