
...
“Ada apa ini??” Teriakkan kencang suara dokter Stefan menyelamatkanku. Dia berteriak menatap orang-orang di kantin ini yang hampir seluruhnya adalah staf rumah sakit.
“Apa kalian punya waktu luang seperti ini, hah?? Kenapa tidak gunakan waktu kalian untuk bekerja saja dari pada bergosip di sini??” Dokter Stefan terdengar marah namun itu berhasil membubarkan orang-orang yang diam penasaran sambal memperhatikanku.
“Sekarang jawab pertanyaanku!” Gigiku menggertak kesal dan marah menatap Daniel yang mulai mendongak menatapku.
Aku menengadah berusaha mencegah air mataku yang berdesakkan ingin keluar.
“Sebelum kamu menuntut kakak seperti ini coba pikirkan, apa kamu sudah lupa terakhir kali kakak bertemu dengan ibu? Kau yang paling tahu bagaimana hubungan kami bukan? Lalu tentang resepsionis itu? Ha ha.” Aku tertawa kecil, bukan tawa senang, tapi tawa sarkastik yang membuat rongga dadaku semakin sesak.
“Bukankah resepsionis itu melakukan pekerjaannya? Keluarga mana yang ingin menjenguk keluarganya yang sedang sakit tapi dia sama sekali tidak bertanya sakit apa. Apa kau cenayang sehingga sudah tahu kakak sakit apa tanpa bertanya?”
Aku merasakan dokter Cilia sudah menyetuh bahuku, dia sudah berdiri di sampingku, menghentikan tatapan kecewaku pada Daniel. Tanpa menunggu jawaban anak ini, aku segera berdiri dengan dokter Cilia yang membantuku membawakan tiang infusan ini.
Aku melihat dokter Stefan menatapku dari tempatnya berdiri tak jauh di hadapan kami. Sekali lagi aku melirik ke belakang untuk melihat Daniel. Anak itu masih diam sembari menatapku. Aku tidak ingin menebak apa yang sedang dia pikirkan. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin mempedulikannya.
Pertanyaan yang di ajukan padanya, sebenarnya aku tidak mengharapkan jawaban. Bahkan sebelum pertanyaan itu di buat, jawabannya sudah diketahui lebih dulu.
Jauh dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berharap Daniel tidak berubah. Aku masih berharap perkataan Rey saat itu adalah omong kosong. Berharap Daniel bukanlah orang yang meracuniku dan menginginkan aku mati.
.
..
…
__ADS_1
Dokter Cilia berjalan masuk mendekatiku saat dia baru saja selesai berbicara dengan dokter Stefan di ambang pintu. Aku yang sejak beberapa menit yang lalu kembali ke kamar belum berbicara atau mengeluarkan suara. Aku hanya diam tidak bias menyembunyikan ke kecewaan yang aku alami.
Mataku menatap keluar jendela, aroma tanah basah yang segar tercium. Angin kencang tampak menggoyahkan pohon-pohon di luar sana. seperti mengerti bagaimana perasaanku, siang ini langit berubah mendung dan hujan turun deras.
Aku yang sudah tidak tahu lagi bagaimana harus memikirkan sikap Daniel menghela napas panjang. Rasanya aku sudah sangat cape. Bukan hanya karena meladeni sikap ibu dan Daniel, tapi juga memikirkan mereka membuatku benar-benar stress berat.
“Bagaimana perasaanmu? Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak.” Jawabku menggeleng dan melirik dokter Cilia yang sudah duduk di sisi ranjang ini. Dia memperhatikan wajahku yang kembali menatap jauh keluar jendela.
“Berhadapan langsung dengan Daniel yang seperti itu, sekarang aku benar-benar mengerti. Pasti berhadapan dengan ibumu lima kali lebih dari ini.”
Aku mengangguk pelan tidak melepaskan pandanganku. “Menangislah. Perasaanmu akan membaik.”
“Aku hanya lelah. Aku tidak bisa menangis karena sudah menghadapi mereka bertahun-tahun jadi aku cukup kebal hanya dengan gertakkannya tadi.”
