EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 142


__ADS_3

...


 


 


 


“Aku tidak pernah berpikir akan di gendong oleh pria lain selain Bayu!” Bisikku tajam, tidak melihat bagaimana reaksinya tapi dia mulai melangkah.


“Maka kau beruntung karena orang lain itu adalah aku!” Jawabnya terdengar tanpa nada.


Aku tidak menjawabnya lagi dan hanya memberenggut kesal dalam hati. Pria ini benar-benar menyebalkan.


 


 


Hanya selang beberapa detik, aku mendengar suara pelayan wanita itu berbicara dari dekat. “Ada apa dengannya?”


“Dia tiba-tiba jatuh tertidur, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi bisakah kalian panggil dokter Stefan? Tadi aku lihat dia masuk ke vila wanita.” Benny menjawab penuh kelembutan yang bagiku terdengar menggelikan.


 


Jadi dia bisa berakting juga, huh?


 


“Dan kau akan membawanya kemana?” Itu pertanyaan wanita yang memberiku bubur.


“Aku akan membawanya ke rumah sakit. Mobilku terparkir di bawah. Bisakah salah satu di antara kalian ikut denganku menemaninya nanti di pos karena aku akan keluarkan mobil dari parkiran.”


“Baik, aku ikut denganmu. Kau pergi panggil dokter Stefan.” Lagi-lagi suara wanita itu.


Setelahnya, aku merasakan Benny mulai berjalan lagi dengan di temani suara langkah lain di belakangnya. Tidak lama kemudian aku merasakan Benny mendudukkanku di sebuahkursi.


 


 


“Tolong tunggu sebentar, aku akan mengambil mobil dan mengabari Bayu.” Katanya lagi. Aku sedikit membuka mataku untuk melihat apa yang terjadi.


Pelayan wanita ini tengah membelakangiku, menatap Benny yang keluar pintu. Di sini ruang tamu dan aku bisa melihat di luar jendela, pintu gerbang besar yang kemarin malam tempat aku dan Bayu di pisahkan terlihat.


Cepat-cepat aku memejamkan mata saat wanita di hadapanku ini bergerak. Tidak terdengar apapun kecuali suara langkah kaki yang seharusnya satu orang, aku mendengar ada langkah kaki lain yang lebih berat mendekatiku.


 


“Dia sudah tidur secepat ini?” Suara seorang pria terdengar.


“Tidak usah di pikirkan, yang penting sekarang kita harus cepat! Kau bawa dia ke mobil dan kau buka gerbangnya! Aku akan menyetir.”


“Baik!” Aku mendengar suara dua orang pria menjawab perintah pelayan wanita ini. Lalu aku merasakan seseorang menarik tanganku dan membawaku ke dalam gendongannya.

__ADS_1


Jiwa memberontakku muncul seketika, aku tidak bisa lagi pura-pura tidur! Aku membuka mataku, mengenali orang yang membawaku ini adalah pria yang menjaga di pos keamanan, yang kemarin malam mengantarku ke vila perempuan.


Sebelum pria ini menyadari aku yang sudah sadar, aku segera memukulkan siku tanganku pada dadanya. Dia kaget dan melepaskanku sembari memegangi dadanya yang kesakitan.


Namun sialnya, aku lupa kalau tindakanku mengakibatkan aku yang jatuh dari gendongannya. Sekarang rasanya pantat dan punggungku kesakitan karena jatuh.


 


Aku mendongak melihat pelayan wanita dan pria lain yang jalan di hadapan kami menoleh, mereka juga kaget melihatku yang sedang mengaduh kesakitan. Mereka sudah membawaku keluar dari ruang tamu tadi dan posisiku hanya lima meter dari mobil yang sudah siap terpakir tak jauh dari pintu gerbang.


“Cepat bawa dia!!” Wanita itu berseru marah.


Tersadar dengan situasi, aku melompat bangkit hendak lari dari jangkuan mereka tapi pria yang tadi membawaku sudah mencengkram lenganku dengan keras.


 


“Lepaskan dia!” Telingaku menangkap suara Bayu.


Dalam sekejap, pria yang mencengkramku terlepas, dia tersungkur jatuh karena tendangan Bayu. Dari sudut mata, aku juga menangkap Benny yang memukul dan menendang pria lain yang hendak kabur.


 


Tapi kedua pria itu mampu bangkit kembali, aku melangkah mundur menghindari keempat pria yang akan berkelahi. Aku melihat ke sekeliling, meminta bantuan tapi yang aku tangkap hanya sosok pria berambut coklat madu berlari dari kejauhan bersama seorang pelayan wanita mendekati kami.


