EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 85


__ADS_3

...


 


“Apa kamu pikir aku menginginkan hidupku seperti ini? Bahkan asal usul ku pun aku tidak tahu.”


Tenggorokkanku sakit dan air mata telah berjatuhan membasahi pipi. Pandangan mataku memudar karena di penuhi air mata. Ingin sekali aku menangis kencang, melampiaskan semuanya agar hatiku tenang.


“Yaa! Dunia ini akan menghukummu! Kamu membuat kami menderita!”


Aku tidak menjawab dan hanya mengusap kasar pipiku yang basah. Napasku memburu menahan kemarahan dan kekesalan ini. Lebih baik aku segera keluar dari sini dan menjauh dari keduanya. Sepertinya mulai sekarang aku tidak akan pernah sanggup lagi berhadapan dengan ibu dan Daniel.


Langkah kaki lebarku membawaku ke depan pintu ruangan ini, membukanya dengan cepat dan wajah pak Seno yang hendak mengetuk pintu menyambutku.


 


 


“N—nona Icha, seorang perwakilan dari grup Eternity datang mencarimu.”


Raut wajah pak Seno berubah lebih gugup, kemudian dua orang pria berbadan besar dengan pakaian formal dan rapih datang menghampiri. Di telinga kiri mereka telah terpasang headset dan keduanya menatapku lalu membungkuk pelan.


Tidak!


Aku belum ingin berurusan dengan mereka. Sekarang, aku hanya ingin segera pergi ke rumah sakit. Menemui dokter Stefan untuk mendapatkan obat yang bias menghilangkan rasa sakit di dadaku ini. Rasanya obat yang kemarin di resepkan tidak berpegaruh besar.


“Pak, tolong berikan nomor ponselku pada mereka. Sekarang aku ada urusan yang sangat penting. Mereka bisa menghubungiku dan membuat janji.”


“A—apa? Tapi tuan Wildan telah menyempatkan untuk bertemu—“ Aku menggeleng, menghentikan ucapan pak Seno lalu aku kembali berjalan keluar dari ruang pribadi ini. Berjalan cepat melewati dua pria berbadan besar ini.


Namun ternyata dua pria ini mengikuti langkahku hingga keluar dari restoran. Aku mencoba untuk tidak peduli tapi orang-orang yang berpapasan denganku melirikku heran dan penasaran. Tubuhku yang lemas menanggapi mereka akhirnya hanya mengabaikannya saja.


 


Saat aku sedang berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi yang lewat, dua pria ini juga ikut berdiri di belakangku tanpa mengatakan apapun.


“ICHA!! APA KAMU MENUDUH ANAKKU BERBUAT BURUK PADAMU??”

__ADS_1


 


Tiba-tiba suara teriakkan ibu dari belakangku mengalihkan pandanganku. Aku berbalik mendapati Ibu tengah di halangi oleh salah seorang pria berbadan besar ini agar tidak mendekatiku. Dan seorang lagi berdiri di hadapanku seperti sedang melindungiku.


Tak jauh di belakang, Daniel dan pak Seno sudah menyusul keluar dari restoran. Aku hanya menatap mereka tanpa ada niat untuk menjawab. Rasanya percuma saja menjelaskan pada orang yang tidak ingin mendengarkannya.


Aku kembali berbalik menunggu taksi tapi yang berhenti di depanku justru mobil hitam besar. Pintu mobil bergeser terbuka otomatis hingga menampilkan sosok pria paruh baya berpakaian rapih sedang duduk bersandar di sana.


Wajahnya tidak aku kenali, auranya mengingatkanku pada seseorang yang sering melakukan public speaking. Dia tersenyum kecil padaku dengan binar dari kedua matanya. Dari posisiku berdiri aku bisa melihat kerutan di kedua ujung matanya ketika dia tersenyum. Wajahnya terlihat ramah dan gaya nya yang santai membuatku tidak bisa untuk berpaling darinya.


Lalu dia tiba-tiba bangkit berdiri dan keluar dari dalam mobil menghampiriku, perawakannya tinggi dan tegap. Kulit wajahnya terlihat halus dan tidak ada bulu di dagu atau di bawah hidungnya.


Dari ujung mataku aku bisa merasakan dua pria yang sejak tadi mengikutiku ini membungkuk sekilas pada pria paruh baya ini.


 


Ahhh jadi ini tuan Wildan yang tadi sempat di singgung oleh pak Seno?


Sebelum pria ini mengeluarkan suaranya, tanpa aba-aba aku berjalan cepat melewatinya untuk menghentikan taksi yang berhenti di depan mobil besar mewahnya. Setelah seorang penumpang turun, aku gantian masuk dan menutup pintu dengan cepat sebelum mereka menyusulku.


