EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 101


__ADS_3

...


Jantungku rasanya berdetak sangat cepat. Aku ingat ponselku, lebih baik aku menyalakannya sekarang siapa tahu Bayu ingin melacaknya. Kemudian aku segera duduk di sofa seperti tadi, berusaha duduk tenang sembari meraih majalah entrepreneur di atas meja.


Tidak sampai lima menit, suara ketukan pintu membuyarkan suasana yang hening di sini. Lalu pintu terbuka dari luar dan sapaan ceria dari sana terdengar. “Prof. Bora. Saya di—ohh dimana—“


“Masuk saja. Prof. Bora meminta kalian untuk tunggu di sini.” Kataku cepat sebelum kedua mahasiswa perempuan di ambang pintu itu pergi. Mereka datang lebih cepat dari yang aku duga, tapi justru itu yang terbaik.


Keduanya saling pandang untuk sesaat tapi akhirnya melangkah masuk membiarkan pintu tertutup kembali. Meskipun keduanya agak canggung duduk di sofa bersamaku tapi mereka tetap mendekatiku hingga sebelum keduanya duduk, pintu ruangan terbuka cepat dan lebar yang membuat kami menoleh ke ambang pintu.


Seperti yang aku duga, di sana sudah ada prof. Bora bersama tiga orang pria berpakaian hitam dan seorang lagi memakai setelan jas merah maroon di paling belakang. Awalnya ekspresi wajah wanita itu tegang tapi saat melihatku berdiri dia tampak bingung.


Sebelum prof. Bora berbicara, cepat-cepat aku berkata. “Prof, mereka sudah menunggumu untuk melanjutkan bimbangannya. Dan mahasiswa yang lainnya akan ke sini secara bergantian.”


Professor Bora mengerti dengan cepat apa yang aku rencanakan, dia langsung mengangguk dan meminta kedua mahasiswanya itu untuk mendekati mereka ke meja.


Orang-orang berjas hitam itu tampak canggung, bingung haruskah mengikuti prof. Bora ke mejanya dan itu membuatku tertawa puas. Jadi mereka tidak ingin membuat keributan di kampus. Tentu saja di sini banyak orang! Mereka tidak akan berani!


“Oh! Siapa ini?! Icha!! Aku mendapat Jackpot hari ini!” Suara yang terdengar familiar di telingaku terdengar dari belakang pria-pria berbadan besar ini.


Pria yang tadi memakai setelan jas merah maroon berjalan melewati anak buahnya untuk menatapku.


Oh!


Aku kenal wajahnya, aku pernah bertemu dengannya di perusahaan malam itu! Tapi aku lupa namanya.


“Kau—“ Aku berusaha mengingat siapa namanya, tapi semakin aku pikirkan semakin tidak ingat.


“Aku lupa siapa namamu.” Kataku akhirnya. Berusaha untuk tetap tenang dan tidak mempedulikan. Aku kembali duduk dan segera membuka majalah untuk menyibukkan diri.


“Julien Gilang Pratama.”


Benar!

__ADS_1


 


Dia memperkenalkan namanya Gilang waktu itu. Seseorang yang mengaku sebagai teman Rey dan ingin memberikan hadiah untukku. Mungkinkah dia juga sedang memperebutkan penawar racun itu?


“Gilang. Yaa aku ingat sekarang.” Jawabku tanpa rasa minat.


Dari ujung mataku, Gilang tampak mengusir tiga pria yang mengikutinya itu untuk ketiganya menunggu di luar. Lalu pria ini berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku, begitu dekat. Karena tidak nyaman, aku bergeser menjauh yang tindakanku justru membuatnya tertawa kecil.


Dia gila!


 


Apanya yang lucu??


“Sekarang aku mengrti kenapa Rey saat itu memaksaku untuk memberimu hadiah. Ternyata kau wanita yang menarik. Ada sesuatu dari dirimu yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Bisikkan nya membuatku menatapnya malas. Tidak berniat untuk membalas ucapannya.


“Kau tahu, yang menarik adalah Bora sejak tadi mengatakan kalau dia tidak mengenalmu. Tapi kenapa kau justru ada di sini? Mungkinkah kau sedang mencoba mengulur waktuku di sini dengan mahasiswa itu dan membiarkan pengawal tentaramu itu pergi untuk menyelamatkanmu nantinya? Rencana kalian mudah sekali di tebak.” Aku tidak bisa membantah ucapannya.


