EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 211


__ADS_3

...


 


 


 


“Ada apa?”Talia masih mendengar suara prof Bora.


“Sebenarnya, kami baru saja membahas tentang citalopram.” Kataku, ingin berdiskusi dengan Talia dan wanita di depan ku ini tentang sky dan citalopram.


“Kalian dimana? Aku menyusul ke sana.”


 


 


 


.


..



 


 


“Oke, segera laporkan padaku secepatnya. Terima kasih.”


“Bagaimana?”


“Mereka akan segera mengabariku setelah mendapatkan semua informasi apapun tentang Cilia Sintia Anjaya.” Aku dan prof Bora saling pandang, kedatangan Talia lima belas menit yang lalu memberinya ide untuk mengecek sekali lagi tentang dokter Cilia setelah mendengar cerita kami tentang penemuan citalopram.


“Tapi menurut Icha, dokter Cilia orangnya seperti apa?” Tanya Talia menatapku penuh minat.


Aku berpikir sebentar, berusaha mengingat bagaimana sosok dokter Cilia selema ini. sebenarnya aku tidak punya prasangka apapun padanya dan sebelum  semuanya jelas, aku pun tidak akan berpikir macam-macam.


 


 


“Dia sudah aku anggap teman. Dia baik dan perhatian.”


“Sebelum semuanya jelas, lebih baik tidak berprasangka dulu.” Prof Bora mengerti apa yang aku pikirkan dan aku mengangguk menyetujuinya.


“Lalu Talia, tentang di vila, coba ceritakan apa yang terjadi.” Kataku masih penasaran.


“Tidak ada petunjuk lain, setelah hasil lab yang menyatakan benda itu adalah citalopram, tiga orang tersangka yang di tangkap mengubah pengakuannya kalau mereka tidak sengaja menemukan itu saat masuk ke ruangan itu, mereka hanya mengakui tentang penjualan senjata illegal, setelah di selidiki ternyata mereka sudah sering melakukan transaksi penjualan di tempat-tempat ramai seperti acara pernikahan agar tidak di curigai.”


“Lalu, siapa yang mau membelinya?”

__ADS_1


“Metode transaksi mereka adalah dengan nama samaran, mereka meminta para pembelinya untuk menyebutkan nama palsu karena mereka tidak ingin terlibat jika salah satu pelanggannya tertangkap. Mereka sudah melakukan ini selama hampir dua tahun.” Talia mendesah kesal di akhir kalimat.


“Lalu bagaimana menurutmu? Kenapa mereka mengubah pernyataan setelah tahu benda itu citalopram?” Tanya prof Bora.


“Selama aku bekerja di kepolisian, banyak orang berubah pikiran saat bersaksi dan itu selalu karena satu dari tiga alasan, takut, bingung dan mereka sudah di sogok.”


 


 


 


 


 


 


“Halo!” Suara seseorang menginterupsi perbincangan kami. Aku mendongak mendapati seorang pria berpakaian kemeja rapih sedang tersenyum lebar. Matanya memandang lurus padaku seolah dia tidak melihat ada prof Bora dan Talia.


“Kamu Natasha?”


“Err—Ya.” Jawabku ragu-ragu.


Pria yang memiliki hidung mancung, kulit putih, rambut hitam rapih yang di duga sering ia sisir, juga aku bisa mencium wangi parfumnya yang lumayan menyengat hidung.


“Bisakah aku bicara denganmu, berdua?” Aku melirik dua wanita yang menemaniku ini, meminta persetujuan. Mereka juga saling pandang antara penasaran dan khawatir.


Pria itu kemudian bergumam terkejut. “Maafkan aku, karena terlalu bersemangat aku jadi lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Robert Fito. Aku manager dari bank MG.”


Aku mengangguk saat Talia menatapku lagi. Mengatakan secara tersirat kalau aku setuju untuk berbicara dengannya berdua.


“Baik, kami ke toilet dulu.” Ajak Talia pada prof Bora, lalu keduanya berdiri dan melangkah menjauhi meja, sekali lagi keduanya menatapku saat Robert duduk di hadapanku, tempat prof Bora.


Setelah aku mengangguk pada mereka sekali lagi, kedua wanita itu melangkah mantap menuju toilet meninggalkanku bersama pria asing yang masih saja tersenyum senang sembari menatapku.


