EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 235


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


 


“Coba tebak, aku menemukan siapa di sini?” Tanyaku langsung sembari duduk di kursi samping kiri Bayu. Lelaki ini mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ada di genggaman tangannya.


 


 


Sekilas aku melihat dia hendak mengirimkan pesan padaku, karena aku sudah kembali, dia menyimpan ponselnya di atas meja dengan perhatian penuh padaku. “Siapa? Jangan bilang Rey!”


 


 


“Tidak tidak!” Kataku cepat melihat Bayu yang panik. “Tapi tante Marisa.”


 


 


“Tante Marisa? S—sshh aku tidak ingat tante mu yang itu.”


 


 


“Istri ayah Davin. Ibu Hanna yang di rawat di rumah sakit. Mereka datang di pernikahan kita.”


 


 


“Ohhh! Yang di rumah sakit itu? Hari di mana kau menawarkan untuk membeli saham perusahaan ayahmu?” Aku mengangguk pelan, ingatan tentang aku yang akan membeli saham ayah kalau dia butuh uang untuk pengobatan Hanna terasa sudah lama sekali, padahal baru beberapa hari lalu.


 


 


Kemudian aku menceritakan semuanya pada Bayu, dia hanya diam mendengarkan tanpa menyela cerita ku. Sesekali dia juga menyeruput minuman yang aku beli untuknya.


 


 


“Dia terlihat sangat membutuhkan ramalan dari orang yang bernama ibu Tiara. Aku tidak menyangka tante Marisa percaya pada ramalan.” Aku meneguk minuman milikku dan melanjutkan “Terlebih dia bermaksud ingin membuat Hanna terlibat di keluarga ayah Evano? Aku saja masih canggung sekali. Apalagi dengan tatapan nenek Nella dan kakek Alvaro yang selalu tajam melihatku.” Jelasku mengakhiri penjelasan sembari bergidik pelan.


 


 


“Apa perlu aku yang membereskan mereka?” Tanya Bayu terlihat sangat serius.


 


 


“Membereskan? Tidak! Aku menceritakan ini bukan untuk memintamu membereskannya.” Aku menggeleng menatapnya.


 


 


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”


 


 


“Biarkan saja dulu, toh belum berpengaruh apa-apa padaku, kalau nantinya tindakan mereka akan merugikan aku atau orang-orang di sekitarku, mungkin aku akan bertindak.”


 


 


“Tapi kamu juga harus tetap waspada Boo.” Ingatkan Bayu.


 


 


“Kau tenang saja, aku sudah berpengalaman dalam menghadapi orang-orang seperti itu. Aku tahu apa yang aku lakukan.” Bayu mengangguk sembari tangannya terangkat menepuk-nepuk puncak kepalaku.


 


 


“Tentu saja, istri ku ini adalah wanita baik dan pintar. Aku percaya kau bisa mengatasinya, tapi kalau kau butuh bantuan, katakan saja padaku, oke?”


 


 


“Yes, sir!” Kemudian kami berdua saling melempar tawa.


 


 


“Jadi setelah ini kita kemana?” Tanyaku sembari menurunkan tangan Bayu dia atas kepalaku dan beralih menggenggamnya.


 


 


“Bagaimana kalau main game sambil nunggu Dika dan Lucy datang? Setelah itu kita nonton?” Aku mengangguk dengan usul Bayu.


 

__ADS_1


 


Kami berdua segera berdiri, dia membawa semua belanjaan dan aku membawa dua minuman kami yang masih tersisa banyak lalu lelaki ini merangkul bahuku sembari berjalan beriringan menuju game center mall.


 


 


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


 


 


Aku melirik arloji hitam di pergelangan tangan kiri saat jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima malam, lalu beralih menatap Bayu yang sedang membayar makan malam kami berempat dengan Dika dan Lucy berdiri di kanan kiriku.


 


 


“Kita mau kemana lagi?” Tanya lelaki ini saat sudah ada di hadapanku, sambil berpikir aku menggandeng tangannya, berbalik untuk keluar dari restoran. Hari ini kami belanja, main game, nonton dan baru saja makan malam.


 


 


“Kau senang hari ini?” Tanya nya karena tidak mendengar jawabanku.


