
...
Sesaat tadi aku melihat nama pada foto pernikahan mereka di samping, pria itu adalah Jona Murillo dan istrinya Lelei Dalia.
“Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian yang ke empat puluh lima tahun.” Nenek tersenyum dan memeluk temannya, Lelei.
“Kalian juga harus mengadakan pesta untuk peringatan ulang tahun pernikahan. Aku tunggu loh.” Jawab nenek Lelei balas memeluk nenek.
“Ahh kami sudah tua.” Gurau kakek.
Jona Murillo, meski dia memegang tongkat di tangan kanannya, tapi dia masih bisa bercanda dengan melempar tongkat itu pada kakek.
“Kami juga sudah tua, aku harus memakai tongkat itu agar bisa lebih nyaman saat berjalan, tapi semangat dan cinta kita tidak boleh kalah dari anak muda, iya 'kan? Hahaha...” Pria tua itu tertawa yang di sambut gelak tawa kakek, nenek dan istrinya.
Tapi ternyata, sudut mata kakek Jona menyadari kehadiranku di belakang kakek, dia berhenti tertawa dan menatap padaku penasaran.
“Jadi, kau bawa keponakan? Kali ini yang mana? Dari saudaramu yang mana lagi?” Kakek Jona bertanya, mendengarnya berbicara, aku menduga kakek dan nenek pasti sudah biasa membawa keponakan mereka ke pesta selama ini.
“Kali ini yang kalian bawa gadis yang cantik. Apa mungkin dia cucu dari almarhum kakakmu, Nella?” Nenek Lelei memperhatikanku dari atas sampai bawah.
Wajahku langsung memanas, aku merasa sangat canggung sekarang.
“Bukannya selama ini kau sering mendesakku, Lelei? Jadi kami sengaja membawanya, agar di perkenalkan langsung pada kalian.” Jawab nenek, lalu ekspresi nenek Lelei langsung berubah kaget.
“Jadi—maksudmu, ini...”
“Cucu pertama keluarga Danendra!” Sela kakek Jona gembira, seolah dia memenangkan hadiah utama. Hal itu lagi-lagi membuat orang di sekitar kami teralihkan untuk melirik penasaran.
“Ya. Ini adalah satu-satunya putri Evano. Namanya Natasha Icha Danendra.” Kakek mempersilakan aku untuk maju.
Aku melangkah maju dan tersenyum pada mereka sembari berkata, “selamat atas pernikahan kalian. Semoga kakek Jona dan nenek Lelei selalu di beri kebahagian dan kesehatan.” lalu menyerahkan kotak sedang dengan pita hitam putih pada wanita ini.
Aku tidak tahu apa isinya karena kotak hadiah ini di serahkan padaku oleh nenek saat di mobil tadi, katanya harus aku yang menyerahkan hadiah itu.
__ADS_1
“Terima kasih sayang atas do’anya. Kamu cantik sekali.” Bisik nenek Lelei terharu masih memandang wajahku.
“Akhirnya, kalian menunjukkan juga, eh? Kalau begitu, mulai sekarang kalian harus membawa Natasha untuk perkumpulan kita selanjutnya. Jangan memakai cucu keponakan orang lain lagi.” Ujar Kakek Jona.
“Kau benar! Aku baru ingat kalau Leonel mengundang kita untuk ulang tahunnya.” Jawab kakek
“Tapi ngomong-ngomong, kemana Nathan? Aku ingin memperkenalkannya pada cucumu.” Nenek Lelei tersenyum pada nenek, tapi sebelum kami menanggapinya, kakek Jona menyentuh lengan istrinya dengan lembut.
“Sayang, ini anak Evano loh. Beberapa minggu lalu kita mendapat undangan mereka tapi karena kita ada di paris, kita tidak bisa menghadiri upacara pemberkatan mereka.”
“Ya ampun! Aku lupa! Jadi cucumu sudah menikah?” Nenek Lelei menatap nenek yang di angguki olehnya.
“Kenapa tidak sekalian di bawa?” Nenek Lelei bertanya padaku.
“Bayu sedang ada tugas di perbatasan, jadi tidak bisa datang.”
“Ohh... Jadi dia seorang tentara?” Tebak nenek Lelei.
“Ya.”
