
...
Bayu melirikku kaget, sebelum dia sempat meresponku, suara teriakkan lantang berasal dari belakang kami, “JANGAN ADA YANG KELUAR ATAU AKU AKAN MENEKAN PEMICUNYA!”
DOOR!
Aku menjerit kaget mendengar suara letusan pistol, karena kami paling dekat dengan pintu, kami menahan diri untuk tidak keluar dari lobi.
Bayu memelukku erat, membawaku untuk berjongkok.
“Kamu enggak apa-apa ‘kan, Cha?”
“Siapa yang di belakangku tadi?” Aku bertanya kesal bercampur merengek. Feelingku mengatakan hal itu yang paling penting sekarang.
“Apa?” Bayu menjauhkan sedikit badannya untuk menatapku. Ekspresi bingungnya bercampur dengan napasnya yang tersenggal karena gugup.
“Ada sesuatu yang menyengatku dari belakang. Aku tidak tahu apa itu.” Mendengar jawabanku, Bayu dengan cepat melirik ke orang-orang di belakangnya.
Aku ikut mengintip dari balik tubuhnya dan di antara wajah orang-orang yang menunduk ketakutan, hanya satu-satunya wajah seorang wanita yang aku kenal sedang menatapku dan Bayu dengan ekspresi menyesal.
“Kamu—?!” Nada suara Bayu tertahan dan marah, namun pandanganku jatuh ke tangan kanannya.
Seketika bulu kuduk ku berdiri dan aku merinding menyadari yang di genggamnya adalah suntikkan kecil dan cairan di dalamnya sudah kosong.
Itu artinya—dia—
“A—apa itu racun hormon?” Suaraku bergetar takut.
Wanita itu, Nadya, bergidik ketakutan begitu pandangan matanya menatap Bayu. Dia tidak menjawab pertanyaanku, yang berarti benar.
Saat ini, aku merasa tidak peduli lagi dengan ancaman apapun yang beberapa saat lalu menghentikan kami. Kaki ku seolah kehilangan tenaganya dan akhirnya aku jatuh terduduk di lantai.
Aku sadar kalau keringat dingin membasahi wajah dan leherku. Telapak tanganku pun terasa dingin tapi entah mengapa kepalaku berpikir dingin dan tenang.
__ADS_1
Selanjutnya aku menyaksikan Bayu menarik kerah baju depan Nadya begitu kuat sampai wanita itu terseret mendekat. Kepalan kuat lelaki ini menandakan dia benar-benar murka sekarang.
Meski dari samping, aku bisa melihat wajahnya berubah merah dengan otot wajah dan leher yang tertarik, siap untuk memukul Nadya.
Tiba-tiba pandanganku buram karena mataku basah dengan cepat dan beberapa tetes air mata turun membasahi pipi. Berbeda dengan mataku yang perih dan tenggorokkan yang tercekat sakit, justru bibirku terangkat, tersenyum kecil melihat amarah Bayu.
“Bayu, jangan sekarang sayang. Tahan dulu, hm?” Aku mengusap pelan punggung lelaki ini tapi Bayu tidak ada niat menurunkan kemarahannya.
“Kita bicarakan ini nanti—orang-orang sedang melihat kita.” Aku berbisik kecil menyadari tatapan semua orang justru jatuh pada Bayu. Mereka kaget melihat seorang laki-laki yang menarik baju wanita di depannya.
Aku mengusap kasar pipiku dengan punggung tangan, menatap ke sekeliling, mencari pak Baron, tapi pria tua itu tidak kelihatan.
Lalu kembali ke pemeran utama kekacauan ini, orang yang tadi menembakkan pistol adalah seorang wanita, wajahnya tidak aku kenal. Di tangan kanannya memegang pistol dan tangan kirinya menggenggam sesuatu yang kecil, yang lebih gawat lagi adalah sesuatu di badannya.
Bom rakit. Menyala dengan hitungan detik di sana.
Tapi semua itu membuatku tidak takut sama sekali. Aku tidak gugup dan hanya menatap wanita itu dengan pandangan bertanya. Apa motif nya melakukan semua ini? Terlebih ini di apartemen khusus keluarga tentara yang sedang dinas.
BUKK.
