
...
“Kerja bagus.” Bayu menyodorkan botol air mineral yang tutupnya sudah di buka padaku.
Saat ini aku sedang duduk terengah-engah karena kami baru selesai lari mengelilingi lapangan olahraga berjarak 1 Km sekali putaran. Meskipun sudah larut malam, tapi orang-orang yang olahraga malam masih cukup ramai masuk ke lapangan ini.
Kalau di pikir-pikir sekarang tubuhku terasa lumayan segar karena mengeluarkan keringat. Rasanya sudah lama sekali tidak olahraga di luar.
“Ngomong-ngomong dulu saat kita SMA, aku tidak ingat kamu bisa bela diri.” Tiba-tiba pikiran itu terlintas.
Bayu yang sedang mengusap keringat di keningnya dengan handuk kecil melirikku sekilas. “Benarkah aku tidak menceritakan tentang itu? Sebenarnya sejak SMP aku sudah di ajari oleh kakek setiap kali kakek dapat libur.”
“Ceritakan bagaimana pertama kali kakekmu mengajarimu bela diri.” Kataku penasaran.
Bayu tersenyum kecil sembari tatapannya menatap ke depan, seolah sedang mengingat saat itu. “Aku sangat ingat pertama kali kakek mengajariku bela diri, kami mendiskusikan prinsip-prinsip bela diri terlebih dahulu. Kakek memberitahuku bahwa sembilan puluh persen usaha bela diri adalah mengurangi resiko serangan terlebih dahulu. Ada tiga aspek penting dalam sebuah serangan: penyerang, korban dan kesempatan. Hilangkan kesempatan dan kamu akan melakukan lompatan besar untuk mengurangi kemungkinan diserang.”
“Betul. Itu masuk akal.” Aku mengangguk setuju.
Bayu mengangkat tangannya untuk mengusap puncak kepalaku, dia agak menunduk untuk menatap langsung mataku, kemudian berkata. “Tujuanku untuk mengajarimu bela diri bukan untuk memukuli si penyerang.”
“Kenapa?” Tanyaku cemberut, bayangan aku akan memukuli orang-orang brengsek yang menganggu Bayu hilang seketika.
“Tujuanku adalah memberimu waktu untuk kabur. Tujuan kamu adalah untuk pergi sejauh mungkin dari si penyerang.” Lanjutnya serius.
Bayu meraih kedua tanganku agar kami bisa saling berhadapan, dia tidak ingin perhatianku teralihkan. Saat ini dia sedang dalam mode serius.
“Mayoritas kaum lelaki tidak pernah berlatih bela diri atau semacamnya, jadi mereka tidak akan bisa menangapi gerakan-gerakannya dengan tepat dan bahkan lelaki yang belajar ilmu bela diri pun tidak akan menduga apa yang akan kau lakukan. Ingat kuncinya adalah melepaskan diri.”
“Baiklah, aku mengerti.” Jawabku tidak bisa membantahnya.
Kalau dia terlalu serius seperti ini terlihat lebih menawan. “Aku mengerti maksudmu, memang pada dasarnya wanita untuk mengalahkan pria dengan tangan kosong itu akan susah. Terlebih wanita yang tidak pernah sekalipun berlatih bela diri sepertiku, itu pasti mustahil.”
Bayu mengangguk puas mendengar penjelasanku. “Kebanyakan wanita mungkin yakin bahwa tanpa senjata, kalian tidak punya harapan saat melawan lelaki yang agresif. Sebenarnya kalian punya beberapa senjata yang bisa digunakan. Aku akan menunjukkan cara menggunakannya untuk keuntunganmu, besok kita lanjutkan. Hari
ini istirahatlah, kamu pasti udah cape karena hari ini hari pertamamu masuk kerja setelah lama cuti ‘kan?”
Aku menghela napas panjang. “Benar dugaanku, aku pasti akan segera di pecat karena ada orang lain yang sedang belajar tentang kerjaanku.”
“Begitukah? Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Kau tahu, tadi pagi adalah pertama kalinya aku melihatmu berpakaian rapi bekerja.”
“Ohh? Benarkah?” Aku sedikit terkejut karena Bayu juga memperhatikan hal kecil seperti ini.
__ADS_1
“Kau terlihat lebih menawan dan seksi.” Bisiknya membuat aku langsung menahan napas karena serangan dadakannya.
Celana training, kaos dan jaket yang sekarang aku pakai adalah milik Bayu. Tadi siang dia bertanya padaku tentang sepatu yang masih ada di teras. Ternyata dia mengambilnya untuk aku pakai sekarang.
Sedangkan tadi pagi, aku padahal hanya memakai pakaian yang biasanya di pakai kerja. Rok span selutut berwarna merah maroon dengan sedikit sobekan di sisi kiri rok, di padukan dengan kemeja berwarna cream yang panjang lengannya hanya sebatas siku. Kemeja nya sengaja di masukkan ke dalam rok agar memberi kesan anggun.
