EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 200


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Tidak usah mengatakan hal yang manis di depan ku. Itu tidak berpengaruh. Kau mungkin tahu kalau aku lebih suka cucu laki-laki untuk mewarisi perusahaan. Satu-satunya alasanku hadir di acara pernikahan dadakan kalian ini selain untuk menghindari gossip murahan juga karena keluarga Jeremy. Kau beruntung mendapatkan anak laki-laki mereka sebagai suami, dia berbakat dan pintar, dia bisa menjadi tipe pewaris yang aku inginkan kalau saja dia bukan tentara.” Ujar nenek mengingatkanku pada ibu versi ke dua dan lebih tua.


Aku ikut melirik ke arah pandangan nenek yang sedang menatap Bayu. “Aku juga tidak suka basa basi nek, aku datang ke keluarga Danendra bukan untuk mengambil alih posisi pewaris. Aku hanya menemukan fakta kalau aku anak kandung ayah Evano, aku juga datang untuk menyelesaikan kesalahpahaman karena kakek tiba-tiba ingin menjodohkanku dengan Caesar bahkan sebelum aku mengenal mereka. Karena perjodohan ini lah Caesar menyewa tentara bayaran untuk mencelakai Bayu.”


“Aku sudah dengar itu. Kau jangan bermimpi tentang mendapatkan posisi ahli waris, bahkan wanita di samping Evano saja, aku sudah tahu dia dari awal menginginkan uang, lihat bagaimana dia menatapku.” Nenek menunjuk dengan dagunya.


Aku berbalik mendapati Renata, wanita elegant itu sedang mengobrol bersama tamu undangan namun pandangannya menatap padaku.


 


 


“Itu tatapan tidak suka, posisinya merasa terancam karena kau hadir tiba-tiba di antara mereka.”


 


“Aku sudah menebak.”


“Dan kau pikir, kenapa Evano hanya mengajak Bayu untuk ikut bersamanya? Memperkenalkan suamimu pada teman-temannya tanpa mengajakmu? Itu karena Evano bersikap baik padamu hanya karena kau mendapatkan cucu Jeremy. Aku sangat mengerti Evano, dia tidak akan mungkin langsung mengumumkanmu pada teman-temannya karena mereka akan mencari tahu tentangmu. Kehidupan yang kau jalani selama ini tidak cocok bersanding dengan Evano." Katanya menatapku dari atas sampai bawah.


 


"Gadis itu, Hanna, anak dari ayah angkatmu, dia pintar memanfaatkan keadaan, menyebarkan rumor kalau kau akan di antar oleh ayahnya sehingga orang-orang akan memandang tinggi pada ayahnya karena mengantar cucu


keluarga Danendra, secara tidak langsung mengumumkan kalau kau juga menganggapnya ayah.” Perasaanku rasanya bercampur aduk antara kesal, marah dan tidak berdaya.


Benar, aku memang bisa menebak sikap nenek, aku tahu kalau keluarga Danendra tidak akan langsung menyukaiku begitu saja, aku sudah menduga hal-hal seperti ini tapi tetap saja, mendengarnya langsung membuat hatiku sedih. Aku begitu tidak berharganya di hadapan nenek.


Aku menghela napas perlahan lalu menjawab. “Betul. Kalau aku ada di posisi nenek, sejak lahir memiliki kehidupan seperti ini, selama hidup membantu mengurus dan memantau perusahaan hingga perusahaan sebesar ini, aku juga akan tidak suka pada cucu perempuan, bagaimana pun laki-laki lebih baik dalam hal memimpin tapi nek, zaman sekarang wanita yang bisa memimpin adalah wanita mempesona dan keren."


 


Aku menjeda sebentar sebelum melanjutkan "Nenek jangan lupa alasanku menjalani kehidupan bersama ibu dan ayah Davin, sejak awal kalian lah yang menempatkan aku pada posisi itu, aku tidak meminta, aku juga tidak meminta untuk menjadi cucu keluarga Danendra tapi karena ini adalah takdirku, aku tidak bisa membantah.”


 

__ADS_1


Nenek tersenyum sinis mendengar penjelasanku. “Sepertinya rumor itu benar, kau memang pintar berdebat, suara dan tatapanmu yang tegas berarti kau memiliki pendirian yang kuat, kau juga keras kepala, untuk ukuran wanita biasa, kau tidak lemah menghadapi orang lain yang meremehkanmu.”


