EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 65


__ADS_3

...


 


Aku melepaskan genggamannya dan refleks tangan kiriku terangkat menyentuh dadanya, dimana detak jantungnya


berdenyut dengan pelan dari balik kemejanya.


“Jika aku bilang padamu bahwa aku juga memiliki ketakutan yang sama, apakah kau akan percaya? Semua itu benar, semua waktu yang tersisa.” Aku mendongak menatapnya, kata itu meluncur begitu saja ketika telapak tanganku merasakan detak jantungnya.


Dengan kondisiku saat ini, aku semakin tidak percaya diri di hadapannya, di sangat hebat, dia seperti gunung yang


sulit aku daki.


“Apa sekarang kau takut?” Dia bertanya pelan, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya dan hanya


mengangguk singkat.


Kematian seolah ada di belakangku, menunggu ketika jantung ini sudah tidak sanggup berdetak lagi. Menunggu saat jantung ini untuk menyerah.


Pandangan kami teralihkan saat dokter Stefan berlari menghampiri meja kami bersama seorang dokter lainnya dan


seorang suster.


.


..



Aku sudah kembali berbaring di atas brankart di UGD. Kali ini dua orang dokter sedang memeriksaku, sedangkan dokter Stefan sedang mengobrol dengan Bayu di dekat pintu sesekali melirikku.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” suara dokter Mina yang tadi di kenalkan oleh dokter Stefan membuyarkan


lamunanku yang sedang memperhatikan Bayu.


“Aku sudah lebih baik.” Jawabku sembari mengusap dada kiriku, merasakan rasa panas itu perlahan menghilang dan hanya masih terasa sedikit. Dokter wanita ini tersenyum padaku dengan dokter Sebastian yang berdiri di sisi ranjang yang lain. Kedua dokter ini telah di tunjuk oleh dokter Stefan untuk menangani sakitku. Mereka adalah spesialis jantung.


“Jadi bagaimana keadaanku, dokter?”


Ada jeda yang cukup panjang di antara dua dokter ini sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Mulai sekarang


kamu tidak boleh terlalu lelah, harus banyak beristirahat dan minum obat. Gejala-gejala seperti ini semakin membahayakan jantungmu.”


“Jadi benar, sekarang aku memiliki riwayat sakit jantung?” Aku bertanya sekali lagi, ingin benar-benar meyakinkan.

__ADS_1


Wanita di sampingku ini mengangguk pelan.


“Apa sakitku ini ada hubungannya dengan racun itu, dok?”


“Kami bertiga masih menelitinya, namun satu hal yang pasti tentang gejala-gejalamu ini nyata karena jantungmu


sedang sakit.” Dokter Sebastian menjawab dengan suara yang pelan dari sebelumnya.


Tidak tahu harus mengatakan apalagi, aku hanya mengangguk pelan sembari menatap ke langit-langit ruang UGD. Menatap ke satu titik yang justru pikiranku sedang kosong.


“Istirahatlah.” Itu suara dokter Mina, keduanya perlahan berjalan menjauh membiarkanku melamun sendirian. Sekarang aku benar-benar tersadar akan satu hal, entah karena efek samping racun itu atau bukan, kini aku di nyatakan sakit jantung dan itu lah yang pasti.


Aku ingin marah, aku kesal, aku kecewa tapi aku tidak bisa mengeluarkan itu semua. Aku juga tidak tahu harus


sedih atau senang. Namun di atas semua perasaan itu justru rasa takut lah yang mendominasi.


Tiba-tiba pandanganku gelap karena terhalang oleh wajah seseorang. Bayu mencium keningku sesaat lalu tersenyum menatapku. Sebelah tangannya menyentuh puncak kepalaku, mengusapnya pelan.


Mataku beralih menatapnya, membalasnya dengan senyuman kecil. “Sudah lebih baik?”


“Hmm.. lebih baik.”


Kami berdua sama-sama diam saling tatap untuk sepuluh detik selanjutnya, aku bisa melihat dengan jelas apa yang


sedang dia pikirkan. Tatapannya berusaha untuk menyemangatiku tapi di balik itu ada ketakutan besar.


Bayu mengangguk pelan, posisinya sedang duduk di pinggir brankart menghadapku. Kedua tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya. Telapak tangannya selalu terasa hangat dan nyaman. “Bagaimanapun aku harus menyelesaikan semua ini karena sejak awal ini tugasku.”


