
...
“Ke—kenapa harus membawa aku??” Aku mendengus malas, ya ampun obrolan ini berputar-putar.
“Kenapa kau bertanya pada Daniel? Kau harus menjawabnya!” Nenek masih menatapku kesal.
Aku segera merogoh tas selendang kecil yang di bawa untuk mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sebuah dokumen elektronik di grup keluarga kami. Sebelum mengirimnya aku menatap nenek kesal karena dia juga tidak mau mendengarkanku seperti ibu.
“Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan ini karena kau dan ibu akan malu tapi—“ Aku melirik Daniel sekilas dan menekan tombol kirim.
“Tapi karena nenek juga tidak mau mendengar dan mengerti apa yang aku katakan, jadi aku mengirim buktinya. Itu semua adalah bukti transfer yang selama ini aku berikan pada ibu untuk investasi Daniel, juga beberapa dokumen terkait Daniel yang mengadaikan rumah warisan bibi Rose tanpa memberitahuku hingga aku sendiri yang harus menebusnya memakai tabunganku.” Suara pesan masuk yang saling bersahutan memehuni ruangan ini. Mereka semua sibuk membuka ponsel mereka dan mulai melihat isinya.
“Kak! Jadi kamu sudah merencanakan ini?! Benar apa kata ibu, kamu perhitungan!” Daniel berseru marah menggebrak meja.
“Daniel! Sopan santunmu mana??” Itu peringatan bibi Nuri.
“Investasi? Investasi apa? Lalu bagaimana hasilnya?” Paman Ben tampak tertarik setelah membacanya. Aku menggeleng tidak ingin menjawab.
“Dan satu lagi!” Aku berseru mengingat ada dokumen yang belum terkirim. Secepat kilat aku mengirim bukti transfer ibu menerima uang tujuh puluh juta dari Henry.
“Ini bukti ibu mendapat uang dari Henry. Ibu tidak pernah mengatakan apapun tentang membutuhkan uang sebanyak ini. Kalau nenek masih tidak percaya, aku akan mengirimkan rekaman percakapan mereka yang pada akhirnya menginginkan aku bertunangan dengan Henry agar ibu tidak usah membayar pinjamannya.”
“KAU!! ANAK SIA—“
“Bu, rencana awalnya setelah aku memberitahu nenek tentang bukti transfer ini aku akan membayar pinjaman ibu ini memakai uang pribadi ku tapi karena ibu yang keras kepala dan membawa Jane ke sini, aku jadi membatalkannya. Sekarang utang itu urusan ibu sendiri dan Henry.” Aku memotong teriakkan ibu.
__ADS_1
“Icha, aku tidak akan meminta uang ini lagi asalkan kamu mau bersama denganku. Aku menyukaimu dan akan aku berikan semua yang kamu mau. Acara pertunangan kita sudah sembilan puluh persen selesai. Kita bukan orang baru, kita sudah kenal sejak SMP.”
“Demi kebahagian bersama, kau jangan egois, Cha! Kau hanya meneruskan pertunangan dengan Henry dan aku juga Bayu akan segera menikah. Ayahku baru mengabariku kalau dia sudah berbicara dengan ayah Bayu untuk melanjutkan pertunangan ini.” Jane menimpali membuat emosiku naik.
TanteYuan yang duduk di sampingku menggenggam tanganku, berusaha meredam emosiku. Baru saja aku akan membuka mulut tapi aku merasakan usapan pelan tangan Bayu di kepalaku.
Aku meliriknya dan dia hanya tersenyum menenangkan. Lelaki ini berdehem pelan sebelum dia berkata pada keluargaku. “Karena nama saya terseret dengan masalah ini, sebelumnya saya mohon maaf terlebih dahulu.”
Semuanya terdiam menunggu ucapan Bayu. “Untuk masalah ini, pertama Icha tidak pernah mendengar tentang acara pertunangan yang di adakan minggu depan untuknya dan seperti yang kalian dengar bahwa Icha sudah sejak awal menolak perjodohan. Kedua hubungan saya dan Jane sudah lama putus dan tidak ada lanjutannya. Ketiga apapun yang dua orang ini katakan, seharusnya nenek dan ibu mengerti kalau Icha sudah menjelaskan dua poin tadi dan yang terakhir, tentang masalah uang dan bukti yang kalian terima itu sudah jelas dan tidak bisa di bantah
untuk alasan apapun.”
