
...
Matanya terlihat memerah karena habis menangis tadi, sedangkan ayah hanya diam tidak membalas tatapanku. “Baiklah, ayah dan tante, Icha pamit. Selamat malam.”
Aku sudah melangkah, hendak berjalan melewati ayah dan istrinya tapi langkahku terhenti mendengar pertanyaannya.
“Jadi kamu tetap tidak mau membantu Hanna?” Nada serius ayah membuatku menoleh padanya, tapi sebelum aku bisa menjawabnya, aku melihat dari ujung mataku Bayu melangkah mendekatiku lalu tangannya menarik pelan lengan kananku dan tiang infus yang aku bawa untuk berdiri di sampingnya.
Ayah dan tante berbalik menyadari kehadiran Bayu. “Selamat malam, om, tante. Saya sudah mendengar semuanya sejak tadi. Saya mengerti memang benar bahwa om dirugikan tentang kondisi perusahaan saat ini dan saya yakin om ingin Hanna mendapat pengobatan terbaiknya. Tapi setelah membuat kesalahpamahan pada Icha mengenai perceraian om selama dua puluh tahun ini dan membiarkan Icha menanggung semua biaya sekolah putra om, bahkan sekarang om menuntutnya untuk bertanggung jawab pada seseorang yang tidak di kenalnya sama sekali. Sepertinya om berpikir dunia bergerak di sekitar om saja, bukan?”
Aku menarik pelan genggaman tangan Bayu yang menggenggam tangan kanan ku agar lelaki ini menatapku, tapi nyatanya Bayu dengan serius menatap ayah seolah mengatakan jangan mendekatiku lagi.
“Jika Icha membiarkan om untuk membuatnya bertanggung jawab juga dengan putri om ini, maka itu tidak apa-apa. Tapi tolong om juga lihat apa yang putra om lakukan selama ini. Icha juga seseorang yang pergi melalui banyak hal untuk bisa berdiri tegak dan tetap melangkah seperti sekarang.”
“Aku tahu bagaimana ibumu memperlakukanmu selama ini, jadi—“
“Tidak apa-apa. Aku sudah tidak terlalu memikirkan tentang sikap ibu.” Aku memotong ucapan ayah, tidak ingin mendengar apapun lebih dari itu. Entah itu penawaran atau permintaan maaf.
“Seseorang mengatakan padaku kalau orang tidak melakukan kewajibannya, berarti dia tidak boleh mendapatkan hak nya. Tapi setelah melihat kondisi Hanna, aku akan membantu ayah.” Ayah dan wanita di sampingnya itu tampak senang sekali. Aku bisa tahu Bayu yang langsung menatapku.
“Ayah, ketika Hanna benar-benar membutuhkan uang untuk pengobatan atau operasinya, datanglah padaku, bawa lembar obligasi yang ayah punya di perusahaan, aku akan membelinya.”
“Apa?!”
“Ayah masih sehat dan sempurna. Ayah pasti bisa bekerja lebih keras di tempat lain. Setidaknya ayah punya banyak relasi selama menajalankan perusahaan ini. Ayah pasti punya spesifikasi yang bagus untuk di terima di perusahaan lain.”
Wajah ayah terlihat marah dan kesal tapi sepertinya dia tidak mampu mengeluarkan umpatannya padaku. Dia diam menatapku, tidak percaya aku akan mengatakan ini.
“N—nak Icha, maafkan mas Davin dan tante ya. Selama ini kamu pasti sudah menderita dengan sikap ibumu.” Wanita di samping ayah tiba-tiba mendekatiku, menarik tangan kiriku lagi untuk dia genggam.
“Tidak. Tante dan ayah tidak perlu minta maaf. Seperti yang aku bilang tadi, semua yang terjadi adalah takdir. Bukan salah siapapun.” Jawabku menarik kembali tangan kiriku sehati-hati mungkin agar bahuku tidak sakit.
Sudah dua kali wanita ini menyentuh tanganku tapi aku tidak bisa mengatakan aku mendapat perasaan yang baik darinya. Tidak sehangat yang aku bayangkan.
“Baiklah, nak Icha sudah berusaha keras selama ini. Nak Icha boleh menganggap tante sebagai ibumu. Tante akan sangat senang mendapat dua gadis cantik di keluarga kita. Hanna pasti senang punya saudara sepertimu, tante
akan menyayangimu, memperhatikanmu seperti anak kandung tante.”