 


 


 


“Jadi—”


“Aku akan to the point. Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu di sini, aku sudah dengar dari kedua orang tuaku tentang pernikahanmu bersama anak keluarga Jeremy. Orang tuaku hadir di acara pemberkatan kalian.”


“Oh ucapkan terima kasih dariku dan bagaimana kamu tahu ini aku kalau kau tidak ada di acara malam kemarin?”


Robert justru tertawa mendengar pertanyaanku. “Bagaimana aku tahu? Tentu saja aku tahu! Tidak, bahkan semua orang dari kelas sosial kita tahu pernikahan kalian. Pernikahan ini semakin memperkuat pandangan kami tentang keluarga Danendra dan Jeremy, keluarga kalian di persatukan oleh pernikahan dan sekarang tidak ada yang berani mencari masalah dengan dua keluarga ini. Yang satu monster bisnis dan yang satu menjadi kepercayaan pemerintah karena sejak dulu anggota keluarganya masuk militer. “


“Mencari masalah? Masalah apa yang mereka lakukan?” Pertanyaanku rupanya menghapus senyum lebar Robert, dia terlihat bingung sekaligus curiga. Tiba-tiba aku sadar kalau seharusnya aku pura-pura mengerti ucapannya. Mungkin mereka tidak tahu kalau aku memang tidak pernah tahu tentang kelas sosial yang mereka maksud.


“Putri tersembunyi, jadi kamu benar-benar tersembunyi selama ini?”

__ADS_1


“Jadi kamu ingin bicara berdua denganku karena ini?” Aku balik bertanya, berusaha mengubah topik pembicaraan. Usahaku berhasil karena sekarang Robert kembali menampilkan senyum lebarnya.


“Maaf. Benar, aku harusnya langsung pada intinya saja. Ini.” Robert mengeluarkan kertas kecil dari saku celananya. Dia menyodorkan kartu namanya sendiri kehadapanku.


“Aku ingin mengajak kerja sama denganmu. Kamu adalah seorang pembisnis, aku akan mengirimkan proposalnya padamu, aku yakin kamu akan sangat tertarik, untung yang kita dapat akan besar.”


“Kerja sama apa?”


 


 


Robert berdehem sebentar, mengubah posisi duduknya lebih condong ke depan sebelum dia menjawab. “Aku akan memperkenalkan orang-orang yang akan membantu kita dalam pencarian harta karun yang hilang berabad-abad lalu. Harta warisan dari leluhur yang sampai sekarang belum di temukan. Aku akan membantumu mendapatkan semua itu.”


Aku mengerutkan kening antara bingung dan tidak percaya pria ini mengatakan tujuannya begitu jelas.


 


 


“Orang-orang dari kelas sosial kita mengatakan kalau keluarga Danendra sedang mencari warisan itu.”


“Tidak ada warisan atau harta karun yang hilang.”


“Ya! Orang dari keluargamu juga sering mengatakan itu, tapi aku percaya, harta itu ada.” Robert berbisik di akhir kalimat.


“Atau mungkinkah harta itu sebenarnya sudah di gunakan dalam usaha bisnis keluargamu? Kita menyebut kalian monster dari bidang bisnis sebenarnya dari awal sudah di beri modal dari harta warisan itu? Aku sudah menduga—”


“Aku tidak ingin kamu terus menebak-nebak apa yang terjadi, tapi yang bisa aku katakan adalah harta warisan itu memang tidak ada sejak awal dan itu aku berkata jujur!” Aku memotong ucapannya, mulai agak kesal dengan sikapnya yang sangat percaya diri ini, seolah dengan bertemu denganku sama dengan selangkah lebih dekat dengan harta warisan yang dia sebutkan.


“Tidak usah buru-buru. Kau bisa menceritakan apapun padaku, kita bisa berteman mulai sekarang.” Robert menyodorkan tangan kanannya, berharap aku membalas. Tapi aku hanya menatap tangan itu dalam diam.


Pria ini menarik kembali tangannya, tampak sedikit gugup melihat reaksiku lalu dia segera mengeluarkan ponselnya dan tanpa di duga dia langsung memfotoku begitu suara klik yang khas terdengar.


 


 


“Apa yang kau lakukan?!”


“Tidak usah sungkan, mulai sekarang kita berteman. Ini sebagai bukti kalau aku bertemu denganmu. Aku pamit, ada yang harus aku kerjakan. Kita akan segera bertemu kembali.” Robert berdiri cepat dan berbalik tanpa menunggu reaksiku.


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2