
...
“Ya ampun Sonia, ibu mencarimu kemana-mana!” Tiba-tiba datang seorang wanita muda menghampir anak kecil yang sedang di bantu oleh dua wanita lain.
“Maafkan Sonia. Dia tadi lari karena tidak ingin pulang.” Wanita itu membungkuk meminta maaf pada sang nenek.
“Lain kali awasi anakmu ini! Sudah membuat belanjaanku jatuh berantakkan, dia bahkan tidak mengatakan maaf!”
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf.”
“Ayo, sudah semua ‘kan?” Bayu bertanya membuyarkan perhatianku. Aku menatapnya dan mengangguk.
“Ada yang mau di beli lagi?” Tawarnya dan aku hanya menggeleng, kemudian lelaki ini mengusap puncak kepalaku dan mengambil kresek belanjaan yang ada di tangan kananku lalu dia menggantikannya dengan tangannya untuk menggenggam tanganku ini.
Bayu menarikku dan berbalik tapi aku mendengar pekikan amarah sang nenek masih menggelegar.
“Mau apa kau?!”
Aku melirik ke balakang dan sekarang gadis kecil itu tampak sedang menangis terisak memeluk kaki nenek tadi. Dua wanita yang menolongnya sedang berusaha menanyakan apa yang terjadi tapi gadis itu tetap tidak mau berbicara.
“Sonia! Ayo pulang! Ibu sudah selesai belanjanya!” Wanita itu berdecak marah tapi lagi-lagi Sonia menggeleng.
“Tunggu sebentar.” Aku menahan langkah Bayu.
“Ada apa?”
Sekarang orang-orang mulai bertanya-tanya dan dua petugas itu pun mencoba memisahkan Sonia dan sang nenek.
“Sonia anak bandel! Dengarkan ibu! Jangan menyusahkanku!”
“Aku ingin ayah, Kau jahat!!”
Aku membacanya!
Sonia menggerakkan tangannya untuk berbicara pada wanita itu setelah ia berhasil terlepas dari kaki sang nenek oleh petugas keamanan.
Orang-orang yang menolong itu tampak terdiam menyadari ternyata Sonia tidak bisa berbicara.
“Bubar!” Salah satu petugas keamanan berteriak membubarkan perhatian.
__ADS_1
Bahu sang gadis sudah di tahan oleh ibunya dari belakang tapi aku bisa melihat jelas gerakkan tangannya pada orang-orang yang menolongnya mengatakan. “Tolong, ibu tiri akan memukulku di rumah.”
“Apa? Siapa yang memukul?” Bayu menatapku dari samping mendengar aku yang tanpa sadar mengatakan apa yang gadis itu ucapkan.
“Nak, kamu harus pulang ya. Ibumu pasti khawatir kalau kau berlarian di sini.” Salah satu wanita penolong itu membungkuk dan mengusap pelan puncak kepalanya.
Sonia semakin menangis kencang saat ibunya menarik paksa dirinya. Entah kenapa aku refleks melepaskan genggaman tangan Bayu dan melangkah cepat menghampiri Soni.
“Tunggu sebentar.” Aku menginterupsi mereka semua.
“Mau apa kau?!” Ibu Sonia bertanya curiga padaku.
Aku hanya mengabaikannya dan berjongkok di hadapan gadis ini lalu tersenyum padanya dan mulai menggerakkan tanganku untuk berbicara dengannya.
“Sonia, jika kau tidak pulang dengan ibumu kau akan tersesat di sini.”
Sonia tampak sumringah melihatku dan dengan cepat dia mengatakan. “Aku ingin bertemu ayah! Ibu tiri selalu memukulku karena aku tidak bisa berbicara.”
“Apa ayahmu tahu tentang keadaanmu?”
Sonia menggeleng dan dia memaksa untuk terlepas dari cengkraman wanita muda ini dan berlari memelukku.
“Apa yang kau lakukan?” Wanita ini bertanya marah padaku.
“Siapa kau berhak menanyakan itu padaku? Aku ini ibunya! Tentu saja aku pasti tahu. Sekarang lepaskan dia! Kami akan pulang!” Wanita ini dengan paksa menarik Sonia yang membuat dua petugas keamanan dan dua wanita yang menolongnya menenangkan wanita di hadapanku ini.
“Maaf ibu, aku sudah mendapatkan semuanya yang di pesan.” Tiba-tiba datang seorang wanita yang lebih tua dari wanita di hadapanku ini menunduk pada ibunya Sonia. Dari pakaiannya aku tahu dia adalah pengasuh anak.
“Kenapa lama sekali! Cepat bawa anak itu! Dia mengamuk lagi!”
