EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 326


__ADS_3

...


Seiring dengan mobil Bayu yang membaur dengan mobil-mobil lain di jalan raya, aku bisa melihat dari sudut mataku kalau Lucy dan Dika berjalan mendekat. Seperti biasa, mereka selalu datang begitu Bayu berangkat.


Lucy bergerak lebih mendekat padaku dan berbisik di depan telinga, “nyonya, kami punya laporan tentang keluarga pak Baron dan bu Nadya.”


Sesaat aku menatap mereka bergantian, “apa Bayu juga menerima laporan ini?”


“Ya. Kami sudah membuat laporannya kemarin malam dan pak Bayu mengizinkan kami untuk membaginya dengan nyonya.”


“Karena pada awalnya nyonya lah yang meminta kami untuk menyelidiki mereka.” Tambah Dika.


Refleks aku melirik ke sekitar, pagi ini para istri masih ada yang pamitan dengan suami mereka yang berangkat kerja dan agak jauh, aku bisa melihat Nadya dan pak Baron. Seperti biasa, suasana di antara mereka terlihat suram.


“Ayo kita mengobrol di dalam.” Ajakku pada mereka berdua.


***


“Kami bergantian mengikuti Nadya, sebagian besar kegiatannya seperti biasa, tapi akhir-akhir ini dia menemui seseorang.” Dika menunjukkan foto di layar ponselnya padaku ketika kami bertiga sudah ada di dalam kamar apartemen.


Aku mengerutkan kening karena tidak mengenal wajah wanita yang di temui Nadya. Dalam foto itu tampak keduanya sedang berdiri berhadapan di suasana pasar. Entah hanya kenalan yang menyapa tapi melihat bagaimana ekspresi serius Nadya, aku jadi curiga.


“Siapa ini?”


Ada jeda kosong sebelum Dika menjawab “Wendy.”


Aku terbelalak tak percaya, “maksudmu, ini Wendy Zifaileni??” melihat Dika dan Lucy yang mengangguk, membuatku menggeleng tak percaya.


Wendy Zifaileni. Adik dari ibu kandungku yang wajahnya pun asing. Wendy yang menjadi dalang semua kasus di sekitarku, mulai dari kasus Red Apple sampai kasus dokter Cilia, Rey dan Gia.


Aku masih tidak percaya bisa melihat wajahnya seperti ini meski dalam foto. Nyatanya, orang yang merencanakan penderitaanku sejak dulu, bertemu dengan Nadya membuatku semakin kesal.


“Lalu bagaimana tanggapan Bayu? Apa yang dia katakan setelah melihat laporan ini?”


“Pak Bayu sedang merencanakan penangkapan dengan tim.” Jawab Dika. Aku menghela napas panjang, masih tidak percaya kalau Wendy ada di kota yang sama denganku.


“Ada hubungan apa Wendy dan Nadya?”

__ADS_1


“Kami tidak bisa mencari tahu apa yang mereka bicarakan di pasar karena pertemuannya sangat cepat dan kami tidak bisa mendekati mereka. Selain itu kami juga tidak bisa mencari informasi soal Wendy pada orang-orang di sini karena sepertinya sudah banyak yang mulai curiga karena kita bertanya-tanya  tentang Nadya.” Jelas Lucy.


Aku mengangguk, memang pasti mereka akan curiga kalau kita bertanya soal Nadya.


“Apa harus aku yang mencari tahu langsung pada orang-orang di sini?” Gumamku berpikir keras rencana yang harus aku lakukan.


“Tapi menurut saya, sepertinya nyonya tidak perlu mencari tahu itu sekarang karena Wendy sudah muncul. Saya yakin pak Bayu sedang merencanakan sesuatu.” Usul Dika.


Aku mengangguk lagi dan berkata, “betul. Sepertinya kita harus menunggu sampai langkah Bayu selanjutnya.”


Setelah itu, sepanjang hari ini hatiku tidak tenang, menebak-nebak apa yang akan Wendy lakukan dan apa yang di rencakan Bayu untuk menangkap wanita itu. Sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa karena semua ini di luar kemampuanku. Sekarang satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdo’a agar semuanya baik-baik saja.


.


..



Hari ini Bayu pulang terlambat.


