
...
“Aku tidak yakin tapi dari aromanya sangat pekat dan kuat. Sepertinya lebih berbahaya dari racun sebelumnya yang
kami temukan.” Aku menelan saliva susah payah. Di lihat dari cara menjawabnya, aku menduga Jack belum tahu jika racun itu sudah masuk ke tubuhku.
“Jadi bagaimana keadaanku, dok?” Aku tersenyum kecil menatapnya, dia terkekeh pelan mendengarku memanggilnya dokter.
“Untuk ukuran seorang wanita, kau termasuk memiliki fisik yang kuat. Mungkin wanita lain akan pingsan dan tidak
bisa berdiri dengan kondisi ini. Tapi aku mendengar katanya kamu sampai berlari-lari meskipun sedang demam dan bahu yang terluka. Bahkan sambal menggendong anak kecil.”
“Ahh jangan berlebihan.” Aku menggeleng terkekeh mendengarnya.
“Aku serius. Biasanya aku menangani wanita yang terluka dan demam di tengah hutan seperti ini mereka terlihat
sangat lemah.”
Tawa kami terhenti begitu mendengar suara dari walkie talkie yang di bawa Jack. “Perhatian! Anggota Shadow segera berkumpul di tempat pendaratan.” Itu suara Bayu. Suaranya tenang tapi tegas.
Jack melirikku sembari tersenyum jahil. “Aku harus pergi. Kapten akan mengamuk jika kami tidak datang dalam satu menit.”
Aku tertawa kecil sembari mengangguk, Jack dengan cepat menutup kotaknya dan berlari menuju pintu lalu menghilang di baliknya.
Aku memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan perlahan menuju pintu. Aku juga penasaran dengan kondisi
di luar. Meskipun kepalaku masih pusing dan denyutan sakit di lengan kiriku sangat terasa tapi aku masih bisa menahannya. Jack memang menebak dengan benar, selama hidupku aku jarang sakit, sekalipun sakit demam tanpa memakan banyak obat, aku langsung sembuh.
Begitu aku membuka pintu rumah ini, langit yang berwarna biru tua dengan warna oranye di arah timur membuai
pandanganku. Udaranya sangat dingin melebihi dinginnya udara tadi malam.
Penduduk desa ini terlihat sibuk berlalu lalang sepagi ini. mungkin saja karena desa mereka kembali lagi ke
tangan mereka sendiri jadi butuh pemeriksaan lebih ketat. Tidak hanya lelaki namun para wanita juga tak jarang ada yang berlalu lalang, sesekali mereka melirikku saat melewati rumah ini.
“Oh kau sudah bangun?” Wanita pemilik rumah ini muncul dari samping rumah. Aku mengangguk tersenyum kecil
__ADS_1
padanya.
“Ayo lebih baik kita masuk. Udaranya sangat dingin.” Ajaknya menuntunku agar masuk ke dalam rumah. Tapi langkahku terhenti di depan pintu, tiba-tiba dada kiriku terasa panas dan aku merasa sesak napas.
“Ada apa?” Wanita paruh baya ini menyentuh pelan bahu kananku, aku yang sedang berusaha mengatur napas hanya menggeleng pelan. Mungkin aku kelelahan dan stress tapi nyatanya tangan kananku yang bebas mencengkram erat kusen pintu, panas itu semakin terasa.
“Ayo ayo masuk dulu. Tubuhmu masih lemah.”
Aku sudah duduk di atas ranjang dengan bantuan wanita ini. setiap tarikan napas terasa menyakitkan di tambah
rasa panas masih menjalar di dada kiriku. Aku sedang mengusapnya agar lebih baik, bersandar di kepala ranjang.
“Bu, jangan beritahu dokter tantara itu. Aku akan baik-baik saja, mungkin ini efek bahuku terluka.” Kataku melihat
wanita ini masih menatapku khawatir.
“Baiklah, coba berbaring. Aku akan membawakan teh hangat.” Pamitnya segera keluar dari kamar.
Aku sudah tidak bisa menghitung lagi ada berapa rasa sakit yang terjadi di tubuhku dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Entah fisik maupun mental.
Aku coba memejamkan mata sembari masih mengusapnya, tapi belum ada yang membaik entah demam, lukaku maupun sakit di dada kiriku ini.
