
Para pembaca tercinta, tolong sempatkan mendukung karya ini dengan vote, like, tambah favorit dan komennya ya agar penulis semangat!!
Author akan terus berusaha sebaik mungkin dengan tulisannya, membuat cerita yang menarik dan berbeda dari yang lain hingga menjadi ciri khas tersendiri.
Terima kasih sudah membaca (^___^)
\~\~\~
Hidung ku mencium aroma roti panggang yang di olesi mentega tepat ketika kelopak mataku perlahan terbuka. Hal pertama yang aku lihat adalah 2 sofa single yang berhadapan dengan pembatas meja di tengahnya, yang di letakkan di depan jendela besar kamar, tempat kemarin malam aku mengerjakan tugas kuliah.
Dengan cepat aku bangkit duduk dan hal itu mebuat kepalaku sakit, pandanganku berputar tapi hanya sesaat, karena setelah aku memejamkan mata sebentar, pandanganku kembali normal.
Aku menghela napas pelan sembari melirik jam dinding.
Jam dinding itu menunjukkan pukul enam pagi, di luar jendela langit berwarna kelabu dan matahari belum nampak sinarnya. Tidak ada siapapun di sini, sunyi seperti biasanya. Hanya detik jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Ketika telapak kakiku menyentuh lantai yang dingin, aku memutuskan untuk mendekati jendela, tempat kesukaanku jika ingin melihat ke halaman depan. Mataku hanya melihat satu mobil hitam yang kemarin di gunakan Bayu dan dokter Stefan.
Tiba-tiba aku mengingat tentang kejadian kemarin malam dan ingin segera mencari lelaki itu tapi aku memutuskan untuk ke kamar mandi dulu, membersihkan muka dan gosok gigi.
Aku keluar dari kemar mandi sepuluh menit kemudian setelah selesai memakai cream wajah dan sedikit liptint.
Sekarang tubuhku terasa baik-baik saja dan lebih segar, lalu hari ini aku harus kembali ke rumah. Banyak urusan yang harus aku selesaikan termasuk nasib pekerjaanku.
Langkahku perlahan menyusuri koridor lantai 2, sepi sekali dan aroma roti panggang yang sempat tadi aku cium berasal dari bawah, maka aku segera pergi menuruni tangga lalu masuk lorong menuju dapur yang berada di ujung lorong sembari mengawasi sekitar, menduga teman-teman Bayu akan menginap tapi sepertinya tidak ada siapapun selama aku melewati ruang depan dan ruang tamu.
BRUUKK!!
Aku meringis pelan karena keningku menabrak seseorang saat aku hendak berbelok masuk ke dapur. Aku memang tidak memperhatikan saat berbelok.
Namun aku merasakan sebuah tangan merangkul pinggangku, aku mendongak dan ternyata wajah Bayu sudah berada di hadapanku. Baru pertama kali ini aku melihat wajah segar dan polosnya khas bangun tidur, ada titik-titik air yang jatuh dari ujung rambutnya dan rambutnya juga masih basah.
“Bay—“
“Selamat pagi!” Lelaki ini langsung menarikku ke dalam pelukannya dengan sapaan lembut.
“Ohh, Pagi.” Balasku agak gugup dengan pelukan tiba-tibanya dan yang lebih membuatku tidak bisa bergerak saat bibirnya menyentuh pipiku. Dia mengecup pipiku singkat lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Apa kau lapar? Sepertinya kau terburu-buru barusan.”
“T—tidak!! ak—kuu..” Aku tidak bisa meneruskan ucapanku, seolah pikiranku berubah kosong.
Aku jadi lupa apa yang ingin di katakan!
Bayu tersenyum kecil melihat reaksiku dan sekali lagi dia mengecup kedua pipiku bergantian. Jantungku berdetak sangat cepat dan aku refleks mendorongnya mundur.
“Ada apa? Apa yang terjadi dengan Bayu?!”
“Apa??”
“Kenapa kamu tiba-tiba menciumku?” Aku menyentuh kedua pipiku, dan itu terasa panas.
“Apa tidak boleh?” Bayu berubah cemberut.
“T—tapi bukankah kemarin kau sepertinya sedang kesal padaku? Aku rasanya ingat kau—“
“Aku memang marah kemarin, tapi itu karena aku yang tidak peka dengan keadaanmu. Dan aku juga memikirkan sesuatu, bahwa kamu belum pernah menjawabku tentang satu hal.” Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
“Apa?”
“Tunggu sebentar.” Bayu berlari keluar dari dapur, memasuki pintu yang tertutup di samping ruang tamu.
