EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 116


__ADS_3

...


 


Seketika aku melepaskan masker dengan cepat melihat di halaman depan ada banyak pria-pria berpakaian hitam sedang berkelahi dengan ke lima lelaki itu.


“Ya ampun! Apa yang terjadi?” Prof Bora terpekik kaget.


Namun dalam beberapa menit saja, pria-pria misterius itu sudah jatuh kesakitan dalam sekejap. Tidak ada darah di sana, hanya para penjahat itu tampak mengaduh kesakitan dan sepertinya tidak bisa bangkit.


Lalu aku melihat tangan kanan Bayu terangkat dan melambai pelan seolah sedang memanggil hingga dari segala sisi pepohonan, keluar orang-orang memakai baju tentara dan senjata lengkap mendekati mereka semua.


 


Ada lebih dari dua puluh orang tentara yang keluar mulai mengamankan penjahat itu.


Tiba-tiba aku punya firasat semua ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi.


 


Pengasuh itu! Dia mencurigakan!


Refleks aku melirik Sonia yang juga melirikku. Lalu aku mengangkatnya dan menggendongnya menjauhi jendela. Apa aku yang membawa masalah ini?


“Ayo kita lihat ke bawah.” Ajak Talia setelah wanita itu melepaskan maskernya diikuti Prof Bora dan Bianca mengangguk.


Aku menurunkan Sonia dan membiarkannya berlarian mendahului kami lalu aku mengikuti langkah ketiga wanita di hadapanku ini.


 


 


 


“Ada apa? Apa yang terjadi?” Talia bertanya saat kami sudah ada di ujung tangga dan berhenti melihat kelima lelaki ini sudah ada di hadapan kami. Semuanya terjadi begitu cepat.


 


Pintu depan sudah di tutup seolah tidak ada yang terjadi padahal aku mendengar suara langkah kaki di luar. Pasti tentara-tentara itu sedang membersihkan kekacauan.


“Tidak ada, hanya sedikit olahraga.” Lifer tersenyum kecil menatap Talia.


“Ayo makan. Aku sudah lapar.” Suara interupsi Ronald membubarkan kerumunan.


Mereka semua mulai melangkah menuju dapur. Aku yang berdiri paling belakang segera meraih tangan Bayu yang juga ada di barisan belakang.

__ADS_1


“Apa kekacauan ini karena aku? Aku yang membawa mereka kesini ‘kan?” Tanyaku sedikit berbisik menahan langkah kakinya.


Bayu sepenuhnya menatapku dan seolah seperti kebiasaannya, dia menarikku ke dalam pelukannya. “Jangan berpikir berlebihan. Dari awal aku tahu pengasuh itu mencurigakan, saat di jalan juga aku sudah menyadari kalau ada yang mengikuti kita. Sebenarnya tanpa kita berkelahipun aku sudah meminta bantuan pada pengawalan di tempat ini tapi karena batas kesabaranku, aku ingin menghajarnya sendiri. Mereka sudah di tangkap jadi kau tidak perlu khawatir.”


Aku mendorongnya, melepaskan pelukannya dan menatap wajah lelaki ini. “Jadi benar karena pengasuh itu? Lalu kenapa penjahat bisa masuk ke tempat ini? Bukankah di sini pengamannya sangat ketat?”


“Ada orang dalam yang membantu dan itu adalah dari pegawai di rumah Sonia. Penjahat itu mengincar Sonia karena ingin mengancam ayahnya. Semua informasi rencana dan orang-orang yang terlibat itu sudah ketahuan setengah jam sejak kita kembali dari pasar. Tapi aku hanya membiarkan penjahat itu untuk datang ke sini dan


menghajarnya.”


Aku melipat kedua tangan di atas perut dan menatapnya heran. “Kenapa? Kamu tidak harus menghajar mereka.”


“Kamu adalah batas kesabaranku. Mulai sekarang aku tidak akan ragu-ragu menghajar mereka yang mengganggumu, siapapun itu!” Wajah seriusnya membuat jantungku berdetak cepat.


“Jadi, jangan merasa bersalah. Jangan berhenti untuk peduli pada orang lain, aku akan mendukung dan melindungimu.” Bayu melipat tangannya di atas perut, mengikuti gerakkanku tadi.


“Tapi kalau kau terus melindungiku seperti ini akan merepotkan.”


