
...
“Mereka mengancammu?” Pria lain bertanya serius, menatap kami bergantian dengan garang.
Aku melirik Dika, mengangguk padanya dan pria ini langsung melepaskan cengkramannya pada Andika.
“Baik Andika. Kami akan mengecek informasi yang kau berikan. Kalau gitu, kami akan pergi dari sini, teman temanmu sudah menunggu.” aku melirik gerombolan pria-pria itu, “dan kami akan pergi menemui suamiku dan anggota tentara lainnya di depan.” kataku, sengaja menekan setiap kata agar mereka mendengarnya juga.
Andika menatapku masih dengan takut-takut, dia mengangguk. Aku tidak lagi mengatakan apapun padanya atau pada teman-temannya itu, dan mengajak Dika serta Lucy untuk segera pergi dengan anggukan.
Dengan langkah tenang dan acuh, kami bertiga berbalik untuk kembali menyusuri jalan berbelok tadi, tapi suara ribut langkah kaki dari belakang terdengar, hingga mereka sampai di depan kami dengan cepat, menghalangi jalan.
Jantungku berdetak sangat cepat menghadapi enam pria ini. Aku tidak ingin ada perkelahian.
“Tunggu!! Kalian tidak bisa pergi begitu saja.”
“Apa kau tidak dengar barusan nyonya bilang apa? Pak Jeremy dan anggota tentaranya menunggu kami di depan.” Lucy melangkah berani menghadap mereka.
“Jeremy?”
“Dia bilang Jeremy?”
“Bukannya itu nama keluarga milter?”
Mereka mulai saling bertanya bingung, dan ada keraguan di wajah mereka untuk menghalangi kami, namun pria yang pertama bicara tadi hanya diam menatapku.
“Kau dari keluarga Jeremy? Kau bohong!!”
“Kalau tidak percaya, kau bisa membawaku kepada pria yang menyuruh Andika mengikutiku hari ini. Siapa namanya tadi? Alex?” Ke enam pria ini menatapku agak kaget dan berakhir melirik Andika yang masih berdiri di belakangku.
“Kau ingin bertemu Alex?”
__ADS_1
“Tentu saja! Kenapa tidak.”
Bodoh!
Mulutku tidak bisa berhenti untuk berani menjawab.
Kepalaku berpikir segala macam cara untuk bisa segera pergi, tapi aku tidak tahan untuk bersikap takut dan ingin terlihat percaya diri.
Di sisi lain, aku juga ingin tahu siapa Alex dan apa yang dia inginkan dengan mengikutiku.
“Kalau kau ingin bertemu Alex, ikut aku, biarkan mereka berdua di sini.” Jawab pria itu dengan seringaian kecil.
“Tidak bisa!! Kami harus ikut!” Lucy berdiri menghalangiku.
“Alex hanya ingin bertemu denganmu saja.” Kata pria itu masih dengan seringaianannya yang entah mengapa aku merasakan firasat buruk.
Dia melirik ke belakang punggungku, refleks aku mendorong Lucy dan aku sendiri segera menghindar ke samping kiri.
“Huh, jadi, kenapa kau punya refleks yang bagus. Kau mendengar langkah suaraku?” Pria itu, Andika, ekspresi wajahnya terlihat sangat dingin dan bengis, berbeda dengan ekspresinya tadi yang gugup dan ketakutan.
Tangan kanannya menggenggam pisau lipat, dia tampak seperti orang lain. Namun sebuah dugaan terlintas di kepalaku, “kau Alex??”
Andika tersenyum kecil, “Andika dan Alex hanya namaku yang lain.”
“Kalian yang terlalu bodoh, oh bukan!” dia melirikku dan menunjukku dengan pisaunya, “kau yang bodoh karena percaya dengan cerita adikku yang menunggu di rumah. Kau tahu, ada istilah yang mengatakan kalau perbedaan antara bodoh dan baik itu sangat tipis.” dia mengejekku.
Lucy dan Dika segera berdiri di depanku untuk melindungiku. Sekarang postur tubuh mereka sudah siap untuk berkelahi, terlebih Lucy yang sudah mengeluarkan tongkat hitam pendek dari sakunya, setelah dia ayunkan, tongkat itu memanjang hingga lebih dari enam puluh senti. Senjata yang selalu di bawanya selain pistol.
