EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 167


__ADS_3

...


 


 


Aku tidak sadar kalau sudah menghabiskan semuanya. “Apanya yang lucu kalau aku punya pacar? Akan merepotkan.”


“Lalu kamu mau jomblo seumur hidup?!” Tanya Lifer bernada dingin.


“Kalau kamu berpikir akan bersama seumur hidup dengan Bayu maka kamu akan kecewa. Anak itu bahkan lebih cepat ingin menikah dua minggu lagi! Padahal aku dan Bianca duluan yang bertunangan.” Ronald menambahkan membuat wajahku memanas seketika, malu.


“Bukan hanya kamu, bahkan dia melangkahi dokter Stefan yang sudah lama bertunangan dengan Bora.” Kata Lifer mengingatkan Ronald.


“Oh ya! Belum ada kabar kapan mereka akan menikah?”


“Belum, meski sudah setahun lebih bertunangan tapi aku tidak mendengar apapun tentang rencana pernikahan mereka.”


 


 


“Pantas saja kupingku terasa panas, ternyata kalian berdua membicarakan aku?!” Suara dokter Stefan menghentikan obrolan Lifer dan Ronald.


Aku tidak sadar sejak kapan pria itu sudah berdiri di ambang pintu kamar. Ada suster Rini di belakangnya membawa wadah almunium di tangannya.


“Hehehe. Kita ketahuan! Sekalian saja kita tanyakan.” Usul Lifer pada Ronald. Kedua pria ini berdiri mempersilakan dokter Stefan dan suster Rini berjalan mendekatiku.


“Oh bagus sekali, kamu memakan habis sarapanmu.” Dokter Stefan berkata senang melihat mangkuk buburnya kosong.


“Tentu saja, aku yang menyuapinya!” Ronald berseru bangga.


Dokter Stefan melirik ke sofa, dia melihat sekilas Bayu dan Ana. Melihat dari pandangannya, dia pasti tidak sadar kalau ada wanita lain sedang mengobrol dengan Bayu.


“Jadi gimana dok, kapan kamu akan menikahi Bora?” Lifer bertanya sembari menaik turunkan alisnya, menggoda pria ini.


“Aku menerima kekalahanku pada Bayu.”


“Lalu?” Tanya Lifer memaksa, dia sudah berdiri di samping dokter Stefan dan merangkul pria berambut coklat madu itu.


Aku hanya tersenyum, suka mendengar obrolan mereka dan sesekali memperhatikan suster Rini yang sedang menyiapkan jarum infus untukku.


 


 


“Secepatnya.”


 


 


“Kapan?”


 

__ADS_1


 


“Sebelum kamu dan Talia punya anak!” Jawaban dokter Stefan membuat Lifer bungkam seketika.


“Sekarang, kapan kau dan Talia berencana memiliki anak? Kalian sudah menikah satu tahun.” Kali ini dokter Stefan yang bertanya menggoda Lifer.


Memang bukan ekspresi sedih yang di tunjukkan Lifer, tapi pria ini terdiam berpikir.


“Setelah kau dan Bora menikah.” Jawabnya membuat aku, Ronald dan bahkan Benny tertawa kecil.


Lalu aku merasakan cubitan kecil di tangan kananku, suster Rini sudah memasukkan jarum infus itu dekat plester yang menempel, luka akibat aku memaksa mencabut jarum infus sebelumnya.


“Nona Icha, tolong jangan di lepas lagi jarum infusnya.” Ucap suster Rini memperingatiku.


Aku hanya tertawa malu menanggapinya dan kali ini dokter Stefan yang menggantikan wanita ini di sampingku.


Pria ini memeriksa suhu tubuhku, menyetel tetesan infusnya, memeriksa denyut nadiku dan memperhatikan wajahku. “Apa ada yang kamu inginkan?”


“Kenapa dokter yang bertanya?” Tanyaku tidak mengerti.


“Aku tidak akan mengulang menjelaskan keadaanmu lagi sekarang karena itu tetap sama seperti terakhir aku katakan di UGD. Tapi aku tidak akan bosan mengatakan kalua kamu harus istirahat total hari ini, tidak boleh stres juga. Sekarang, apa yang bisa membuatmu lebih nyaman untuk istirahat?” Penjelasan dokter Stefan entah mengapa membuat hatiku menghangat. Pria ini seolah mengerti apa yang aku mau.


Aku memang sudah bosan mendengar keadaanku tentang racun itu. Saat ingin menjawab, tiba-tiba suara langkah kaki cepat di ikuti suara pintu yang tertutup dengan keras mengagetkan kami semua.


