
...
“Kalau ronda, aku sering melihatnya datang malam berkunjung—“
“Oh dia hanya berkunjung sebentar. Kalau larut malam Icha tidak mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tenang saja pak! kami hanya mengobrol di luar. Icha sering pulang malam karena kerja dan kuliah dan Bayu juga sering keluar untuk tugas jadi waktu kami untuk bertemu siang hari jarang—“
“Ya ya. Saya tahu non Icha ini sibuk kerja dan kuliah. Tidak apa-apa, saya tahu anaknya baik dan sopan.” Pak Sanjaya melirik Bayu dan tersenyum menggoda padaku. Aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecil.
Kemudian Bayu berbalik dan melangkah mendekatiku sembari dia menatap pak Sanjaya dan berkata. “Pak, saya dan anggota tim minta izin untuk berada di rumah Icha malam ini. Kami akan melakukan penyelidikan di sekitar sini.”
“Oh kalian akan langsung melakukan penyelidikan di sini?”
“Yaa, ada langkah-langkah yang harus kami lakukan sekarang, kalau menunggu pagi akan banyak orang.”
“Saya mengerti. Kalau gitu tinggal bagaimana tuan rumahnya saja.” Pak Sanjaya melirikku.
“Besok pagi saya sendiri yang akan langsung menyampaikan hasil penyelidikannya pada bapak.” Bayu melanjutkan yang dapat anggukan puas dari pak Sanjaya dan yang lainnya.
Mataku melirik tiga orang anggota Bayu sedang berusaha membawa penjahat itu ke dalam mobil sedangkan dua orang lainnya memeriksa mobil jeep Bayu.
Aku melewatkan percakapan Bayu dan pak Sanjaya selanjutnya ketika orang-orang itu pamit padaku dan Bayu untuk mereka melanjutkan tugas jaga malam.
Setelah keempat pria itu berjalan menjauhi kami, aku melirik Bayu, mendongak menatapnya bingung. “Aku tidak pernah mengatakan kalau bapak yang tadi adalah ketua RT di sini. Kau sudah tahu dari awal?”
“Tidak. Aku hanya menebak.”
“Menebak? Bagaimana kalau ternyata kau salah menebak? Bukankah nanti akan menyinggungnya?”
“Karena aku yakin kalau tebakkan ku benar.”
“Begitu? Kenapa rasanya kau jadi menyeramkan karena tebakkanmu benar.” Bayu tertawa kecil menanggapi ucapanku. Tangannya terangkat mengusap puncak kepalaku.
“Itu mudah. Dia yang terlihat memiliki kharisma saat berbicara di antara yang lain.” Aku mengerutkan kening tiba-tiba memikirkan lagi siapa saja tadi yang berkerumun.
Namun bayanganku terhenti saat aku merasakan kedua tangan Bayu bergerak memelukku, melingkarkannya di sepanjang bahu ku kemudian telapak tangan kanannya mengusap belakang kepalaku dan sebuah kecupan menyentuh sisi kepalaku.
__ADS_1
Wangi segar parfum dan aftershave nya tercium olehku. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan berlalu begitu saja tanpa menunggu reaksiku, lelaki itu berjalan mendekati salah satu mobil yang membawa si penjahat.
Aku berdecak dan menatapnya sebentar sebelum memutuskan untuk membuka pintu gerbang rumah. Sudah berapa kali wajahku memanas seperti ini!!
Tepat saat aku akan masuk, Bayu menahanku dan membiarkannya lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan. Aku yang mengikutinya dari belakang hanya terpaku menatap punggung tegapnya yang lebar dan tinggi.
Dia berjalan dengan penuh percaya diri.
Diam-diam aku tersenyum kecil menatapnya, bangga tentu saja.
Lamunanku terhenti saat keningku menabrak punggungnya tanpa sadar. Aku mendongak sembari mengeryit apa yang membuatnya berhenti mendadak.
Kami berdiri di ambang pintu kamarku dan betapa kagetnya aku melihat ayah tergeletak di lantai samping tempat tidurku. Napasnya teratur dan pakaiannya rapih seperti biasa, masih memakai kemeja dan dasi.
