
...
Tante Yuan sedikit mengguncangku saat aku tidak menjawab apa yang mereka tanyakan. Aku yang sedang menunduk sambil memejamkan mata menahan kesakitan ini tidak sanggup untuk menjawab.
Lalu tidak sampai di situ, aku menyadari hidungku terasa basah. Saat menyentuhnya telapak tanganku di nodai darah dan hal itu membuat tante Yuan maupun bibi Nuri terpekik kaget. Mereka cepat-cepat menyuruhku untuk menengadahkan kepala dan tante Yuan sudah memberikan tisu padaku.
“A—aku mau ke kamar mandi dulu, sekalian membersihkan tanganku.” Kataku pamit setelah menyumpal lubang hidungku dengan tisu. Mereka berdua hanya mengangguk dan aku cepat-cepat menuju ke kamar, menutup pintunya dengan cepat.
Tubuhku bergetar, kakiku lemas dan sekujur tubuhku berdenyut sakit. Aku berniat mencari tabung infus yang di bawa dari rumah sakit. Berharap agar aku bisa lebih baik dengan itu.
Aku yang sudah terjatuh di samping tempat tidur, tidak kuat lagi kakiku menopang tubuhku. Aku segera menarik tas yang ada di atas Kasur. Mencarinya dengan tangan gemetar dan merintih kecil.
Setelah menemukannya dengan cepat aku langsung menyambungkan selang itu pada jarum infus di punggung tangan kiriku ini. Tapi tidak bisa, tanganku tidak sanggup lagi hanya untuk melakukan ini. Aku tidak memiliki tenaga karena denyutan di sekujur tubuhku seolah membunuhku perlahan.
Aku tidak bisa lagi menahan erangan kesakitan ini. Akhirnya aku hanya jatuh meringkuk memeluk diriku sendiri. Bahkan darah yang masih keluar dari hidungku masih menetes membasahi lantai.
Pandanganku semakin buram hingga akhirnya aku terpejam. Telingaku mendengar suara dengingan keras dan ketika kesadaranku akan di tarik sepenuhnya, aku mendengar suara pintu terbuka kencang lalu suara langkah kaki terdengar semakin mendekatiku.
“Aku sudah menduga ini akan terjadi!” Aku mendengar suara dokter Stefan. Meskipun mataku terpejam dan mulutku masih merintih pelan tapi aku tahu lelaki ini sedang sibuk menyambungkan jarum infus dengan selang itu padaku.
“Icha! Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa kamu?”
“Kau dokternya?” Pertanyaan Bibi Nuri dan Tante Yuan memaksaku untuk membuka mata perlahan. Dua wanita itu tampak kaget menatapku.
Aku tidak tahu apa yang dokter Stefan suntikan padaku, tapi setelah cairan itu masuk ke dalam tubuhku perlahan denyutan yang aku rasakan berkurang, meskipun tidak hilang rasa sakitnya tapi setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega.
“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Dokter Stefan bertanya padaku sembari tangannya mengusap bawah hidungku, membersihkan darah yang ada di sana.
__ADS_1
Mataku terbuka perlahan dan mengangguk menatap wajah khawatir dokter Stefan. “Terima kasih dok.”
“Belum! Pendarahan di hidungmu masih belum berhenti. Kita harus ke rumah sakit sekarang!” Jawabnya sembari mengangkatku dan membaringkanku di atas kasur.
Aku menggeleng pelan yang mendapat decakan kesal pria ini. “Jangan keras kepala!”
“Aku akan ke rumah sakit setelah memenuhi janji bertemu dengan Henry.” Aku berbisik pelan sembari mataku melirik bibi Nuri dan tante Yuan. Kedua wanita itu masih tampak diam memperhatikan dengan ekspresi yang sangat khawatir.
Sekarang aku tidak tahu harus menceritakan apa pada mereka. “Henry?”
“Dia lelaki yang akan di jodohkan dengan Icha.” Jawab Tante Yuan terdengar hati-hati. Dokter Stefan melirik dua wanita di belakangnya dan seperti tersadar akan sesuatu dia langsung menggeleng cepat menghadapi tatapan penasaran tante Yuan dan bibi Nuri.
“Tidak tidak! Aku hanya dokternya, bukan siapa-siapa. Hanya saja aku sudah berjanji pada temanku sekaligus pacarnya –Bayu- untuk menjaganya sampai dia kembali.”
“Jadi sekarang bisa dokter ceritakan apa yang terjadi padanya?” Bibi Nuri tampak melipat kedua tangannya di atas perut, tatapannya meminta dokter Stefan untuk berkata jujur.
