
...
Aku sangat berharap mereka mengeluarkanku dari pembahasan terkait keluarga, karena aku benar-benar malu sekarang setelah tahu kerabat dari ibu kandungku orang-orang seperti ini.
“Dia sama sekali tidak sopan membahas keluarga kita.” Mata Cilia masih mengawasiku dengan tajam.
“Ha ha ha.” untuk kesekian kalinya aku tertawa mendengar ucapan mereka. Mungkin aku sudah gila karena berada di situasi seperti ini.
“Kamu, membahas tentang sopan santun setelah melakukan semua ini?” aku menatap mereka berdua tak percaya dan mengangguk kecil sebelum melanjutkan, “ya ya, memang di dunia ini pasti ada orang yang memerankan peran seperti kalian. Hah! Munafik.”
Cilia menerjang ke arahku dengan mata penuh amarahnya, aku yang kaget melangkah mundur tapi pandanganku terhalang oleh punggung Wendy.
“Cilia! Jangan biarkan dia mempermainkan emosimu.” Dia menepuk dan mendorong bahu Cilia agar menjauh dariku.
“Ingat Cilia. Kita melakukan ini untuk kebanggaan orang tua. Kesuksesan yang mereka inginkan. Bagaimana pun, anak ini harus kita teliti ke depannya untuk mengembangkan obat herbal ini.”
Obat herbal? Ck. Benar-benar munafik.
Aku bisa melihat Cilia yang diam-diam mengangguk dan mulai tenang meskipun matanya tidak lepas untuk menatapku.
Mendengar mereka yang sedang mendiskusikan bagaimana untuk menggunakanku, aku menyembunyikan tanganku yang bergetar gugup di punggung. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan mereka.
Kedua wanita gila ini sama-sama menatapku dengan pandangan meneliti sebelum Wendy melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda.
Tangannya menggenggam suntikan dan botol kaca kecil. Tangannya yang terlihat sangat terampil mulai mengisi isi tabung suntikan dengan cairan bening itu.
Aku diam-diam melangkah mundur karena tidak bisa menyembunyikan kegugupanku.
BRAAAKK
Pintu yang terbanting ke buka dari luar membuatku dan dua orang ini tersentak kaget. Di sana berdiri seorang pria yang tidak aku kenal wajahnya langsung menatap ke arahku dengan pandangan tajam.
Pakaian hitamnya tampak kotor dan berdebu, ada noda darah di tangan dan pipinya.
“KAMUU—” dia menunjukku, wajahnya memerah dan matanya tampak sembab.
Aku yang tidak mengerti hanya mengerut dahi tidak mengerti, tapi tiba-tiba dia berjalan cepat menghampiriku, hampir menerjangku dengan tangannya seolah ingin meraihku.
Jantungku berdegup kencang melihat pria ini yang mengincarku. Auranya yang galak dan tajam ingin membunuh tertuju hanya padaku.
“Brengse—”
“Apa yang kamu lakukan?! Ada apa ini??” Sekali lagi, Wendy berdiri di depanku, menghalangi pria ini yang akan meenyentuhku. Pria itu masih menatapku dari celah di antara Wendy.
__ADS_1
“Dia—apa wanita ini istri dari tentara itu??” dia bertanya sembari menunjukku dengan emosional.
“…iya.” Wendy menjawab mewakiliku.
“Sial!! Dia—suaminya telah melukai Gilbert!”
“APA!! Dimana dia sekarang?” Wendy tidak lagi menghalanginya dan dengan cepat berlari menuju pintu.
Setelah telingaku mendengar dengan fokus, samar-samar dari kejauhan aku mendengar suara erangan tertahan seorang pria di ikuti suara-suara panik beberapa orang.
Hah! Karena terlalu sibuk dengan Wendy dan Cilia, aku sampai tidak sadar kalau sekarang suasana di sekitar tempat ini tidak lagi sunyi seperti tadi.
Klik
klik
Mataku melotot kaget mendengar suara yang familiar, ini suara pistol yang sedang di setel agar siap menembang.
Pria ini, yang sekarang benar-benar ada di depanku, sedang menyiapkan pistol hitam di tangannya, pandangannya tidak lepas menatapku dan dengan cepat ujung pistolnya sudah terarah padaku.
Gugup, takut dan tidak berdaya mendominasi tubuhku hingga aku tidak bisa berpikir untuk jalan keluar. Aku panik melihatnya yang siap untuk membunuhku.
