
...
“Icha? Kamu sudah bangun?” Suara bunda Kirana dari balik pintu kamar berhasil mengalihkanku.
“Ya bun.” Aku cepat-cepat menuju pintu dan membukanya, mendapati bunda Kirana yang terlihat masih segar sehabis mandi, tersenyum padaku.
“Bunda lihat jendela kamar kebuka, jadi bunda tebak kamu sudah bangun. Hari ini jadi pindahan?”
Aku mengangguk, “Mulai dari barang-barang yang gampang di pindahin aja bun, seperti baju-baju. Icha juga harus pulang ke rumah untuk packing.”
“Kalau gitu, nanti bunda temenin pulang sekalian bantu kamu packing.”
“Makasih bun.” Aku tersenyum lebar, perhatian bunda mengingatkanku pada bibi Rose, hanya bibi Rose yang selalu pengertian dan peduli padaku, sedangkan ibu, dia terlalu sibuk mengkhawatirkan masa depan Daniel.
.
..
...
Lucy menginjak rem begitu mobil yang aku, bunda dan dia tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang rumah warisan bibi Rose. Seperti biasanya, sepi, tapi aku tidak menyangka, mungkin tak lama lagi rumah ini bukan milikku. Bagaimanapun, rumah ini penuh dengan kenangan bersama bibi Rose.
“Jadi, ini rumah yang dulu di tinggali oleh Rose?” Tanya Bunda.
“Ya. Apa bunda belum pernah ke sini?”
Bunda menggeleng dan menjawab “setelah perceraiannya dengan Evano, Rose tidak lagi bertukar kabar dengan kami.”
Aku mengerutkan kening “kenapa bun? Bukannya bibi Rose sangat akrab dengan bunda dan yang lainnya?”
Sekali lagi bunda menggeleng, dia melirikku lalu merangkul lenganku “kami hanya percaya kalau Rose memiliki alasan pribadi yang tidak bisa ia katakan, kami menghormati pilihannya. Semua orang punya dunia mereka sendiri.”
Aku mengerutkan kening, merasa aneh mendengar bibi Rose tiba-tiba menjauhi teman-temannya, selama ini aku mengenalnya, dia adalah sosok yang pengertian dan detail, terlebih jika menyangkut soal pertemanan, bibi Rose selalu menekankan padaku kalau teman sejati adalah yang memberimu kebebasan penuh untuk menjadi dirimu sendiri.
__ADS_1
Namun sebelum aku memikirkannya terlalu jauh, suara mesin mobil di belakang kami mengalihkan perhatianku. Sebuah mobil swift putih berhenti tepat di belakang mobil yang di kemudikan oleh Lucy tadi.
Aku mengerutkan kening melihat seorang wanita di balik kemudi yang terlihat familiar. Begitu wanita itu membuka pintu mobil dan turun, dia tersenyum lebar padaku dan menyapa. “Icha!”
“Oh! Talia?”
“Bunda.” Talia menyapa bunda yang sudah berdiri di sampingku, ikut menyambut kedatangan Talia.
“Kau ada di sini Talia.”
“Iya bun, ada sesuatu yang harus Talia bicarakan dengan Icha, boleh pinjam sebentar?” Jawab Talia sembari berjalan menghampiri kami.
“Kalau gitu, bunda dan Lucy akan duluan masuk.” Bunda mengusulkan padaku.
Aku mengangguk lalu merogoh saku celana untuk memberikan kunci rumahku pada bunda. “Kalian ngobrol aja dulu, enggak usah buru-buru.”
“Cuma sebentar ko bun, Talia juga sudah di tunggu di kantor.”
“Ayo masuk ke mobil. Ada yang harus kamu tahu, Cha.” Talia berbisik, tanpa perlu mendengar keherananku, dia sudah menarik tanganku mendekati mobil swift putihnya.
Tiba-tiba aku teringat terakhir kali bertemu dengan Talia, dia janji untuk membantuku mengecek tentang latar belakang dokter Cilia dan kami hendak membicarakan ini seminggu lalu, ketika bertemu dengannya saat mengantar kepergian Bayu dan tim nya, tapi Talia yang ada pekerjaan dadakan membuat pertemuan kami tertunda.
Benar! Aku hampir melupakan tentang itu.
“Apa ini soal dokter Cilia?” Tanyaku tepat setelah kami sudah ada di dalam mobil. Talia yang baru saja menutup pintu di sampingnya mengangguk.
Sekarang aku baru sadar kalau dokter Cilia belum menghubungiku lagi, atau sekedar menanyakan kabarku.
Wanita ini mengeluarkan sebuah amplop besar coklat dari atas dashboard mobilnya untuk di serahkan padaku. Aku sempat meliriknya, ekspresinya yang sangat serius membuatku agak gugup.
Begitu aku membaca dokumen yang memuat informasi tentang dokter Cilia, aku tidak bisa menahan kerutan tidak mengerti. Sambil aku terus membaca laporan itu, Talia menghela napas panjang dan mulai menjelaskan.
“Awalnya tidak ada yang aneh dengan latar belakangnya, keluarga, sekolah, semuanya normal. Tapi setelah menyelidiki lebih jauh, ada satu hal yang membuat semuanya menarik yaitu perusahaan Raksasa.”