 


 


.***


Nyatanya aku tidak jadi datang ke rumah sakit. Ketika taksi yang aku tumpangi terjebak macet hingga membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai, sakit yang aku rasakan di dada kiriku sudah jauh lebih baik. Sekarang aku bisa bernapas lebih lancer dan tidak lagi berkeringat.


Maka dari itu, aku sekarang sedang berada di depan pintu rumah temanku Bela. Mengetuk pintunya dan tak lama sosok wanita yang seumuran denganku ini membukakan pintunya. Dia tersenyum lebar menyambut kehadiranku.


“Ayo masuk. Di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Semuanya sedang keluar.” Aku mengangguk mendengar penjelasan Bela. Aku memang akrab dengan ibu dan ayah Bela. Biasanya mereka selalu menyambutku saat aku datang ke rumah ini.


“Kau sedang sibuk ya?” Tanyaku mengekori Bela yang berjalan menuju dapur.


“Oh tidak. Aku hanya sedang menyiapkan minuman dan cemilan untukmu.” Jawabnya kembali meneruskan aktifitasnya yang sedang menuangkan air panas ke dalam dua gelas.


“Siang

__ADS_1


ini cuaca terasa dingin dan sepertinya akan hujan, jadi aku menyiapkan STMJ


untukmu.” Aku mengangguk senang mencium aroma minuman hangat itu.


Setelah di aduk, Bela menyerahkan gelas hangat itu padaku. “Terima kasih.”


“Bagaimana? Apa sudah ketemu?” Wanita ini sudah tahu aku sedang mencari apartemen kecil atau rumah untuk di sewa.


Aku menggeleng. “Belum ada yang cocok.”


“Aku akan membantumu mencarinya di daerah sini.”


“Terima kasih Bela. Aku mengabarimu dadakan sekali ya.”


“Aku memang kaget sih karena kau tiba-tiba sedang mencari tempat tinggal baru. Apa yang terjadi dengan rumahmu yang sekarang?” Temanku ini memang tidak tahu jika rumah yang sekarang aku tempati adalah peninggalan bibi Rose.


“Masih ada. Hanya saja aku memang ingin pindah mencari suasana baru. Di rumah itu terlalu sepi." Jawabku sembari menyeruput minuman yang di berikannya. Sensasi hangat yang menyenangkan langsung mengalir dari tenggorokkanku hingga ke perut, hal itu cukup membuat tubuhku lebih rileks.


***


Aku sengaja pulang larut malam dari rumah Bela. Arloji berwarna coklat keemasan yang aku pakai menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Bisa mengobrol dan tertawa bebas dengan Bela tadi ternyata tidak ber efek ketika aku sendirian lagi, setelah aku pamit, perasaan lelah, kesal dan marah mengingat tentang ibu dan Daniel tadi tidak juga membaik.


Pikiran ini salah, tentu saja.


Pikiranku selalu kabur ketika aku seharusnya memikirkan dan memahami semua masalah antara ibu dan aku sejak dulu. Sejak dulu aku tidak berani menghadapinya seorang diri, tapi ketika aku sudah berhadapan langsung dan mencoba memahami untuk menerima agar bisa ada penyembuhan setidaknya untuk diriku sendiri tapi rasanya aku lelah sekali sampai semua tulang dalam tubuhku terasa sakit.


Aku seperti mati rasa dan berada dalam dunia khayal, tetapi aku tidak peduli bahkan senang. Aku tak ingin memikirkan apa pun yang  telah terjadi tadi siang. Tak ada yang lebih diinginkan selain duduk saja tanpa diganggu, sampai aku tertidur dan tak perlu berpikir atau merasa lagi.


Tanganku yang sudah terulur memasukkan kunci ke dalam gembok pagar rumah harus tersentak kaget mendengar suara langkah kaki sepatu berhenti di belakangku. Komplek perumahan ini sudah sepi dan refleks aku berbalik sembari tak sengaja menjatuhkan kunci.


Perasaan senang tiba-tiba membuncah dalam rongga dadaku melihat Bayu sudah berdiri tegap di belakangku sekarang. Pakaiannya tampak rapih dengan celana katun hitam, di balut kaus putih dan jaket biru tua.


Penampilannya terlihat segar dan samar-samar aku bisa mencium aroma aftershave-nya.


“Hai!” Kata Bayu lembut, tersenyum pada ku.


Kedua tangannya terlentang, menunggu sambutanku.

__ADS_1


 


...


__ADS_2