Di jam sore biasa dia pulang, Bayu mengabariku kalau dia masih ada pekerjaan dan harus lembur jadi Dika dan Lucy masih menemaniku di apartemen.


Mendengar suara dari dapur membuatku sedikit lega karena mereka berdua menemaniku sampai malam.


Bagaimana pun aku masih kepikiran tentang Wendy.


Namun, baru saja aku memikirkan itu, tiba-tiba semua lampu di apartemen ini mati, menyisakan suasana suram.


“Nyonya? Tunggu sebentar, saya akan nyalakan lilin!” Suara Lucy terdengar dari dapur.


“Oke.” Aku merespon agar mereka tidak khawatir.


“Saya akan menelpon penjaga gedung untuk mencari tahu apa yang terjadi.” Usul Dika di tengah kegelapan ini.


Aku meraih ponselku lalu menyalakan senter dari sana dan mengarahkannya ke dekat jendela untuk melihat suasana di luar apartemen yang agak jauh di bawah. Meski samar-samar aku bisa melihat beberapa cahaya senter di sana.


Kegelapan total bukan hanya terjadi di gedung ini, tapi di gedung-gedung sepanjang jalan ini. Hal itu membuat orang-orang mulai keluar dari setiap gedung dengan senter mereka masing-masing.

__ADS_1


Telingaku terasa asing karena suasana di sini benar-benar sunyi, hanya ada suara orang-orang yang mengobrol, tapi entah mengapa aku punya firasat buruk tentang ini.


“Lucy, Dika. Apapun yang terjadi, kalian jangan berpencar.” Kataku setengah bergumam.


“Baik, nyonya!” Mereka menjawab kompak di belakangku.


Aku berbalik mendapati Lucy membawa dua lilin yang menyala, sedangkan Dika masih menempatkan ponselnya di depan telinganya.


“Apa tidak ada jawaban?” tanyaku pada Dika.


“Tidak ada jawaban. Seharusnya jenset langsung menyala begitu listrik di gedung ini padam.” Lanjutnya.


Aku kembali memeriksa ponselku, bermaksud akan menelpon Bayu, mengabarinya tapi begitu jariku hendak menekan nomornya, sinyal jaringan selulernya menghilang.


“Jaringan selulernya—”


“Hilang! Ada yang memblokirnya.” Lucy berseru kesal dan panik.


Jantungku berdetak cepat hingga terdengar di telingaku. Tingkah Dika dan Lucy berubah waspada.


Lucy mematikan cahaya lilin hingga kegelapan total kembali memenuhi apartemen ini dan Dika memeriksa jendela di belakangku, melihat lewat celah kecil ke luar gedung dan segera menutupnya rapat.


“Saya punya dugaan kasar, tapi kita harus keluar dari kamar apartemen ini.” Ujar Dika sembari merogoh saku celana belakangnya seolah sedang memeriksa sesuatu.


“Apa yang terjadi?” Tanyaku berusaha tetap tenang.


“Ada beberapa orang mencurigakan sedang menjaga di dekat kamar apartemen ini. Mereka tidak akan bisa masuk karena penjagaan ketat keamanan gedung apalagi di sini adalah tempat tinggal anggota keluarga tentara yang sedang dinas.” Jelas Dika.


“Lebih baik kita berbaur dengan kerumunan.” Lucy menyetujui.


Aku mengangguk dan tanpa menunggu lagi, Lucy menyerahkan jaket yang ada di tangannya padaku -aku tidak sadar kapan dia mengambil jaketnya-, memimpin kami menuju pintu dengan cahaya senter dari ponselnya, sedangkan Dika berjaga di belakangku.


Ternyata begitu kami keluar dari pintu, suasana di koridor sangat ramai. Pria dan wanita dewasa, bahkan anak-anak mereka, semuanya ribut-ribut bertanya apa yang terjadi dengan listrik dan ponsel mereka.


Ada beberapa dari mereka yang sempat melirikku begitu kami lewat, tapi tidak ada yang menghentikan langkah kami menuju tangga darurat.


“Kita akan berbaur ke kerumunan orang-orang di depan gedung.” Ujar Lucy

__ADS_1


...


__ADS_2