EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 15


__ADS_3

...


Tidak ada petunjuk sama sekali, maka aku meletakkan kotak itu di atas meja begitu saja. Membiarkannya. Menduga mungkin akan ada yang mengatakan padaku jika dia memberiku bunga.


Namun sampai hari keempat aku berada di hotel ini, tidak ada orang yang mengaku telah memberiku bunga.


Siang ini aku yang sudah selesai memasukkan semua barang ke dalam koper terdiam sebentar menatap kotak persegi ini.


Antara di masukkan ke dalam koper atau di buang saja? Melihat kelopak bunganya sudah layu akhirnya aku memilih untuk membuangnya. Kemudian memeriksa sekali lagi barang yang ada di kamar hotel, takut-takut ada yang tertinggal.


Mengingat bagaimana rapat yang di adakan selama empat hari tiga malam ini membuatku sangat merindukan suasana rumah. Di sini memang di sediakan makanan lezat dan fasilitas namun tetap saja rumah adalah tempat terbaik.


Aku meraih ponsel yang ada di atas meja, memeriksa lagi apa Bayu mengirimkan pesan? Setelah berbicara dengannya saat di rumah sakit, aku jadi terlalu berharap padanya. Perkataannya yang mengatakan jika dia tidak terima karena aku memutuskan hubungan secara sepihak terus berputar. Ada beberapa arti dalam ucapannya dan aku tidak yakin maksudnya.


Bayu belum mengabariku sejak terakhir kali dia menelponku empat hari yang lalu. Mungkinkah dia sibuk? Pantaskah aku untuk menunggu kabarnya seperti ini? Kemudian getaran ponsel menandakan ada pesan masuk membuat tubuhku seketika terkejut. Aku merasa gugup memikirkan jika itu adalah pesan dari Bayu.


Bukan! Itu pesan dari grup obrolan perusahaan yang mengatakan kami harus segera berkumpul di lobi untuk acara foto-foto.


Haishh!!


Apa aku terlalu berharap?


Aku menghembuskan napas perlahan, mencoba untuk mengabaikan perasaan ini.


***


Drrt…


“Haloo? Ada apa, Daniel?”


“Ka Icha dimana? Sudah pulang?”


“Ini baru sampai rumah. Kamu belum tidur?”


Aku membuka pintu rumah lalu menekan saklar lampu di samping pintu sembari tanganku sibuk menarik koper dan menjawab telpon dari Daniel.


Terdengar gumaman ragu di sebrang telpon, aku mengerutkan kening tidak mengerti. Terlebih, jarang sekali Daniel menelponku di jam sebelas malam.


“Ka, eumm-- bisa kita bicara besok di luar?”


Tumben sekali dia ingin bertemu.

__ADS_1


“Oke. Kebetulan besok kakak libur. Sampai bertemu besok.”


.


..



“Halo Nona!”


Aku terlonjak kaget begitu suara barithone seseorang terdengar dari belakang. Aku yang sedang mengunci pintu gerbang refleks berbalik dan terkejut dengan kehadiran pria ini.


Rey Orihara.


“Mau apa lagi kamu ke sini?!”


“Ya ampun, galak sekali.”


Aku sudah tidak lagi takut dengan kehadirannya meskipun ingatan akan pistol terus berputar di kepalaku. Lelaki ini memakai pakaian hitam lagi dari ujung kepala hingga kaki, apa dia akan mengunjungi pemakaman?


“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”


“Tidak mau! Aku sibuk!!” Aku berjalan melewatinya begitu saja, siang ini aku dan Daniel akan bertemu di café dekat sini.


Entah mengapa aku langsung menghentikan langkah begitu nama Bayu keluar dari mulutnya. Aku berbalik menatapnya tajam. Mungkin saja dia hanya ingin menjelek-jelekkan Bayu di hadapanku, dia kan sangat membenci Bayu.


“Tidak tertarik!” Aku cepat-cepat melanjutkan langkahku tapi lagi-lagi Rey sudah berjalan di sampingku sembari tersenyum mengejek menatapku.


“Bukankah cinta memang buta?”


“APA?!” Aku melotot mendengarnya. Jadi dia mengatakan aku buta?!


Tapi tunggu dulu, aku baru ingat saat di rumah sakit Bayu sedang mengejar Rey! Lalu kalau begitu berarti pria ini telah kabur dari kejaran Bayu? Waah benar-benar hebat dia bisa muncul di sini tanpa takut aku akan melaporkannya.