Aku melangkah mendekat, berjongkok untuk memeriksa keadaannya. Mungkin saja penjahat itu memberikan obat bius untuk ayah ketika ayah sedang memeriksa kamarku sedangkan Bayu justru berbalik pergi.
Menduga jika lagi-lagi ayah datang menyelinap masuk ke sini membuat hatiku sakit. Harta yang di wariksan bibi Rose, asal usulku yang ternyata ada sangkut pautnya dengan perusahaan besar membuat ayah dan ibu membenciku.
“Halo.” Sapaan suara pria yang familiar di telingaku membuyarkan lamunanku.
“Oh Halo Jack.” Jawabku mengingat tentangnya yang sempat memeriksaku di desa ketika itu. Dia anggota yang memiliki spesialis dokter militer di antara anggota tim Bayu.
“Bagaimana keadaannya?” Tanyaku setelah memperhatikannya yang sedang memeriksa ayah.
“Semuanya normal, dia di beri obat bius. Dosisnya tidak terlalu tinggi, dia akan segera bangun.” Jawabnya menunjukkan sebuah saputangan kecil terselip di antara telapak tangan ayah, aku tidak memperhatikannya tadi.
Aku mengangguk. “Syukurlah! Jack, bisa kau bantu aku mengangkatnya ke atas tempat tidur?”
“Tentu, biar aku saja yang mengangkatnya.”
Tapi aku tidak membiarkannya mengangkat ayah sendirian, aku tetap membantunya dengan mengalungkan tangan ayah yang satunya.
“Sekali lagi terima kasih.”
__ADS_1
Jack tersenyum lebar padaku dan mengangguk, kemudian dia berbalik meninggalkanku berdua di kamar. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas keringat membasahi keningnya, melihat bagaimana raut wajahnya saat tertidur seperti ini terasa sangat langka.
Aku tidak pernah membayangkan bisa menatap wajah ayah saat sedang tidur. Terlebih, wajah yang tidak lagi muda ini.
Mendengar suara ketukan pelan dari pintu membuatku berbalik mendapati Bayu yang sedang bersandar di ambang pintu. Aku melangkah mendekatinya lalu menutup pintu kamar. “Bagaimana?”
“Beberapa orang timku akan berjaga di daerah sini setelah memeriksa semuanya. Setelah memastikan semuanya beres mereka akan segera kembali. Dan beberapa orang sedang membawa penjahat itu ke markas. Aku akan ikut berjaga di sini.”
Aku mengangguk. “Jadi kenapa penjahat itu ada di sini? Siapa mereka?”
Bayu memutar matanya seolah sedang memikirkan kata yang tepat. “Aku tidak yakin siapa, tapi dari dugaanku itu adalah suruhan Rey.”
“Mereka ingin menculikku? Kenapa harus di rumah? Padahal aku ada di luar seharian ini?”
“Selain mereka tidak bisa membawamu ketika kau di tempat umum, mereka tidak ingin membuat kehebohan. Kesempatan mereka untuk mendekatimu saat kau sendirian di rumah.”
“Masuk akal.” Aku bergumam sembari berjalan menuju ke dapur. Bayu mengikuti langkahku.
“Aku akan membuatkan kalian minum. Kopi atau teh?” Aku menawarkan karena suara samar-samar keributan terdengar di dalam rumah ini, yang biasanya rumah ini selalu sepi.
Bayu tersenyum menatapku dan membantuku menyiapkan beberapa gelas.
.
..
…
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya saja malam ini saat waktu menunjukkan lewat tengah malam, Bayu dan tim nya meminta izin padaku untuk mendiskusikan sesuatu di ruang tamu depan.
Mereka tampak serius sekali padahal di jam segini seharusnya orang-orang sudah mengantuk. Sedangkan aku sendiri belum mengantuk. Meskipun tubuhku minta untuk di istirahatkan tapi anehnya aku sama sekali tidak ingin berbaring.
Nanti pagi aku harus mulai bekerja, sudah sejak tadi Bayu memaksaku untuk tidur saja dan dia akan berjaga di sini tapi aku benar-benar tidak mau. Jadinya sekarang aku sedang duduk di kursi meja makan, dari tempatku duduk aku bisa melihat apa yang sedang orang-orang itu lakukan.
__ADS_1
...