
...
Sekarang wajahku dan wajahnya sudah sangat dekat, hanya berjarak lima senti tapi lelaki ini tidak ingin mengalah sama sekali!
“Ku ingatkan lagi, kamu sudah bersin sebelas kali! Kau juga sedang terluka! Apapun alasannya, kamu tidak boleh berangkat kerja! Kau perlu uang? Aku punya banyak uang, apa yang kamu minta pasti akan aku penuhi!”
“Bayu! Aku kan sudah bilang, ini pekerjaanku, ini karirku, dan ini masa depanku! Aku tidak membutuhkan uangmu, yang aku butuhkan sekarang adalah bekerja! Aku tidak bisa terus absen karena aku akan di gantikan dan di pecat!” Aku balas berseru padanya.
“Bukannya aku ada dalam rencana masa depanmu juga? Kamu lebih memilih bekerja di bandingkan aku? Mereka akan menggantikanmu tapi aku tidak akan menggantikanmu!”
“Isshhh.. Kamu dan pekerjaanku adalah dua hal yang berbeda, tidak bisa di sama kan!” Tiba-tiba pipiku perlahan memanas. Bahkan di saat berdebat seperti ini pun perkataannya membuat merasa sangat spesial.
“Kalau begitu, pilih aku atau pekerjaanmu?” Bayu bertanya serius.
“Hah??”
“Kenapa? Katanya aku dan pekerjaanu adalah dua hal yang berbeda, lalu kenapa tidak menjawab?”
“Tentu saja aku memilihmu, karena pekerjaanku tidak akan cemburu padamu!”
“Hah?! Kamu—“
“Astaga!! Ada apa dengan pagi yang aneh ini!!” Dokter Stefan sudah ada di antara kami, menghentikan ucapan Bayu.
Karena telah di buyarkan oleh suaranya, aku bisa mendengar dengan jelas suara tawa kecil dari ambang pintu.
Bukan hanya 5 suster yang sedang menatap kami, tapi ada pegawai kebersihan dan pegawai yang biasa mengantar makanan sudah siap di ambang pintu, membawa sarapan untukku.
“Kamu Bayu, berhentilah berdebat dengan pasien!”
“Dia ini bukan pasien biasa. Dia calon istriku!” Bantah Bayu berbalik dan memutuskan duduk di sofa tempatnya tadi.
Dokter Stefan menggeleng dan berdecak menatap kelakukan Bayu tapi lensa matanya yang senada dengan warna rambutnya itu berbalik menatapku. “Dan kamu Icha, berhenti mencoba selalu kabur dari rumah sakit! Lukamu aja belum kering!”
Pria ini menarikku menuju ranjang kesakitan ini dan mendudukkanku di sisi kasur. “Dok, aku sudah sembuh! Aku bahkan bisa menendang Bayu seperti aku menendang penjahat itu kemarin, kau mau lihat?”
“Hah?? Kau berani mau menendangku dengan tendangan lemah itu?!” Mataku melihat Bayu sudah berdiri menatapku dingin.
“Sudah cukup!” Suara tegas dokter Stefan menghentikan lagi perdebatan kami.
Aku dan Bayu sama-sama diam sembari berusaha untuk tidak saling tatap.
“Bawa makanannya masuk.” Perintah pria di hadapanku ini.
__ADS_1
“Baik dok.” Jawab wanita paruh baya yang mendorong troli makanan.
“Suster Rini, tolong bawakan stetoskop dan thermometer, juga data cek up Icha ke sini.”
“Baik dok.” Jawab suster Rini berbalik begitu saja.
“Semuanya tolong bubar!” Terakhir, suara dokter Stefan membubarkan orang-orang yang menonton di ambang pintu.
Tidak ada suara di ruangan ini sampai wanita yang membawa troli meletakkan semua sarapan untukku di atas nakas dan dia keluar.
“Hatcihhh..” Aku tidak bisa menghentikan skala bersin ku.
Karena sekarang sudah tenang, aku bisa lebih merasakan bagaimana tenggorokkanku sakit karena demam juga kepalaku yang juga terasa pusing.
“Jelas kamu demam!” Dokter Stefan bergumam. Aku mendongak menatapnya dengan tatapan memohon.
Pandanganku teralihkan saat suara langkah kaki memasuki ruangan ini. Suster Rini sudah kembali dengan catatan cek up di pelukan tangan kirinya dan dua benda yang di minta dokter Stefan tadi di tangan kanan.
“Nah sekarang, kamu harus di periksa dulu. Sepertinya kau bersemangat sekali sampai bisa berdebat dengan anak itu.” Katanya dengan nada lembut seperti biasanya.
Aku tidak membantah dan hanya diam membiarkan dokter Stefan memeriksaku.
Sekarang tenagaku seolah menguap entah kemana, tubuhku terasa ingin segera di baringkan dan bahu kiriku juga mulai perih. Sepertinya aku terlalu mengabaikan gerakkanku tadi, seharusnya aku lebih hati-hati.
