EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 68


__ADS_3

...


 


“Aku merasa sangat buruk. Selama ini aku selalu berpikir jika kau sudah bosan denganku atau kau sudah bertemu dengan lelaki yang lebih hebat di luar sana. Tapi justru selama ini—“ matanya memerah, hidung juga telinganya berubah merah dengan cepat. Bayu terisak pelan menatapku. Air mata yang jatuh membasahi pipinya tak kuasa membuatku juga ikut sedih.


Bayu yang selalu bersikap lucu, yang dingin dan yang memiliki aura seorang pemimpin di mataku ini berubah menjadi sosok Bayu yang hangat, perhatian dan penuh kasih sayang. Aku tidak pernah membayangkannya menangis. Tidak sama sekali.


Aku menariknya, meskipun aku masih berbaring tapi aku sangat ingin memeluknya. Aku sedikit bergeser mendekatinya segera memeluknya erat. Mengusap belakang kepalanya pelan lalu menjawab.


 


“Dulu aku memang tidak cukup memiliki semangat untuk sembuh tapi setelah kau kembali aku punya alasan untuk sembuh. Aku ingin sembuh. Aku ingin kita bisa bersama dalam waktu yang lama. Aku ingin menjadi wanita yang hebat yang bisa cocok berdiri di sampingmu. Aku akan berusaha keras.”


“Jangan paksakan jika belum waktunya kau siap untuk berbicara dengan Daniel.”


“Terkadang waktu bukan untuk menyembuhkan hati yang sakit. Tapi waktu juga mengajarkan kita untuk bisa hidup berdampingan dengan rasa sakit itu.” Aku melepaskan pelukan kami dan mengusap pelan kedua pipinya.


“Maafkan aku.” Aku menggeleng cepat mendengar Bayu masih saja merasa bersalah padaku.


“Jangan! Tidak ada yang perlu di maafkan, yang terpenting sekarang kita bersama lagi. Masa lalu biarlah hanya menjadi kenangan.”


“Kau harus sembuh, hm?”


“Aku akan berusaha keras.” Jawabku tersenyum lebar yang akhirnya mendapat balasan senyumannya.


.


..



“Ingat apa yang aku katakan?”


“Tidak boleh sampai kelelahan, minum obat dengan teratur. Turuti ucapan dokter Stefan karena dia akan mengawasimu juga. Tetap waspada dengan Mike atau Rey.” Aku menirukan nada suaranya saat pagi ini pukul setengah enam, aku yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang tengah berhadapan dengan Bayu yang tampak gagah dan ganteng dengan seragam militernya.

__ADS_1


“Dan??” Dia menuntut jawabanku sembari tangannya terlipat di atas perut. Dia sudah sangat rapih.


“Tidak boleh keluar dari rumah sakit sampai kau kembali.”


“Yaa!”


“Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku? Kuliahku?”


“Aku sudah mengatur izin untukmu. Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu paling di utamakan di sini.”


Aku mendengus kesal, Bayu benar-benar keras kepala. Aku masih bisa berlari-lari, aku tidak selemah yang dia pikirkan. “Tapi—“


Bayu menggeleng membuatku menghentikan ucapanku. Di luar kamar tampak ramai oleh anggota timnya yang sudah datang lima menit yang lalu untuk menjemput Bayu.


“Baiklah, hati-hati.” Kataku akhirnya. Bayu tersenyum lebar dan langsung mendekatiku lalu memelukku sangat erat.


Aku balas memeluknya, menyandarkan kepalaku pada dadanya, sembari memejamkan mata. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang seolah seirama dengan detak jantungku. “Kau tahu kan aku sangat mencintaimu?”


Aku mengangguk sembari terkekeh pelan. “Aku akan mendapatkan penawarnya. Tunggu aku ya.”


“Kau tahu kan aku juga sangat mencintaimu?” Kataku meniru nada bicaranya. Bayu melepaskan pelukan kami sembari tawanya terdengar pelan.


“Aku punya hadiah kecil untukmu. Tolong ambilkan di dalam laci.” Lelaki ini mengerutkan kening tidak mengerti tapi tetap melakukan apa yang aku minta.


“Apa ini?”


“Jangan di buka sekarang!” Kataku saat dia ingin membuka kotak berukuran tiga puluh senti berwarna merah itu.


