EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 347


__ADS_3

...


Mataku terpejam, tanganku memeluk erat leher Bayu dan memutuskan untuk menempelkan wajahku di lehernya.


Aku tidak peduli dengan situasi yang semakin ramai. Banyak orang yang berlalu lalang untuk mengontrol kejadian, ada juga reporter yang mulai berdatangan.


Sembari menggendongku ala putri, Bayu melangkah mendekati mobil ambulan yang baru saja datang, kemudian dia duduk di belakang mobil, tempat keluar masuk pasien yang ingin di bawa dan berujar pelan, "Icha, setidaknya kamu harus di periksa dan di obati dulu sebelum kita pergi. Perjalanan ke rumah sakit dari sini cukup jauh karena kita ada di area pegunungan."


Aku mengeratkan pelukanku padanya sebelum memberenggut dan sedikit menjauhkan kepalaku darinya. Kemudian aku bisa lihat wajah Bayu yang cemberut ketika melihat wajahku.


"Kamu terlihat sangat pucat. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya."


"Aku ingin pulang! Aku tidak mau ada di kota ini lagi. Kita harus pulang ke RUMAH." Aku menekan kata terakhir sembari menatapnya dengan serius.


Pandangan Bayu teralihkan pada seseorang yang mendekat dari belakangku, dia mengangkat sebelah tangannya dan berkata, "biarkan aku saja yang mengobatinya."


Lalu tangan Bayu berailh menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi keningku dan sesuatu yang dingin dan terasa perih menyengat dari sana.


Aku meringis pelan tapi tidak mengalihkan pandanganku pada wajah serius Bayu. Sorot mata lelaki ini terlihat sangat fokus mengobati lukaku. Dia berdecak dan bergumam pelan, "darah dan memar ini! Aku akan pastikan dia menerima lebih dari ini."


"Bayu?"


"Kamu ingin pulang sekarang?"


"Kamu masih harus tinggal di sini?" aku bertanya balik.


Ada jeda di antara kami sebelum Bayu menjawab dengan terlambat, "....ya."


"Kalau gitu, aku juga tidak akan pergi!"

__ADS_1


"Kamu akan pulang sama bunda."


"Tidak! Saat kamu mengantarku ke bandara dan justru hal ini terjadi, aku tahu, aku harus pergi bersamamu. Menempel!" aku terdengar merajuk manja, tidak seperti diriku yang biasanya tapi aku merasa harus seperti ini.


"Uhuk..." terdengar batuk palsu dari belakang punggungku, tapi aku mengabaikannya dan masih fokus menatap Bayu, memintanya untuk segera menjawab.


"Tapi--" aku dengan cepat meraih kerah bajunya, mencengkramnya untuk memberikan kepastian kalau aku tidak ingin di bantah.


"Hah! baiklah nyonya." Dia menjawab dengan nada lelah dan setengah mengejekku, seolah dia sedang menuruti majikannya.


Aku mengangguk puas, melepas cengkraman di kerah bajunya dan merapihkannya sedikit.


***


"Jadi begitu?? Kamu tidak menyembunyikan apa-apa lagi 'kan?"


Setelah pengobatan dasar di tempat kejadian, Bayu sempat membawaku ke rumah sakit, tempat dokter Stefan ada. Selain syok, kedinginan dan luka ringan di keningku, tidak ada lagi hal serius padaku. Meski dokter Stefan menyarankan untuk menginap di rumah sakit semalam untuk melihat gejala lain yang mungkin timbul, tapi aku memaksa Bayu agar mengizinkanku beristirahat di apartemen.


Mungkin karena melihat yang aku alami selama beberapa hari terakhir, Bayu tidak berdebat dan mengiyakan hingga akhirnya sekarang aku ada di atas tempat tidur dengan selimut menutup sampai leher.


"Beneran. Itu yang terjadi." Katanya dengan wajah tabah dan sabar dengan kecurigaanku.


Aku mengangguk pelan, mengingat lagi seluruh kejadian ini dari sisi Bayu.