Aku tidak bisa membalas ucapannya. Dia benar, sejak awal Bayu selalu terlibat dengan hal seperti ini. “Ya, kau


benar.”


Aku merubah posisi berbaringku yang semula terlentang menjadi miring menghadapnya. “Ceritakan tugas-tugas yang selama ini kau tangani. Sepertinya menarik.” Kataku tiba-tiba tidak sabar untuk mendengarnya.


Bayu tersenyum kecil, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “Ini akan menjadi cerita yang panjang dan membosankan.”


“Aku tidak akan pernah bosan jika bersamamu.”


Aku terkekeh mendengar godaan yang keluar dari mulutku sendiri. Lelaki ini sekarang tertawa menanggapi godaanku. “Kau yakin tidak akan pernah bosan bersamaku? Orang-orang bilang aku terlalu serius dan tidak memiliki selera humor.”


“Berarti aku lebih mengenalmu dari pada orang lain.” Bayu mencubit pipiku gemas, tidak mempedulikan aku yang


mengaduh minta di lepaskan.


Setelah itu Bayu mulai menceritakan pengalaman-pengalamannya saat bertugas, entah itu pengalaman yang lucu atau berbahaya. Aku menyukai saat-saat seperti ini, kami mengobrol dengan nyaman layaknya teman yang lama tidak berjumpa, banyak yang dia ceritakan begitu pun denganku.

__ADS_1


Aku baru pertama kali ini mendengar tentang pekerjaannya setelah kami bertemu lagi. Mencoba mengenal lagi dirinya yang sekarang, tentang hidupnya, tentang kesehariannya dan tentang pekerjaannya.


Beberapa kali aku mengubah posisiku, bangkit untuk duduk bersandar atau kembali tidur terlentang. Hingga tidak


terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, obrolan kami terhenti karena dua orang suster ingin melakukan cek up rutin.


“Sekarang kau harus istirahat. Ayo pejamkan matamu.” Bayu yang duduk di kursi samping tempat tidurku ini tengah


merapihkan selimutku setelah dua suster itu pergi.


“Tapi aku masih ingin mendengar ceritamu itu.”


“Kita bisa melanjutkannya setelah kau istirahat. Aku akan menunggu di sini.”


“Kau juga harus istirahat di rumah.” Sesaat tadi aku melupakan keadaannya, wajah Bayu masih terlihat lelah karena


kurang tidur.


Lelaki ini menggeleng, ekspresinya yang serius menandakan dia tidak akan menuruti ucapanku. Tidak ingin


mendebatkan hal ini, akhirnya aku hanya mengangguk pelan dan mencoba memejamkan mata.


Entah mengapa Bayu selalu tahu apa yang menjadi kebutuhanku, aku memang merasa masih bersemangat mengobrol dengannya tapi saat mata ini terpejam rasanya aku sangat mengantuk dan lelah.


“Saat bermimpi, kita memasuki dunia yang sepenuhnya milik kita. Biarkan dia berenang di samudera terdalam atau


meluncur dari awan tertinggi.” Itu suara Bayu, dia berbisik seolah sedang menghipnotisku.


Aku terkekeh pelan refleks membuka mataku menatapnya. Kemudian mengubah posisi menjadi menyamping menghadapnya lalu kembali terpejam. Untuk beberapa menit selanjutnya aku tahu Bayu mengusap pelan sisi kepalaku hingga kesadaranku di tarik perlahan hingga aku jatuh tertidur.


***


Sesak.


Sakit.


Takut.


Mataku terbuka cepat saat merasakan aku kesulitan bernapas dan jantungku berdetak cepat. Langit-langit ruangan ini terlihat berbeda dari sebelum aku tertidur. Di sini agak gelap dan remang-remang.


Perasaan takut ini muncul, Refleks aku bangkit duduk meski kepalaku terasa pusing karena aku bangun tiba-tiba. Sembari tangan kananku memegang dada kiriku yang kesakitan, aku juga mencoba melihat kesekeliling.


Ini bukan UGD, aku berada di sebuah ruang inap dan di sini hanya ada satu ranjang dan sofa. Aku sendirian, tidak ada Bayu yang menemani. Keringat membasahi wajah dan leherku, ruangan ini sangat hening, hanya terdengar suara detik jarum jam dinding.


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2