Itu adalah style yang biasa aku lihat saat akan membeli roknya.
“Jadi kau suka wanita seperti itu?” Tanyaku sembari melipat kedua tangan di atas perut.
“Karena itu kamu, jadi aku suka.” Balasnya. Aku tersenyum lebar menanggapinya.
“Setelah ini kita akan kemana?” Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
“Ingin sesuatu yang manis sebelum pulang?” Bayu bertanya balik.
“Apa aku tidak cukup manis untukmu?” Aku bergurau sembari menarik tangannya agar kami segera pergi dari lapangan ini.
“Ohhh benar! Kamu sangat manis malam itu.” Aku menghentikan langkahku saat mendengar ucapannya, teringat akan ciuman itu.
Benar!
Bibirnya juga terasa manis.
Aku mendengus sebal untuk menyembunyikan detak jantungku yang mulai menggila lalu melanjutkan langkah kami.
***
Aku menatap diriku sendiri di depan cermin pagi ini, bersiap untuk ke kantor. Setelah aku puas dengan penampilanku. Aku segera menyambar tas dan berlari cepat menuju pintu. Pasalnya Bayu sudah menunggu sejak lima menit lalu di depan gerbang.
“Selamat pagi, princess. Wanita memang lama kalau berdandan ya!” Bayu menyapaku saat aku sedang mengunci pintu gerbang.
Lelaki ini sudah membuka pintu depan mobil jeep untukku. Aku hanya tersenyum lebar dan melangkah lebar mendekatinya.
Bayu mengenakan celana skinny hitam dan kaos putih pagi ini. Jarang sekali melihat dia di luar tanpa jaketnya.
Mataku melirik urat-urat tangannya yang menonjol. Sebelum masuk ke dalam mobil, aku meraih tangannya dengan kedua tanganku dan mendongak menatapnya.
“Selamat pagi! Sayangku sudah sarapan?” Aku tersenyum lebar padanya.
Bayu mengerutkan kening dan menggeleng. Wangi shampoo milik Bayu tercium saat angina sepoi menerpa tubuh kami.
__ADS_1
“Baiklah, aku yang teraktir. Ayo!” Kataku bersemnagat.
.
..
…
“Aku akan menjemputmu jam lima nanti.” Aku mengangguk dan segera membuka pintu mobil tapi sebelum kakiku keluar, Bayu menahan tanganku yang membuatku refleks berbalik menatapnya.
“Jangan nakal.” Katanya sembari menyentuh hidungku dengan jari tangannya.
“Dan jangan merindukanku.” Aku membalas.
Bayu menyeringai dan tanpa menunggu lagi aku segera keluar dari mobil sebelum lelaki itu berbicara lagi.
Aku yang di antar sampai depan pintu perusahaan menunggu mobil Jeep hitam Bayu keluar dari area parkir menuju gerbang dan bergabung dengan mobil lain di jalan raya.
Saat mobilnya tidak terlihat lagi, aku segera berbalik dan mendapati Yudha sudah berdiri di ambang pintu sedang menatapku. Sepertinya dia menunggu ku.
“Oh! Pagi Yudha.”
“Pagi, Icha. Sudah sarapan?” Tanyanya.
Kami berjalan bersama memasuki kantor. “Sudah tadi di jalan.”
“Ah betul! Aku tidak peka, tentu saja sudah! Jadi pagi ini ibu kepala kita di antar dan sarapan bersama pacarnya.” Yudha menggodaku.
Aku terkekeh pelan dan hanya menggeleng, tidak menyangka dia tidak canggung berbicara tentang ini padaku padahal kami baru kenal kemarin.
“Padahal aku sengaja membelikan sarapan ini untukmu.” Katanya lagi menunjukkan paper bag kecil ke hadapanku.
Aku meliriknya tidak percaya. “Kalau kamu belum sarapan, kau boleh sarapan dulu.”
“Tapi sarapan sendiri itu enggak enak.” Katanya lagi, terdengar seperti memintaku untuk menemaninya.
Kami sudah sampai di depan pintu ruangan. Tapi langkahku di hentikan ketika Yudha menyerahkan makanan itu padaku.
“Tidak apa kalau sudah sarapan, kau bisa memakannya nanti. Hanya saja kau harus menerima ini.” Aku mengerutkan kening mendengar suara Yudha berubah lebih formal padaku.
“Mengingat kau baru saja kembali lagi bekerja setelah cuti sakit, maka makanan ini cocok untukmu. Bubur yang di buat khusus untuk kesehatan. Berharap agar kau selalu sehat.” Katanya lagi.
Aku tersenyum kecil dan menerimanya. “Terima kasih, aku akan memakannya nanti.”
__ADS_1
...