Suara detak jantungku terdengar jelas di telinga, napasku memburu dan hampir tersedak. Namun kepalaku tiba-tiba mengingat kejadian saat di desa dalam hutan, adegan di bawah air terjun, ketika aku terluka oleh pistol juga. Tapi saat itu jarak ku dengan penembak cukup jauh sedangkan sekarang, aku terlalu dekat dengan penembak.
Apa yang akan Bayu lakukan jika ada dalam situasi seperti ini?
Apa Bayu juga pernah mengalami ini? ketika ujung pistol mengarah padanya? Atau mungkinkah Bayu mengalami hal lebih buruk dari ini?
Apa aku harus menghindar saja? Hah, tapi bagaimana dengan anak kami kalau aku tertembak??
Semua pikiran ini membuatku hampir gila karena panik.
Jantungku yang berdetak cepat terasa ngilu sekarang, aku merasa mulai pusing dan di sekitarku terasa bergoyang.
BRUG
Suara sesuatu dari luar berhasil membuyarkan kegugupanku dan pikiranku kembali jernih. Keheningan yang mencekam tadi di potong oleh suara itu. Apapun itu, Cilia dan pria ini terlihat agak kaget dan berubah waspada.
“Hentikan Samuel! Lebih baik kita memeriksa Gilbert dulu. Kita harus pastikan kondisinya baik-baik saja.” Cilia, dia melangkah ke depan lalu menepuk bahu Samuel.
Tangan yang memegang pistol tadi turun, sekali lagi Samuel melirikku dengan tajam sebelum dia beralih pada Cilia dan menjawab, “aku harus periksa keluar untuk suara barusan, sepertinya kita harus pergi malam ini juga sebelum polisi menemukan kita. Segera kemasi barang-barang,”
Keduanya berbalik, berjalan menuju pintu, menghiraukanku sembari masih mengobrol.
__ADS_1
“apa kita harus kabur lagi?”
“Ya. Dengan Gilbert yang terluka, lebih baik kita kabur dulu. tentu saja kita harus membawa wanita itu, aku akan pastikan memberikan luka yang sama seperti bagaimana suaminya membuat Gilbert terluka.”
BRAKK
Pintu tertutup dari diikuti suara mengunci.
Aku menghela napas panjang. Kaki ku seolah berubah jadi agar-agar, tidak kuat menopang tubuhku hingga aku jatuh terduduk.
Tanganku yang bergetar mengusap wajah frustasi.
Hah!
Sejak tadi aku terlalu tegang, di tambah mendengar rencana mereka yang akan segera kabur malam ini, ketakutanku semakin besar.
Bagaimana jika Bayu terlambat datang?
Hanya memikirkannya saja membuatku langsung merinding. Mataku juga terasa panas dan tak lama kemudian aku mulai terisak kecil, mengubur wajahku dengan telapak tangan.
Aku ingin pulang.
***
Aku tidak tahu jam berapa sekarang, tapi yang aku yakini adalah sekarang sudah larut malam
Langit gelap di luar terlihat menyeramkan karena tidak ada cahaya sama sekali, itu berarti rumah-rumah yang tadi sempat aku lihat tidak berpenghuni.
Telingaku juga mendengar suara ribut-ribut orang di luar ruangan. Bisa di tebak mereka sedang subuk beres-beres barang yang akan di bawa.
Ruangan ini seperti penjara bagiku, aku tidak tahu bagaimana situasi di luar ruangan, berapa orang yang berjaga, ada berapa ruangan di rumah ini atau seberapa luas. Bahkan, ketika tadi Wendy menyinggung tempat ini sebagai lab Asura, aku tidak tahu lab seperti apa yang dia maksud. Apa dia juga mempermainkan hidup orang lain dan menjadikannya bahan percobaan untuk uji klinis obat?
Memikirkan semua itu membuatku semakin merasa bersalah dan malu karena mereka masih ada hubungan darah denganku. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadap Bayu setelah ini.
Setelah tadi, Wendy dan Cilia tidak kembali ke ruangan ini. Samar-samar aku juga mendengar suara teriakkan tertahan pria di kejauhan, mungkin itu Gilbert yang sedang di beri obati.
Lalu dari semua hal itu, perutku terasa sangat lapar.
Meski masih dengan semua kegugupan dalam situasi ini, tapi bisa-bisanya aku kelaparan.
Ya ampun! Sulit dipercaya.
...
__ADS_1
.