EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 304


__ADS_3

...


 


 


 


Ada sekitar lebih dari dua puluh orang.


 


 


Diam-diam aku melangkah mendekat dan bergabung dengan mereka. Lalu dua orang wanita yang sedang mengobrol menyadari kehadiranku, mereka mendekat dan mulai berbicara, “halo.”


 


 


“Halo.” Sapaku tersenyum,


 


 


“Kamu baru di sini?”


 


 


“Ya. Aku baru datang kemarin.” Jawabku.


 


 


“Aku dengar memang katanya ada yang datang kemarin, perkenalkan, aku Indah dan ini Ria.”


 


 


“Halo.” aku mengangguk menyapa wanita yang lebih muda bernama Ria, “namaku Natasha Icha Danendra. Panggil saja Icha.”


 


 


“Selamat datang di kota ini, Icha.” Seru Ria tersenyum lebar.


 


 


“Makasih.” Aku mengangguk dan baru menyadari ada yang berbeda dari perut Ria, aku tersenyum kecil dan mengatakan, “kau sedang hamil. Sudah berapa bulan?”


 


 


“Oh! Hehehe, kamu menyadarinya? Baru masuk empat bulan.” Ria mengusap perutnya yang agak membesar.


 


 


“Ini anak pertama Ria dengan Justin, suaminya.” Beritahu Indah, “kalau aku, sudah punya anak balita berumur tiga tahun, namanya Amelia. Dia sedang tidur di atas.”


 


 


“Oh senang mendengarnya. Kapan-kapan aku ingin bertemu dengan Amelia.”


 


 


“Tentu saja! Datanglah kapan saja, aku setiap hari di rumah. Ria juga.”


 


 


“Aku juga, untuk dua bulan ini, aku akan ada di rumah, menunggunya pulang.”


 


 


“Dua bulan?” Tanya mereka kaget.


 


 


“Surat tugasnya berakhir dua bulan dari sekarang.”

__ADS_1


 


 


“Oh sayang sekali, padahal kau baru datang tapi sudah akan pergi dengan cepat.” Indah menatapku tidak rela. Aku tertawa kecil dan mengangguk.


 


 


“Oh!! Aku ingat!” Ria tiba-tiba berseru penuh semangat membuat aku dan Indah menatapnya kaget.


 


 


Beberapa wanita di sekeliling kami juga sempat melirik Ria, tapi mereka mengabaikan kami dengan cepat.


 


 


Wanita hamil ini melangkah mendekatiku, meraih tanganku dan berkata dengan sorot mata penuh semangat, “jadi kamu Icha?! Wanita yang datang kemarin dengan cara—penuh kejutan!”


 


 


“Hah?? penuh kejutan apa—oh! Aku ingat!” Indah melirikku juga dengan mata berkilau.


 


 


Aku mengerutkan kening, bingung harus menanggapi mereka dengan reaksi seperti apa.


 


 


“Suamiku bersama kapten Bayu kemarin saat kecelakaan bus itu!” Tiba-tiba saja aku sadar kalau tadi Indah sempat mengatakan nama suami Ria yaitu Justin. Pria yang datang bersama Jack dan Bayu.


 


 


“Oh. Ya, aku ingat Justin.”


 


 


“Dia menceritakan semuanya tadi malam, katanya, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan menantu keluarga Jeremy di situasi seperti itu. Selama dia mengenal kapten Bayu, suamiku tidak pernah melihatnya membuat ekspresi bingung dan khawatir sampai tidak bisa berkata-kata, seperti saat kapten bertemu denganmu di situasi kecelakaan itu. Awalnya Justin bingung dan tidak tahu harus bertanya apa, tapi Jack memberitahunya kalau kau adalah istri kapten Bayu.”


 


 


 


 


Indah meraih lenganku dan berbisik, “kau mungkin tidak menyangka, tapi di sini, keluarga Jeremy sangat terkenal. Banyak orang yang penasaran dan ingin tahu.”


 


 


“Begitu? Seterkenal itu?”


 


 


“Tentu saja! Sejak dulu sampai sekarang, keluarga Jeremy di kenal sebagai keluarga Militer, mereka selalu mengirim keturunan di setiap generasi untuk jadi tentara.” Ria ikut berbisik padaku. Aku mengangguk, kalau itu aku tahu.


 


 


“Begitu juga denganmu. Satu bulan belakangan ini, ketika kapten Bayu pindah ke apartemen dari markas, banyak yang bilang kalau istrinya akan datang. Katanya, orang-orang sudah ingin mendekatimu. Bagaimanapun, kau adalah istri yang sudah di pilih keluarga Jeremy, itu berarti kau sudah lulus.” Kata Indah


 


 


“Di pilih? Lulus?” Aku semakin heran.