Awalnya, sebelum bunda datang, dia sudah merencanakan untuk membawaku pulang menggunakan pesawat dan sudah memesan tiketnya. Pada hari gempa terjadi, anggota timnya yang tersebar untuk menyelidiki organisasi Gilbert memberi kabar ke markas kalau rute yang biasa mereka gunakan terganggu akibat gempa, mereka menduga kalau kartel narkoba yang di pimpin Gilbert akan menggunakan jalur udara, satu-satunya yang bisa beroperasi dengan cepat.


Dalam waktu singkat itu, Bayu dan tim nya memutuskan penangkapan di percepat yang awalnya di rencanakan tiga hari lagi, bukan hanya penangkapan di bandara tapi secara bersamaan menyerbu markas lain yang sebelumnya sudah di ketahui lokasinya, yang di awasi oleh tim lain di masing-masing tempat.


Bayu berencana untuk benar-benar mengawasiku agar cepat masuk pesawat sebelum dia menyerbu Gilbert yang ada di bandara, tapi rencananya harus gagal karena nyatanya Gilbert bergerak lebih cepat.

__ADS_1


Pada saat itu, tim di bandara berhasil menangkap beberapa anak buah Gilbert sebelum mereka lari. Sebenarnya sejak pertempuran awal di bandara, Bayu sudah di perintahkan oleh komandannya untuk segera pindah ke markas Gilbert yang ada di desa kosong, jadi Bayu tidak banyak terlibat di bandara.


Ketika aku di pindahkan ke desa kosong, Bayu dan beberapa orang dari tim nya sudah ada di sana, bersembunyi di antara rumah-rumah kosong. Dia kaget melihatku ada di sana, dia juga mengaku ingin segera menyerbu masuk saat melihatku di ancam oleh Wendy, Cilia dan pria gila Samuel, tapi dia harus menahannya agar rencana penyerbuan mereka yang akan di laksanakan saat pagi hari tidak gagal.


Untuk orang yang menculikku, dia memang salah satu anggota yang ikut menyerbu markas, dia melakukan itu ternyata untuk mengancam Bayu karena dia memegang bukti sponsor untuk lab Asura. Bukti itu Bayu dapatkan sebelum penyerbuan, saat dia dan timnya diam-diam memeriksa ke brangkas mereka di malam hari.


Penculik itu, yang akhirnya tertembak 2 kali di kakinya adalah salah satu sponsor terbesar di lab Asura menggunakan nama palsu.


Bayu terlambat menyadari saat aku di culik oleh pria itu, dia kembali ke parkiran mobil dan melihat kekacauan itu sebelum melaporkannya.


"Rasanya aku benar-benar akan gila karena kau hilang di depan mataku 2 kali! Tapi aku ingat saat di bandara, kamu pakai semua cincin yang aku kasih. Cincin ini--" Bayu menunjuk cincin hitam yang dia keluarkan dari bajunya, tergantung di lehernya, "cincin ini yang secara khusus aku buatkan untuk kita berdua, punya alat pelacak. Saat aku mau buat ini, aku punya firasat kalau memang harus menanamkan alat pelacak."


"Ho... Lalu, apa yang terjadi saat suara tembakan pertama di pegunungan? Apa kamu lupa kalau aku di sana? Kamu berdiri di belakang jurang dan penculik itu terus menatapmu dengan kejam! Rasanya aku hampir mati karena serangan jantung saat penculik itu menembakmu!"


Bayu menutup mulutku dengan anggur yang dia berikan sembari keningnya berkerut tidak suka, "hush! jangan mengatakan mati dengan mudah."


"Tapi itulah kebenarannya! Rasanya jantungku sakit sekali menyadari kamu tidak ada di sana." Jawabku menggerutu.


Tiba-tiba saja Bayu tersenyum kecil, dia kemudian menaruh piring berisi anggur di meja kecil samping tempat tidur lalu bergerak untuk masuk ke dalam selimut. Tangannya menarik pinggangku dengan mudah untuk dia peluk dengan erat. Kepalanya bersandar di dadaku dan bergumam, "aku tahu ini! Aku tahu kalau aku tidak bisa hidup tanpa kamu."


"Hm? Tiba-tiba?"


Aku membiarkan lelaki ini memelukku semakin erat, namun suasana romantis ini seolah tidak pernah ada karena sesuatu yang dia katakan selanjutnya membuat kerutan di keningku semakin dalam.


"Violet... Apa kita punya baju warna Violet?"


...


.

__ADS_1


__ADS_2