EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 173


__ADS_3

...


 


 


 


Aku sempat meringis pelan karena luka di bahuku terasa kaku ketika tanganku di tarik olehnya.


“Sayang?”


 


Panggilan seseorang mengalihkan pandangan kami, tak jauh aku melihat sosok ayah berdiri dengan kemeja dan dasinya sembari tangan kirinya membawa dasi dan tas kantornya.


 


 


“Oh mas! Kau sudah datang.” Wanita ini berdiri dan melangkah cepat menghampiri ayah, membawakan tas dan jas ayah dengan senyum lebar.


Ayah masih menatapku tanpa berkedip, aku ikut berdiri menghadapnya.


“Ada Icha di sini, dia katanya ingin menjenguk Hanna.”


“Jadi kau datang?” Ayah bertanya datar padaku.


Aku menghela napas pelan, berusaha menahan gemuruh menyesakkan di rongga dadaku.


“Karena kebetulan aku juga ada di sini, jadi aku juga ingin melihat.” Jawabku juga dengan nada datar.


Kedua orang ini melangkah lebih dekat padaku. “Kau sudah percaya ‘kan bagaimana kondisi adikmu?”


“Adik? Bukan kah seharusnya kakak?” Tanyaku tersenyum kecil, menggeleng pelan.


“Apa jangan-jangan ayah lupa dengan umurku?” Ayah terdiam seketika, raut wajahnya tegang untuk sesaat yang membuat dugaanku semakin yakin.


Ayah tidak pernah benar-benar memperhatikanku selama ini seperti yang wanita ini bilang, dia bahkan tidak ingat umurku.

__ADS_1


 


“Ada apa mas? Kau lupa umur Icha?”


 


“Ah tidak sayang, hanya saja Hanna lebih cocok menjadi adiknya Icha bukan? Dia sudah memiliki pekerjaan bagus, melanjutkan sekolahnya dan bahkan bisa membiayai Daniel sedangkan Hanna, selama ini putri kita selalu banyak pantangannya kalau ingin melakukan sesuatu.” Ayah menjawab sembari tersenyum lebar menatap wanita di sampingnya.


“J—jadi bagaimana? Kamu sudah memikirkan apa yang ayah katakan?” Ayah menoleh padaku, suaranya terdengar gugup.


“Tentang apa?” Tanyaku pura-pura tidak mengerti.


“Hanna juga saudaramu, sekarang kau tahu kondisinya seperti ini—“


“Apa perusahaan ayah sudah benar-benar bangkrut?” Sela ku.


“Ayah sedang berusaha menstabilkan perusahaan sekarang, butuh kerja keras dan waktu. Semuanya butuh proses.”


“Betul, semuanya butuh proses. Ayah pasti bisa menstabilkan perusahaan, bagaimanapun ayah sudah bekerja dan bergabung di perusahaan itu selama lebih dari dua puluh tahun ‘kan? Ayah harus lebih semangat lagi untuk bekerja, di rumah Hanna menunggumu pulang, dia membutuhkan ayah. Aku bukan siapa-siapa bagi ayah atau tante dan Hanna. Sejak awal aku hanya anak angkat ayah, sejak awal aku tidak pernah tahu Hanna dan tante, sejak awal keluarga ini yang ayah pilih dan sejak awal aku hanyalah seseorang yang mampu membiayai putra ayah –Daniel-.”


 


“Ada apa cha? Apa mas Davin membuatmu kecewa?” Tanya wanita ini dengan suara lembut dan tatapan sedih.


Aku menggeleng tersenyum kecil pada ayah, entah kenapa sekarang hatiku tidak terasa se kecewa sebelumnya.


 


“Aku tidak membenci ayah.”


 


“Nak Icha, jangan benci ayahmu ya, benci saja aku, jangan kedua orang ini.” Wanita ini tiba-tiba sudah terisak pelan.


Aku sampai tidak tahu harus melakukan apa padanya. Sejak tadi dua orang ini mengatakan hal yang sama. Apa sejahat itu aku di matanya?


“Tante tolong jangan menangis, sejak tadi kalian berdua terus mengatakan tentang membenci seseorang. Aku bahkan tidak mengatakan apapun tentang itu, jadinya seperti aku yang terlihat jahat di sini.” Jawabku menghela napas pelan.