“P—pak Bayu, ada apa?” Seorang pria di belakang Nadya bertanya gugup
“Bu Nadya, kamu tidak apa-apa?” wanita di sampingnya hendak mendekati Nadya, mungkin bermaksud melihat keadaan Nadya tapi Bayu menjawab dengan nada sangat tegas dan dingin.
“Siapapun yang menyentuh wanita ini, aku akan memasukkan kalian ke penjara yang sama dengannya!!”
“Te—tenang dulu pak Bayu, sebenarnya apa yang di lakukan bu Nadya—” pria lain berusaha mengajak Bayu agar tenang tapi lelaki ini tidak menurunkan emosinya.
“Bu Icha, ada apa—” Pria itu berbalik menatapku tapi perkataannya terhenti begitu melihat mataku yang memerah dan air mata yang masih turun membasahi pipi.
Aku tidak bisa menghentikan air mata ini tapi bibirku masih tersenyum dan dengan tenang menjawab, “D—dia melakukan sesuatu yang—sangat buruk.” Aku sesaat ragu mendeskripsikannya, tapi hanya kata itu yang terpikir.
Meski hatiku rasanya sakit, tapi aku tidak bisa memikirkan makian untuknya. Pikiranku kosong. Apa aku baik-baik saja?
__ADS_1
.
..
…
PRAANGG!!
“A—APA YANG KALIAN LAKUKAN DI BELAKANG SANA!! JANGAN BERANI-BERANINYA KELUAR DARI SINI ATAU KITA MATI BERSAMA DI SINI!!”
Suara pecahan kaca di ikuti teriakkan mengalihkan perhatian kami semua. Wanita gila itu memecahkan gelas kaca yang sebelumnya ada di atas podium lobi resepsionis. Semua orang kembali menunduk ketakutan.
Berbeda dengan orang-orang di sekitar kami, Bayu tiba-tiba memelukku, mengusap kepala dan punggungku dengan hati-hati. Tangannya terasa bergetar dan napasnya tersedak.
Aku agak mendorongnya menjauh, untuk melihat keadaannya.
Wajah lelaki ini memerah, masih ada jejak emosi meluap dari sana tapi sorot matanya tampak sedih dan kosong. Aku merasa asing dengan ekspresinya saat ini tapi yang pasti, Bayu kaget dengan semua ini. Dia tidak mengatakan apapun, tidak ada senyuman yang beberapa menit lalu aku lihat seolah senyuman itu menghilang dan tidak akan pernah kembali. Semua ini membuat dadaku sesak, hatiku tambah sakit melihatnya seperti ini.
“K—kita harus segera ke rumah sakit militer. Bisa tolong sambungkan aku dengan dokter Stefan lalu Dika dan Lucy? Aku akan membuat jalan agar kita bisa keluar dari situasi ini.” Suaranya agak tersedak tapi intruksinya jelas.
Aku mengangguk, tersenyum kecil. Jari tangan Bayu menyentuh pipiku, mengusap sisa air mata dari sana. Setelah itu lelaki ini mengecup keningku sebelum meraih tas yang tergeletak tak jauh dari tempat kami.
Selagi aku mencari kontak telpon dokter Stefan, sudut mataku menemukan Dika dan Lucy ada di luar gedung bersama petugas keamanan yang sudah siap dengan senjata api mereka.
Lucy memberi isyarat padaku, menunjuk pintu dan membuat tanda silang dengan kedua tangannya. Itu berarti pintu di depanku sekarang tidak bisa di buka, ada yang menguncinya.
Aku mengangguk menjawab Lucy bertepatan setelah itu aku menemukan kontak dokter Stefan.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN DI BELAKANG!!” Suara itu terdengar lebih jelas dan dekat.
Aku meliriknya sedang berjalan cepat menghampiri kami, lebih tepatnya dia sedang menatap lurus ke arahku dengan ujung pistol mengarah padaku.
Sebelum aku benar-benar panik dan kaget seperti orang-orang yang menjerit di sekitar kami, pergerakan cepat Bayu di samping membuatku lebih kaget lagi.
__ADS_1
Suara klik yang khas dan pelan itu mengalihkan perhatianku sepenuhnya pada Bayu. Mataku melebar melihat sekarang di tangan lelaki ini sudah tergenggam pistol hitam yang di genggam dengan kedua tangannya, mengarah pada wanita gila itu. Postur tubuhnya yang tenang dan tidak bergerak sama sekali pertanda dia siap untuk menembak.
...