
...
Sekarang di hadapanku terlihat sebuah sungai berdiameter kira-kira tujuh meter dengan air terjun kecil di hulu
sungai. Suasana yang terasa dingin membuatku bergidik.
Pencahayaan lampu di sekitar sungai memperjelas apa yang Mike lakukan. Lelaki itu menurunkan Sari tepat di bawah guyuran air terjun yang langsung membuat gadis itu menjerit ketakutan.
Sari menangis sesegukan sedangkan Mike yang sudah berjalan pelan ke sisi sungat hanya tertawa.
“Mike lepaskan Sari!” Aku berteriak dan melangkah cepat menghampiri lelaki itu. Saat orang-orang hendak menghalangiku namun Mike mengangkat tangannya membiarkan aku lewat.
“Jika aku melepaskannya, apa yang akan kamu lakukan sebagai gantinya?” Mike bertanya sembari matanya menatapku dari ujung kaki hingga kepala.
Aku berusaha menghiraukannya dan akan menerobos lelaki ini ketika kakiku seolah berubah jadi jelly, Mike yang
menahan bahuku dengan sebelah tangannya tiba-tiba harus menahan tubuhku yang hampir jatuh.
Kepalaku pusing sekali dan berputar. Aku bisa merasakan tangan Mike menahan bahu dan perutku dari samping agar aku tidak terjatuh.
Tidak. Aku harus tetap sadar meskipun rasanya aku hampir jatuh pingsan. “Jadi kamu setuju, hm? Kamu mulai
menggodaku.” Bisikan Mike membuatku segera melepaskan diri darinya dan menamparnya sangat keras.
Aku yang tidak tahan melihat dia menatapku dengan tatapan menjijikan dengan sekuat tenaga menendang lagi kaki
tulang keringnya hingga dia terjatuh dan mengaduh kesakitan. Tidak sampai di sana aku segera menendangnya sekuat tenaga hingga dia berguling dan jatuh ke dalam air sungai.
Aku tahu orang-orang yang melihatnya menertawakan Mike, maka ketika perhatian orang-orang sedang tertuju pada Mike, aku berlari masuk ke dalam sungai menuju Sari yang sedang menangis sesegukan di bawah guyuran air terjun.
“GADIS SIALAN!!” Teriakkan Mike refleks membuatku meliriknya dan aku sangat kaget melihatnya sudah berdiri
basah kuyup dengan tangannya mengacungkan pistol, siap akan menembak.
DOOR!!
__ADS_1
Tidak, aku yang tidak memikirkan kemana peluru itu menembus tubuhku, yang aku pikirkan saat seperti ini adalah
Sari. Aku takut gadis kecil ini tertembak.
Jiwa ini tanpa sadar membuatku menginginkan hidup seorang ibu akan bahagia bersama anaknya. Memikirkan ibu akan terpuruk menangis di tinggalkan anaknya seolah menyakiti hatiku.
Meskipun aku tidak pernah merasakan lagi pelukan ibu sejak kecil tapi aku juga tidak bisa membiarkan sakit yang aku rasakan di rasakan oleh orang lain yang jelas ada di hadapanku.
Aku tidak bisa mengabaikannya.
Ketika aku sudah mencapai Sari dan memeluk gadis itu, dari situlah aku merasakan bahu kiriku perih ketika air
terjun sungai ini membasahi seluruh badanku.
Aku menarik Sari menjauh dari guyuran air terjun. Tinggi air yang mencapai perutku membuatku segera menggendong Sari agar anak ini tidak tenggelam.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Teriakkan Mike mengalihkan tatapanku lagi padanya. Sekarang aku bisa melihat Bayu tampak sedang mengunci kedua tangan Mike ke belakang. Dari tatapannya aku bisa melihat amarah dari sana meskipun sikap dan gesturnya yang tenang menandakan dia sedang berperan sebagai Rio.
“Kau menahan mereka bukan untuk kau sakiti, 'kan?”
Sari memeluk leherku, wajahnya yang ia sembunyikan di lekukan leherku terdengar masih menangis sesegukan. Aku segera mengusap-usap punggungnya, dia kedinginan dan berharap dengan melakukan ini Sari bisa lebih hangat.
Saat aku akan melangkah menuju sisi sungat, tiba-tiba Mike berteriak. “Berhenti!! Kalau kau keluar dari sana, kau
akan di tembak!”
