
...
“Lihat?! Ibu sendiri yang terus menyalahkanku? Kalau seperti ini aku harus bagaimana? Katakan!” Aku memekik,
mulai terisak pelan menatapnya. Sekarang pipiku berubah menjadi lembab dan basah.
“Hormati ibumu ini! Bicara yang sopan!”
“Aku selalu berbicara sopan pada ibu tapi akhir-akhir ini ibu selalu melewati batas—“
“Apa? Melewati batas??” Ibu bertanya, tertawa sinis padaku.
“Lagi! Ibu tidak pernah mau mendengar aku menyampaikan pendapatku. Jika seperti ini namanya bukan komunikasi! Tidak ada gunanya aku berbicara dengan ibu, apapun itu ibu tidak pernah mau menerimaku entah kehadiranku, atau bahkan suaraku ini.”
“Kamu berani sekali mengkritik—“
“HENTIKAN!! BERHENTI!!” Aku menjerit, berteriak menangis menutup rapat mataku. Jantungku berdetak cepat dan
hal itu membuat aku kesulitan bernapas. Rasa panas itu kembali terasa di rongga dada kiriku.
“Apa?? Kau sangat berlebihan! Ibu hanya—“
“AKU BILANG BERHENTI!!!!”
Aku masih mendengarnya, suara ibu yang lagi-lagi berbicara sarkastik padaku, mengatakan aku berlebihan, anak
manja karena aku berteriak padanya. Tapi aku tidak ingin mendengar semua itu, aku berusaha menggeleng menutup kedua telingaku hingga suara nyaring monitor pendeteksi jantung di sebelahku ini berdetak lebih cepat.
“Ada apa ini??” Di antara suara-suara yang ada di ruangan ini, aku mendengar suara lain dari arah pintu.
“Apa yang kalian lakukan?? Icha tenanglah!” Itu suara dokter Stefan, mendekat lalu mengguncang bahuku yang
tidak terluka, berusaha menatap wajahku yang sedang menunduk sambil terisak. Aku tidak ingin melihat ibu, aku tidak ingin di temani Daniel. Aku tidak ingin mereka berdua!
“Apa yang kalian tunggu? Cepat keluar dari sini!!”
“Siapa kau? Dokter macam apa yang mengusir wali pasiennya??” Ya tuhan, itu suara ibu lagi. Terdengar sangat
menyebalkan di telingaku. Padahal tadi dia yang memaksa untuk pergi dari hadapanku.
“Wali macam apa yang membuat pasien histeris ketakutan seperti ini? Lebih baik kalian keluar sekarang! Dan kamu, ngapain diem aja? Cepat bawa ibumu keluar dari sini!”
“A—aku yang menemani kak Icha dari pagi dok. Biarkan aku ada di sini.”
“Apa itu penting sekarang?? Kau tidak mengerti keadaan di sini?? Cepat keluar!! Astagaaa SUSTER!!”
__ADS_1
“Aku akan memindahkannya dari rumah sakit ini! Dokter di sini sangat tidak sopan.”
Aku merasakan dokter Stefan tidak lagi berada di dekatku. Aku mendongak sembari mengusap pipiku, melihat pria
berambut coklat madu itu berjalan cepat menghampiri Daniel dan ibu, menarik tangan mereka tapi lagi-lagi ibu menghempaskannya dan justru menampar dokter Stefan.
Tidak!
Jangan seperti itu! Dokter Stefan hanya membantuku, dia—
“Lihat karena ulahmu sendiri ibu terpaksa akan memindahkanmu ke rumah sakit lain.” Ibu menunjukku, wajahnya
memerah menahan amarah sedangkan Daniel, dari ujung mataku dia hanya diam tidak melakukan apapun.
“Aku akan menuntumu karena berlaku kasar pada wali pasien.”
“HENTIKAN!!!!” Aku tidak tahan lagi, aku menjerit dan menangis seperti orang gila. Dengan gerakkan cepat tanpa
mempedulikan rasa sakit yang aku dapatkan, aku menarik paksa jarum infus hingga punggung tangnku berdarah, mencabut semua alat yang menempel di tubuhku lalu aku turun dari ranjang kesakitan ini.
Aku mendengar suara pekikan dokter Stefan tapi aku tidak peduli, aku kemudian hanya berlari cepat keluar dari
kamar, menabrak dua orang suster yang hendak masuk ke ruanganku di ambang pintu.
