EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 152


__ADS_3

...


 


 


Tidak tidak! Lelaki ini tidak meminumnya, dia sengaja membuat mulutnya di penuhi minyak dan memuntahkannya ke wastafel di sebelah kiriku. Kemudian tanpa aba-aba Bayu mendekat dan aku merasakan sentuhan lembut di bahuku.


Awalnya aku bergidik geli tapi kedua tangan Bayu menahan bahu kananku dan tangannya yang lain memegang lengan kiriku.


 


Mulutnya sudah ada di bahu kiriku, di luka ku.


 


Aku tidak pernah membayangkan adegan seperti ini, ketika Bayu menghisap di luka ku sekuat mungkin. Pertama aku merasa geli dan ingin tertawa tapi di hisapan kedua aku mulai merasakannya.


 


“Ahhh perih!” Tanpa sadar aku merengek karena sekarang rasanya lukanya sangat perih. Bayu tidak menjawab dan melanjutkan menghisap di sepanjang luka ku.


Bibirnya yang lembut bergerak naik dan turun beberapa kali. Sekarang aku tidak lagi memikirkan betapa malunya aku di hadapan Bayu dengan pakaian seperti ini.


 


Lelaki ini benar, selain perih yang di rasakan, bahu kiriku mulai berdenyut sakit seolah ada yang sedang memukulku.


 


Tanganku bergetar, aku memejamkan mata dan menunduk berusaha menahan erangan dari mulutku. Mencengkram kuat jasnya yang tersentuh oleh telapak tangan kanan ku.


Bayu melepaskan hisapannya untuk ia kumur-kumur mulutnya menggunakan minyak goreng, memuntahkannya di wastafel dan memasukkan kembali minyak ke dalam mulutnya sebelum dia kembali padaku.


Kali ini cengkraman Bayu pada bahu dan lenganku lebih kuat seiring dengan hisapannya yang semakin kuat.


Aku merasakan keringat dingin membasahi wajah dan leherku karena aku yang berusaha menahan sakitnya.


 


 


Perih.


 


Ini perih sekali.


Dan denyutan sakitnya seolah melebar, dari bahu menuju ke tangan, punggung, leher dan sekarang kepala bagian kiriku berdenyut menyakitkan.


Jantungku berdetak cepat, napasku juga sudah memburu setelah Bayu yang beberapa kali memuntahkan cairan merah dari mulutnya, lalu berkumur lagi dengan minyak dan kembali menghisap lagi lukaku.


Aku tidak tahan lagi, sakitnya seperti tidak ada akhirnya dan justru skala sakitnya semakin besar. Sekarang aku tidak mempedulikan lagi kaos yang robek ini merosot memperlihatkan sedikit bra ku.

__ADS_1


Aku hanya membiarkan kedua tanganku mencengkram kemeja Bayu untuk melampiaskan sakitnya. “Arrggg!! Sakit! Sakit sekali!”


Bayu tidak mempedulikan isak tangisku sekarang. Justru cengkraman dan hisapannya terasa lebih dalam.


Benar apa yang di katakannya tadi, sekarang aku merasa putus asa untuk menghentikan hisapannya. “Tolong hentikan! Hiks.. Ini menyakitkan!”


Aku berusaha mendorongnya dengan sisa tenaga yang aku miliki, tapi yang ada lukanya terasa panas sekarang.


 


 


“ARRGGHH! HENTIKAN! Aku mohon hentikan!” Aku sudah menangis, menyandarkan kepalaku di bahunya dengan putus asa.


“Sedikit lagi, bertahanlah. Aku akan melakukannya dengan cepat.” Bayu berbisik seduktif padaku, mataku terpejam. Aku merasa lelah sekali.


Setelah mengatakan itu, Bayu mengecup pelan bahuku di bagian yang tidak ada lukanya, lalu seperti yang di katakan, hisapannya yang dalam dan panjang membuatku tidak bisa diam.


Aku menangis dan menjerit, bergerak ingin lepas darinya tapi tenaga Bayu lebih kuat dariku. Dia menahanku, tangannya tidak lagi menyentuh bahuku, dia sudah memeluk pinggangku, membiarkan aku ada di kurungan pelukannya.


“Please please, ini perih sekali! Hentikan!” Tenggorokkanku sudah sakit karena berteriak sejak tadi, aku ingin


semuanya cepat berakhir!


 


Aku membasahi kemeja Bayu karena tangisanku.


 


 


 


 


“Apa yang terjadi Bayu? Itu sungguhan racun kelumpuhan yang ada di pisaunya? Lalu Kau menghisap keluar racunnya?! Kau sudah gila ya!” Suara dokter Stefan tiba-tiba terdengar di tengah tangisanku.