“Minum dulu ini, sudah banyak sekali tentara di luar. Sepertinya pasukan lainnya baru datang.”
“Terima kasih bu telah merawatku.”
“Tidak usah sungkan, kau berada di sini sebagai tawanan mereka juga bukan keinginanmu. Semoga kau pulang dengan selamat. Hati-hati.” Dia menepuk tanganku pelan, menatapku dengan sorot lembutnya.
Aku tersenyum dan memberikan air gelas yang sudah diminum setengahnya. Lalu dia sekali lagi menuntunku keluar dari rumahnya setelah aku mengganti sweater ini dengan bajuku yang sudah kering.
Benar saja, ketika aku keluar rumah , di depan kami berdiri tiga orang lelaki berpakaian serba hitam mirip seperti
Jack tadi sedang mengobrol. Salah satu pria yang membelakangiku menoleh dan dia tersenyum menatapku.
Dia Bayu. Lelaki ini berjalan mendekatiku dan tanpa aba-aba sebelah tangannya merangkul bahuku perlahan untuk
dia dekap dan kemudian dia mencium sisi kepalaku. Aku sangat malu di lihat oleh wanita ini dan dua orang pria di belakang Bayu.
“Terima kasih. Maaf merepotkan.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Pastikan pacarmu selamat sampai rumah ya.”
“Tentu saja. Itu menjadi tugas yang paling penting.” Aku sekuat tenaga menahan senyum mendengarnya. Setelah
berpamitan sekali lagi dengan wanita pemilik rumah ini aku mulai berjalan mengikuti langkah Bayu dan dua lelaki yang masih mengobrolkan sesuatu.
Karena tidak ingin mengganggu, aku hanya mengikuti langkah ketiganya dari belakang, masih diam-diam mengusap dada kiriku. Meskipun sekarang aku bisa bernapas lebih baik tapi tetap saja, panas yang terasa di dadaku sangat asing. Belum pernah aku rasakan sebelumnya.
“Baiklah itu saja. Perlu banyak penyelidikan di sini. Saat ada perintah nanti untuk timku kembali ke sini, pasti kami akan segera datang.” Mereka menghentikan langkah, otomatis aku ikut berhenti memperhatikan ketiganya.
“Tidak usah khawatir. Tim gabungan kami akan menyelesaikannya. Sekarang kau istirahatlah dan antarkan pacarmu sampai rumah dengan selamat.” Lelaki yang memiliki kulit lebih coklat itu menatapku sekilas dan tersenyum jahil pada Bayu.
“Kapan-kapan kita harus berkumpul, istriku pasti senang sekali kamu akhirnya punya pacar. Kamu tahu kan, banyak
sekali wanita-wanita di akademi militer yang ingin berkencan denganmu.” Aku mulai penasaran mendengar perkataan lelaki lainnya yang memiliki mata sipit. Lalu dia melirikku dan mendekatiku.
“Halo. Perkenalkan saya Lifer. Mereka biasa memanggil Lucifer. Lalu dia Ronald. Panggil saja dia Grey.”
“Halo. Senang berkenalan dengan kalian. Saya—“
“Natasha Icha Davindra.” Sela Lifer.
“Kau tahu yang menarik, Bayu menjadi gila saat dia tahu namamu terdaftar sebagai tawanan penculikan di kereta.” Bisiknya pelan tapi tentu saja di dengar jelas oleh Bayu dan Ronald.
“Hei! Hentikan!” Bayu berdecak kesal.
“Ehh ayolah. Kami berdua belum pernah sekalipun melihatmu tersenyum seperti itu apalagi sampai memeluk seorang wanita dan menciumnya. Orang-orang mengenalmu sebagai lelaki yang sangat serius.” Kali ini Ronald yang berbicara. Aku semakin tertarik dengan obrolan ini.
“Dia jarang tersenyum? Benarkah?” Tanyaku yang di balas anggukan pasti dua lelaki ini.
“Aku sampai salah menduga jika mungkin saja dia tidak menyukai wanita. Maksudku dia tidak pernah menanggapi
wanita-wanita yang tertarik padanya, dan lagi dia gila bekerja dan jarang pulang ke rumah atau mengambil cuti.” Lifer semakin memanas-manasi yang membuat Bayu menggeleng menatapku, dari tatapannya dia meminta agar aku tidak meneruskan percakapan ini.
...
__ADS_1