Ayah tampak menenangkan wanita itu di sisinya, menghapus air mata di pipi istrinya sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya.

__ADS_1


Dari sudut mataku, aku melihat dua orang pria berjalan dari ujung lorong di belakang ayah dan wanita ini.


 


 


Bayu dan Benny.


 


Dua lelaki itu melihatku sekilas sembari keduanya masih mengobrol.


Seragam militer hijau yang di pakai Benny menarik perhatian orang-orang yang di lewatinya,  kedua pria itu tampak sudah rapih dan terlihat segar.


Diam-diam aku tersenyum kecil, senang sekali Bayu sudah datang dan menemukanku di sini.


 


“Katakan kalau kamu memang membenci ayah! Tidak usah datang ke sini kalau tidak mau membantu, kau hanya ingin mengejek ayah karena ketidak mampuan ayah ‘kan? Sekarang bahkan menyewa kamar VIP untuk putri ayah sendiri saja, ayah tidak mampu. Itu ‘kan yang ingin kamu katakan? Itu ‘kan maksudmu?” Beberapa orang sempat melirik kami, Bayu dan Benny juga berhenti satu meter di belakang dua orang ini.


“Sayang, kamu jangan seperti ini dong. Harusnya kamu mengerti dan menerima kalau Icha memang membenci kita. Selama ini dia hidup tanpamu –ayahnya-, kalau kamu sambal marah-marah seperti ini bukan solusi. Kita harus minta maaf.”


“Aku tidak akan membenci kalian, aku tidak memaksa kalian untuk minta maaf. Aku mengerti kenapa ayah bersikap seperti ini, aku mengerti kenapa tiba-tiba ayah datang padaku setelah dua puluh tahun lebih ayah tidak pernah muncul. Semuanya karena ayah menyayangi Hanna, ayah tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada putri ayah. Sejak awal aku memang bukan bagian dari ayah, aku hanya orang lain, ayah bahkan tidak mengingat umurku. Itu bukan salah ayah atau aku atau ibu, atau siapapun, ini semua karena takdir yang mempertemukan kita. Kalau aku membenci kalian karena alasan ini, siklus kebencian tak akan berakhir.” Jelasku menatap ayah serius.


 


“Jangan bohong! Ayah tahu dalam hatimu kamu membenci ayah, tidak mungkin kamu tidak membenci ayah dengan sikap ayah selama ini padamu. Dari pada nanti kamu diam-diam balas dendam pada Hanna, lebih baik kamu jujur sekarang!”


“Ayah terus bertanya apa aku membenci ayah? Apa aku ingin balas dendam? Apakah aneh bagiku untuk tidak membencimu atau tidak balas dendam? Apa yang aku lakukan setelah menyerangmu? Memisahkan kalian? Menghancurkan perusahaan ayah? Tentu saja aku tidak bisa. Aku tidak pernah bisa melupakan hari ketika ayah meninggalkanku dengan tatapan benci karena aku mengetahui perselingkuhan ayah dengan tante.” Aku menatap ayah dan wanita ini bergantian.


“Aku hanya mengkhawatirkan orang yang sama dengan orang yang ayah khawatirkan, aku hanya ingin mengikuti di mana kata hatiku. Dan jika aku mencapai kebahagian dengan cara itu, maka itu baik-baik saja.”


Ayah dan wanita ini terdiam menatapku, mendengarkan aku. “Ayah, ada banyak tempat yang aku ingat dengan penuh cinta saat dulu ayah membawaku bermain. Tapi ayah bahkan tidak percaya padaku dan jelas bahwa ayah menganggapku orang jahat dalam hatimu. Sekali lagi aku di ingatkan kalau sejak awal ayah dan ibu tidak menganggapku benar-benar bagian dari kalian ‘kan?”


Aku menghela napas pelan, tersenyum kecil merasakan lega dalam rongga dadaku. Bukan benci seperti yang ayah pikirkan.


“Terima kasih tante sudah menceritakan semuanya, sekarang aku mengerti, penyebab perpisahan ayah dan ibu bukan karena aku seperti yang selama ini ibu ku katakan. Sejak awal, karena ayah lebih mencintamu dari pada ibu dan Daniel. Aku mengerti, aku tidak akan mengganggu kalian. Semoga Hanna cepat sembuh dan segera mendapat donor yang cocok untuknya.” Aku tersenyum menatap wanita itu.


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2