
...
“Nyonya—anda...” Suara Lucy terdengar bergetar, hal itu berhasil membuatku meliriknya, wanita ini berbalik menarik tiga lembar tisu dari atas meja dan dengan cepat menyerahkannya langsung ke tangan kananku.
Ekspresi dan gelagatnya panik ketika memandang wajahku, dia berkata dengan tagas. “anda mimisan. Banyak sekali!”
Sekarang aku mengerjap cepat dan baru sadar kalau lubang hidung kananku sudah mengucurkan darah, menetes dari daguku, mengotori lantai dan baju yang aku pakai.
“Kita harus ke dokter, nyonya! Saya akan menyiapkan mobil dan memanggil nyonya Kirana.” Lucy melesat dengan cepat keluar pintu.
Aku masih sibuk menghapus jejak darah dengan tisu yang tadi di berikan Lucy, sembari menengadah, kembali terpikir, kalau sesuatu yang menungguku di kegelapan itu tidak lagi perlahan mendekat, tapi nyatanya sudah benar-benar menangkapku.
“Icha, ada apa??” Suara panik bunda membuyarkan lamunanku.
“Tidak ada apa-apa bun, hanya mimisan.” Jawabku karena percuma kalau berbohong, bunda, Talia dan Lucy sudah melihatku yang sedang mengelap darah dengan tisu.
“Kita harus ke rumah sakit.” Bunda mendekatiku, menatapku khawatir.
“Aku baik-baik saja, tidak merasakan pusing atau sakit apapun. Mungkin hanya kecapean atau terlalu banyak pikiran.” Aku mencoba meyakinkannya karena apa yang aku katakan memang benar. Aku sama sekali tidak merasakan apapun selain darah yang menetes keluar dari lubang hidung.
“Lucy, tolong CCTV nya ya.” Aku melirik Lucy, mengingatkannya lagi. Wanita itu mengangguk dan segera berbalik.
“Ada apa, Cha?” Tanya Talia.
“Ayo duduk dulu.” Bunda menuntunku untuk duduk di kursi meja makan.
“Aku hanya ingin memeriksa sesuatu. Ibu dan Daniel sudah mengubah dekorasi tiga ruangan di rumah ini.”
“Beneran enggak perlu ke rumah sakit?” Bunda berusaha meyakinkanku.
Aku tersenyum kecil dan menggeleng, “Icha janji kalau nanti ada yang sakit, pasti langsung ke rumah sakit.”
Akhirnya bunda mengangguk, setuju dengan ucapanku, kemudian dia mengusulkan “gimana kalau bunda mulai packing baju kamu dulu. Kamu tunggu dulu di sini aja sampai mimisannya berhenti.”
Melihat sorot mata kelembutan yang di berikan bunda, aku tidak bisa membantah dan hanya mengangguk sembari menunjukkan kamarku.
Setelah mengantar bunda ke kamar, Talia membawaku kembali ke ruang makan. Dia menuntunku untuk kembali duduk sembari terus menyodorkan lembaran tisu.
“Kenapa tiba-tiba kau jadi mimisan? Apa mungkin—“ Talia melirik ke sekeliling ruang makan, “ada sesuatu yang menyebabkannya di sini?”
“Aku tidak yakin, tapi aku mencium aroma rosmarin. Itu mengingatkanku pada kejadian penculikan di desa.” Jawabku setengah berbisik sembari masih terus mendongak.
“Mungkin aku terlalu paranoid.” Aku menambahkan melihat Talia yang mulai waspada menatap ke sekeliling kami.
“Lebih baik mencegah, ‘kan.” Katanya.
__ADS_1
Namun sebelum obrolan kami berlanjut, tiba-tiba sosok pria jangkung masuk ke ruang makan dengan tergesa-gesa sembari dia memanggil, “Nyonya Icha!”
Dika menyapaku kemudian menyapa Talia sesaat.
“Bagaimana?” Tanyaku setelah berhasil menyumbat lubang hidungku dengan tisu agar aku bisa menghadap pria ini.
Tanpa banyak basa-basi, dia menyerahkanku sebuah kertas yang isinya adalah data seseorang.
“Pria yang tadi pagi memotret diam-diam adalah reporter dari majalah People Style. Dia baru datang mengawasi pagi ini.”
“Kau sudah sempat menemuinya?”
“Tidak. Tapi aku dapat kabar kalau ternyata dia sedang berada di dekat kantor perusahaan nyonya.”
“Hah? Untuk apa? Apa dia pikir akan bisa menemuiku di sana?”