Aku tidak memiliki tenaga untuk hanya berbicara. Dokter Stefan sempat melirikku sebentar sebelum dia menjawab. “Aku tidak bisa menjawabnya. Ini di luar wewenangku. Ketika Bayu kembali, dia yang akan mengatakannya pada kalian.”
Bibi dan Tanteku ini tampak kesal mendengar jawaban dokter Stefan yang lagi-lagi belum menjawab pertanyaan mereka. Kemudian pria ini tampak mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
.
..
…
Mataku terbuka cepat menyadari aku yang memekik pelan dengan keringat sudah membasahi wajahku. Kelapaku terasa pusing karena aku yang tiba-tiba bangkit duduk dari posisi berbaring.
Hal pertama yang aku lihat adalah dokter Stefan sedang menatapku di sisi tempat tidur dan bibi Nuri serta tante Yuan ikut menatapku khawatir sembari mereka naik ke atas tempat tidur untuk menggenggam tanganku atau sekedar mengusap bahuku.
Aku pingsan lagi saat mendengar dokter Stefan menelpon suster Rini, dan entah mengapa aku yang bermimpi buruk serta merasakan kesakitan yang sangat nyata di rongga dadaku membuatku hampir tidak bisa bernapas.
Tapi satu hal yang pasti, dari semua kesakitan itu aku hanya mengingat satu orang. Aku merindukannya melebih apapun.
__ADS_1
“Dok, apa ada kabar dari Bayu?” Tanyaku masih sedikit terengah menatap pria ini yang sedang memeriksa denyut nadi di pergelangan tanganku.
Mendapat gelengan kepala darinya membuatku semakin merasa sesak. Aku tidak berpikir merindukan Bayu untuk menanyakan tentang perkembangan penawar racun itu, tapi aku sangat khawatir dan rindu dengan kehadirannya.
Perasaan itu sangat kuat sekarang dan aku tidak ingin apapun lagi di dunia ini selain dia. Apapun hasilnya, yang aku inginkan dan butuhkan adalah dia ada di sini bersamaku.
“Apa yang kau rasakan? Bagian mana yang sakit?” Dokter Stefan menatapku penuh perhatian. Aku menggeleng pelan dan kembali berbaring saat denyutan di kepalaku terasa semakin mendominasi.
Ajaibnya sekarang aku tidak lagi merasakan denyutan di sekujur tubuhku atau pendarahan dari hidungku tapi kepalaku yang sakit. “Berapa lama aku pingsan, dok?”
“Mungkin hanya lima menit? Kami sudah menghubungi ambulance dan akan membawamu ke rumah sakit.” Yang menjawab tante Yuan.
Aku merasa sangat bersalah melihat kedua wanita cantik ini. Mereka pasti mati-matian menahan semua pertanyaan yang sejak tadi belum di jawab. “Tidak dok. Kita sudah memiliki perjanjian bahwa aku akan kembali ke rumah sakit
besok.”
“Tapi melihatmu dengan keadaan seperti ini, seharusnya kau tahu itu akan sangat berbahaya! Bagaimana jika aku benar-benar tidak datang tadi?” Baru pertama kali aku menghadapi dokter Stefan yang menatapku tajam serta khawatir.
Lensa matanya yang berwarna coklat madu itu seolah membiusku untuk terus menatapnya, kelembutan di sana masih terlihat meskipun di halangi oleh kabut kekhawatirannya. Melihatku yang tidak langsung menjawab membuatnya menghela napas kemudian dia berdiri dan berbalik untuk menghubungi seseorang.
“Apa yang ibumu katakan tentang kau sakit dan di rawat di rumah sakit yang sama dengannya beberapa hari lalu adalah ini?” Pertanyaan pelan bibi Nuri mengalihkan pandanganku padanya.
Aku hanya mengangguk pelan menjawabnya. “Tolong jangan beritahu ibu dulu tentang ini semua sebelum aku yakin.”
“Yakin akan apa?” Tante Yuan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Semuanya.” Kedua wanita ini terdiam saling pandang, mulut mereka terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi di urungkan.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?” Pertanyaan bibi Nuri seperti bertanya pada dirinya sendiri. Aku mengerti maksudnya, di antara semua saudaraku hanya bibi Nuri dan tante Yuan yang paling sibuk bekerja. Mereka jarang sekali menghadiri acara keluarga dan melihat keduanya di sini hari ini cukup mengejutkanku.
__ADS_1
….