Aku pernah mencoba tongkat itu, rasanya perih jika terkena pukulannya.
Dika memasang earphone di telinga kirinya yang aku sendiri tidak sadar kapan dia mengeluarkan benda itu, lalu ada suara klik pelan pertanda benda itu aktif, di ikuti suara Dika berbisik, “Lapor! Pengepungan terjadi di belakang toko kue flowertop, masuk ke 7 belokan gang, arah barat dari tukang cukur pak Kido. Pengepungan oleh tujuh orang, kemungkinan yang lain akan datang.”
“Hentikan dia!” Andika berteriak panik melihat Dika, enam orang pria itu tiba-tiba bergerak maju dan Lucy dengan berani maju lebih dulu, dia memukul dan menghindari pukulan mereka.
Aku tidak punya waktu untuk mengagumi semua gerakan Lucy yang tampak luwes, terlatih dan kuat untuk ukuran seorang wanita, semuanya terjadi begitu cepat sampai Lucy berhasil menakuti keenam pria itu dengan tongkat di tangannya.
Dika yang masih berdiri di depanku tak bergerak sedikitpun, dia menatap Andika dengan dingin seolah siap menerima serangan apapun.
“Jadi benar, kau Alex, pria yang banyak di cari oleh kepolisian karena melakukan banyak transaksi ilegal.” Gumamnya.
Andika mengepalkan tangannya kuat, dia jelas ingin mendekatiku, tapi melihat Dika yang ada di depanku, pria ini tampak takut.
__ADS_1
“Hah! Aku tahu! Aku harusnya mendengarkan perkataan broker waktu itu.” Dia tertawa kecil, sorot matanya frustasi, “kalau dua orang yang menemani Natasha Icha Danendra di kota ini adalah dua orang bodyguard yang teratih dan hebat. Pantas saja, orang-orang yang aku kirim untuk menculiknya tidak pernah bisa mendekat sedikitpun, dan bahkan orang yang menjadi target tidak menyadari ada yang mengikutinya. Benar-benar hebat!” dia bertepuk tangan menatap Dika.
Memang mereka melakukan pekerjaan yang hebat! Level hormatku pada Dika dan Lucy naik lebih tinggi.
Dika tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Andika dengan waspada. Pria di hadapan kami ini masih mengeluarkan aura kejamnya ketika dia tidak berani mendekatiku karena Dika, aku bisa lihat dia ragu untuk sesaat tapi tiba-tiba saja dia berlari mendekat, dengan tangan kanan menggenggam erat pisau lipat menerjang Dika.
Aku menahan napas begitu dua pria ini saling berhadapan dan mulai berkelahi. Jantungku seolah turun ke perut, mual yang aku rasakan membuatku panik.
Tapi aku sadar apa yang harus aku lakukan, aku segera mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi Bayu, orang pertama yang aku pikirkan.
Tanganku bergetar pelan dan napasku rasanya semakin menipis. Hal-hal buruk mulai terpikir olehku, yang lebih membuatku panik adalah aku tidak ingin sampai Lucy dan Dika terluka.
Aku harus mencari bantuan--
BRUUKK
Rasanya menyakitkan saat aku di dorong keras ke tembok di belakang punggungku, pandanganku langsung buram dan aku terbatuk-batuk kecil. Aku langsung jatuh duduk dan berusaha untuk menahan sengatan kecil.
Aku hendak marah dan membalas siapapun yang mendorongku, tapi ternyata Dika sudah menyingkirkan pria itu. Sekarang mereka berdua berusaha menjagaku lebih dekat, masih berkelahi, mereka tidak membiarkan siapapun mendekatiku.
Tanganku mengepal keras, aku tidak pernah meminta berada di tengah-tengah masalah apapun ini, yang penting sekarang, kami bertiga harus segera kabur.
Maka aku dengan cepat segera berdiri, melihat ada barang bekas di dekat kami, aku segera memungut itu dan mulai membantu Lucy memukul mundur pria-pria yang sedang dia hadapi.
“Pergi sana!! Bodoh!!”
Bukk
Baakk
Braakk
__ADS_1
...