Dika mengutak atik ponselnya sebentar, lalu menyerahkannya padaku. Aku menerima dan melihat sebuah pengumuman live streaming.
“Itu adalah jadwal live streaming artis terkenal Renata Velixia, dari rumor yang beredar, dia akan memberi kejutan kedatangannya pada nyonya sore ini.”
“’Dia adalah putri tersembunyi keluarga monster bisnis. Seperti apakah dia?’” Aku membaca judul itu dan kembali mendongak menatap Dika, “jadi dia akan datang tiba-tiba, memperkenalkanku di live streaming nya? Dengan ini aku tidak bisa menolak kedatangannya dan dia akan mendapat lebih banyak penonton karena membawa nama
keluarga ayah.”
“Tapi, sepuluh menit lalu di batalkan.” Seketika kekesalanku hilang.
“Mungkin dia dapat kabar kalau nyonya sudah tidak bekerja di sana?” Tebak Dika.
Aku mengangguk, kemungkinan besar ayah pasti memberitahunya kalau aku sudah resign, ditambah, aku sudah bilang pada ayah kalau aku tidak suka identitasku terekspos.
“Apa dia tidak minta izin pada ayahmu dulu sebelum membuat pengumuman live streaming? Lihat, banyak yang kecewa.” Talia yang dari tadi diam ternyata sedang mencari tahu memakai ponselnya, dia menunjukkan padaku kolom komentar di pengumuman pembatalan itu dan rata-rata orang yang berkomentar, mereka kecewa pada Renata.
“Sepertinya aku harus ke rumah ayah Evano sore ini setelah packing. Sekalian aku ingin membahas tentang Red Apple.”
***
Felix.
Pelayan tua yang menyambutku saat pertama kali aku datang ke rumah Danendra bersama Bayu waktu itu, sekarang menyambutku lagi ketika mobil yang di kendarai Dika sudah berhenti di depan pintu besar rumah keluarga Danendra.
“Selamat datang, nyonya Icha. Tuan Evano memberitahu kami kalau anda akan datang.” Katanya sangat sopan dan ramah.
__ADS_1
Aku melirik ke belakang punggungnya yang ternyata sudah berbaris empat pelayan wanita berpakaian rapi bersikap siap melayani.
“Boleh aku panggil paman Felix?” Tanyaku.
“Anda bisa memanggil nama aja.”
“Tidak tidak! Itu tidak nyaman.” Aku menggeleng, membayangkan memanggil nama saja pada pria tua, jelas sekali tidak sopan.
Paman Felix tersenyum lebar dan mengangguk, “paman Felix siap melayani.”
“Apa ayah belum pulang?” Tanyaku sembari mengikuti langkah paman Felix yang memimpin aku, Lucy dan Dika untuk masuk ke dalam rumah.
“Belum, tuan Evano masih ada jadwal rapat bersama tuan Kenzo dan nyonya Kenzie. Di rumah hanya ada nyonya Nella dan tuan Alvaro.”
Kakek dan Nenek yang menunggu di rumah, aku masih belum akrab dengan mereka, pasti rasanya akan canggung sekali nanti. Apa lebih baik aku kembali nanti saja?
“Ada apa nyonya?” Paman Felix membuyarkan lamunanku. Ternyata aku tanpa sadar berhenti di ambang pintu.
“Aku—“
“Kau datang.” Suara milik nenek memotong keraguanku.
Aku melirik ke belakang punggung paman Felix melihat sosok nenek berdiri di anak tangga paling bawah dengan pakaian yang sangat modis dan dandanan yang rapi. Rambut berubannya tersanggul tinggi di belakang kepala.
“Evano masih ada rapat. Aku ingin bicara padamu.” Setelah mengucapkan itu, nenek berbalik dan melangkah kembali menaiki tangga luas di hadapan kami, menuju lantai dua rumah ini.
Tanpa sadar aku melirik paman Felix, meminta pendapatnya tapi pria tua ini hanya menggeleng dan tersenyum kecil padaku, mengajakku untuk segera naik.
.
..
...
Bukan hanya nenek yang berpakaian rapi dan elegant, tapi kakek Alvaro juga sudah mengenakan setelan jas mewahnya ketika aku masuk ke sebuah ruangan untuk mengikuti nenek.
“Oh! Kau di sini.” Kakek yang sedang membaca koran, bersandar di sofa segera melipat benda itu untuk menatapku.
Nada suara dan sorot mata kakek lebih bersahabat dari pada nenek, aku jadi bersyukur karna itu.
...
__ADS_1