 


Bayu dan Benny sama-sama memberikan pukulan dan tendangan. Aku merasa pernah melihat tendangan ini ketika kejadian di mall. Melihat Benny juga memiliki tendangan kuat, aku jadi berpikir ingin belajar melakukan tendangan kuat itu nanti pada Bayu.


Dalam sekejap, kedua penjahat itu sudah tersungkur namun aku tidak tahu apa yang membuat pelayan wanita yang hendak menculikku itu marah, menatap punggung Bayu penuh dendam.


 


 


Tidak!


 


 


Aku tidak bisa membiarkannya!


 


 


Posisiku dekat dengan Benny, aku segera berlari kearahnya dan tubuhku bergerak lebih cepat dari apa yang aku bayangkan.


Aku melompat sembari memegang bahu Benny dari belakang untuk menyangga tubuhku saat melompat, aku ingin membuat gerakkan seperti mereka tadi. Karena lompatan itu, tubuhku melayang dan memberiku tenaga untuk memberikan tendangan setinggi leher wanita itu. Dia  sudah sangat dekat akan mencelakai punggung Bayu.


Lagi-lagi aku salah perhitungan, kaki kananku terasa berdenyut sakit akibat menendang wanita ini.


 

__ADS_1


 


 


“ARRGGHH!! LEHERKU!!” Dia menjerit dan jatuh terduduk sembari memegangi lehernya.


 


 


Melihat reaksinya, aku jadi meringis pelan. Apa aku keterlaluan?


“Icha! Apa yang kau lakukan?” Terdengar suara panik dokter Stefan di belakangku, membantuku untuk berdiri.


“A—aku menendangnya?!” Aku masih kaget tidak percaya dengan apa yang aku lakukan.


“Kenapa harus menendangnya kalau akhirnya kakimu juga sakit?” Dokter Stefan terkekeh pelan di akhir kalimat.


“Dia ingin melukai Bayu.” Jawabku masih meringis pelan karena denyutan di kaki dan punggungku masih terasa. Bayu dan Benny terdiam kaget menatapku.


“Dok, maaf tolong periksa wanita ini. Apa tendanganku keterlaluan?” Pintaku meringis malu.


Dokter Stefan justru tertawa di tengah suasana tegang kami tapi dia menuruti permintaanku dan mengecek leher wanita di hadapan kami.


“Lehernya langsung memar.” Lapornya melirikku dengan tatapan puas.


Bayu melangkah mendekatiku dan tiba-tiba dia menjitak keningku gemas. “Gimana bias kau mengkhawatirkannya setelah kamu menendangnya tadi??”


“Benar! Pelajaran macam apa sih yang kamu dapatkan sebagai seorang wanita?” Benny juga ikut berkomentar.


Aku mengusap keningku, menatap Bayu kesal dan menjawab. “Aku mencoba meniru tendangan kalian tadi! Dan aku juga berpikir ingin menambahkan gerakkan tendangan tadi untuk latihan bela diri kita nanti.”


“Jadi kalian berdua adalah contoh yang buruk.” Komentar dokter Stefan.


Obrolan kami terhenti mendengar banyak suara derap langkah kaki mendekat. Ada lima pria berpakaian rapih mendekat.


 


“Tuan muda! Maaf kami terlambat.” Ucap salah satu dari mereka pada Bayu. Baru kali ini aku mendengar orang lain memanggil Bayu dengan tuan muda.


“Bawa mereka dan periksa mobilnya!” Perintah Bayu merubah nada biacaranya menjadi lebih dingin. Kelima pria itu mengangguk dan segera melaksanakan perintahnya.


 


“Kakimu masih sakit? Apalagi yang sakit?” Bayu berbalik dan kembali bertanya.


“Punggung dan kakiku lumayang sakit.”


“Punggung? Kenapa dengan punggung?” Bayu bertanya panik.


“Untuk memancingnya mengikuti kami ke pos, tadi dia pura-pura tidur saat melihat pelayan wanita ini berpapasan dengan kami. Mungkin dia sudah akan di masukkan ke dalam mobil, jadi Icha memberontak dan jatuh dalam gendongan.”


“Benar! Dan siapa yang mengusulkan ide pura-pura tidur ini?!” Aku menyipitkan mata, menatap tajam Benny yang balas menatapku tak kalah tajam.

__ADS_1


...


__ADS_2