
...
“Sebenarnya aku tidak terlalu menganggap serius perkataan Benny kemarin, aku tahu dia sangat peduli padamu.”
“Tidak! Jangan membohongiku! Apapun yang di katakan Benny, kau pasti memikirkannya. Dia memang selalu seperti itu, terlalu kaku dan tidak pernah basa basi.” Bayu berdecak serius.
“Entah kenapa kau selalu tahu apa yang aku rasakan. Apa kau bisa membaca pikiranku?” Aku ikut berdecak, melipat kedua tangan di atas perut.
“Aku lupa memberitahumu kalau sebenarnya aku adalah turunan vampir di masa lalu.” Dia bergurau dengan wajah serius.
“Benarkah? Lalu di mana taringnya? Aku tidak pernah lihat!”
“Kau ingin merasakan tikaman dari taringku? Baiklah, kemari! Aku akan mengigitmu!” Aku menjerit dan tertawa ketika Bayu menakut-nakuti dengan gertakkan giginya, dia ingin menggigit leherku dan aku mencoba menahan dan mendorongnya. Alhasil aku turun dari atas meja counter dan berlari mengelilingi dapur.
“Woaaarrgghhh!! Aku haus! Aku ingin darahmu!! Berikaaaann padaku!” Bayu mengejarku, berusaha menangkapku dengan menunjukkan giginya.
Aneh sekali melihatnya seperti ini tapi tidak bisa di bantah kalau itu membuat kami tertawa kencang.
.
..
…
Karena udara masih segar dan jam menunjukkan pukul enam tiga puluh, kami memutuskan untuk berjalan menuju tempat yang Bayu maksudkan untuk membeli bahan makanan.
“Aku tidak pernah membayangkan ada tempat seperti ini.”
“Ya. Ini tempat yang paling ideal untuk tentara yang sudah menikah.” Jawaban Bayu membuatku mendongak menatapnya, dia sedang tersenyum lebar menatapku dari samping.
Saat ini kami sedang berjalan beriringan menuju ke pasar tradisional di bawah bukit. “Aku merasa senyumanmu punya arti lain.”
“Hehehehe.” Bayu hanya tertawa menanggapi ucapanku yang membuatku semakin mengkhawatirkannya.
Apa jangan-jangan lelaki ini sudah mulai gila?
“Aku tidak gila.”
“Oh! Kau tahu apa yang aku pikirkan? Jadi kau benar turunan vampir?”
__ADS_1
Bayu justru mencubit pipiku gemas.
Tempat yang kami datangi adalah seperti desa kecil khusus para tentara dan pasangannya yang tinggal di sini dengan pasar tradisional yang menjual pakaian dan bahan makanan untuk memenuhi desa, juga aku bisa menemukan klinik kecil di dekat pasar. Banyak orang yang memakai pakaian tentara berkeliaran.
Bayu bercerita singkat tentang tempat ini kalau ingin masuk tidaklah mudah dan harus melalui keamanan yang rumit. “Lalu kenapa kau tidak tinggal di sini? Menurutku ini tempat yang aman.”
“Tidak. Aku hanya tidak suka sendirian di rumah dengan lingkungan seperti ini. Maksudku, aku sudah cukup melihat pakaian hijau di mana-mana.” Aku terkekeh pelan.
“Oh ya, hari ini aku ingin pulang. Ada banyak tugas yang menungguku juga tentang pekerjaanku. Aku harus bekerja besok meskipun aku yakin sebenarnya aku sudah akan di pecat atau ada seseorang yang sudah menggantikanku di sana.” Kami masih berjalan beriringan menuju pasar yang sudah ada di depan mata.
Meski mengatakan itu, tapi aku lebih tenang, menghirup udara lebih banyak. Aku suka dengan udara di sini.
“Padahal aku ingin liburan denganmu. Kau tahu, aku pengangguran sekarang.”
“Kau di pecat?!” Aku meliriknya kaget.
“Kalau aku di pecat, apa kau akan pergi meninggalkanku?” Nada suara Bayu terdengar sedang merajuk.
“Jadi kau lebih mencintai uangku?” Bayu berdecak gemas padaku.
Aku tertawa menanggapinya. “Aku mencintaimu dan—uangmu.” Sekali lagi Bayu mencubit pipiku.
Aku segera melapaskan tangannya dan pindah untuk merangkul lengannya, menempel pada sisi tubuhnya untuk sedikit merajuk padanya. “Bukankah kau suka wanita yang jujur?”
