EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 337


__ADS_3

...


Wendy memberi tanda pada Cilia dengan matanya untuk menyiapkan apa yang tadi dia katakan. Pandanganku tidak lepas menatap punggung Cilia yang perlahan menuju pintu dan menghilang di baliknya.


“Apa kamu masih kecewa dengan Cilia?” Wendy menatapku dengan seringaian kecil.


Aku yang kali ini menatapnya dengan pandangan dingin hanya berdecak kecil dan menjawab, “benci? Hah! Kata itu terlalu mewah untuk orang-orang seperti kalian.”


Kening Wendy mengerut, dari ekspresinya dia tidak suka dengan jawabanku tapi entah mengapa dia menahan amarahnya.


“Kau benar-benar mirip dengan kakakku, Mona Keilani.” Aku hanya diam menatapnya, benar-benar tidak berselera untuk merespon pernyataannya.


Ada jeda yang cukup panjang sebelum Wendy melanjutkan, “…kamu tidak penasaran dengan Mona? Seperti apa dia, bagaimana hidupnya atau bagaimana hidupnya berakhir?” dia melipat kedua tangannya di depan.


Aku tidak melepaskan tatapan kami, melipat kedua tangan di depan seperti yang di lakukan Wendy dan menjawab, “tidak.”


“ha…” dia berdecak seolah menertawakan kebodohanku.


“Kenapa?”


“Kenapa aku harus menjawab itu? Terlebih pada orang sepertimu.”


Ekspresi Wendy berubah kesal dan marah. Warna wajahnya berubah merah dengan cepat. Melihat itu, diam-diam aku terperangah kaget, karena ini baru pertama kali bagiku berhadapan dengan orang yang wajahnya memerah dengan cepat.


“Aku hampir lupa kalau masih ada darah keluarga Danendra di tubuhmu.”


“Aku tidak peduli ada darah siapa di dalam tubuhku, yang aku pedulikan adalah bahwa selama hidupku, hanya bibi Rose yang sudah aku anggap keluarga.” Jawabku tegas dan tidak peduli.


“Rose? Ahhh… teman Mona. Benar, dia sudah mati. Wanita itu—tentu saja aku ingat.” Wendy terlihat melamun, seolah sedang mengenang masa lalu.


Kemudian dia menyeringai sembari menatapku, hal itu membuatku merinding seketika, “dia adalah subjek pertama kami untuk melakukan uji klinis obat.”


“APA!!” Aku tersentak kaget. Bangkit untuk duduk tegak dan menatapnya setajam yang aku bisa.

__ADS_1


“Ha ha ha!” dia tertawa puas melihat reaksiku, “sangat miris jika mengingat dari tangan siapa dia bisa menjadi subjek pertama kami.”


Wendy agak membungkuk, menatapku dengan tatapan yang sedang mempermainkan mangsanya, “semua itu dari tangan Mona, ibu kandungmu. Dia yang menyebabkan Rose akhirnya mati.”


Tanganku mengepal, rahangku terkatup keras dan rasanya aku ingin memukul wanita ini, tapi aku tidak bisa terpancing olehnya.


Anehnya, meski emosi menguasaiku, tapi aku bisa berpikir jernih, kepalaku dingin untuk menentukkan apa yang harus di lakukan.


“Ha ha ha.” Kali ini aku yang tertawa, berusaha meniru tawanya seperti tadi.


“Ya aku tahu itu, sebenarnya kau yang menghasut kakak mu untuk memberikan obat herbal itu pada bibi Rose. Pantas saja hidupmu harus bersembunyi di tempat terpencil seperti ini, sejak dulu kamu memang pengecut, tidak berani melangkah di depan. Lihat! Lab apa tadi namanya? Awira? Alila? Yaaah apapun nama lab ini, tidak terkenal meski berusaha lebih dari 27 tahun.” Aku mengejeknya, berharap dia akan marah dan membocorkan semuanya.


Wendy menatapku dengan ekspresi marah, lalu tiba-tiba tangannya terangkat untuk menarik kepalaku hingga aku harus mendongak dan meringis menatapnya.


“Kurang ajar! Anak manja seperti kamu tidak akan pernah mengerti penderitaan keluarga kami. Kau harusnya tahu bagaimana hidup aku dan ibumu.”


Oh! Ini semudah yang aku pikirkan, dengan sedikit ejekan, dia langsung akan menceritakan semuanya.