Refleks kami menoleh ke arah pintu, itu ulah Ana yang sudah keluar kamar, menghilang di balik pintu.


 


Benar-benar tidak sopan!


 


 


 


 


“Sudah selesai?? Dia marah?” Tanya Lifer.


Bayu mengangguk sembari melangkah mendekati kami. Ekspresi wajahnya datar dan dingin.


"Aku mengacamnya kalau dia mengganggu ku lagi, aku akan membuatnya menyesal telah mengenalku.”


“Hanya ancaman itu? Dari tingkahnya saja aku yakin dia tidak akan pergi hanya kau mengatakan itu.” Benny bertanya.


“Memang tidak. Dia mendapat kabar tentang kakaknya yang sedang liburan di kota ini di tangkap polisi karena menggunakan narkoba. Orang tuanya ingin dia yang mengurusnya cepat agar tidak ketahuan media. Jadi dia pergi.”


 


“Dan??” Lifer mengangkat alisnya, pria itu mengerti kalau Bayu belum menceritakan penuh.


 


“Dan apa?”

__ADS_1


 


“Itu ulahmu?” Benny yang bertanya.


 


“Tidak. Aku benar-benar tidak merencanakan itu. Selama masa skors ini, aku merasa kemampuan ku dalam rencana agak melambat. Hehehe.” Bayu justru tertawa kecil menatap teman-temannya.


Aku ikut terkekeh dan berkata. “Benar. Tadi malam dia juga mengatakan itu padaku.”


“Jadi Bayu minta bantuan mu menghadapi Ana?” Kali ini Lifer bertanya padaku.


“Yang kamu pikirkan pasti adalah bagaimana supaya saat kamu menceritakan tentang Ana pada Icha tidak membuatnya marah ‘kan? Karena pikiran takut itu lah kamu tidak punya rencana sama sekali dengan wanita itu. Kamu sudah lemah karena cinta.” Benar kata Bayu, di antara ke tiga temannya sepertinya Benny yang paling mengertijalan pikirannya.


Aku melihat wajah Bayu merona, ekspresi malu menatap Benny.


 


“Diam kau! Kamu enggak ngerti soal cinta.” Gertak lelaki itu.


 


“Ya ampun! Bora pasti akan meledekmu kalau aku menceritakan ini padanya.” Dokter Stefan tertawa puas.


“Sebelum Bora meledeknya, aku akan menceritakan dulu pada Talia apa saja yang terjadi di sini. Nanti siang dia akan datang jadi dia yang akan lebih dulu meledekmu.” Tukas Lifer tidak ingin kalah.


Lalu selanjutnya terjadi keributan suara pria yang mendominasi di ruangan ini. Melihat Bayu yang tertawa, ekspresi malunya dan omelannya, dia tampak bahagia dan nyaman dengan teman-temannya ini.


Hanya melihatnya seperti ini di hadapanku, aku pun ikut senang. Berharap dia akan selalu di limpahkan banyak kebahagian dalam hidupnya.


 


 


“Sudah hentikan! Kalian mengganggu Icha yang ingin beristirahat.” Lerai dokter Stefan menghentikan perdebatan ke empat pria ini.


“Tidak apa dok. Aku lebih suka suara ribut seperti ini dari pada ruangan yang sunyi.” Kataku cepat.


“Jadi bagaimana? Apa ada yang kamu inginkan?” Dokter Stefan bertanya lagi.


Seketika suasana jadi hening, mereka memperhatikanku sekarang yang justru membuatku agak gugup.


“Kalian semua duduk!” Perintah dokter Stefan menyadari ke gugupan ku.


Dengan patuh, ke empat pria itu mengangguk dan berbalik untuk duduk di sofa. Aku tertawa kecil karena belum pernah melihat mereka yang patuh serentak begitu saja. Mengingatkan ku dengan anak kecil.


Kemudian aku mendongak untuk menatap lagi doker Stefan. “Sepertinya aku butuh obat pereda sakit, dok. Sepertinya aku baru menyadari kalau lukanya sesakit ini.”


“Kita harus mengambil darahnya untuk tes lagi.” Suster Rini mengangguk dan berbalik pergi menuruti perintah dokter Stefan.


“Aku sudah memberikan obat pereda sakit tadi di UGD. Seharusnya sekarang sudah berefek, tapi kamu belum merasakannya?” Aku menggeleng menjawab pertanyaannya.


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2