“Tidak sama sekali! Berhenti memikirkan akan merepotkanku! Aku akan senang jika aku bisa membantu.” Bayu menjitak pelan keningku dengan jarinya membuatku meringis pelan dan refleks mundur menjauhinya.


“Kalau gitu bantu aku satu hal lagi.” Jawabku.


“Apa?”


“Tidak perlu! Ada aku di sini.”


“Tidak! Aku juga harus kuat untuk bisa bertarung!” Bantahku terdengar agak dramatis.


Bayu tetap menggeleng. “Tidak!”


“Yaa!”


“Tidak akan!”


“Kalau begitu aku akan meminta orang lain untuk mengajariku!” Aku berbalik ingin menuju dapur tapi Bayu menahan tanganku.


“Kau berani mengancamku?”


“Siapa yang berani mengancammu, paman?” Aku meledeknya dan melepaskan tangannya dengan paksa lalu kembali berbalik menghindarinya.


“Paman??” Bayu berteriak tidak terima yang membuatku terkekeh pelan. Namun langkahku terhenti melihat Sonia berlari dari dapur menuju ke arahku. Dia tampak senang sekali.


“Sonia, ada apa?” Aku bertanya padanya.


Sonia melompat-lompat dan tangannya bergerak mengatakan. “Ayah ada di luar!!”

__ADS_1


Sekarang aku mendengar suara mobil, tidak hanya satu tapi ada lebih. Kemudian aku kembali berbalik menghadap Bayu dan berjalan melewatinya begitu saja mengikuti Sonia yang sudah di depan pintu.


“Sekarang kau mengabaikanku, sayang??” Bayu bertanya yang membuat telingaku geli mendengarnya.


“Aku tidak berani mengabaikanmu, paman!” Ledekku lagi masih agak kesal.


Aku tahu Bayu mengikutiku saat aku membuka pintu.


 


Tidak menyangka ayah Sonia akan datang secepat ini. Sepertinya kami harus mengajaknya makan juga.


“Bibi, jangan lupakan janjimu untuk memelukku seharian. Kemarin kau tidak melakukannya!” Bayu terdengar merajuk di belakang punggungku.


Diam-diam aku tertawa kecil mendengarnya, mengingat lagi saat kami pacaran dulu di masa SMA, kalau aku sedang dalam mode kesal padanya, aku akan memanggilnya paman dan dia akan memanggilku bibi untuk membujukku.


“Kau harus menepatinya, kalau tidak aku akan sakit, bibi.” Ucapnya lagi berharap mendengar jawabanku tapi aku mengabaikannya dan sekarang pintu rumah sudah terbuka,


Di sekitar halaman depan rumah Bayu sudah banyak mobil-mobil mewah terpakir hingga masuk memenuhi jalan hutan di depan kami. Pria-pria berpakaian rapih sudah berbaris di sekitar parkiran dan seorang pria dengan setelan formal seragam militernya berjalan pelan menghampiri kami di teras rumah.


Di lihat dari berapa banyak lencana di bajunya membuatku berpikir pria ini bukanlah orang biasa, namun wajahnya tidak setua yang aku pikirkan untuk ukuran seorang ayah.


Sonia berlari dan langsung di angkat tinggi-tinggi oleh orang itu. Keduanya tertawa dan hal itu membuatku juga ikut tersenyum melihatnya.


Sonia kemudian di hujani ciuman di pipinya sebelum gadis itu memeluk ayahnya sangat erat. Menyadari tatapan aku dan Bayu, pria itu melangkah mendekati kami sembari menggendong Sonia di tangan kirinya.


“Ternyata benar ini adalah rumahnya Bayu Christ Jeremy.” Katanya menatap Bayu dan mengulurkan tangan padanya.


“Awalnya aku tidak begitu yakin, tapi melihat anda ada di sini ternyata itu benar, pak Evan.” Bayu membalas jabatan tangan pria ini.


“Lalu ini pasti nona Icha.” Pak Evan beralih melirikku dan mengulurkan tangannya.


“Iya, tidak menduga akan secepat ini anda datang untuk menjemput Sonia.” Jawabku membalas uluran tangannya.


“Kami sedang makan di dalam, anda ingin bergabung, pak?” Tanya Bayu


“Benarkah? Boleh kalau tidak merepotkan.” Jawab pak Evan tanpa sungkan menerima tawaran Bayu.


Kami semua kembali masuk ke rumah dan segera menuju ke dapur yang di sana semua orang sudah berkumpul~~~~ di meja makan.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2