Pria-pria yang sejak tadi menonton langsung mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya padaku. Ada belasan pistol yang bisa siap kapan saja membunuhku.
Sari semakin mengeratkan pelukannya padaku. Tubuh anak umur enam tahun ini bergetar ketakutan. “Sari, jangan
menangis ya. Kita pasti akan keluar dari sini.”
“Hiks. Hiks. Sari takut sekali ka. Sari takut tidak bisa melihat ibu lagi. Hiks.” Mendengar bisikan sari membuatku ingin sekali menangis. Mendengar suaranya saja aku yakin Sari sudah terdengar pasrah dengan nasibnya.
“Kamu harus kuat ya. Sari pasti bisa bertemu ibu lagi. Ka Icha yakin.” Aku ikut terisak pelan. Masih mengusap pelan
punggung gadis kecil ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka semua, aku hanya ikut menangis pelan memeluk Sari. Semua yang
__ADS_1
terjadi membuatku juga ketakutan, anak-anak yang menangis meminta pulang, lalu orang-orang di sini sudah terbiasa menembak dan nyawa kami yang terancam setiap detiknya.
Aku juga ingin keluar dari sini, semua ini dalam sekejap membuatku stress. Bahu kiriku yang terluka dan perih juga di bahu yang sama lenganku sakit sekali jika di gerakkan.
Tangan kiriku yang sedang mengusap punggung sari terasa kebas. Aku hampir kehilangan keseimbangan dan beruntung batu besar tidak jauh dari tempatku menjadi tempat aku mendudukkan Sari agar dia tidak tenggelam.
Meskipun wajah Sari masih menangis sambil menunduk saat aku menatapnya tapi aku lega dia tidak terluka. Namun tiba-tiba aku merasakan telapak kakiku seperti menyentuh sesuatu di dasar sungai.
Bukan binatang, tapi aku seperti menyetuh benda datar di sana. sembari diam-diam merasakan apa yang ada di sana aku pura-pura sibuk melihat keadaan Sari.
“JANGAN IKUT CAMPUR!!” Teriakkan Mike mengalihkan tatapanku pada mereka.
Sekarang terlihat Mike sudah siap akan memukul Bayu tapi tangannya berhenti di udara dengan kedatangan bos besar tidak jauh dari mereka.
Aku melirik bahu kiriku yang terluka dan masih mengeluarkan darah. Bukan luka tembak tapi sepertinya peluru itu
hanya menyerempet kulitku karena luka itu hanya luka memanjang tiga senti.
Aku sengaja menekukkan lututku agar seluruh tubuhku hingga bahu teredam air. Sesaat bos besar tampak memperhatikanku yang sedang membasahu bahuku untuk menghilangkan darahnya hingga diam-diam aku mencari-cari benda yang tadi terinjak olehku.
Aku yakin benda tadi menyerupai ponsel. Berharap benda itu memang ponselku yang di buang oleh Mike tadi siang.
Benar dugaanku. Aku sudah menemukan ponsel itu di dalam air dan segera masukkannya di dalam saku jaketku kemudian aku kembali berdiri dan pura-pura sibuk menatap lukaku ini.
“Bos, aku sudah bilang sebelumnya. Ada yang aneh dengan lelaki ini. Dia mencurigakan sejak awal!” Aku bisa
mendengar dengan jelas Mike berteriak kesal.
“Apa yang mencurigakan ketika aku hanya berusaha menghentikanmu membunuh gadis itu? Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya menjadi korban kemarahanmu!” Sahutan Bayu terdengar tegas dan meyakinkan.
“Kita sudah terbiasa melakukan ini! Kau ini yang aneh! Orang-orang seperti kita tidak memiliki hati lemah
sepertimu!” Mike tampak mendorong Bayu hingga lelaki itu mundur beberapa langkah.
“Tapi jika pemerintah tahu kita melukai warga sipil, apa kamu yakin mereka akan mengabulkan persyaratan kita? Kamu hanya tinggal menahan emosimu! Belum satu hari tapi kamu sudah meledak-ledak seperti ini. Kamu harus sadar betapa bodohnya kalian yang menculik memilih anak-anak sebagai sandera. Jelas-jelas mereka lebih merepotkan dibandingkan orang dewasa.” Bayu mengatakan hal yang masuk akal.
…
__ADS_1