Bagaimanapun memang rencana dadakan ini tidak tersusun rapih. Seharusnya tadi aku bilang pada prof. Bora dengan rencanaku ini.


“Untuk di tukar informasi dengan penawar racun yang sedang di selidiki Stefan. Dia tidak akan membiarkan tunangannya dalam bahaya.”


Tunangan? Aku baru tahu ini. Tidak heran, mereka sama-sama tampan dan cantik. Benar-benar cocok!


“Tapi justru aku mendapatkan sampel ku di sini!” Gilang tertawa puas masih berbisik-bisik padaku.


“Karena kau telah mendapatkan sampel itu, bukankah seharusnya kau melepaskan prof. Bora?! Bawa aku saja sebagai gantinya. Kau tidak membutuhkannya.”


“Tidak! Mana mungkin! Siapa tahu nanti dia justru melapor polisi!” Aku mengerutkan kening, berpikir kalau Gilang sepertinya tidak tahu bagaimana Bayu.


Seharusnya dia lebih takut pada kepungan tentara kan?


Melihat lelaki ini sedang memperhatikan prof. Bora, aku harus mengalihkan perhatiannya untuk mengulur waktu lebih lama. “Jadi apa hadiah yang di berikan Rey saat itu? Kau pasti penasaran dan diam-diam membukanya ‘kan?”

__ADS_1


“Oh? Apa ini? Apa sekarang kau berubah pikiran?”


“Seharusnya kau katakan padaku sejak awal kalau hadiahnya batangan emas atau berlian. Kalau aku tahu, mungkin akan aku pertimbangkan!” Aku menjawab sesantai mungkin, berusaha agar tidak terintimadasi olehnya.


“Jadi kau wanita matrealistik, huh? Aku bisa memberikanmu lebih banyak emas dan berlian.” Gilang menggeser dan mendekatiku, benar-benar menjijikan!


“Tentu saja! Di dunia ini siapa wanita yang rela hanya makan cinta saja? Biaya penunjang hidup juga sangat penting.” Jika bukan karena aku ingin mengulur waktu, aku tidak mungkin terpaksa mengatakan hal-hal omong kosong, yang sudah jelas seperti ini.


Tapi entah mengapa Gilang tampak menyukai provokasiku. Dia tersenyum penuh minat padaku yang justru membuatnya terlihat semakin brengsek.


“Katakan lagi apa yang kau suka? Aku akan memberikannya padamu selama kamu menjadi milikku.”


“Jangan munafik tuan Julien! Pasti banyak wanita cantik yang bersedia menjadi milikmu secara suka rela.”


“Tapi tidak akan menarik kalau mereka melempar diri mereka padaku begitu saja. Aku lebih menyukai wanita sepertimu, sangat berani dan menyukai permainan Tarik ulur.”


Aku menghela napas panjang, berharap aktingku kali ini akan bertahan lama. Aku benar-benar tidak suka dia!


Namun sebelum aku melanjutkan sandiwaraku, tiba-tiba suara getaran ponsel dari saku milik Gilang membuyarkan kami. Dia segera merogoh benda pipih itu dan menjawabnya.


“Sudah! Aku akan membawanya sekarang! Ya, dia jackpot kita hari ini.” Gilang menatapku dengan seringaian. Lalu dia menutup panggilan itu dan menatapku lagi dengan senyum puas.


“Baiklah, hentikan sandiwaranya! Sekarang kau harus ikut aku atau aku akan melukai dua orang itu.” Gilang menunjuk dua gadis yang sedang mengobrol dengan prof. Bora.


Ya ampun!


Benar, aku tidak memikirkan mahasiswa yang datang ke ruangan ini mungkin menjadi korbannya. Apakah ini yang namanya senjata makan tuan?!


“Kau tidak akan berani! Di sini banyak orang, aku akan berteriak!” Aku mengepalkan tanganku, menahan emosi untuk tidak langsung memukulnya.


“Kau mau mencoba?” Tiba-tiba saja Pria gila ini mengeluarkan pistol dari saku belakang celananya dan langsung mengarah pada dua orang mahasiswa yang sedang membelakangi kami.


 

__ADS_1


...


__ADS_2