
...
Kerinduan yang selama ini aku pendam tiada pelampiasan seolah berlomba-lomba untuk keluar. Detik berikutnya pandanganku memburam karena air mata, aku menangis sembari melangkah mendekatinya.
Bayu tersenyum kecil mengejekku tapi dia tetap menarikku sebelum aku menyambut pelukannya. Lelaki ini memelukku lebih dulu, kedua tangannya mengusap punggung dan belakang kepalaku yang justru membuat tangisanku semakin pecah.
Aku balas memeluknya lebih erat, menyandarkan kepalaku di dadanya, menghirup aroma tubuhnya sedalam-dalam, memastikan jika ini bukan mimpi atau khayalan.
Bayu tahu, untuk beberapa menit selanjutnya dia masih memelukku erat, menenangkanku yang menangis di pelukannya. Aku tidak ingat pernah dipeluk seperti ini, seakan dia tidak membiarkan aku kabur dari pelukannya barang sebentar.
Dadaku terasa sakit, aku tidak tahu jenis sakit apa yang aku rasakan. Apakah karena jantungku atau karena rindu yang membuncah ini. Pikiranku seolah melayang dan kali ini aku merasa sangat lelah melebihi hari-hari sebelumnya.
Kelopak mataku seperti di paksa untuk menutup. aku juga sadar kedua tanganku yang mencengkram jaketnya ini bergetar kuat. Kehadiran Bayu selalu berhasil membuatku merasakan ‘rumah’ yang selama ini tidak aku rasakan. Tempat untuk memulai dan untuk tujuan pulang. Tempat untuk beristirahat lebih nyaman dan tempat aman untuk berlindung.
“Tadi siang aku ke sini langsung tapi kau tidak ada di rumah. Akhirnya aku pulang dan kembali ke sini tadi sore, kau masih belum pulang. Karena khawatir, aku menunggu di sini dari jam delapan. Syukurlah kamu tidak apa-apa. Tadinya kalau kamu tidak juga pulang sampai jam sebelas tepat, aku akan melaporkanmu sebagai orang hilang.”
Aku melepas pelukannya, menjauh darinya sembari masih sibuk mengusap pipiku. Menatapnya kesal.
“Apa? Jadi aku harus bereaksi denganmu yang mana dulu? Icha yang sedang menangis atau Icha yang sedang kesal padaku?” Bayu tertawa kecil, ekspresi jahilnya semakin membuatku kesal tapi anehnya juga yang aku rindukan.
“Bukannya kamu punya ponsel? Sejak hari pertama aku menunggu kau menghubungiku!”
__ADS_1
“Ahhh..” Lelaki ini justru mengangguk pelan seolah baru ingat, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel touchscreen berwarna putih yang sudah aku kenal itu, tapi yang berbeda adalah layarnya mati juga retak, terlebih ada lekungan dalam di tengah layarnya.
“Tepat di hari pertama ponsel ini terkena tembakan peluru. Tapi untung saja tidak sampai bolong—“
“Apa??!” Aku merebut ponselnya, untuk melihat lebih dekat.
“Aku tidak hapal nomormu dan lagi aku belum sempat memperbaiki data ponselnya. —err sudahlah jangan memikirkan semua ini. Jadi bagaimana kabarmu? Apa kamu makan teratur? Bagaimana dengan jam tidurmu?”
Aku mendongak, mengerutkan kening antara bingung harus menjawab pertanyaannya yang mana dulu dengan perasaan tidak biasa karena Bayu jarang sekali menanyakan hal-hal klasik seperti ini selama kami bersama dulu maupun sekarang.
Detik berikutnya ekspresi tenang Bayu berubah jengkel karena aku hanya menatapnya tanpa menjawab. Kedua tangannya terangkat untuk menyentuh wajahku, jari-jarinya mengusap pipiku.
Aku tahu tingkahnya ini terasa natural saat ia memastikan sudah menghapus sisa-sisa air mata di wajahku tapi tetap saja aku belum terbiasa, lalu tangannya bergerak untuk mencubit kedua pipiku sembari berkata. “Aku sudah duga, makanmu tidak teratur dan jam tidurmu berkurang. Lihat! Wajahmu lebih kurus dan mata pandamu mengerikan!!” Bayu memekik pelan dengan ekspresi kengerian yang di buat-buat.