Kakiku membawaku melewati beberapa koridor, melewati orang-orang yang berlalu lalang tanpa berniat melihat
kebelakang. Yang aku inginkan sekarang adalah berlari menjauh, terisak untuk menyampaikan bahwa hatiku kesakitan. Tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang-orang yang melihatku seperti ini, aku mencari jalan keluar.
Aku berbelok, menabrak pintu darurat untuk turun, mengabaikan suster dan dokter yang hendak menghalangiku. Mungkin hanya ini lah satu-satunya jalan agar aku bisa bertahan, agar aku tidak melewati batas.
Lantai yang dingin menyentuh telapak kakiku, tatapan iba orang-orang saat aku sudah sampai di lantai dasar di
abaikan. Suhu yang dingin sangat terasa menyentuh kulitku, menyadarkan aku jika di luar langit berwarna hitam.
Aku tahu, tepat di depan pintu utama rumah sakit ini, dua orang satpam sudah menungguku untuk mereka tangkap. Tapi aku tetap berlari ke arah mereka meskipun aku bisa menduga akan tertangkap.
“Berhenti nona. Ada apa lari-lari seperti ini? Nona sedang sakit, lebih baik untuk kembali ke kamar inap.”
“Tidak! Aku bukan lagi pasien di sini. aku akan keluar dari sini, jadi kalian sebaiknya tidak menghalangiku.” Aku menjawab dengan suara yang bergetar menahan tangis, menatap mereka sangat serius.
“Kami akan mengijinkan nona keluar tapi nona harus di periksa dulu—“
“Panggil dokter Stefan! Dia sudah mengijinkanku untuk keluar.”
__ADS_1
Orang-orang di lobi mulai memperhatikanku, dua satpam di depanku juga tampak ragu-ragu dan tidak percaya.
Bahkan aku merasakan seorang ibu-ibu hendak mendekatiku, ingin menenangkanku.
Sebelum semuanya tambah rumit, aku dengan sengaja mendorong dua orang satpam ini setelah melihat mereka sedikit lengah, lalu berlari keluar pintu hingga—
TIIINNNN!!!!
Lampu mobil menghalangi pandanganku dari samping kanan, benda itu hampir menabrakku jika saja dia tidak berhenti tepat waktu. Aku yang sangat kaget jatuh berlutut sembari mencengkram erat dada kiri, merasakan detak jantungku yang meningkat dan aku kesulitan bernapas.
Ada apa denganku sebenarnya? Kenapa aku selalu merasakan dada kiriku panas dan sakit? Apa mungkin racun itu yang perlahan akan merusak jantungku?
Aku merasa orang-orang mulai mendekatiku, sang sopir yang hampir menabrakku ini juga keluar dari mobilnya,
terdengar menggerutu dan kesal padaku. Aku tidak bisa apa-apa, aku sedang berusaha menenangkan detak jantungku, menghela napas dan menghembuskannya perlahan.
Keringat membasahi wajahku, Aku kedinginan dan takut, aku tidak meyukai berada di posisi ini saat orang-orang
justru hanya melihatku. Lalu aku merasakan dua orang suster membantuku untuk bangun dan tanpa bisa melawan lagi aku di bawa oleh mereka untuk masuk ke dalam rumah sakit lagi.
Aku hanya merasakan di tidurkan di sebuah tempat tidur di antara ruang luas ini, suasana di sini sangat ramai dan
sibuk. Kemudian salah seorang suster memasangkan lagi masker oksigen dan jarum infus. Dua orang suster ini bergerak cepat untuk membuatku stabil.
Saat pandangan mataku mulai jelas, aku menyadari tempat ini adalah UGD. Pasien di samping kanan dan kiriku juga sedang di periksa oleh suster dan dokter lain.
Sesaat aku melirik mereka dan diam-diam dalam hati berdoa untuk kesembuhan mereka. “Apa yang kau lihat?” Aku
mendengar suara dokter Stefan, lelaki ini sudah berdiri di sampingku sembari matanya mengikuti arah pandangku.
“Apa dadamu masih sakit?” Mendengar pertanyaannya membuatku menyadari jika aku sudah bisa lebih mudah bernapas dan detak jantungku juga berangsur normal.
“Lebih baik.” Jawabku samar dari masker oksigen.
“Jangan kabur lagi. Kau aman di sini.”
“Dok—“
“Sudah nanti saja penjelasannya, yang penting sekarang istirahat dulu.” Dokter Stefan tersenyum simpul padaku,
menepuk pelan lenganku dan entah mengapa aku merasa sangat mengantuk.
__ADS_1
...