EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 202


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Sudah lebih tenang?” Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


“Untuk menenangkanmu, butuh waktu kurang lebih lima belas menit.” Katanya sembari menyuapiku anggur hijau.


“Kau benar-benar akan membelikan samsak tinju, ‘kan?” Tanyaku yang justru membuatnya tertawa kecil.


“Tentu saja!”


“Kalau begitu, aku sudah tenang sekarang.” Kataku tersenyum kecil padanya.


“Boo, ini malam pertama kita tapi sekarang justru aku menemanimu di gym. Pasangan baru mana yang melewati malam pertama di gym selain kita?” Aku tertawa mendengar suara Bayu yang setengah merajuk dan setengah menggoda.


“Tapi Boo, melihat kau masih memakai gaun pengantin sembari memukul samsak, terlihat tidak biasa dan seksi.” Katanya meraih kedua tanganku untuk membantuku melepaskan sarung tinju.


“Bee, ingin jadi samsak tinjuku?”


“Boleh saja, tapi tidak di sini. Bagaimana kalau di kamar?” Godanya lagi-lagi membuatku tidak bisa berkutik, hanya tertawa malu.


 


 


“Ngomong-ngomong, ayah tidak memberiku izin libur lebih lama. Aku kira akan di setujui mengingat kita menikah.”


“Jadi kau akan berangkat kerja pagi ini?” Tanyaku yang di angguki Bayu.


“Tapi aku juga harus masuk kerja hari ini. Kalau tidak aku benar-benar akan di pecat.”


“Rencanamu untuk kedepannya masih tetap bekerja di sana? Aku pikir ayahmu akan mengajakmu membantu di perusahaannya.” Bayu masih asik menyuapiku anggur. Rasa manis dan sedikit asam dari buah itu membuat perasaanku semakin membaik.


“Walaupun secara tidak langsung ayah mengumumkanku sebagai putrinya, tapi aku tetap tidak ingin terlibat dengan bisnisnya. Selain nenek yang memang tidak suka padaku, aku juga ingin jauh-jauh dari tante Renata. Lagi pula bekerja di perusahaan lain tanpa ada hubungan keluarga di dalamnya membuatku jauh lebih tenang.” Bayu mengangguk menyetujui ucapanku, kali ini menyuapiku anggur ungu.


“Kapan kau akan pulang setelah pekerjaan ini?” Tanyaku.


“Karena masa skors ku, begitu aku masuk lagi kerja, aku harus menyelesaikan sesuatu di luar kota dan membutuhkan lebih dari seminggu.”


“Apa itu tugas—” Ucapanku terhenti saat biji anggur tergigit oleh gigiku, Bayu mengulurkan tangannya di depan mulutku, dari gerakkan nya dia meminta aku untuk memuntahkan bijinya.


“Apa itu tugas menangkap sindikat kejahatan atau menyamar lagi?” Tanyaku setelah mengeluarkan biji anggur dari mulutku. Tanpa merasa jijik, Bayu mengumpulkan biji-biji itu di atas selembar tisu yang ada di atas meja.


“Bukan tugas berat, tapi tetap membutuhkan strategi yang matang.” Katanya.


Mataku memandangi jari-jari tangan Bayu membelah anggur ungu menjadi dua bagian lalu mengeluarkn semua bijinya sebelum dia kembali menyuapiku. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum kecil dengan perhatiannya.


“Apa berbahaya?” Tanyaku sembari ikut mengambil anggur ungu, membelahnya untuk mengeluarkan semua biji, lalu menyuapkannya pada Bayu.


Lelaki ini tersenyum kecil, tidak menolak memakan anggur dari ku sembari menjawab. “Tidak seberbahaya yang di pikirkan. Kami harus menyelidiki sebuah pabrik di pedalaman. Menangkap orang-orang yang terkait dengan pabrik itu.”


“Selama aku pergi bertugas, kau bisa mulai memindahkan barang-barangmu ke rumah kita. Aku akan mengirim alamatnya nanti.” Aku mengangguk menjawabnya.


“Setelah memindahkan barang-barangmu, lebih baik kau menginap di rumah orang tua ku. Lebih aman di sana dari pada kau sendirian di rumah.”


“Tapi aku memang sudah terbiasa sendiri di rumah. Bukan kah rumahnya lumayan dekat dengan rumah orang tua mu?” Bayu mengangguk menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu!”


“Tapi—”


“It’s okay Bee. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Sebaliknya, kau harus selalu hati-hati saat bertugas.”