“Kau boleh membukanya lima menit sebelum pesawat yang membawa kalian sampai ke tujuan. Dan jangan mengintip!” Ancamku melihatnya dengan jahil ingin membuka sedikit tutup kotak itu.


“Baiklah nona, aku akan mengingatnya.” Bayu mendengus pelan, mengalah terhadap rasa penasarannya.


“Kapan kau menyiapkan ini?”


“Dokter Stefan membantuku mencarinya kemarin.”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, aku harus pergi sekarang.” Katanya sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Senyumanku seketika surut mendengarnya.


“Aku ingin mengantarmu sampai depan.”


“Tidak apa-apa. Kau tetap di sini.” Bayu menahan bahuku saat aku hendak turun dari atas tempat tidur.


Kali ini aku hanya mengalah tanpa perlawanan. Lelaki ini tersenyum menatapku dan kembali memelukku, mengusap belakang kepalaku dan mencium puncak kepalaku beberapa kali.


“Jangan memikirkan apapun. Jangan terlalu lelah, tetap kuat ya sayang.” Bisikannya terdengar seperti  hujan di tengah gurun pasir. Aku masih tidak percaya seseorang benar-benar mengatakannya padaku.


Aku hanya mengangguk dan menatapnya yang perlahan berjalan menuju pintu, dia berbalik melambai padaku dari ambang pintu. Dalam diam aku balas melambai pelan padanya lalu tubuhnya benar-benar hilang di sana.


Untuk beberapa menit selanjutnya aku masih betah melihat ke arah ambang pintu yang kosong, memikirkan lagi apa yang di pikirkan lelaki itu sebelum berangkat melakukan tugasnya? Yang aku tahu dan mengerti satu hal, sebagai seorang pemimpin, dia tidak boleh tumbang menyerah karena di bawahnya ada banyak orang yang bertempu padanya, kalau dia tumbang, mereka juga.


Aku bersandar ke kepala ranjang, pikiranku penuh dengan dugaan-dugaan apa yang akan Bayu dan timnya hadapi nanti. Aku baru sadar rasanya perpisahan kami barusan apakah terlihat terlalu mendramatisir? Tapi jika di lihat dari sisi lain sepertinya tidak.


Setiap manusia tidak ada yang tahu kapan dia akan mati. Justru karena itu setiap detik pertemuan sangat berharga.


Aku tidak tahu berapa lama aku melamunkan tentang Bayu, hingga tanpa sadar aku menguap dan mataku perlahan terpejam untuk memasuki alam mimpi.


***


“Setelah beberapa tes aku senang hasilnya jauh lebih baik dari dugaanku.”


“Terima kasih dok.” Aku menjawab, tersenyum tulus pada dokter Cilia yang sedang duduk di hadapanku. Siang ini kami berdua berada di kantin rumah sakit, setelah selesai wanita ini memeriksa keadaanku, kami memutuskan untuk berbincang santai di sini.


Satu jam lalu dia datang ingin menjenguk, dokter Stefan yang sedang mengecek keadaanku saat itu ternyata sudah di beritahu oleh Bayu sebelumnya kalau aku sedang melakukan perawatan dengan dokter lain, bahkan aku sempat lupa mengatakan itu pada dokter Stefan. Mendapat sambutan hangat darinya lagi-lagi membuatku merasa sangat beruntung memiliki Bayu.


Dia lelaki yang diam-diam memperhatikanku bahkan dari detail terkecil tanpa aku sadari. Dia mengerti aku dan yang membuatku semakin menyukainya Bayu bukanlah tipe lelaki yang secara terang-terangan melakukan hal itu. Seolah dia selalu memiliki rencana dan tersusun.


“Aku semakin penasaran, siapa lelaki itu?” Aku mengerjap, pertanyaan dokter Cilia membuyarkan lamunanku.


“Dia—hmm… Dia sudah menjadi temanku sejak kecil, lalu kami berpisah kehilangan kontak dan dia kembali lagi. Yahh panjang ceritanya.”


“Aku tidak pernah melihatmu tersenyum begitu lebar seperti ini.” Aku terkekeh malu tidak menyadari ketika aku mengatakannya sambil tersenyum lebar. Dokter Cilia tertawa menggodaku, aku baru ingat wanita ini memang sama sekali belum pernah bertemu dengan Bayu.

__ADS_1


 


...


__ADS_2