 


 


“Senang sekali! Untuk sesaat aku benar-benar lupa tentang pekerjaan, tugas kulih, bahkan tentang kenyataan kalau kau akan mulai bertugas lagi besok.” Bayu cemberut mendengarku.


 


 


“Maaf, padahal kita baru menikah tapi aku harus secepatnya bertugas, bahkan harus enam bulan.” Cepat-cepat aku menggeleng.


 


 


 


 


Bayu balas tersenyum di antara keramaian mall sekitar kami. Tangannya mengeratkan genggamanya padaku dengan pandangan lembut penuh kasih sayang yang terlihat jelas.


 


 


Namun sebelum kami melanjutkan percakapan kami, getaran ponsel di saku celana jins ku mengalihkan tatapanku padanya. Tanpa melepas genggaman tangannya, aku merogoh ponsel dengan tangan lain dan menemukan nomor tidak di kenal di layar yang menyala.


 


 


“Halo?”


 


 


“Halo? Nak Icha? Ini ibu Lulu.” Kata suara yang menyahut di sebrang telpon.


 


 


Seketika aku mengenal suara dan nama ini. Dia ketua RT di komplek perumahan bibi Rose. “Oh bu Lulu, ada apa ya?”


 


 


“Nak Icha bisa pulang ke rumah sekarang? Ada keributan di rumah. Ibunya Nak Icha sedang bertengkar dengan seorang pria.” Suara bu Lulu yang terdengar panik membuatku langsung menatap Bayu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


.

__ADS_1


..



 


 


 


 


 


 


Mobil jeep membawaku dan Bayu sampai di depan rumah dalam waktu tiga puluh menit setelah aku mendapat panggilan dari ibu Lulu.


 


 


Dari luar, aku bisa melihat pintu rumah di buka lebar, beberapa orang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan suasana yang kaku.


 


 


Aku segera keluar sebelum mesin mobil mati, melirik sekilas mobil lain yang mengikuti kami di belakang, mobil yang membawa Dika juga Lucy.


 


 


Setengah berlari, aku masuk ke dalam gerbang dan segera menghampiri mereka di ruang tamu.


 


 


 


 


 


 


“Ini dia, nak Icha sudah datang.” Ibu Lulu segera berdiri begitu aku sampai di ambang pintu.


 


 


Sekarang aku bisa melihat jelas orang-orang yang datang. Ada ibu dan ayah Davin, dan yang lebih mengejutkan lagi, tante Marisa dan Hanna juga ada di sini. Selain itu ibu Lulu dan suaminya juga seorang pria dan wanita paruh baya lain ikut menemani.


 


 


“Sebaiknya nak Icha obrolkan baik-baik dengan ibu dan ayahmu.” Kata bu Lulu menghampiriku.


 


 


Setelah mendapat anggukan, wanita ini dan suaminya meminta dua orang lain yang bersama mereka untuk membiarkan kami berdiskusi menyelesaikannya. Keempat orang itu telah keluar diikuti Bayu, Lucy dan Dika datang menghampiriku yang masih berdiri diam di ambang pintu.


 


 


“Icha, kita harus bicara!” Ayah menatapku dengan tangan melipat di atas perut.


 


 


Aku duduk di sofa menghadap ke ibu bersama Bayu yang juga duduk di sampingku. Sekilas, mereka berempat melirik Dika dan Lucy yang berdiri kaku di ambang pintu.


 


 


“Siapa mereka?” Tanya ibu menunjuk Dika dan Lucy.


 


 


“Mereka yang di tugaskan untuk menjaga kami oleh ayah Rahsa.” Jawabku. Ibu terlihat tidak suka mendengarnya, sedangkan tante Marisa dan Hanna mereka saling melempar pandang satu sama lain, dari tatapan mereka aku bisa menebak kalau mungkin saja aku sedang bercanda.


 


 


“Jadi, ada apa ini sebenarnya?” Tanyaku cepat sebelum mereka membahas lebih lanjut tentang Dika dan Lucy.


 


 


“Aku dengar, kalau semua warisanmu dari Rose akan di berikan pada dia?” Ayah bertanya to the point.


 


 


“Ya.”


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2