“Aku juga akan memberikan beberapa nomor darurat untuk menghubungiku jika nomorku tidak bisa di hubungi. Kalau ada apa-apa kau bisa meminta tolong ke nomor itu, orang-orang ku akan datang membantumu.”


“Baik pak!”


“Dan satu lagi, jangan pulang terlalu malam. Jangan terlalu banyak lembur!”


“Kalau soal itu aku tidak janji—tapi aku bisa mengusahakannya.” Jawabku cepat-cepat melihat Bayu hendak mengomeliku.


“Satu lagi!” Pekik ku.


“Katakan.”


“Bagaimana kalau aku merindukanmu? Apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku menggodanya.


“Benar! Aku lupa soal itu.” Bayu pura-pura berekspresi serius.


“Kalau begitu, aku akan melakukan panggilan video setiap kali keadaannya aman. Bagaimana?”


“Itu masih tidak cukup.”


“Lalu apa yang kamu mau?” Bayu tersenyum kecil sembari menarikku perlahan, membuat kami sudah duduk saling berdempetan. Tangan kirinya merangkul bahuku, dia juga terlihat hati-hati dengan bahu kiriku yang terluka.


Pandangan mata kami bertemu, aku bisa melihat bayangan diriku di lensa matanya. Lalu tanganku terangkat, menyentuh wajahnya dan menjawab. “Aku ingin kamu.”


Perlahan, senyuman di wajah Bayu semakin mengembang lebar hingga kedua matanya berubah membentuk bulan sabit. “Kamu sedang menggodaku, huh?”


“Maaf karena tadi aku marah-marah sendiri.” Bisikku ketika wajahnya dan wajahku sudah sangat dekat.


“Tidak apa. Aku lebih suka kamu mengeluarkan amarahmu dari pada di pendam tapi—” Bayu menggantungkan kalimatnya, sebelah tangannya menyentuh tanganku yang ada di pipinya lalu menurunkannya. Dia membawa telapak tanganku ke dadanya, aku bisa merasakan detak jantungnya.


 


“Tapi untuk kali ini yang membuatku kesal dari keluargaku sendiri.”


“Betul, ada beberapa masalah yang hanya bisa di hadapi oleh dirimu sendiri tapi jangan lupa, aku akan selalu ada di sisimu.”


“Suamiku memang yang terbaik!” Kataku senang, melingkarkan kedua tanganku di lehernya, memeluknya sangat erat.


Aku bisa mendengar suara tawa senang Bayu terdengar indah di telingaku. “Aku suka panggilan itu, istriku.”


“Jadi kapan kita pergi tidur?” Tambahnya jahil membuatku langsung melepaskan pelukan kami.


Wajahku sekarang memerah, aku segera melepaskan sepatu milik Bayu yang masih aku pakai lalu segera berdiri, tanpa aba-aba aku berlari menghindarinya menuju pintu gym sembari berteriak. “Kita pergi tidur kalau kau bisa menangkapku!!”


 


“HEI! Itu curang!”


Aku melirik ke belakang saat sudah sampai di ambang pintu, melihat Bayu yang sedang memakai sepatunya cepat-cepat sembari berusaha memungut sepatu heels milikku. Dia tampak kerepotan ingin segera mengejarku tapi di mataku itu terlihat lucu.


 


 


 


.


..

__ADS_1



 


 


 


Sudah jam satu lewat dini hari, aku yang masih memakai gaun pengantin masih berkeliaran di Lorong-lorong vila dari gedung satu ke gedung lain demi menghindari kejaran Bayu.


Pelayan masih ada yang bulak balik membereskan setelah acara, aku tidak tahu harus kemana, sekarang yang aku pikirkan adalah agar tidak tertangkap cepat oleh lelaki itu.


Dari ujung lorong, aku melihat ada sebuah ruangan yang pintunya masih terbuka. Penasaran siapa yang masih ada di luar kamar, perlahan aku melangkah mendekati ruangan itu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


...


 


 


 


 


 


Halooooo....


Karena EMBRACE YOU akan segera tamat beberapa bagian lagi, Author ingin menginfokan hiatus seminggu ke depan tidak akan ada postingan part baru.


Sejujurnya author sedang mengetik klimaks akhir EMBRACE YOU dan belum sepenuhnya sempurna, masih harus menemukan referensi lain.


Tidak ingin para pembaca penasaran di tengah-tengah klimaks, jadi author memutuskan untuk hiatus seminggu agar lebih fokus dalam pengetikan.


Terima kasih pada kalian yang sabar menunggu. Semoga enggak ngebosenin.


Sampai jumpa!


Sehat dan bahagia selalu untuk kalian semua..


 


 


 


 

__ADS_1


\~\~\~


__ADS_2