Tanpa mengatakan apapun, aku segera membuka ponsel bermaksud ingin menghubungi polisi atau Bayu, namun lagi-lagi


tangannya dengan cepat merebut ponselku.


Sial!!


“Apa yang kau lakukan?!”

__ADS_1


“Aku akan mengembalikannya, tapi kau harus mendengar dulu apa yang ingin aku katakan." Karena dia begitu memaksa agar aku mendengarkannya akhirnya aku melipat tangan di atas perut sembari menatapnya.


Menunggu apa yang ingin dia katakan.


Dari padangannya saja aku bisa lihat tatapan penuh kebencian ketika ia harus memaksaku untuk mendengarkannya. Yang jelas Rey datang padaku bukan dia akan bersimpati seperti yang ada di drama-drama tapi dia benar-benar ingin menunjukkan sesuatu yang akan membuatku sakit hati.


Tekadang, aku selalu bisa yakin membaca niat seseorang hanya dari tatapan mata mereka sekelas buronan seperti Rey sekalipun.


“Aku tahu semuanya. Tentang kamu dan Bayu.”


“Tentu saja orang seperti kamu akan mudah mendapatkan informasi kecil seperti ini.” Aku bermaksud membuatnya kesal agar dia segera mengabaikanku tapi justru pria ini tersenyum meremehkan menatapku.


Kemudian dia menyerahkan beberapa lembar foto padaku. Aku melihat wajah Bayu di sana dengan seorang wanita. Mereka tampak sedang tertawa senang dengan suasana santai di dalam café. Karena penasaran, tanganku refleks menerimanya dan mulai melihat lembaran foto itu.


“Foto ini di ambil kemarin sore. Wanita itu adalah pacar Bayu selama ini.”


Aku menatapnya kesal, antara percaya dan tidak. Namun tak bisa di pungkiri mendengar ini adalah pacar Bayu membuat rongga dada ku tiba-tiba terasa sesak.


Sebenarnya apa yang aku harapkan? Bukankah memang normal jika Bayu punya pacar? Tapi sikapnya—


“Aku tidak percaya dan aku tidak peduli!” Aku menjawab kesal sembari mengembalikan foto-foto itu kemudian berjalan melewatinya.


Namun Lagi-lagi Rey sudah bisa mensejajarkan langkah cepatnya denganku. Aku berusaha untuk mengabaikannya.


“Apa kamu engga penasaran kenapa sampai sekarang Bayu belum menghubungimu? Lalu coba kamu pikirkan, aku sudah beberapa kali bertemu denganmu di rumah dan di rumah sakit, kenapa Bayu tidak mengirimkan koleganya untuk mengawasimu untuk menangkapku? Aku menjadi buronan tapi lihat, tidak ada siapapun di sini. Aku bisa bebas bertemu denganmu. Bukankah seharusnya kamu berpikir kemungkinan kemungkinan sampai sana?”


Aku tidak menanggapi, seolah tidak ada siapapun bersamaku.


“Biar aku beri jawabannya. Sekarang, kau jangan berpikir macam-macam dengan sikap lembut Bayu di rumah sakit. Coba pikirkan pakai logika, Apa kau kira laki-laki akan tetap menyukai wanita yang


telah memutuskannya secara sepihak, lalu dia kembali bertemu dengan wanita itu setelah lima tahun? Laki-laki hebat seperti Bayu akan mendapatkan gantinya yang pasti akan lebih baik. Aku kenal Bayu, alasan dia kembali muncul di hadapanmu setelah lima tahun karena dia akan balas dendam padamu.”


“Waahh terima kasih telah menyuarakan isi logika. Aku sangat tersentuh.” Jawabku meledeknya.


Tiba-tiba tubuh tinggi milik Rey memblokir jalanku, dia dengan sengaja menghalangi aku. Sekali lagi aku meliriknya kesal.


“Kau gadis keras kepala, huh?! Kau pura-pura tidak menganggapku?” Aku menghentakkan tangannya yang dengan seenaknya menarik kerah bajuku.


“Jika kamu sangat membenci Bayu, kenapa harus mengangguku? Bukankah tadi kamu mengatakannya sendiri jika laki-laki hebat seperti Bayu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Lalu seharusnya kamu pergi dan ganggu wanita itu bukan dengan menggangguku seperti ini! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Apapun yang Bayu lakukan, siapapun yang dekat dengannya aku tidak tahu!!”


“Kau—“

__ADS_1


...


__ADS_2