
...
“Lucy, apa tadi kita beli ikan pakang?” Langkahku terhenti ketika aku dan Lucy yang membawa kantung belanjaan mulai memasuki pintu gedung apartemen yang siang ini tampak lebih ramai.
“Ikan pakang? Bukannya penjual tadi mengatakan kalau ikan itu habis?”
“Ahhh iya! Ya ampun, kok aku jadi pelupa begini.” Aku menggeleng, tersenyum malu pada wanita di sampingku ini.
“Itu karena pikiran nyonya di penuhi sama pak Bayu.”
“Kamu ini!” Aku menyenggol bahunya dengan bahuku, “suka banget godain.”
“Nyonya, ini sudah satu bulan setengah kita ada di sini, di kota ini, dan Lucy lihat, nyonya setiap hari sangat bahagia. Bukan hanya aku yang beranggapan begitu, Dika juga merasakan hal yang sama. Bahkan pak Evano, bunda Kirana, kakek Alvaro, kakek Jeremy dan nenek Nella, mereka yang berkunjung ke sini seminggu lalu juga mengatakan hal yang sama.”
Kami sudah ada di depan lift, menunggu pintu ini terbuka, “benarkah? Terlihat jelas?” Lucy mengangguk menjawab pertanyaanku.
“Kamu benar, kita sudah enam minggu di sini. Tidak terasa, waktu berlalu sangat singkat.” Aku jadi merenung selama satu setengah bulan berada di kota ini.
Lucy benar, aku merasa bahagia di sini. Sangat.
Meski aku hanya diam di rumah, tapi mengantar atau menunggu Bayu pulang, itu menjadi salah satu kebiasaan yang aku sukai. Saat-saat kebersamaan kami terasa alami, seolah lelaki itu memang sudah bagian dari hidupku sejak lama.
Lalu ketika hari libur, Bayu selalu membawaku jalan-jalan di kota ini, memperkenalkanku pada tempat-tempat wisata, atau terkadang dia mengajakku bertemu dengan teman-temannya.
Pernah satu ketika, Bayu memintaku untuk menemaninya ke pertemuan orang-orang penting di kepolisian. Katanya, pak Salaman mengundangku sebagai tamu khusus. Mereka sedang mengadakan pesata kecil-kecilan karena kasus tabrakan bus dan mobil pickup selesai. Tidak ada korban dan tersangka langsung di tangkap. Pria yang aku curigai itu memang adalah pengedar narkoba, sedangkan sopir yang mengendari mobil pickup, dia memang sengaja menabrak bus untuk menangkap pria itu.
Awalnya aku tidak ingin datang jika alasan kehadiranku seperti itu, tapi karena Bayu bilang mereka datang hanya sebagai perwakilan keluarga Jeremy, aku akhirnya ikut. Bagaimana pun, kakek dan ayah Rasha cukup punya nama di kota ini, mereka pernah menjalankan tugas untuk waktu yang lama sampai kepolisian pun kenal.
Lalu kunjungan dua keluarga, satu minggu lalu, sebenarnya untuk membujukku. Mereka ingin melihat kehidupanku di sini, kalau aku tidak nyaman, mereka akan menyeretku pulang. Di samping itu, aku benar-benar senang mereka berkunjung, terasa nyata sebagai keluarga yang bahkan aku sempat lupa tentang kabar ibu dan Daniel.
Tiba-tiba suara ting yang khas pertanda pintu lift terbuka, membuyarkan lamunanku.
Sebelum aku dan Lucy bergerak, tatapan mata kami terpaku karena melihat sosok wanita yang menunduk hendak keluar dari lift. Bukan karena dia sedang menunduk yang membuat kami terdiam, tapi wajahnya, banyak memar dan sebelah matanya agak bengkak.
“Ibu Nadya?” Panggilku memastikan.
Wanita itu mendongak dan menatapku kaget. Dia buru-buru melangkah melewati kami tanpa menjawab.
__ADS_1
“I—itu luka pukul ‘kan?” Aku menatap Lucy, memastikan.
“Ibu Nadya itu, istri dari keluarga Baron, yang menjadi penyebab kejadian gas bocor itu ‘kan?” Lucy bertanya padaku.
