EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 137


__ADS_3


 


 


 


Seperti yang telah di jadwalkan, jam sepuluh semua wanita berkumpul di halaman depan vila. Aku yang sudah berganti pakaian dengan sweater biru tua dan celana jins hitam berbaris di  paling belakang


bersama Putri Larasati. Melihat sekilas ke vila pria, mereka juga sama dengan kami, berkumpul di halaman depan.


Kami semua bergidik kedinginan selama mendengar sambutan dari wanita paruh baya memakai seragam militer yang tidak aku kenal. Dia mengatakan untuk kami menjaga diri selama tes dan memeriahkan acara dan tidak sungkan untuk mengatakan apapun padanya karena acara yang di adakan tetua tidaklah seserius dan serumit yang


kami pikirkan.


Mereka menyuruh kami untuk memilih teman kelompok terdiri dari dua anggota. Karena aku hanya mengenal Putri di sini maka aku memintanya satu kelompok denganku.


 


“Aku ulangi sekali lagi, ada dua belas pasangan di sini, jaga diri kalian masing-masing untuk tes pertama.” Itu seruan dari wanita di depan kami.


“Tes pertama, setiap kelompok akan pergi mencari tahu tugas apa yang harus kalian lakukan. Petunjuk yang kami berikan memakai kertas berwarna kuning yang tersebar di dalam hutan. Waktu tes ini sampai tengah malam.”


“Bagaimana menurutmu? Apa tidak apa-apa kita masuk ke dalam hutan tengah malam?” Putri berbisik padaku.


Aku menggeleng dan mendesah pelan. “Hari ini adalah menstruasi pertama ku.”


Putri melirikku kaget. “Bagaimana menurutmu? Apa kita bilang saja pada panita untuk membiarkan kau istirahat di sini dan aku yang mencari?”


“Kalau seperti itu namanya bukan kelompok.” Jawabku menggeleng.


“Baiklah, kita lakukan dengan cepat.” Aku mengangguk semangat mendengar ucapan Putri.


Kemudian semua orang mulai ribut-ribut mengambil senter kecil yang di sediakan, wanita-wanita ini mulai berjalan penuh semangat memasuki hutan di belakang vila.


.


..



Seperti perkataan Putri Larasati sebelumnya, kami berdua berhasil menemukan satu kertas menggantung di antara pepohonan hanya dalam waktu lima menit. Kejelian wanita ini tidak melewatkan petunjuk yang satu ini.


Di dalam hutan ada penerangan yang cukup dan petugas yang berjaga. Bayangan hutan yang gelap dan menyeramkan sudah menghilang.


Putri dan aku segera membuka isi kertas itu dan membaca sebuah baris pernyataan. “Berikan kekasihmu dongeng secantik putri salju.”


“Apa maksudnya ini?!” Putri memekik tidak percaya dengan tugas yang kami pilih.


“Ayo kita pikirkan di dalam vila.” Aku mengajaknya untuk kembali.


Kami berdua berbalik menuju vila sembari memikirkan apa yang menjadi tugasnya. Begitu kami sampai, belum ada siapapun yang datang.

__ADS_1


Lalu aku mengajaknya untuk duduk di kursi halaman vila untuk mendiskusikannya. “Apa ini tentang apel?”


“Aku tidak yakin, tapi mungkin saja.” Jawabku berpikir keras.


Selagi kami diam berpikir, kelompok lain mulai berdatangan sepuluh menit berikutnya. Mereka yang melihat kami sudah sampai duluan berjalan menghampiri untuk melihat apa tugas kami.


Ternyata setiap kelompok yang menemukan petunjuknya sama, yang membedakan di dongengnya. Mereka ada yang mendapatkan dongeng Cinderella, beauty and the beast bahkan little ariel dan Romeo & Juliet.


Hingga semua orang sudah kembali ke vila, aku dan putri masih belum memutuskan apa yang harus kami kerjakan.


 


“Apa jangan-jangan kita harus memberikan mereka ciuman?” Kami berdua langsung tertawa mendengar ide Putri.


Semuanya sibuk memikirkan apa yang harus mereka berikan untu tugas pertama. Lalu seorang pria berpakaian hitam putih datang menghampiri mejaku membawa kantung paper bag dan secangkir minuman hangat.


 


 


“Apa anda nona Putri?”


 


“Nama kami berdua Putri.” Jawabku.


“Putri Nataremy?”


“Itu aku.”


“Dari siapa?”