“Kita hentikan obrolan ini, lebih baik kita bicarakan kalian. Ini kan acara peringatan pernikahan kalian.” Entah mengapa aku menghela napas lega karena nenek berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Gugup dan sendirian di tengah keramaian pesta membuatku mengalihkannya pada makanan. Meski kakek dan nenek masih berkeliling untuk menyapa teman-teman lama mereka, aku di izinkan untuk menikmati makanan yang berjajar, di suguhkan dengan stand.
Setelah mendapatkan beberapa jenis makanan, aku mulai asik sendiri mencicipinya. Mengacuhkan kenyataan kalau aku sendirian di meja bundar yang masing-masing menyediakan empat kursi di setiap meja.
Di sekelilingku banyak wanita dan pria yang sepertinya seumuran denganku sedang saling menyapa atau di kenalkan oleh kakek dan nenek mereka. Kemudian, obrolan beberapa orang di meja belakang menarik perhatianku.
“...bisnis! Nenek berpesan agar setidaknya coba berkenalan.” Itu suara seorang pria.
“Jangan banyak berharap. Justru nenekku bilang dia sudah menikah.” Kali ini yang menimpali suara wanita.
“Tapi memangnya betulan dia cucu keluarga Danendra? Keluarga yang di juluki monster bisnis bisa melakukan apapun ‘kan? Maksudku, bisa saja mereka menyewa orang itu untuk pura-pura jadi cucu mereka. Selama ini mereka tidak mau mengekspos pewaris grup Eternity.” Suara wanita lain menimpali.
__ADS_1
“Aku sih tidak peduli alasan kenapa dia muncul begitu saja, asalkan cantik, kenapa tidak coba mendekatinya? Hahaha..” Pria kedua tertawa yang langsung di sambut gelak tawa teman-temannya juga.
Aku mendesah kesal. Kenapa harus mendengar orang-orang seperti mereka?
“Menikah! Dia wanita yang sudah menikah!” Ingatkan wanita pertama.
“Siapa pria yang menikahinya? Keluargaku pembisnis yang sukses, kita pasti akan jadi pasangan yang cocok kalau dia mengenalku lebih dulu.” Jawabnya percaya diri.
Aku menggeleng kecil, kepercayaan diri pria itu sedikit memuakkan. Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah berpikir dan berandai-andai bertemu pria lain selain Bayu.
“Tentara! Dia menikah dengan seorang tentara.” Beritahu wanita itu.
“Ck.ck.ck. Seperti yang aku duga, sepertinya aku yang lebih cocok. Keluarga pembisnis seperti mereka seharusnya punya menantu pembisnis juga.” Ingin rasanya aku berbalik dan melempar pria itu dengan semua piring yang ada di atas mejaku.
“Aku tidak suka tentara. Selain mereka sering bertugas dan meninggalkan rumah, kebanyakan dari mereka terlalu keras kepala.” Wanita kedua berkomentar.
“Tahu tidak kasus tentara yang di pecat karena jadi pembelot?” Tanya pria pertama.
“Maksudmu, mengkhianati negara?” Si pria yang penuh percaya diri tadi bertanya penuh minat.
“Ya. Kasusnya itu pecatan anggota TNI lantaran terlibat jual beli amunisi senajata api. Dia membelot dan bergabung dengan kelompok kriminal bersenjata di Papua. Sebelum di tangkap, dia membunuh staf Komisi Pemilihan Umum, ada dugaan dia membunuh korban karena frustasi terhadap pemecatannya. Gila ‘kan?”
“Lihat, itu lah salah satunya aku tidak suka tentara. Mereka bersikap jagoan.”
“Tapi tidak semua tentara seperti itu.” Ujar pria yang tadi menceritakan kasus.
“Persepsiku sudah buruk dan—“ Aku segera berdiri, tidak ingin lagi mendengar obrolan mereka. Bermaksud ingin mendekati stand minuman, namun di tengah jalan, getaran ponsel di tas tangan kecil yang aku bawa bergetar.
Tiba-tiba aku jadi bersemangat, sangat mengharapkan Bayu yang menelpon. Begitu melihat namanya di layar ponsel, aku tidak bisa menahan senyum lebar.
Sebelum mengangkat teleponnya, aku cepat-cepat merogoh airpods, memasangkan satu benda itu di telinga kananku, menyambungkan ke perangkat ponsel memakai bluetooth lalu menjawab panggilan Bayu.
Panggilan video!
__ADS_1
“Halo.”
...