 


 


Tentu saja! Bagaimana tidak? Nenek mirip ibu versi lebih tua!


 


 


“Karena kita sudah tahu apa yang di pikirkan masing-masing, kalau begitu aku tidak ingin mengganggu nenek. Ini sudah larut, nenek lebih baik istirahat. Aku permisi.” Kataku tanpa menunggu jawaban nenek, aku berbalik dan melangkah kembali ke meja, tempat tadi aku, Bayu, dokter Stefan dan prof Bora mengobrol.


Meski aku merasakan nenek masih menatap punggungku, aku dengan teguh tidak ingin berbalik, mengabaikannya dan segera meneguk sisa coklat panas, berharap emosiku yang sudah mendidih segera mereda.


 


Tapi nyatanya sebelum benar-benar reda, seseorang menempati kursi Bayu tadi. Aku menoleh mendapati ibu yang sudah duduk di sampingku.


 


 


“Aku sudah menduga, kau tidak akan langsung di sukai oleh keluarga Danendra begitu saja. Harapanmu jangan terlalu tinggi untuk bisa masuk ke keluarga mereka.”


“Kau tahu, sejak tadi aku mendengar tamu-tamu membicarakan Bayu, ayah mu itu selalu memujinya tapi tidak membicarakanmu.” Kata ibu sembari tertawa kecil.


“Ini sudah malam bu, sebaiknya kau istirahat di kamar.”


 


 


“Dan Hanna, anak itu menyebarkan rumor kalau ayahnya dan ayahmu cukup dekat bahkan untuk berdebat tentang siapa yang mengantarmu ke altar. Sekarang orang-orang mulai ingin mengenal Davin dan tidak lama lagi saham perusahaannya akan ikut naik. Sepertinya pengaruh ayahmu cukup menguntungkan untuk beberapa pihak. Tentu saja Davin, Hanna dan Marisa tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Mereka mendekatimu karena ini.”


“Bagus kalau memang saham perusahaan ayah bisa naik, itu akan membantu pengobatan Hanna.” Jawabku tidak tertarik untuk berdebat lebih jauh dengan ibu.


Sekarang aku merasakan hubungan aku dan ibu semakin menjauh, caranya berbicara padaku seperti pada orang asing, lebih dingin dari sebelumnya.


 


 


“Bu, nenek mencarimu.” Suara Daniel menginterupsi perhatian kami, aku mendongak melihat anak itu sudah berdiiri di belakang ibu.


Melihat Daniel memakai setelan jas terlihat lebih tampan, aku merindukannya berbicara padaku tapi harapan itu sepertinya sudah tidak ada, Daniel bahkan tidak melirikku, dia berbalik begitu saja bersama ibu, meninggalkanku sendirian.

__ADS_1


 


 


Apa aku seburuk itu di mata mereka?


 


Apa sikapku selama ini salah?


Tidak bisa di hindari, tenggorokkanku sakit, dadaku juga sakit dan mataku memanas menahan tangis. Aku tidak boleh menangis. Tidak tidak!


 


 


Aku harus lebih kuat lagi menghadapi mereka. Yang bisa aku andalkan mulai saat ini adalah diriku sendiri. Sekuat apapun aku ingin melepaskan semuanya, aku tetap tidak bisa. Semua ini tanpa sadar sudah menjadi bagian dari kehidupanku.


 


 


“Pembicaraanmu dengan nenek tidak lancar, iya ‘kan?” Suara wanita yang belum pernah aku dengar sebelumnya terdengar di belakang.


Aku berbalik dan segera berdiri mendapati sosok Renata yang tampak elegant dan mempesona sudah berdiri di hadapanku.


“Kita belum berkenalan, kau pasti tahu siapa aku.”


Aku tersenyum kecil, mengangguk dan membalas uluran tangannya. “Natasha Icha.”


“Namanu Natasha Icha? Hanya itu?” Dia menyadarkanku sesuatu.


Tanpa sadar selama ini aku selalu memperkenalkan diri hanya sebagai Natasha Icha, aku selalu bingung memilih Davindra atau Danendra di belakang namaku. Lama kelamaan, semua itu membuatku lupa siapa aku sebenarnya.


Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. “Terima kasih sudah datang ke acara pernikahan ini.”


“Tidak usah sungkan, tentu saja aku akan datang, kita tiba-tiba menjadi satu keluarga, ‘kan?” Dia tersenyum kaku.


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2