EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 335


__ADS_3

...


“Apa yang kalian lakukan?”


Aku belum pernah merasa lega seperti ini seumur hidup ketika kotak kardus di depan kami yang bergoyang, hendak membongkar persembunyian kami, terhenti karena suara pria lain.


“B—bos! Kami sedang memeriksa, sepertinya tadi ada wanita yang bos cari.”


“Tidak ada waktu! Kita harus mundur, kabur dari sini. Cepat!!” kemudian suara langkah kaki sepatu yang berlari menjauh semakin menghilang dari jangkauan pendengaran kami.


Bos? Aku melirik bunda dengan pandangan semakin khawatir. Nyatanya bos yang harusnya menjadi target tim Bayu ada di sini, berarti para penjahat ini bisa lepas dari rencana penangkapan.


Menunggu sampai benar-benar tidak ada lagi mereka, aku berjalan lebih dulu untuk mengintip situasi. Tidak ada siapapun selain pesawat yang sedang di bongkar dengan banyak kendaraan terparkir di depan.


Kepala ku melirik ke atas, tempat kaca-kaca ruang petugas mekanik. Meski sekilas tapi aku melihat mereka bersembunyi di ruangan, tampak mencuri pandang ke arah kami.


“Ayo bun. Kita pergi.” Kataku meraih tangan bunda untuk membantunya berdiri.


Tangan bunda dingin dan berkeringat, dia terlihat lebih khawatir. Aku yang tidak tahu harus menenangkan seperti apa hanya bisa diam, menatap bunda lalu memeluknya sebentar dan menarik bunda ke motor yang hendak tadi kami kendarai.


***


Semuanya berlalu begitu cepat, aku tidak ingat bagaimana kami bisa keluar dari bandara, tapi aku yang mengendarai motor sudah bergabung di jalan raya dengan kendaraan lain.


Meski begitu, aku sama sekali tidak merasa tenang. Hanya satu nama yang sejak tadi aku pikirkan, nama yang selalu aku sebutkan ketika berdo’a. nama yang sedang berjuang untuk kehidupan kami yang lebih baik.


“Setelah belok kanan di pertigaan, tak jauh dari situ Dika sudah menunggu.” Bunda memberitahuku.


Aku mengangguk sembari membayangkan Dika yang menunggu kami dengan ekspresi khawatir.  Namun, ketika jarak terminal tersisa 50 meter, aku tidak melihat siapapun di sana. Hanya ada sebuah mobil hitam berhenti di dekat pemberhentian bus itu.


Mungkin Dika ada di dalam mobil, meski aku tidak pernah melihat mobil hitam itu.


“Kenapa Dika tidak ada?” bunda bertanya dari belakangku.


“Sepertinya ada di dalam mobil—”


“Tidak! ayah Rasha mengatakan dengan jelas kalau Dika akan ikut dengan kita naik bus. Kalau dia bawa mobil, nanti akan di simpan di mana?”

__ADS_1


Refleks aku memperlambat laju motor dan berhenti dengan cepat ketika jarak antara kami dan mobil itu hanya sepuluh meter.


Jantungku terasa naik ke tenggorokkan. Gugup karena situasi lagi-lagi membuat telapak tanganku berkeringat.


Belum sempat aku memutar balik mobil, tiba-tiba pintu terbuka memunculkan seorang wanita dari dalam. Wanita itu langsung menatapku ketika dia turun, wajahnya terlihat cantik dan ber make up tebal. Pakaiannya modis dan mewah serta rambutnya yang di sanggul terlihat seperti wanita sosialita yang punya banyak jadwal arisan.


Aku tidak tahu dari mana tebakan ini, tapi firasatku mengatakan dia adalah wanita itu. Wanita yang tercatat sebagai adik ibu kandungku. Wanita yang selama ini Bayu incar.


Wendy.


“Natasha, apa kamu mencari pengawal laki-laki itu?” Dia bertanya dengan tenang dan sorot mata memandang rendah padaku.


Tidak menunggu jawabanku, mata Wendy melirik ke dalam mobil dan seketika seorang pria berbadan besar keluar dari sana, menyeret pria yang lebih kecil darinya untuk di perlihatkan padaku.


