
...
Bayu berkata dengan jelas, “wanita gila itu menciptakan racun hormon cinta! Dia ingin mengujinya padamu secara diam-diam!!”
“Hah??”
“Jika racun itu masuk ke tubuhmu, kau akan kesakitan setiap kali merasakan getaran hormon cinta! Racun itu menyerang dua organ penting yaitu jantung dan otak. Itu artinya kau akan kesakitan setiap kali dekat denganku!! Kali ini dia ingin memisahkan kita!! Siaaalll!!” Bayu menendang tong sampah kecil di samping sofa, membuatku terkejut.
“Kau tahu, Gia mengaku, kalau saat itu aku tidak datang membantumu mengeluarkannya dari tumpukan ban, dia benar-benar akan menyuntikkan racunnya padamu, tidak peduli kalau rencana pembunuhan padanya itu sebenarnya dari Wendy! Lalu dia akan menemui Wendy, dan membuktikan kalau dia masih berguna untuk lab Asura.”
Tanpa sadar tanganku bergetar pelan. Aku tidak menyangka, lagi-lagi aku hampir celaka dan kali ini aku agak menyesal karena menolong Gia. Menyelamatkan gadis itu. Tapi, aku juga tahu kalau pada saat itu, itulah pilihan terbaik yang ada. Aku tidak tahu niat Gia sesungguhnya.
Itukah yang dia khawatirkan ketika pagi ini aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri? Pasti membutuhkan keberanian yang sangat besar baginya untuk membiarkanku pergi.
Jantungku berdetak cepat melihat betapa marah dan frustasinya Bayu. Aku segera berdiri, menarik lelaki ini agar berhadapan denganku, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku menariknya supaya sedikit menunduk dan memudahkanku untuk mencium bibirnya. Menekan belakang kepalanya agar kami berciuman dengan keras.
Bayu mengerti, dia dengan cepat memeluk pinggangku, menarikku dan mengangkatku hingga membuatku melakukan lompatan kecil, melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya.
Mendengar tentang racun cinta dan rencana Wendy yang ingin memisahkanku dengan Bayu, aku justru menginginkan cintanya sekarang juga. Aku ingin memeluk, menciumnya. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan kami.
Aku juga tidak ingin memikirkan lebih lanjut apa yang terjadi jika racun itu benar-benar masuk ke dalam tubuhku.
Kepalaku terasa melayang karena ciuman panas kami. Oksigen rasanya sudah menipis dan saat bibir kami terpisah, napas kami memburu, berusaha sebanyak-banyaknya menghirup oksigen.
Kening dan hidung kami masih menempel, wajahnya sangat dekat dengan wajahku, napasnya yang hangat bisa aku rasakan, lalu aku memberanikan diri untuk menatap matanya.
Bayu menatapku dengan serius dan penuh cinta, matanya bak memancarkan bara api yang menyala. Tapi aku juga menemukan kelembutan di sana ketika lensa matanya melirik bibirku sekilas.
Suaranya rendah dan dalam. Dadanya sedikit bergetar saat dia mengucapkan setiap kata.
“Sayang, katakan dengan jelas, apa yang kamu inginkan?”
“Aku—“ Aku ragu-ragu untuk mengatakannya. Meski wajahku sudah merah sekarang tapi aku juga merasa sangat sedih dan ingin menangis.
Kenapa banyak sekali bahaya yang mengancamku? Aku tidak ingin Bayu terluka karena bersamaku. Tapi aku juga tidak sanggup untuk berpisah dengannya. Dia yang aku butuhkan, hanya dia seorang.
“Natasha?! Sudah aku bilang! Jangan berpikir dan memutuskan apapun sendiri!” Suara keras Bayu membuatku terkejut.
Lelaki ini masih menatapku, memperhatikan raut wajahku dan dia terlihat marah.
__ADS_1
“T—tapi, banyak bahaya yang mengancamku, bagaimana kalau kau terluka dan—“
“Ini jalan yang aku tempuh! Kau tidak harus bertanggung jawab untuk semua luka yang aku dapat! Aku ingin egois untuk yang satu ini!!” Bayu menjawabku keras.
Seketika aku merasakan basah di kedua pipi, pandanganku buram dan tenggorokkanku sakit menahan isak tangis.
“Kenapa harus menangis?! Jangan menangis untukku!!”
“BODOH!!!” Aku menjerit, mendorong dadanya dan segera melompat turun dari pelukan koala ku padanya.