“Ayo berbaring.” Ucap suster Rini hendak membantuku berbaring tapi aku menggeleng cepat.
Posisiku masih duduk di sisi tempat tidur dengan kaki yang melayang di atas lantai. Keinginanku untuk pergi bekerja belum surut.
“Ini demam tinggi, kamu benar-benar tidak bisa keluar. Harus beristirahat total hari ini, kalau tidak tubuhmu akan semakin menjerit minta di istirahatkan.” Ucapan dokter Stefan membuat hatiku sedih.
“Jadi kau sudah cape, huh? Sekarang demam mu semakin tinggi, lebih cepat.” Bayu tiba-tiba saja sudah ada di sampingku dan telapak tangannya menyentuh keningku.
Aku mendelik menatapnya yang juga sedang menatapku dengan senyuman kemenangannya.
Apa yang dia rencanakan?
“Bagus! Sekarang kamu tidak bisa berangkat bekerja! Seperti yang aku rencanakan, usahaku untuk berdebat denganku sejak bangun tidur tadi menghentikanmu pergi bekerja. Tubuhmu melemah karena demam, jadi kamu tidak punya tenaga untuk kabur dari sini.”
Aku melotot tidak percaya, ternyata aku masuk dalam rencananya! Dia tega membuatku semakin sakit hanya untuk menghentikan aku pergi kerja?!
“Kau—“
“Bodoh! Di saat seperti ini seharusnya kamu tidak mengatakan rencananya pada Icha!” Dokter Stefan memukul kepalanya pelan dengan kertas cek up di tangannya.
__ADS_1
Sekarang aku merasa marah! Aku telah di bohongi!
Aku juga sedih karena rencana Bayu yang membuatku untuk kelelahan berhasil. Aku tidak kuat lagi untuk berdebat dengannya dan hanya bisa menunduk mulai terisak pelan.
“Bodoh! Bayu bodoh!! Hiikkss.”
“A—ahh dia menangis dok! Ya ampun, kenapa aku malah mengatakan rencananya tadi!”
“Cinta memang terkadang bodoh! Dia bisa membuat seorang Bayu yang biasanya genius dan cepat dalam membuat rencana malah terlihat bodoh menghadapi wanita. Astaga!”
“Hiks. Bayu Bodoh! Kenapa kamu harus memilih berdebat denganku! Kamu tahu kan aku menyukai pekerjaanku! Kamu juga tahu kan kalau akhir-akhir ini aku sudah sering absen! Kenapa kamu enggak mengalah saja!” Aku menangis sesegukan, tidak mempedulikan dokter Stefan dan suster Rini yang juga sedang menatapku.
Meskipun pandanganku buyar karena air mata yang mengumpul di pelupuk mataku, tapi aku bisa melihat Bayu yang sekarang hendak menyentuh wajahku.
Aku menghindari sentuhannya, tidak ingin dia menyentuhku!
“Icha..”
“Keluar! Aku enggak mau melihatmu! Hiks. Kamu egois!” Aku bergerak cepat naik ke atas ranjang kesakitan ini, lalu berbaring memunggungi mereka semua. Tidak menyadari kalau bahu kiriku justru tertekan karena posisiku ini.
“Nona Icha, hati-hati lukanya.” Suster Rini terdengar kaget tapi hatiku yang merasa sedih tidak menghentikan isakan tangisku.
“Rencanamu berhasil, sepertinya Icha tidak akan berangkat kerja dan kamu harus bertanggung jawab dengan membuatnya menghabiskan sarapannya, membuatnya berhenti menangis. Kalau tidak, tubuhnya akan semakin lemah.”
“Dok—“
“Cinta memang gila, Ck!” Aku mendengar suara dokter Stefan yang menjauh diikuti suara langkah kaki yang juga menjauhiku.
Tak lama, suara klik pertanda pintu tertutup terdengar, aku bisa merasakan kehadiran Bayu yang masih ada di belakangku.
“Icha—“
“Aku bilang keluar!! Kamu denger enggak?” Aku berteriak padanya, meskipun suaraku bergetar tapi aku tetap marah padanya.
Terdengar suara hembusan napasnya. “Baiklah, sekarang aku keluar dulu. Aku akan meminta surat izin dari dokter Stefan dan menyuruh seseorang mengantarkannya ke kantormu. Kamu tenangkan diri dulu.”
“Bayu bodoh! Bayu egois! Bayu brengsek! Hiks. Bayu jahat!” Aku memakinya, tidak peduli apa lelaki itu tersinggung atau tidak, yang jelas sekarang aku ingin melampiaskan kemarahanku padanya.
Pipiku basah, mataku bengkak dan hembusan napasku juga terasa panas. Di saat seperti ini, meski bahu kiriku yang tertahan terasa menyakitkan tapi tidak lebih menyakitkan di bandingkan dengan hatiku yang sedang bersedih ini.
...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE\, KOMEN\, VOTE DAN TAMBAHKAN DI FAVORITE KALIAN (^___^)