Aku terkesiap kaget melihat wajah Dika yang penuh memar. Terlebih dia tidak sadarkan diri.


“Aku tidak akan menyakitimu dan orang di belakang punggungmu itu kalau kau ikut denganku tanpa keributan.” Itu bukan permintaan, tapi nadanya terdengar memerintah dan tidak boleh aku tolak.


Cengkraman tangan bunda di baju belakangku menguat, aku tahu bunda ingin menghalangiku.


“Cepat! Aku tidak punya banyak waktu!” wanita itu menatapku galak.


Aku menghela napas panjang, tapi menuruti permintaannya, mematikan mesin motor, melepas helm dan menatapnya tak kalah galak, “kalau aku ikut denganmu, kamu harus melepas dua orang ini.”


“Kamu harusnya bersyukur karena ada darah yang sama dengan kakak ku mengalir di tubuhmu itu, karena kalau tidak, aku sudah pasti akan menyeretmu ke sini.” Dia terdengar menggerutu dengan kejam. Namun perkataannya aku hiraukan mengingat selama ini aku tidak pernah mengenal sosok ibu kandungku atau bahkan adiknya.


“Aku hanya perlu kamu. Cepat ke sini!!”


“Katakan kalau kalian akan melepas mereka!”


Dia, menatapku dengan pandangan tajam dan dingin tapi akhirnya memberi tanda pada anak buahnya untuk melepas Dika.


Aku menghela napas kecil, berusaha menenangkan jantungku yang menggila karena gugup. Lalu segera turun dari atas motor dan berbalik untuk menghadap bunda.


“Bunda, pegang kemudi erat-erat. Kalau mereka bergerak untuk menangkap bunda, bunda harus cepat pergi.” Bisikku.


“Icha—” mata bunda terlihat merah, dia menatapku memohon.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan, berpikir kalau cepat atau lambat aku memang harus menghadapi orang ini, akar dari semua masalah.


“Seret dia—”


Aku dengan cepat berbalik dan berjalan cepat menghampirinya sebelum dia melibatkan bunda.


Mataku tidak lepas menatapnya dengan tajam, begitu aku ada di depannya, aku menatap pria yang menyeret Dika. Seolah mengerti maksud tatapanku, dia melepas Dika ke trotoar jalan begitu saja.


“Naik.” Kata wanita itu sembari dia masuk ke dalam mobil.


Aku melirik bunda yang duduk di atas motor, memastikan kalau dia aman dan bisa kabur cepat. Setelah itu, aku segera masuk ke dalam mobil.


Ada sopir dan pria yang tadi menyeret Dika di jok depan. Mereka pakai kemeja hitam, terlihat rapih sekaligus kejam ketika sesaat keduanya melirikku. Lalu wanita itu, dia duduk di sampingku.


Begitu pintu mobil tertutup, tanpa perlu di minta, sang sopir yang sudah menyalakan mesin mobil, menekan pedal gas meninggalkan terminal bus.


Aku sempat melirik ke belakang, menatap bunda yang sedang melihat kepergian mobil yang aku tumpangi semakin menjauh.


“Melihat dari reaksimu, kau tahu siapa aku, bukan?” wanita di sampingku bertanya.


Aku meliriknya, memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya yang masih sama aja sejak tadi. “Wendy.”


“Benar. Aku adalah adik ibu kandungmu. Wendy. Awalnya aku tidak berencana untuk menjemputmu seperti ini, tapi keadaan berubah karena tim suami mu mengincar dia.”


Diam-diam aku mengerutkan kening, memikirkan siapa yang dia maksud dengan sebutan dia.


Lalu ingatan tentang di bandara, seorang yang di panggil bos dan dari data yang pernah Bayu kasih, Wendy menyukai pria dari anggota kartel narkoba yang ingin menguasai negara ini. Apa mungkin itu dia?


“…Hah! Tapi aku masih tidak percaya setelah melihatnya langsung. Kamu—” Wendy sedang menatapku dengan selidik dan tajam, seolah aku adalah penelitian pentingnya.


“Kenapa racun hormon itu tidak berefek apapun padamu?”


Aku mengepalkan tangan, marah mendengar pertanyaannya.


...


.

__ADS_1


__ADS_2