“Dan kau suka pria yang memiliki uang.”
“Tentu saja!”
“Baiklah! Aku akan menjadi pria yang punya banyak uang! Jadi kau tidak perlu khawatir untuk di pecat.” Tekadnya membuatku lagi-lagi tertawa.
Lucu sekali.
Ngomong-ngomong tentang uang, aku jadi ingat lagi tentang Henry. Tante Yuan belum memberikan kabar. “Oh ya, apa kau sudah mendapat info tentang grup Eternity?”
Tiba-tiba saja situasi di antara kami berubah serius. “Sudah, aku akan memberikan detailnya nanti padamu.”
__ADS_1
“Kau pasti menemukan sesuatu yang menarik 'kan?” Bayu mengangguk menjawab tebakkanku.
“Dan aku juga sedang meminta bantuan pada pak Mark, kau ingat dia?” Aku mengangguk, tentu saja aku ingat pria itu.
Dia pemiliki Tan’s Grup yang secara langsung bertemu dengan kami di restoran cepat saji beberapa waktu lalu.
Kami berjalan sudah hampir dekat dengan pasar, sekarang aku bisa melihat dengan jelas. Meskipun tidak berdesak-desakkan seperti pasar pada umumnya tapi di sini benar-benar terasa hidup. Seperti pasar di khususkan tantara karena pelanggannya benar-benar mereka.
Bayu menarik tanganku untuk dia genggam. “Penjual bahan makanan di sini ada setiap pagi-pagi sekali sampai jam sembilan. Sisanya penjual di sini buka sampai sore.”
“Aku benar-benar tidak pernah menyangka ada pasar khusus seperti ini. Luar biasa!”
“Tidak jauh di sini memang ada perkumpulan rumah-rumah yang sengaja di bangun khusus tentara, di sana juga punya keamanan khusus untuk bisa masuk. Tapi tidak serumit keamanan di atas, di rumah dinas yang kita tempati.” Aku mengangguk mengerti.
Setelahnya kami asik berbelanja, memilih bahan yang akan menjadi menu hari ini. Bayu bilang prof. Bora dan beberapa orang baru akan membantu memasak nanti karena ternyata dia, dokter Stefan, Lifer, Ronald dan Benny juga punya rumah dinas tak jauh dari rumah Bayu.
Dalam sekejap tanganku sudah banyak membawa kresek-kresek hasil membeli dengan sedikit tawar menawar dengan penjual tadi. Aku masih merasa takjup dengan yang ada di sekelilingku, beberapa kali petugas keamanan dengan seragam militer berkeliling dan ada anak kecil yang berlarian juga.
Aku tidak sadar ketika aku sudah berjalan agak jauh dari Bayu yang masih mengobrol dengan kenalannya di belakang. Pandanganku jatuh pada seorang anak kecil yang jatuh menabrak seorang nenek hingga belanjaan wanita tua itu jatuh berserakkan.
“Inilah yang aku tidak suka di sini! Kenapa anak kecil harus berlari-larian di tengah pasar!!” Amarah nenek menggelegar menunjuk-nunjuk gadis kecil itu yang terlihat masih duduk jatuh dengan wajah cemberut hendak menangis.
“Heh bocah! Mana permintaan maafmu?!” Teriakkannya mengundang perhatian orang-orang sekitar. Tapi gadis kecil itu tetap diam tidak berbicara.
Lalu dua orang petugas keamanan mulai membantu belanjaan nenek yang berserakkan sembari keduanya berusaha menenangkan sang nenek agar tidak marah-marah. Sekarang orang-orang sedang memperhatian mereka.
“Mana orang tuamu?! Apa mereka tidak mengajarkan anaknya untuk mengatakan maaf??”
Diam,
Gadis itu tidak bersuara dan justru air matanya keluar menetes melewati pipinya. Beberapa orang wanita mulai membantu gadis itu berdiri. Di lihat dari pakaiannya, anak kecil itu terlihat seperti dari keluarga kaya karena pakaiannya terlihat elegan dan bagus untuk di pakai pagi. Lalu kenapa ibunya tidak datang atau orang yang membawanya ke sini tidak muncul?
“Ada apa?” Suara Bayu di samping kananku mengagetkan aku untuk sesaat.
“Sepertinya anak kecil itu tidak sengaja menabrak nenek itu dan menjatuhkan barang belanjaannya.” Jawabku meliriknya sekilas.
__ADS_1
\~\~\~