Untuk beberapa menit kedepan aku tidak lagi mendengar suara dokter Cilia. Wanita ini sama-sama terdiam mengikuti arah pandanganku. Menatap guyuran air hujan yang semakin deras.
“Jantungku baik-baik saja.”
Aku tahu, dokter Cilia melirikku cepat mendengar jawabanku. Dia pasti tidak menyangka apa yang terjadi padaku.
“Jadi kau sakit—“
“Diagnosanya seperti itu. Ada masalah dengan jantungku setelah penculikan itu. Ada kejadian di sana yang membuatku sakit dan harus menginap di sini. Dokter Stefan yang bertanggung jawab untuk perawatanku. Dia dan Bayu sedang berusaha menyembuhkanku.” Kataku akhirnya sembari menatap wajahnya.
Dokter Cilia tampak terkejut dan terdiam masih mencerna apa yang baru saja aku katakan. “Sejak awal hidupku memang tidak pernah gampang dok.”
“Sepertinya aku benar-benar harus bertemu dengan pacarmu itu. Berterima kasih padanya karena telah membuatmu hidup lagi.” Aku tidak menduga dokter Cilia akan menjawab seperti itu.
“Reaksimu terlihat berbeda sekarang. Aku ingat saat kau datang padaku dengan kondisi yang sudah di titik paling lemah. Kau tidak bisa berbicara saat itu, bahkan kau akan pingsan. Tapi melihatmu sekarang aku benar-benar bangga. Kau sudah bekerja keras.”
__ADS_1
Entah harus malu atau tertawa mendengar ucapan wanita ini. Dia benar, teringat saat terakhir kali aku mengunjungi rumah sakitnya. Justru kondisiku sangat tidak baik.
“Kau benar dok. Bisa dikatakan sekarang aku sangat ingin sembuh. Aku ingin hidup normal, menikah, memiliki keluarga lalu menua dan dikelilingi oleh cucu-cucu.” Kami berdua tertawa kecil memikirkannya. Meskipun aku sudah bad mood, meskipun aku cape dengan Daniel yang seketika berubah seperti ibu tapi seperti yang di katakan.
Terkadang waktu bukan untuk menyembuhkan hati yang sakit. Tapi waktu juga mengajarkan kita untuk bisa hidup berdampingan dengan rasa sakit itu.
***
Nyatanya pernyataan itu tidak berlaku pada rasa sakit yang aku rasakan sekarang. Sakit yang menyiksa di sekujur tubuhku saat keesokan harinya.
Pagi ini pukul enam aku terbangun tiba-tiba karena sekarang aku merasakan sakit berdenyut di sekujur tubuhku. Aku tidak tahu bagian mana yang menjadi pusat sakitnya tapi yang aku rasakan aku tidak bisa berhenti merintih kesakitan.
Aku masih bisa bangun untuk duduk, ingin menekan tombol di dekat nakas untuk memanggil suster jaga tapi tanganku susah sekali menggapai benda itu. Yang ada sekarang denyutan itu semakin terasa, seperti memar yang di tekan terus menerus.
Kesakitan ini membuat kesadaranku seperti ingin di Tarik paksa. Dengan sisa tenaga dan kesadaran aku sengaja menyenggol gelas dan menjatuhkan benda itu hingga pecah sebelum semuanya gelap dan aku tidak merasakan apapun lagi.
.
..
…
Angin menyejukkan ini berhasil menenangkan pikiranku. Dengan di temani suara music dari band kesukaanku yang terhubung lewat headset, aku tersenyum kecil menyukai keadaan ini. Saat-saat tenang sendirian di sini.
Taman rumah sakit yang letaknya di tengah-tengah gedung ini menjadi lahan pribadi khusus untuk pasien. Pagi ini banyak sekali pasien mulai dari anak-anak sampai orang yang sudah tua berada di sini, di temani suster atau keluarga mereka masing-masing.
Aku yang sejak tadi memperhatikan mereka semua tidak bosan sama sekali. Karena di sini aku sendirian, maka aku ingat untuk meminjam headset lagi-lagi dari suster jaga yang sudah mengenalku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengarkan musik kesukaanku.
...
__ADS_1