EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 242


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Boo, jangan terdengar seolah aku yang salah. Nyatanya kalau kau tidak mengusulkan ide itu, aku sendiri yang akan meminta.” Jawabnya terlihat sangat santai.


 


 


Aku mendengus, melepas genggaman tangannya dan melipat kedua tangan di atas perut. Matanya masih menatap tas-tas besar yang di sandang para tentara. “Lalu, kau tidak membawa perlengkapan??”


 


 


“Ada di bagasi. Bunda yang menyiapkan—aww… Sayang, kenapa kamu pukul aku?” Aku semakin cepat meninju lengannya untuk melampiaskan kekesalanku.


 


 


“Kenapa kau tidak bilang? Kamu merepotkan bunda! Sekarang kan kamu udah punya aku! Hhh.. apa yang nanti bunda pikirkan kalau anaknya yang udah punya istri ternyata masih di urusin bunda sendiri.”


 


 


“Kasih ibu sepanjang masa.” Katanya menyeringai dengan tatapan meledek.


 


 


Sebelum aku bisa membalasnya, mobil sudah berhenti di samping gedung, bergabung dengan mobil lain yang terparkir.


 


 


“Dika dan Lucy, tunggu saja di mobil.” Kata Bayu menginterupsi keduanya yang hendak keluar.


 


 


“Baik, hati-hati di jalan, pak.” Jawab Dika.


 


 


“Kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga nyonya. Hati-hati di jalan, pak.” Tukas Lucy.


 


 


Bayu tersenyum kecil dan mengangguk lalu segera membuka pintu mobil di sampingnya. Sebelum aku turun, aku melirik Dika dan Lucy lewat kaca spion, melemparkan senyum kecil pada mereka.


 


 


Terdengar aneh karena ucapan mereka berdua, selama ini aku tidak pernah membayangkan akan mendapat dua orang yang akan menjaga keamananku.


 


 


Lalu aku ikut keluar mobil, menutup pintu dan menghampiri Bayu yang sudah membuka pintu bagasi mobil belakang. Tas hijau lumut besar sudah ada di sana dengan tumpukan topi dan sepatu hitam.


 


 


“Lain kali, aku yang akan mengepak semua kebutuhanmu.” Aku menggebrak dan menahan tas yang hendak di bawa Bayu.


 


 


Lelaki ini melirikku agak kaget tapi seringaian menyebalkan itu lagi-lagi mengembang. “Tentu saja sayang, aku sudah tidak sabar menantikannya.”


 


 


“Aku masih kesal karena kau tidak melibatkanku dalam pengepakan tas ini!” Kataku masih menahan tas yang ingin dia ambil sembari melotot padanya.


 


 


Bayu justru tertawa kecil, meraih tanganku untuk dia genggam dan menciumnya. “Aku akan mengizinkanmu untuk mengetahui isi di dalamnya, mau lihat?”


 


 


“Tentu saja! Tapi kenapa kedengarannya, kau tidak ingin aku lihat isi di dalamnya?” Aku mengerutkan kening curiga.


 


 


Suara tawa Bayu selanjutnya membuatku meleleh. Otot tegang di sekitar wajahku mengendur, tidak tega kalau harus kesal meski sebenarnya aku masih ingin kesal.


 


 


Bayu menarikku ke dalam dekapannya dengan tawa kecil menghiasi wajahnya. Dia memelukku erat dan gemas yang membuat iga ku rasanya akan patah, tapi sebelum itu terjadi, Bayu menarik diri. Kedua tangannya menangkup pipiku, mencubitnya dengan gesture gemas dan tidak tega kalau mencubit keras-keras.


 


 


 

__ADS_1


 


 


“Ya ampun pengantin baru masih mesra-mesraan di tempat umum” Suara lain di belakang langsung mengalihkan perhatian kami.


 


 


Ternyata ada Lifer dengan Talia yang membawa tas hijau besar milik suaminya, lalu di samping Talia ada Ronald dan Benny. Kedua pria itu masing-masing membawa tas di punggung mereka.


 


 


“Kalian sudah sampai.” Sapa Bayu pada mereka.


 


 


“Bro, selamat atas pernikahannya. Maaf kami tidak bisa datang.” Ronald maju untuk menyalami Bayu di ikuti dengan Lifer dan Benny secara bergantian.


 


 


“Tidak apa-apa karena pernikahannya agak terburu-buru. Nanti resepsi, kalian harus datang.” Jawab Bayu.


 


 


“Tentu saja, yang penting acaranya jangan buru-buru juga.” Sahut Lifer yang di balas tawa mereka semua.


 


 


“Jadi sekarang, Icha sudah resmi menjadi nyonya Jeremy yang terkenal.” Ledek Benny melirikku.


 


 


“Yang terkenal?” Tanyaku tidak mengerti.