“Dan lihat dirimu, kau juga terlihat lebih kurus dengan lekungan semakin dalam di kedua matamu. Kamu kurang tidur dan kurang makan selama tugas. Jangan karena kau sudah bercukur jadi kau bisa mengelabui mataku!” Aku membalasnya tak kalah sengit.
Kami sama-sama tidak melepaskan tatapan sengit satu sama lain, seolah jika salah satunya melepaskan duluan maka dia akan kalah. Namun tingkah kami terhenti saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
Aku hampir tidak sadar saat Bayu berbalik cepat dan sedikit mendorongku untuk berada di belakang punggungnya, tatapan dan telinganya berubah waspada dan tubuhnya sedikit menegang mengawasi siapa pemilik langkah kaki itu.
Kepalaku ingin mengintip dari punggungnya tapi pergerakkanku terhenti merasa seperti ada pergerakkan di belakang punggungku, lebih tepatnya dari dalam rumahku yang gelap. Apa jangan-jangan ada pencuri?
“Ck! Sudah aku duga!”
“Apa?” Aku mendengar Bayu berdecak pelan. Sebelah tangannya menggenggam tanganku erat. Kemudian dia menarikku cepat-cepat menuju mobil jeepnya yang terparkir agak jauh dari depan gerbang rumah.
__ADS_1
Aku tidak banyak bertanya saat dia sedikit menyeretku lebih cepat untuk masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Lalu lelaki ini berjalan mengitari mobil untuk masuk ke pintu kemudi, tepat saat pintu Bayu tertutup aku harus menjerit kaget karena seseorang memukul kaca jendela di sebelahku.
Dengan sigap Bayu menarikku, tubuhku bergerak cepat secara spontan untuk bangun dan berpindah ke jok belakang tepat saat kaca pintu itu pecah. Detik berikutnya Bayu menendang seseorang yang sudah membuka pintunya dan hendak masuk hingga orang itu tertendang ke belakang. Bayu bergerak cepat keluar dari mobil dan dalam sekejap perkelahian mereka di mulai.
Tidak tidak!
Jantungnku berdetak cepat, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Melihat dari dalam mobil perkelahian Bayu dengan orang berpakaian hitam itu aku bisa menduga penjahat itu pasti terlatih, gerakannya tampak percaya diri untuk menghadapi Bayu.
Apa aku harus panggil polisi? Ya itu yang di perlukan sekarang. Meskipun tanganku bergetar tapi aku berhasil mengeluarkan ponselku dan hendak menekan tiga angka itu tapi entah mengapa otakku berpikir lain.
Aku bergerak cepat melompat ke jok dudukku tadi dan segera keluar dari mobil. Sepertinya memanggil orang yang sedang ronda malam ini lebih cepat dari pada menunggu polisi datang.
Sebelum aku berlari ke depan jalan, aku sempat melihat Bayu dan penjahat itu masih berkelahi dengan sengit dan cepat. Maka aku segera berlari secepat yang aku bisa ke ujung komplek dan di belokan itu biasanya ada satpam dan beberapa orang yang bergilir untuk berkeliling komplek.
Aku tidak pernah merasakan perasaan sangat lega seperti ini saat melihat dua orang pria sedang bermain catur di pos ronde, mereka menyadari kedatanganku saat aku berlari menghampiri.
“Pak, ada pencuri di depan rumah saya. Teman saya sedang berkelahi dengan pencuri itu!” Kedua pria paruh baya itu terpekik kaget dan mereka langsung berdiri dan keluar dari dalam pos sembari membawa senter.
“Aku akan memanggil bantuan dan kamu temani nona Icha.” Kata pria paruh baya yang terlihat lebih tua dari yang satunya.
Tanpa banyak berbicara lagi, aku dan pria ini berlari cepat menuju rumahku.
Dari kejauhan Bayu masih berusaha menangkis pukulan-pukulan itu tapi yang lebih mengagetkanku sekarang aku bisa melihat ternyata kini ada dua orang penjahat.
__ADS_1
….