“Ya. Itu dia. Tapi aku sudah sebulan ini tidak melihatnya, banyak yang bilang kalau pak Baron dan istrinya sedang diskusi dengan kedua keluarga untuk penyelesaian, namun justru wajahnya semakin banyak memarnya.” Aku mengerutkan kening membayangkan jika berada di posisinya, kami sesama wanita, tapi perlakuan yang dia dapatkan berbeda.
“Semua wanita di dunia ini punya hak untuk di perlakukan baik.” Gumamku.
.
..
...
“
“Bagaimana memulai semua ini?”
“Siapa yang mau duluan? Eh tunggu sebentar! Bukannya yang ini di buka dulu?”
Plak
“Jangan ngintip! Ya ampun Bayu!! Masa kamu udah lupa? Yang ini bisa di buka kalau dapat kesempatan, kamu kira merah-merah ini untuk apa?”
“Jadi di kocok dulu dadunya? Jadi, siapa yang mau duluan?”
“Ayo suit! Kertas gunting batu.”
Setengah jam lalu, setelah permainan ular tangga kami selesai, aku menyarankannya untuk main monopoli.
Hari minggu, kami memutuskan untuk tidak kemana-mana dan hanya seharian di rumah. Akibatnya, karena tidak ada yang harus di lakukan, maka kami berakhir bermain permainan anak-anak seperti ini.
__ADS_1
“Eh kamu ingat tidak, waktu kecil dulu, aku main ke rumah sepupu kamu, Desi, awalnya aku tidak tahu kalau temanku itu ternyata sepupu denganmu. Pagi itu, aku baru mandi dan rambut masih basah, terus kami berdua memutuskan untuk main kartu, eh taunya kamu tiba-tiba datang.” Bayu yang hendak memindahkan patung miliknya, terhenti di udara, mendengar ceritaku.
“Oh ya? Aku tidak ingat yang mana—memangnya kenapa?”
“Kamu dengan santainya ingin bergabung main kartu. Hari itu aku ingat sekali, aku sangat gugup.”
“Kenapa?”
“Apa kau lupa? Karena hari itu kita bertemu setelah sehari sebelumnya kita bertengkar dan putus. Kalau di pikir-pikir lagi sekarang, saat itu kita terlalu kecil untuk mengerti pacaran, iya ‘kan? Tapi, kau menulis surat untukku, mengatakan kau suka padaku. Aku menjawab surat darimu dengan bantuan kakak sepupuku.”
“Oh!!” Bayu menatapku ceria, pertanda dia sudah ingat, “aku ingat surat itu. Balasan yang kau berikan padaku dulu ada dua bulatan untuk gambar kepala, saling tempel, garis lidi untuk tangannya, seperti gambar orang-orangan lidi yang lagi ciuman gitu kan.”
“Itu di gambar oleh kakak sepupuku.” Jawabku agak malu mengingat kenangan itu.
“Beneran? Bukan kamu yang gambar?”
“Ya ampun! Aku mana berani menggambar seperti itu. Bahkan, balasan surat itu sebagian besar aku turuti dari ucapan kakak sepupu—oh! Aku dapat dana umum!”
“Jadi, surat balasan itu bukan benar-benar dari jawabanmu?” Bayu menghentikan fokusnya pada monopoli yang di letakkan di antara kami.
“Tidak—maksudku, itu benar-benar jawabanku, tapi bahasa yang di pakai adalah milik kakak sepupu.” Jawabku.
Bayu menatapku curiga, “kenapa kau harus melibatkan kakak sepupumu untuk urusan kita?”
“Karena saat itu kita berdua masih anak kecil—eh! Aku dapat uang dari setiap pemain karena berulang tahun!!”
Tiba-tiba saja Bayu tidak tertarik sama sekali dengan permainan monopoli kami, dia masih menatapku dengan mata menyipit, “anak kecil ya? Jadi itu semacam cinta monyet?”
“Tentu saja cinta monyet! Kita masih anak kecil.”
“Tapi saat itu aku tidak merasa cintaku padamu adalah cinta monyet.”
Seketika mataku fokus menatapnya, sembari tanganku meletakkan kartu dan uang kertas di atas meja, aku menjawab, “aku tahu kau ingin mendebatkan sesuatu denganku, tapi aku sedang tidak ingin kita berdebat, oke?”
“Kenapa?”
...
__ADS_1