“BAYU BODOHHH!!!” Kali ini aku mendorong bahunya, hendak menuju kamar dan meninggalkannya, tapi Bayu berhasil menahan tanganku.
Aku berbalik, menatapnya yang masih menunjukkan ekspresi serius.
“Itulah kenapa, aku tidak ingin memberitahu kasus ini padamu. Aku tidak mau kau seperti ini!”
“Aku berhak tahu!!” Bantahku, menghempaskan tangannya dari pergelangan tanganku.
“Kalau gitu, aku tidak akan memberitahumu lagi tentang perkembangan kasus ini!” Lelaki ini berbalik langsung dan mengabaikanku.
Aku tidak bisa menerima ini!
“Kau sudah berjanji akan memberitahuku perkembangan kasus ini!!”
“Kapan aku berjanji padamu?? Mana buktinya?!”
“Bayu bodoh!!! Berhenti main-mainnya!!”
“Kenapa?? Buktinya tidak ada ‘kan? Bleee..” Lelaki ini justru meledekku, menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.
Aku ingin menendang tulang kering kakinya, tapi ternyata Bayu sudah menduga gerakanku ini, dia dengan mudah menghindar.
“Tidak kena!! Weee...” Aku jengkel sekali tapi entah mengapa aku juga ingin tertawa. Tingkahnya yang seperti ini benar-benar mengingatkan ku saat kecil, dia hobi menyembunyikan tempat pensilku kemudian meledekku.
Dengan tekad yang sudah bulat, aku memfokuskan tatapanku ke kaki-kakinya, dan tanpa aba-aba mulai mengejar kakinya, berkali-kali menendangnya tapi Bayu selalu bisa menghindar.
Pada akhirnya kami ribut-ribut dari ruang tengah ke dapur, mengejar dan menendang tulang kering kakinya menjadi obsesi baruku.
Tapi, hanya satu menit kami saling kejar, aku yang menunduk menemukan ada tetesan merah di lantai dan menodai kakiku. Seketika aku berhenti lari, menunduk dan menyentuh noda merah yang ada di lantai.
__ADS_1
Jelas sekali ini darah. Siapa yang—
Pikiranku terhenti tapi tanganku refleks menyentuh hidungku sendiri.
Dari lubang hidungku terasa basah, begitu aku melihat telapak tanganku sendiri, tenyata benar itu darahku.
Tiba-tiba pikiranku teringat hari ketika ibu dan Daniel mendekorasi rumah warisan bibi Rose. Saat itu aku juga mimisan setelah mencium aroma rosmarin. Padahal sebelumnya, dalam hidupku, aku tidak pernah mimisan.
Apa yang terjadi?? Apa mungkin Wendy satu langkah lebih dulu daripada Bayu? Apa mungkin kejadian Gia tertangkap dan mengungkapkan tentang racun cinta itu sebenarnya untuk mengingatkanku kalau dalam tubuhku,
sudah ada racun itu? Tapi, ini sudah lebih dari empat bulan, aku tidak merasakan gejala apapun.
Mungkinkah Gia tertangkap adalah di sengaja?
“Icha?? Hei! Kau mendengarku??” Suara panik Bayu perlahan terdengar di telingaku.
Tenyata dia sudah mendudukkanku di sofa, aku tidak sadar sejak kapan lelaki ini sudah membantuku menengadahkan kepala, dan menyumpal lubang hidung dengan tisu.
“Kau sakit? Ada apa? Kenapa sampai mimisan?” Dia bertanya panik.
“Gia.”
“Hah?”
“Tolong selidiki dia lebih lanjut. Apa ada anggota keluarga atau orang terdekatnya yang sedang membutuhkan sesuatu yang mendesak? Setelah itu, tanya lagi Gia, penangkapannya kemarin apakah benar-benar tidak terencana atau justru di rencanakan agar dia tertangkap olehmu?”
“Ada apa? Apa yang kau ingat?? Katakan padaku!!” Bayu bersikap keras kepala, dia menatapku marah.
“A—aku akan memberitahumu setelah memastikan kecurigaanku pada Gia.” Jawabku menurunkan kepala untuk menatapnya serius.
Bayu diam, dia tidak bersuara dan hanya menatapku teliti, seolah ingin membaca raut wajahku.
“Kau janji akan memberitahuku??” Tuntutnya.
“Janji.” Jawabku pasti.
“Aku ingin bukti!”
“Heh! Memangnya aku sejahil kamu?! Beberapa saat lalu kamu yang menuntut bukti! Dasar.” Aku mencibirnya kesal.
__ADS_1
...