Aku tidak sanggup untuk sekedar mengangkat wajahku dan melihatnya di ambang pintu. Aku hanya menjatuhkan kepalaku dengan lemas di bahu Bayu saat lelaki ini menoleh ke belakang dengan tangannya masih memelukku protektif, seolah sedang menghalangi tampilanku yang berantakkan dari pandangan dokter Stefan.


“Kau sudah membawanya dok? Tolong siapkan dan biarkan aku yang menjahitnya. Kau bisa keluar dan siapkan mobil untuk kita pergi ke rumah sakit setelah ini. Jangan ada yang masuk sebelum aku izinkan!” Napasku memburu seolah merasakan emosi yang meluap dari perkataan Bayu ini.


Kemudian suara Bayu terdengar lebih dekat dari biasanya, mungkin itu hanya halusinasiku saja karena tubuhku yang sakit dan kelelahan ini.


Telingaku tidak lagi mendengar suara dokter Stefan, hanya dentingan almunium yang terdengar selanjutnya.


Aku merasakan Bayu mengecup keningku beberapa kali, tubuhku jatuh lemas di pelukannya dan aku mulai merasakan sesuatu yang basah mengalir di bahu kiriku.


 


“Semuanya sudah siap. Ini suntikan pereda sakit, ini suntikan Lidocaine, alat jahitnya, perban, plester, betadine, kapas alkohol dan suntikan kecil ini kau harus menyuntikkan pada dirimu sendiri setelah selesai! Obat ini agar setidaknya apapun yang ada di mulutmu itu tidak berpengaruh sampai kita di rumah sakit nanti!”


“Aku sudah pernah melakukan ini dok, jadi jangan khawatir denganku. Minyak gorengnya membantuku mengeluarkan apapun yang aku hisap.”

__ADS_1


“Baiklah! Aku akan menyiapkan mobil, penjahatnya sudah di amankan oleh anak-anak, lalu kakek Jeremy beserta ayahmu sedang menyelidiki kejadian ini dengan cepat dan bunda Kirana ada di luar mengkhawatirkan kalian berdua.”


“Terima kasih.” Setelah mendengar jawaban Bayu, aku mendengar suara pintu yang tertutup.


 


 


“Tinggal sedikit lagi. Darahnya sudah keluar.” Bayu berbisik padaku, melepaskan pelukannya padaku untuk dia mengambil lagi botol minyak.


Mataku seperti di paksa untuk menutup, tiga hisapan kuat terakhir Bayu tidak mendapatkan respon berontak dariku.


Aku benar-benar sudah lelah dan pusing, bahuku yang terasa remuk dan bahkan rasanya aku tidak bisa mengangkat tangan kiriku.


“Sekarang aku akan menjahitnya sebelum darahnya semakin banyak keluar.” Bisiknya berbalik mengambil kapas alkohol dan betadine.


Tangan kirinya tidak melepaskan rangkulannya di pinggangku, dengan hati-hati aku merasakan lelaki ini melakukan langkah demi langkah merawat lukaku.


Lalu sebuah suntikan di bahuku terasa hingga mataku terbuka. Aku mendongak menatapnya yang kini sedang menyiapkan alat jahit luka.


“Kau bisa menjahit luka?” Aku bertanya padanya, sekedar menghilangkan kesunyian di antara kami.


“Aku sudah pernah beberapa kali melakukannya saat terluka di tengah tugas.” Bayu balas menatapku, ada kelegaan di sorot matanya sekarang.


 


 


“Bagaimana? Masih sakit?”


Aku mengangguk, sekarang napasku sudah berangsur normal meski sakitnya tidak berkurang. “Bahuku rasanya seperti remuk. Aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku.”


Bayu menunduk, dia tidak menjawab ucapanku dan matanya mulai fokus menjahit luka ku. Ketika jarumnya menembus kulitku, aku tidak merasakan sakit apapun.


Sekarang perhatianku justru tertuju pada ekspresi wajah Bayu yang muram dan sedih. Dia tidak berbicara, dia hanya menunduk menghindari tatapanku.


 


Kumohon, jangan wajah seperti itu.


 


Jangan terlihat begitu sedih.


 


Jika saja…


Jika saja aku lebih kuat, jika saja aku cukup kuat untuk bertarung sendiri, aku tidak akan membuat dia bersedih.


Aku tahu, sekarang luka ini akan membekas seumur hidupku, dan seperti yang dia lakukan beberapa jam yang lalu, akankah Bayu tertawa lagi?


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2