Aku tersenyum. “Terima kasih atas tawarannya, tapi Icha sekarang sudah mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang, juga mendapat banyak perhatian, jadi Icha tidak bisa menerimanya. Bagaimana pun lebih baik tante sepenuhnya memberikan perhatian dan kasih sayang tante pada Hanna dan ayah. Icha tidak membutuhkan seseorang yang bahkan tidak menanyakan apa yang terjadi pada Icha, yang juga sedang di rawat di rumah sakit ini. Padahal kita sudah mengobrol lebih dari sepuluh menit.”
Raut wajah wanita ini berubah kaget dan kaku. Aku memang sengaja menyindirnya haha.
“Kami pamit, Icha harus banyak istirahat. Selamat malam.” Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban mereka, lelaki ini menarikku pelan untuk menjauhi mereka.
__ADS_1
Aku, Bayu dan Benny berjalan perlahan menjauhi kedua orang itu. Bayu yang berdiri di sisi kananku membantuku membawa tiang infus dan Benny yang berdiri di sisi kiriku justru sedang asik terkekeh.
“Ada apa?” Tanyaku pada Benny.
“Setelah tadi mengatakan kalau kamu tidak membenci mereka tapi pada akhirnya tetap saja kamu menyindirnya ‘kan?”
“Ohh ketahuan! Hehehe”
Tiba-tiba aku merasakan jitakkan pelan di sisi kepalaku. Refleks aku menoleh menatap Bayu sembari meringis pelan.
“Kenapa setiap kali aku pergi, kau selalu meninggalkan kamarmu!”
“Setidaknya aku tidak kabur.” Aku membela diri sendiri. Bayu berdecak gemas.
“Tapi apa aku berlebihan mengatakan akan membeli saham perusahaan ayah?” Aku bertanya pada Bayu.
“Kenapa? Menurutku itu pilihan yang bagus, atau maksudmu tentang kesiapan uang untuk membeli saham?” Aku meringis pelan sembari tersenyum lebar. Bayu menebaknya.
“Bodoh!” Lelaki ini sekali lagi menjitak keningku dengan jari-jarinya.
“Wahh nyalimu besar juga. Menjanjikan untuk membeli saham perusahaan tanpa persiapan uangnya.” Ledek Benny terlihat puas mengejekku.
Aku melirik padanya, dia dan Bayu sama saja! Mereka menyebalkan!
“Menyebalkan!”
.
..
…
__ADS_1
Mataku tak lepas memperhatikan dua orang lelaki yang berdiri lima meter di depan ku, mereka sedang mengobrol.
Benny sedang mendiskusikan sesuatu dengan Bayu yang aku tidak tahu tentang apa, mungkin soal pekerjaan karena Benny memakai seragam militernya, tadi dia bilang sengaja datang berkunjung menemui Bayu sebelum
berangkat kerja.
Jam dinding besar di lantai dasar rumah sakit ini ada di atas meja informasi di samping kiriku. Malam ini tidak banyak pasien seperti tadi siang. Aku bisa duduk di salah satu kursi tunggu. Awalnya Bayu menyuruhku untuk segera ke kamar tapi aku yang bosan di sana memaksa ingin ikut mengantar Benny juga.
PRAANG!!
Aku tersentak kaget mendengar suara benda jatuh di belakangku, refleks aku menoleh melihat di belokan menuju ruang UGD, ada seorang pria yang sedang marah-marah pada seorang dokter dan seorang suster yang sibuk memunguti benda-benda jatuh, di samping pria itu, ada pria lain yang mulai membantu suster itu.
“Bagaimana bisa dia tidak selamat!! Jelas-jelas tadi sebelum masuk ke UGD dia baik-baik saja dan hanya luka gores kecil yang membutuhkan beberapa jahitan! Sebelumnya kami masih bisa mengobrol santai dan dia tidak sekalipun terlihat kesakitan!”
“I—itu kami sedang memeriksa lebih lanjut penyebabnya, tapi sesaat setelah pasien masuk UGD mendadak terkena serangan jantung. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menolongnya tapi tekanan darah dan napasnya terus menurun, pasti ada penyebab lebih dari hanya sekedar luka gores. Anda harus memberitahu kami apa yang terjadi pada pasien—“
“Apa dengan aku menjelaskannya dia akan kembali hidup, hah?!” Pria itu berteriak sambil mulai menangis terisak.
...
__ADS_1