 


 


“Keluarga Jeremy di kemiliteran lumayan terkenal karena setiap generasi keturunan mereka, bekerja sebagai tentara.” Jawab Lifer. Aku mengangguk mengerti, benar juga. Di sini bahkan tetua Jeremy masih sering di sebut meski kakek Jeremy sudah pensiun.


 


 


Lalu keempat pria ini berjalan beriringan sembari mengobrolkan beberapa hal terkait pekerjaan. Talia segera merangkulku begitu kami memutuskan mengikuti mereka dari belakang.


 


 


 


 


 


Aku tersenyum kecil dan mengangguk. “Baik. Bagaimana denganmu?”


 


 


Talia mengangkat bahu dan menjawab. “Baik.”


 


 


Dari sampingnya aku bisa melihat jelas ada garis hitam di bawah matanya. “Sepertinya kau kurang tidur. Pekerjaanmu sebagai polisi pasti melelahkan.”


 


 


Talia mengangguk. “Salah satunya. Oh ya—aku hampir lupa.” Tiba-tiba wanita ini tampak antusias, matanya melirik ke depan agar ke empat pria ini tidak menguping, tapi sepertinya mereka asik sendiri.


 


 


“Kau ingat tentang diskusi kita waktu itu dengan Bora? Aku sudah menemukan sesuatu tentang dokter Cilia.” Bisik nya yang seketika membuatku ikut bersemangat.


 


 


“Benarkah?? Cepat beritahu aku.” Desak ku.


 


 


“Dia—“


 


 


 


“Talia!” Panggilan suara Lifer menghentikan langkah kami, juga perkataan Talia menggantung di udara.


 


 


Kami menatap empat pria yang kini sedang mengerutkan kening penasaran.


 


 

__ADS_1


“Apa?" Tanya Talia.


 


 


“Apa aku mengganggu pembicaraan kalian?” Tanya Lifer curiga yang entah mengapa membuatku terkekeh pelan.


 


 


“Mungkin kita bisa membicarakannya nanti.” Bisik ku yang langsung di angguki wanita ini.


 


 


“Aku ke dalam dulu.” Pamit Bayu padaku yang langsung aku angguki.


 


 


Sepeninggalan Bayu, aku baru sadar kalau kami sudah bergabung di keramaian. Semuanya sedang mengobrol santai dengan keluarga masing-masing, kecuali Ronald dan Benny yang berdiri di hadapanku.


 


 


“Ronald, apa Bianca tidak datang?” Tanyaku pada lelaki berkulit lebih coklat dari yang lain.


 


 


“Sayangnya saat ini dia sedang ada di luar kota, jadi tidak bisa mengantarku.” Jawab Ronald terlihat agak sedih.


 


 


“Tapi orang tuamu—kalian berdua- tadi mengantar sampai gerbang. Jangan memasang ekspresi sedih dan kesepian gitu.” Ledek Lifer pada Ronald dan Benny.


 


 


“Icha menanyakan soal Bianca, jadi tentu saja beda!” Jawab Ronald.


 


 


“Lalu kapan kau akan menikahinya?” Tanya Lifer.


 


 


“Se—secepatnya!” Kami semua tertawa mendengar jawaban gugup Ronald. Aku tidak membayangkan kalau pria besar ini akan gugup hanya karena pertanyaan soal nikah.


 


 


“Harusnya kalian jangan meledek ku. Benny yang seharusnya jadi sasaran kalian.”


 


 


“Aku? Kenapa harus aku?” Benny menggeleng tanpa ekspresi.


 


 


“Jangan bohong, tadi aku sempat melihat kau pamitan dengan seorang wanita sebelum kedua orang tuamu datang. Wanita itu pakai jaket kulit hitam dan rok.” Kata Ronald yang seketika membuat Lifer heboh.


 


 


“Wanita? Siapa dia? Umur berapa? Apa cantik?” Lifer melompat dan langsung merangkul Benny, pria itu berusaha untuk melepaskan diri tapi ternyata Ronald ikut merangkulkan tangannya pada lengan Benny.


 


 


“Lepaskan!”


 


 


“Tidak akan! Ayo jawab dulu.” Desak Lifer, sepertinya cengkraman pada leher Benny semakin kencang karena wajahnya terlihat lebih merah.


 


 


“Wanita apa? Itu bukan uhuk—hei! Aku tidak bisa bernapas!!”


 


 


Namun perkelahian kecil mereka terhenti saat Bayu berlari keluar mendekati kami, lalu dia menarik tanganku agar menjauh dari teman-temannya.


 


 


“Ini untukmu.” Katanya sembari memberikan sebuah kotak kecil ke telapak tanganku. Aku menunduk melihat kotak beludru hitam yang tertutup.


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2