“Seseorang di vila sebelah menyebutkan dari kakak.” Mendengar jawabannya saja membuatku tidak bisa menahan senyum.


“Terima kasih.”


“Sama-sama, saya permisi.” Pria ini sudah berlalu meninggalkan kami.


 


 


“Kakak? Kau punya kakak lelaki?” Putri bertanya penasaran.


“Tidak. Hanya orang yang aku kenal.”


Aku memeriksa paper bag yang isinya kaos hijau bermotif sama persis dengan baju tentara dan celana katun hitam, aroma dari minuman hangat di hadapanku ini seperti jahe.


Bayu memberikan pakaian yang nyaman untukku tidur hari ini dan minuman hangat agar perutku lebih nyaman. Dia benar-benar perhatian.


Aku tidak bisa untuk menahan senyuman lebarku sembari mencoba minumannya, kalau dia ada di sini sekarang pasti Bayu akan mengusap kepalaku dan tersenyum lembut.


Karena mengingat tentang Bayu, tiba-tiba sebuah ide untuk tugas ini muncul. Aku menatap Putri dengan penuh semangat. “Bagaimana kalau kita memberikan mereka gambar?”

__ADS_1


“Gambar? Apa hubungannya dengan dongeng putri salju?”


“Aku akan menggambar wajahmu dan wajahku yang sedang tersenyum lebar karena aku ingat pernah membaca sebuah kutipan bahwa ‘manusia adalah cermin, jika kau tersenyum, senyuman lain akan terefleksi’. Seperti cermin! Cermin adalah ciri khas yang ada pada dongeng putri salju selain apel beracun.”


“Itu masuk akal! Ayo kita lakukan! Aku akan meminta mereka peralatannya. Apa perlu di beri warna?”


“Akan lebih baik.” Jawabku semangat. Putri mengangguk dan segera berdiri mencari pelayan vila dengan semangat.


 


Tidak lama kemudian putri sudah membawa pensil, penghapus dan dua kertas kosong ukuran A4. Karena waktu kami tersisa satu jam, aku cepat-cepat menggoreskan pensil di atas kertas, menggambar wajah dengan melihat foto dari ponsel.


Aku fokus menggambar sedangkan Putri yang menemaniku memesan cemilan dan minuman hangat. Tidak terasa waktu hampir habis dan gambarku tidak cukup waktu untuk di warnai.


Meskipun gambarnya belum sempurna tapi Putri dan aku cukup puas dengan hasilnya. “Aku lupa menanyakannya, apa kau arsitek?”


“Bukan. Aku hanya pegawai biasa.”


“Kenapa? Padahal kau punya bakat menggambar.”


“Dulu menggambar hanya sebagai hobi, tidak pernah terpikir untuk di jadikan pekerjaan.” Jawabku jujur mengingat lagi bagaimana aku berakhir dengan jurusan ekonomi. Saat itu bibi Rose yang merekomendasikan ku untuk mengambil jurusan ini.


 


Kalau di pikir lagi, apa mungkin bibi Rose sengaja mengarahkanku untuk ke jalur bisnis karena grup Eternity?


 


Sekarang semuanya jadi masuk akal.


 


 


 


 


 


“Baiklah, ayo kita berikan pada mereka.” Putri mengajakku masuk ke dalam. Tadi memang tidak begitu terasa tapi sekarang aku sadar kalau tubuhku sudah kedinginan.


Di halaman vila sudah mulai sepi, kelompok lain mengumpulkan jawabannya lebih cepat dari pada kami.


Aku dan Putri kembali ke kamar untuk beristirahat setelah di beritahu kalau tugas selanjutnya akan di mulai lagi pukul lima pagi. Ada waktu lima jam untuk kami tidur.


Tanpa menunggu lagi, aku cepat-cepat mengganti celana jins ku dengan celana katun yang di berikan Bayu tadi agar tidurku bisa lebih nyaman.


Sebelum aku berbaring, dua wanita lain yang juga sekamar denganku sempat menyapaku. Keduanya sama seperti Putri, wanita dari kemiliteran. Karena tubuhku sangat pegal dan aku tidak mengerti obrolan mereka, akhirnya aku coba untuk memejamkan mata di bawah selimut yang membuat tubuhku hangat.


Sembari mengusap pelan perutku yang masih sakit, lama kelamaan kesadaranku di tarik dan suara-suara yang aku dengar perlahan menjauh.


 

__ADS_1


 


….


__ADS_2