 


 


“Banyak berita beredar kalau kalian di jodohkan. Kalau sudah terpilih oleh keluarga militer, bukannya itu berarti kau sudah lulus?” Tanya Indah, “tapi jangan malu membicarakan ini, banyak di sini yang juga di jodohkan oleh keluarga mereka.”


 


 


“Memangnya keluarga militer terkenal dengan perjodohan?” Tanyaku penasaran.

__ADS_1


 


 


“Bagi penghuni gedung apartemen ini, ya. Kita sudah tidak aneh lagi mendengarnya. Ada yang akhirnya saling jatuh cinta setelah menikah, ada yang tidak sama sekali setelah beberapa tahun menikah dan rata-rata mereka tidak berani menggugat cerai, kau tahu bagaimana seramnya jika berurusan dengan keluarga tentara.” Ria menimpali.


 


 


Aku mengangguk, mengerti, “tapi sebenarnya, aku dan Bayu bukan di jodohkan. Kami teman masa kecil, pada awalnya mereka tidak tahu kalau aku ternyata anak dari teman lama keluarga Jeremy. Setelah tahu, mereka mengaku, kalau memang ingin menjodohkan Bayu dengan anak teman lamanya, tapi mereka menghargai pilihan Bayu dan tidak memaksa. Agak rumit, tapi ternyata kami memang berjodoh mau di atur atau tidak.” Indah dan Ria mengangguk-angguk.


 


 


“Betul! Itu jodoh. Tapi kedengarannya romantis sekali.” Ria menatapku berbinar-binar yang membuatku dan Indah tertawa.


 


 


“Eh eh, lihat Nadya. Wajahnya memar lagi. Sepertinya dia bertengkar dengan suaminya.” Indah mengalihkan pandangan kami.


 


 


Aku melirik pada orang yang di tunjuknya, ternyata itu adalah wanita yang tadi pagi aku tabrak, “jadi namanya Nadya? Tadi pagi aku tidak sengaja menabraknya, sempat bertanya apa dia baik-baik saja karena wajahnya memar. Tapi dia pergi begitu saja.”


 


 


“Nadya Adiyana Putri. Katanya dia keturunan konglomerat, tapi dia di jodohkan oleh keluarganya untuk menikahi keluarga militer, dia tidak punya pilihan, agar ayahnya senang, dia menerima perjodohan itu. Tapi siapa yang tahu, ternyata suaminya kalau sudah marah, kau tahu, main tangan." Indah berdecak sembari menggeleng, "di sini, kami sudah tidak heran lagi melihat Nadya seperti itu, pasti setiap bulan wajah atau tubuhnya ada saja yang memar.” Penjelasan Indah membuatku kaget tentu saja.


 


 


“Apa dia tidak melaporkannya ke polisi??” Tanyaku.


 


 


“Pada awalnya, dia memang melaporkan ke polisi, tapi suaminya lebih berpengaruh dan dari keluarganya sendiri tidak ingin ambil pusing untuk itu, jadi dia tidak bisa apa-apa. Padahal, anaknya masih kecil. Baru lima belas bulan.” Ria melanjutkan.


 


 


Indah tiba-tiba bergidik, “untungnya, suamiku tidak seperti itu. Dia jadi pria lembut kalau bersamaku.” seketika aku dan Ria tertawa kecil dan meledeknya.


 


 


“Suamiku juga tidak akan mau menyakitiku, bahkan ketika ada kecoa, dia tidak mau memukulnya dan memilih untuk menangkapnya hidup-hidup untuk di biarkan keluar dari rumah.” Sambung Ria.


 


 


Lalu kedua wanita ini menatapku, seolah ingin mendengar ceritaku juga, tapi aku hanya terkekeh malu dan menggeleng, “sebenarnya, kami belum lama tinggal bersama. Pernikahan kami lebih dari empat bulan lalu, dia dengan cepat di pindah tugaskan ke sini, sedangkan aku juga ada kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Tapi aku yakin!" aku berseru penuh keyakinan, "sejak kecil aku mengenalnya, dia bukan tipe suami keras yang main tangan. Meski sering meledekku, tapi dia yang paling mengkhawatirkanku.”


 


 


“Jadi terasa pengantin baru, eh?” Indah menyeringai, menggodaku. Aku tidak bisa menjawabnya dan hanya tersenyum malu.


 


 


“Tenang saja, apartemen di gedung ini kedap suara, jadi—“


 


 


“Ria!” Aku segera memotong ucapan Ria, hal itu lagi-lagi membuat keduanya tertawa puas.


 


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2