“Hidup kami harus menderita karna tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi sekelas professor. Kami harus menderita siang dan malam karena aturan ketat yang ayah kami berikan. Kami tidak boleh main, teman di pilihkan oleh mereka sesuai tingkat keuntungan dan bahkan kami tidak bisa makan kalau tidak memenuhi standar mereka. Anak kecil seperti kamu tidak akan pernah mengerti penderitaan


“Haha! Tentu saja aku tidak akan pernah mengerti.” Aku menjawab langsung, “tapi setidaknya menurut laporan, kakakmu tidak tertarik dengan semua ini, dia tidak akan seperti kamu, terobsesi dengan uji klinis obat.”


Cengkraman tangannya melepas rambutku, melemparku ke kasur meski tatapan tajamnya tidak berubah.


“Mona terlalu baik. Dia menuruti semua peraturan orang tua kami meski kejam. Tapi aku tidak bisa! Itu semua melanggar hak kebebasan kami sebagai manusia!”


Aku tertawa kecil mendengar pernyataannya, “kebebasan? Hahaha lucu sekali! Kamu, orang yang melakukan uji klinis pada manusia dan orang yang mengurungku di sini, berbicara tentang kebebasan??”


“Setidaknya, ini lah yang bisa aku lakukan untuk memuaskan keinginan mereka, menjadi professor. Selama ini mereka bangga padaku meski sejak dulu aku juga menderita—”


“HEI!!” Aku menunjuknya, menghentikan kalimatnya karena tidak tahan lagi mendengar pembelaan dirinya.  “Kamu terlalu banyak alasan! Fakta kalau kamu melakukan tindakan illegal tidak bisa dihindari.”


PLAK!

__ADS_1


Tangannya melayang untuk menampar pipiku kiriku.


Ada senagatan kecil dan berkedut nyeri karena menerima tamparan itu, tapi aku sama sekali tidak goyah untuk kembali menatapnya tajam.


“Anak kecil, kamu tidak akan pernah memahami penderitaan kami.” Wendy masih membela diri, dia berkata penuh penekanan seolah sedang menekan trauma masa lalunya.


“Memahami? Kamu serius mengatakan itu sekarang?” aku mengejeknya lagi, dan berkata, “apa kamu ingin orang-orang memahamimu? atau kamu hanya ingin percaya kalau orang yang menderita itu cuma kamu?”


Wendy menatapku, tiba-tiba dia terdiam, sepertinya sedang memikirkan apa yang aku katakan.


“Tapi, hanya karena kamu menderita, bukan berarti kamu boleh membuat orang lain juga ikut menderita atau pun kamu boleh melakukan apa saja!”


Namun, obrolan kami harus terhenti mendengar suara pintu di ketuk pelan, di ikuti sosok Cilia yang masuk. Aku bisa melihat salah satu tangannya membawa suntikan dan botol obat kecil.


“Sepertinya aku mengganggu obrolan seru kalian.” Katanya sembari melangkah mendekati kami. Dia tampak tenang dan wajahnya tersenyum padaku, memancarkan aura tidak bersalah.


Aku membuang muka, tidak ingin bicara dengannya.


“Apapun yang kamu katakan tadi, tidak akan menghentikan kami untuk menjadikanmu subjek penelitian, karena sebelumnya, racun hormon ini tidak berpengaruh padamu.” Ekspresi wajah Wendy berubah tenang.


“Hahaha. Benar-benar klasik. Penjahat seperti kalian selalu ada di adegan film, novel bahkan sinetron.” Gumamku.


“Aha! Itu berarti aku pemeran utama di sini. Kalau begitu, Bayu pasti akan menyelamatkanku dengan tenang, menyergap kalian dari belakang dan akhirnya memenjarakan kalian. Bukannya semua penjahat berakhir seperti itu? Mereka terlalu percaya diri seolah dunia ada di bawah kaki mereka.”


Aku bisa melihat Wendy mengepalkan tangannya marah, sedangkan Cilia menatapku dengan kening berkerut. Setidaknya, serangan adalah pertahanan terbaik dalam perang. Itu yang sedang aku lakukan, aku akan terus membuat Wendy kesal dan marah, meski sejak tadi rasanya aku gugup karena aku sadar, seranganku tidak memiliki armor pelindung, aku tidak tahu apa yang akan Wendy lakukan kalau dia sudah tidak tahan padaku.


...


Promo sedikit,


THE WEAKEST VILLAIN


Untuk projek baru, bagi yang minat bisa mampir...

__ADS_1


Thank you all :*


__ADS_2