Sang pengasuh mengangguk dan segera menghampiriku untuk menarik paksa Sonia, yang juga bertahan memeluk leherku. Aksi saling tarik menarik terjadi dan itu membuat dua wanita di belakangku segera menarik tangan sang pengasuh.
“Jangan terlalu memaksanya. Biarkan dia tenang dulu!” Kata wanita itu pada pengasuh.
“Sudahlah! Aku sibuk! Kalian tidak usah mencampuri urusan rumah tangga kami. Sekarang lepaskan dia!” Wanita muda itu menyingkirkan tangan-tangan wanita yang menahan pengasuh dan menghampiriku dengan ekspresi marahnya.
Sesaat aku terbengong melihat make up nya yang tebal, aku baru menyadarinya setebal itu saat sudah dekat di depanku.
Sonia memelukku sangat erat dan aku tidak bisa melepaskannya, akhirnya aku berdiri sebari menggendongnya. Wanita ini sudah akan mencengkram bahuku saat pandanganku tertutup oleh punggung lebar Bayu.
“Anak ini tidak ingin di paksa. Biarkan dia menjelaskan.” Katanya melirikku.
“Siapa lagi kau? Kenapa orang-orang di sini ikut campur dengan urusanku!!” Dia berteriak marah yang langsung mengundang perhatian orang-orang lagi.
“Bisa kita bicara di tempat lain?” Bayu bertanya pada dua keamanan yang sejak tadi masih berdiri memperhatikan.
__ADS_1
Keduanya menganguk dan membawa kami ke pos tidak jauh dari pasar. Dua wanita yang tadi menolong tidak ikut, mereka hanya memperhatikan kami menjauh.
“Sekarang tolong jelaskan apa yang terjadi? Apa yang di inginkan anak ini?” Tanya petugas keamanan menatapku setelah kami masuk ke dalam pos.
Aku duduk di samping Bayu dan di hadapan kami dua wanita itu, kemudian aku menepuk pelan punggung Sonia yang masih erat memeluk leherku. Gadis ini menarik diri dan menatapku lalu aku membiarkannya duduk menyamping di pangkuanku.
“Berapa usiamu?” Aku menggerakkan tangan sembari bersuara agar mereka mendengarnya.
“Tujuh tahun?” Tanyaku setelah Sonia menjawab dan melirik kedua wanita di hadapan kami. Pengasuh itu hanya mengangguk dan wanita itu hanya mendengus mendelik padaku.
“Apa mereka bisa berbicara denganmu?”
“Tidak. Hanya ayah. Mereka tidak mengerti!”
“Dia ingin bertemu dengan ayahnya.” Kataku menatap kedua pria yang berdiri menatapku.
“Tanyakan, kenapa dia tidak ingin pulang sekarang?” Aku menuruti pertanyaan pria itu.
Sonia sempat melirik pengasuh dan ibunya itu sebelum menjawab padaku.
“Tidak! Mereka jahat! Mereka akan memukulku—“
“BOHONG!! Wanita ini hanya mengada-ngada. Dia pasti sudah bekerja sama dengan anak ini untuk menjebakku!” Wanita ini menyela ucapanku.
“Siapa kau?! Kenapa ada wanita sepertimu yang bisa berbicara menggunakan Bahasa isyarat? Kau tidak terlihat seperti dokter. Kalau kau dokter, tunjukkan lesensinya!” Kali ini pengasuh yang bertanya padaku.
Aku menghela napas tidak ingin menjawab pertanyaan mereka. “Kenapa? Kau tidak ingin menjawab? Tebakkanku benar ‘kan?”
Astaga, pengasuhnya saja seperti ini!
Bayu melirikku dan dia tidak mengatakan apapun. Lalu Sonia menepukku agar aku memperhatikannya berbicara.
“Ayah pergi tugas dan belum kembali selama satu bulan. Pertama kali mereka datang ke rumahku sejak ayah pergi. Ayah mempercayai mereka untuk menjagaku tapi ternyata mereka justru berusaha memukulku karena aku tidak bisa berbicara. Aku tidak bisa keluar rumah dan mereka mengurungku. Hari ini akhirnya aku bisa keluar dan mendengar rencananya ayah akan pulang hari ini. Lalu setelah dari pasar, mereka akan membuangku dan nanti mengatakan pada ayah kalau aku hilang. Mereka sangat jahat! Pokoknya aku tidak mau pulang ke rumah!”
Aku merasa takjub dengan apa yang di katakan gadis seusianya ini. Seharusnya dia menjalani masa kecil yang bahagia.
\~\~\~
__ADS_1