“Apa hak kamu? Kamu belum mendapat restu dari ibu Icha!” Henry menjawab marah pada Bayu.
“Tapi Icha sudah mendapat restu dari tante.” Tante Yuan menjawab sembari tersenyum lembut padaku. Rasanya sekarang aku ingin menangis mendapat pembelaan darinya.
“Bibi juga akan merestui Icha dan Bayu.” Sekarang bibi Nuri tersenyum lebar menatapku dan Bayu.
“Tapi ibunya Icha—“
“Nak Henry, apa kamu tidak mengerti juga??” Paman Ben bertanya geram yang langsung membuat pria itu bungkam.
“Maaf ya nak Bayu, di sini drama sekali. Paman percayakan Icha padamu.” Paman Ben menepuk pelan bahu Bayu.
“Kalau begitu, haruskah aku meminta restu pada Evano Kavin Danendra, bu?” Pertanyaanku membuat Ibu, nenek dan bibi Rina melotot kaget.
Sebenarnya aku tidak ingin membahas tentang orang itu, tapi kesabaranku sudah habis.
“Evano? Siapa Evano? Sepertinya aku pernah dengar.” Bibi Nuri bertanya padaku. Tapi tidak ada yang mau menjawab.
Tiba-tiba Darius meletakkan paper bag kecil di atas meja lalu dia mendorongnya padaku. “Hadiah, untuk kalian berdua.”
Aku mengerut tidak percaya, pria yang jarang berbicara tapi kami selalu main bersama saat kecil memberiku hadiah. “Terima kasih. Boleh aku buka?”
Darius mengangguk, aku tersenyum padanya tidak menyangka dia repot-repot menyiapkan hadiah untuk kami berdua. Semua orang penasaran dengan isinya.
__ADS_1
Aku mengeluarkan kotak kecil dari dalamnya lalu segera membuka benda itu. Sepasang jam tangan berwarna coklat. Terlihat bagus dan berkilau.
Namun sebuah ingatan muncul di kepalaku, tentang janjinya saat kami kecil dulu. “Apa ini tentang janji itu?”
Darius mengangguk. “Yaa! Memang tidak mahal tapi sekarang utang ku sudah lunas.”
Aku tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Sepupuku ini pernah berjanji akan memberikanku hadiah ketika aku mengenalkan calon suami padanya. Meskipun sebelumnya aku sedang marah tapi dengan adanya hadiah ini membuatku sangat senang dan merasa tersanjung.
Darius belum menikah, tapi dia selalu menjadi sepupu dan kakak yang baik. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu dan mengobrol dengannya.
“Ayo makan.” Bibi Pia menginterupsi kami semua.
Meskipun agak canggung tapi saudara-saudaraku ini mulai memilih makanan yang akan mereka makan. Aku sekilas melirik Henry, Daniel, Jane dan ibu. Mereka berempat hanya diam menatap piring kosong di hadapan mereka.
“Kau harus makan yang banyak. Perjalanan kita menuju puncak akan lama dan di sana udaranya dingin.” Bayu berbisik padaku.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Setidaknya setelah pembicaraan tadi, tidak ada lagi yang memulai pertengkaran. Semuanya asik menikmati hidangan dan penutup mulut yang sudah di pesan sebelumnya.
.
..
…
Sebelum hidangan penutup kami habis, ibu, Daniel, Jane dan Henry sudah pamit lebih dulu. Mereka terlihat tidak nyaman saat keluar dari ruangan ini. Lalu lima menit berikutnya nenek, bibi Rina, Darius dan si kembar Gina dan Lina juga pamit.
Di ruangan ini hanya tersisa tante Yuan, bibi Nuri, paman Ben dan bibi Pia. Mereka berempat masih asik mengobrol, terlebih paman Ben tampak tertarik sekali mengobrol dengan Bayu setelah tahu lelaki itu adalah seorang tentara.
“Jadi setelah ini kalian akan kemana? Main ke rumah tante.”
“Makasih tawarannya tan, tapi setelah ini kami akan ke puncak, kakek Bayu mengadakan acara keluarga juga di sana.”
Tante Yuan mengangguk mengerti. Mataku menangkap bibi Nuri dan bibi Pia sedang asik mengobrol tak jauh dari tempat dudukku. Melihat hidangan yang sudah habis di atas meja mengingatkan aku untuk segera membayarnya.
__ADS_1
...