__ADS_1
“Ini perusahaan cangkang?” Aku mendongak menatapnya tidak percaya melihat alamat tempat perusahaan ini berada, jelas sekali di daerah alamat ini tidak ada perusahaan, alamat yang dekat dengan rumah sakit tempat dokter Cilia bekerja. Aku sudah beberapa kali ke sana dan daerah itu hanya ada rumah-rumah warga.
Talia mengangguk. “Raksasa, dalam mitologi india, Raksasa adalah makhluk berjiawa jahat. Kata raksasa berarti kekejaman. Asura dan Raksasa, keduanya berkuasa atas pembantaian, Asura mengendalikan semua niat membunuh dunia, sementara Raksasa mengendalikan pemantaian dendam yang jahat. Meskipun keduanya adalah dewa pembunuhan, mereka tidak kompatibel. Kehadiran Asura adalah musuh sejati Raksasa—oh ya ampun! Aku sampai tertarik membaca mitologi tentang Asura dan Raksasa.”
Aku tertawa melihat Talia yang begitu bersemangat menjelaskan tentang Asura dan Raksasa. Satu poin menarik dari wanita ini, meski dia bekerja di kepolisian, tapi dia juga tertarik dengan cerita mitologi yang kebanyakan orang-orang anggap itu adalah cerita fantasi.
“Intinya Cha, perusahaan Raksasa ini mendanai sebuah organisasi ilmiah bernama Asura. Awalnya jika mendengar nama-nama itu akan berpikir, mungkin saja itu komunitas pencinta mitologi tapi nyatanya tidak. Itu hanya nama samaran. Organisasi ini lah yang diam-diam mengembangkan racun. Ada berbagai efek selain kematian di setiap
racun yang mereka kembangkan dan di jual secara rahasia oleh perusahaan Raksasa kepada orang-orang kaya dan orang penting. Racun dengan permintaan terbanyak bernama racun hormon. Jika seseorang mendapat suntikan racun ini sesuai dengan efek hormonnya, maka dia akan susah sembuh terkecuali dengan obat penawar yang hanya di jual oleh organisasi Asura sendiri.”
“Racun hormon? Seperti racun yang mengendalikan marah, senang, sedih? Kalau racun itu masuk kedalam tubuh, apa yang di rasakan justru tidak nyata.”
“Ya semacam itu. Tapi racun hormon yang aku sebutkan ini ramai terjual di pasar gelap di tahun 1994, organisasi Asura hancur satu tahun berikutnya karena kasus Red Apple yang menuntun kasus itu pada perusahaan Raksasa.”
“Red Apple?! Ayah Evano pernah menyebutkan tentang itu!” Aku melotot tidak percaya, Talia juga sama, kaget mendengar perkataanku.
“Bagaimana bisa? Red Apple adalah kasus tertutup yang tidak pernah di publikasikan. Senior di kantorku hanya mampu mendapatkan informasi sebatas ini. Aku mendapatkan informasi ini dari seniorku di kantor dan hanya sebatas ini saja yang dia tahu. Apa saja yang ayahmu katakan?” Aku berusaha mengingat lagi apa yang ayah Evano katakan di hari pertama kami bertemu.
Perbincangan kami di halaman belakang rumah keluarga Danendra, aku ingat sekarang!
“Ayah mengatakan dulu karena alasan konflik Red Apple lah harus merelakan aku di besarkan oleh bibi Rose. Agar menjauhkan aku dari orang-orang dari Red Apple yang mencariku. Saat itu perusahaan Eternity sedang berkembang dalam puncaknya, kakek tergabung dalam sebuah kelompok yang isi anggotanya di sebut monster bisnis, tapi tak lama, anggota-anggota itu terbunuh satu persatu dengan racun. Pelaku yang membunuh mereka meninggalkan apel merah di samping mayat, karena itulah di sebut Red Apple. Tersisa kakek dan dua orang lain, saat itulah rumor kalau keluarga Danendra menyembunyikan harta terpendam tersebar.”
...
Pengumuman!!
Pertama-tama untuk para pembaca setia maupun para pembaca gelap, maaf karena baru lanjut sekarang. Udah lama sebenarnya akan ngeUp kelanjutan cerita ini, tapi sayangnya, hari berikutnya ketika author ingin membuka file ketikan yang sudah siap, tidak bisa di buka T.T
Di coba berkali-kali, keesokan harinya, esoknya lagi dan lagi dan lagi.... masih tetap tidak terbuka, huhuhu
Back up memang ada, tapi untuk ketikan yang terbaru, tidak sempat ke back up. Mungkin ada yang pernah mendapat pengalaman seperti ini juga, ketika ketikan kita tiba-tiba file nya tidak bisa kebuka, kalau udh kaya gini biasanya jadi bad mood bgt untuk mengulang.
Akhirnya...
setelah memantapkan hati...
Author mulai ketik lagi, meski adegannya berbeda dari ketikan pertama, tapi inti ceritanya sama...
Jadi... author akan berusaha lebih giat untuk mengetik ulang!
Dukung terus cerita ini...
See you!
__ADS_1
***