
...
“....begitu katanya. Dia minta tolong aku untuk membantunya memenangkan sidang perceraiannya dan mendapatkan hak asuh anak mereka. Bagaimana menurutmu?”
“Hmm...” Bayu berpikir keras, setengah jam lalu, Nadya sudah keluar dari apartemen ini dan tak lama kemudian lelaki ini pulang. Aku langsung menceritakan semuanya pada Bayu.
“Aku sih tidak terlalu tahu detail persaingan keluargaku dan keluarga Baron, tapi selama ini, ayah atau kakek tidak pernah menyinggung persaingan mereka. Kalau aku tanya, kenapa keluarga mereka menyusahkan kita di urusan internal kemiliteran, mereka hanya menjawab kalau persaingan selalu ada di manapun dan suatu hal yang biasa dalam kehidupan.”
“Memang sih, tidak salah kakek dan ayah menjawab itu, dendam tidak harus di turunkan. Tapi, setelah aku menceritakan ulang masalah Nadya tadi, aku jadi punya firasat kalau masalah ini tidak sesederhana kelihatannya.”
“Apa maksudmu?” Bayu menatapku penasaran.
“Aku dan Nadya tidak pernah mengobrol. Setiap kali aku ingin mengajaknya bicara, dia menghindariku. Lalu tiba-tiba dia datang dan menceritakan masalahnya, meminta bantuanku. Apa kau pikir, pak Baron tidak tahu niat Nadya untuk meminta bantuan pada kita? Dengan tempramen pak Baron yang selama ini selalu melakukan tindak kekerasan, dia tidak mungkin kan membiarkan istrinya membocorkan masalah pribadi mereka, terlebih pada saingan keluarga mereka. Nadya sendiri yang bilang kalau keluarga Baron ingin memberikan kesan baik dan mereka akan menutupi masalah sekecil apapun agar nama keluarga mereka tidak jelek.” Jelasku yang membuat kerutan di dahi lelaki ini semakin dalam.
“Semua dugaan yang kau katakan, ada benarnya juga.”
“Apa menurutmu kita harus menceritakannya pada ayah atau kakek?”
“Kita harus memberitahu mereka dan minta pendapat.” Bayu mengangguk, “lalu apa kamu akan membantunya?”
“Kalau aku bisa, aku pasti mau, tapi aku agak terganggu dengan kesan yang dia berikan. Kau tahu, perkataannya tadi seperti dia ingin memanfaatkanku, mengingatkanku pada tante Marisa dan Hanna.”
“Begitu? Kalau seperti itu tolak saja langsung.” Jawab Bayu tegas.
“Aku ingin memastikan dulu baru memutuskan. Bagaimanapun, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kalau aku ada di posisinya, sedang putus asa, aku juga berharap bisa menemukan bantuan.”
“Aku tahu, kau tidak akan mengabaikannya.” Lelaki ini tersenyum kecil, mengusap pucak kepalaku, “apapun keputusanmu nanti, aku pasti mendukungmu.”
Senyuman ku mengembang mendengar pernyataannya, aku tidak bisa lagi hanya duduk di sebelahnya, kedua tanganku sudah memeluk bahunya dari samping, sembari menyandarkan kepala di bahunya, aku berujar, “kamu
memang yang paling mengerti aku.”
“Tentu saja!” Jawabnya dengan nada bangga.
“Tapi ngomong-ngomong, aku jadi ingat sesuatu.” Sembari melepas pelukannya, aku menatapnya serius.
“Apa?”
“Tentang Gia. Apa kamu sudah dapat info tentang orang-orang terdekatnya? Apa ada yang aneh?”
“Kami masih mencari tentang itu. Setelah memastikan infonya bisa di percaya dan ada bukti, aku akan memberitahumu.” Katanya.
Memang, tiga minggu lalu, Bayu sempat mengatakan kalau setelah dia sudah cek tentang Gia lebih dalam, ada yang mencurigakan dan dia membutuhkan waktu mengumpulkan dan memastikan benang merahnya.
“Sebenarnya, apa yang kau curigai?”
__ADS_1
Racun cinta. Aku masih mencurigai itu. Gia tidak mungkin begitu saja membocorkan pada Bayu tentang niatnya untuk meracuniku dengan racun cinta.
“Kalau sudah yakin, aku juga akan memberitahumu.”
“Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?” Lelaki ini merangkul bahuku, menatapku dengan serius dan kening berkerut.
“...ya.”
“Apa ini ada hubunganya dengan niat dia mengikutimu sampai sini?”
“...ya.”
“Apa ini tentang racun itu?” Jantungku berdetak cepat. Nada suara Bayu semakin serius dan tebakannya kini tepat sasaran.
Aku tidak bisa menjawabnya langsung dan hanya menghindari tatapannya.
“Natasha! Beritahu aku apa yang terjadi?” Dia memegang erat bahuku, membalikkan posisi dudukku agar kami duduk berhadapan.
“Aku belum memastikan apapun. Kamu jangan khawatir.” Akhirnya, hanya itu yang bisa aku katakan.
“Apa kau merasa tubuhmu sakit?? Kenapa kau tidak memberitahuku?!” Matanya memerah dan berkaca-kaca, aku tidak tega lagi dan segera menggeleng, menangkup wajahnya agar dia tenang.
Aku tersenyum kecil dan memutuskan untuk mendekapnya, membawa kepalanya untuk bersandar di bahuku, “Bagaimana kalau hari ini kita keluar?”
“Kau mau mengajakku kencan?”
“Iya. Kencan”
Bayu segera menjauhkan kepalanya dariku dan menjawab, “tapi aku ingin kita tetap di rumah.”
“Baiklah. Mau meneruskan main monopoli?” Tawarku, hendak berdiri untuk mengambil permainan itu di dekat meja TV tapi lelaki ini menahan tanganku.
“Aku tidak mau main permainan itu.”
“Kalau gitu, kau lapar? Aku akan buatkan sesuatu—“
“Tidak!”
“Bagaimana dengan nonton film? Zombie? Hantu?”
“Boo, kenapa pilihannya zombie dan hantu? Aku ingin sesuatu yang romantis.” Dia menyeringai.
__ADS_1
“Romantis? Hmm.. Film twilight? Tidak tidak! Itu film sudah lama. Sebentar aku cari dulu film terbaru—“
“Kamu lagi mengujiku ya?”
“Apanya??” Aku menyeringai, segera berdiri dan berlari menjauhinya.
***
“Aku ingin membicarakan hal yang serius.”
“Hal yang serius? Ada apa?” Aku masih menempel di dada lelaki ini dengan wajah terkubur di lehernya. Kami berdua masih berbaring di atas tempat tidur, di bawah selimut.
Tangan kiri Bayu memeluk punggung telanjangku, membelai lagi dan lagi, merasakan gatal menjalar dari kulit sampai ke dasar hatiku saat dia membelainya. Aku berputar agak tidak nyaman tapi dekapan dan sandaranku padanya lebih dalam.
Setelah beberapa saat terdiam, dia menjawab, “kami sudah menemukan keberadaan Wendy.”
Seketika aku bangkit dari posisi berbaring, dan berbaring miring untuk menatap wajahnya lebih jelas, menggunakan siku tanganku untuk menyangga kepala.
Aku menjawab dengan nada bersemangat, “oh ya? Di mana? Kalian akan menangkapnya langsung?”
Dia ikut berbaring miring menghadapku dengan siku tangan menyangga kepalanya. Tangannya yang lain menarik ke atas selimut yang menutupi tubuh kami sampai batas leherku, dia berujar, “desa yang menjadi tempat tinggal Wendy, situasinya sangat rumit. Seperti desa yang di kontrol penuh oleh orang terkuat di sana, ada penjaga dan
aturan-aturan tertentu. Ingat Sam?” aku mengangguk.
Bayu menghela napas pendek dan melanjutkan, “Sam di kirim masuk ke sana sendirian untuk melihat situasinya.”
“Ada apa?” Melihatnya yang sedang merenung, aku jadi khawatir.
“Pokoknya, dari informasi yang kami dapat, di sana sangat berbahaya. Sulit untuk masuk atau keluar.”
“Memangnya desa seperti apa itu?”
Bayu menggeleng, “aku tidak tahu pasti detailnya. Lalu, cepat atau lambat, akan ada penyerbuan ke sana. Aku juga mungkin salah satu dari tim itu.”
Refleks aku bangkit duduk, menahan selimut di depan dadaku dan menatapnya serius, “kapan?”
“Belum ada keputusan. Tapi kami sedang bersiap-siap.”
Aku mengerti, kenapa Bayu mengatakan dia ingin bicara serius mengenai obrolan ini. Secara tersirat, dia mengatakan kalau ini misi berbahaya yang mungkin saja membuatnya terluka atau lebih parahnya tidak kembali. Di lihat bagaimana dia menjelaskan kalau Sam masuk sendirian ke desa itu, pasti desa itu bukan sekedar desa biasa.
...
__ADS_1