Selagi menunggunya, aku mencoba melihat-lihat isi lemari dapur, berniat ingin membuatkan lelaki itu sarapan dan ternyata sudah ada dua potong roti berada di dalam pemanggang roti.
Aroma sabun mandinya langsung tercium. Saat aku berbalik dia segera mengangkatku untuk duduk di meja counter dapur agar aku menyamai tingginya.
Tidak bisa di pungkiri sekarang aku gugup dengan tingkahnya ini.
“Apa kamu demam?” Aku menyentuh keningnya tapi Bayu hanya menggeleng dan tetap menatapku. Tubuhnya
sudah sangat dekat, matanya tidak lepas menatap langsung ke mataku, tangan kanannya terangkat untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipiku dan merapihkannya, menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
“Semakin di pikirkan aku selalu tidak menemukan timing yang cocok tapi—“ Kedua tangannya tiba-tiba membuka kotak kecil beludru berwarna merah di hadapanku yang benar-benar membuatku mematung dan menahan napas.
Kegugupan seketika menguasaiku dan jantungku berdetak cepat.
“Menikahlah denganku.”
Ada cincin berwarna perak di dalamnya, dengan batu berlian bening kecil berwarna biru yang bercahaya di tengahnya, menempel di dalam badan cincin. Terlihat simpel tapi kilauannya sangat indah.
Bibirku kaku tidak bisa bergerak dan aku mendongak menatapnya yang sedang menunggu jawabanku juga.
__ADS_1
Tiba-tiba kilasan kenangan antara aku dan dia sejak kecil hingga sekarang berputar seperti roll film dalam ingatanku.
Meskipun kami pacaran sekarang, tapi aku belum sampai memikirkan hal seperti ini.
Astaga jantungku semakin berdetak kencang melihat perubahan raut wajah Bayu yang cemberut nya di buat-buat karena belum mendengar jawaban dariku.
Seketika tubuhku seperti di ambil alih dan aku mengangguk pelan padanya.
Bayu langsung tersenyum lebar lalu dia memasang cincin itu pada jari manis tangan kiriku.
“Aku akan mengajarimu caranya bernapas.” Ledekkan menyebalkannya kembali lagi.
Aku merenggut kesal dengan wajah yang semakin memanas.
“Tapi ada apa dengan timingnya?” Tanyaku masih tidak mengerti ada ide dari mana dia pagi-pagi seperti ini melamarku? Terlebih di dapur ddengan dia yang baru seleesai mandi dan aku yang bahkan belum mandi!!
“Kehidupan akan lebih berharga karena adanya kematian. Aku di sadarkan akan hal itu setelah melihatmu berdarah-darah kemarin malam. Meskipun kau ada di sini, di rumah dengan keamanan yang tinggi sekalipun tapi kita tidak tahu sampai kapan kita akan hidup. Maka dari itu, aku tidak akan menunda lagi. Aku ingin segera memilikimu seutuhnya.”
Tidak! Ini tidak baik untuk jantung lemahku! Dia mengatakan semua itu dengan menatapku serius namun suaranya yang lembut seolah membuaiku
“Sebenarnya aku sudah menyiapkan cincinnya sebelum kejadian di desa itu, tapi aku benar-benar tidak pernah mendapatkan timing yang tepat dan aku juga tidak pandai mengadakan kejutan.”
“Di helicopter, kau juga memintaku menikah 2 kali! Apa saat itu semacam latihan untuk hari ini?” Bayu tertawa kecil, lensa matanya yang hitam menatapku dengan pancaran penuh sayang.
“Bahkan dengan latihanpun, kau masih saja lupa caranya bernapas.”
“Jangan meledekku!!” Aku memekik kesal memukul tangannya yang justru membuat tawanya semakin pecah.
Tidak bisa di pungkiri, aku sangat senang bisa melihatnya tertawa. “Tapi aku juga yang tidak memberitahumu keadaanku kemarin malam karena aku tidak ingin membebanimu terlalu banyak. Kau sudah melakukan banyak hal untukku.”
Tawanya terhenti dan perasaan sedih ini tiba-tiba memenuhi hatiku, tiba-tiba mataku sudah berair.
“Aku benci ini, aku selalu memperlihatkan sisi lemaku.”
Bayu langsung memelukku, mengusap puncak kepalaku dan punggungku dengan lembut. Mataku yang sudah memanas akhirnya tidak bisa di tahan untuk tidak terisak pelan.
“Terima kasih karena sudah memilihku.” Bisikku pelan dan bergetar.
“Tidak! Sejak awal aku tahu kau yang di takdirkan untukku. Aku tahu kau lah tulang rusukku yang hilang.” Ucapnya terdengar manis.
Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya, menangis pelan di bahunya. Perasaan bahagia dan sedih ini bercampur hingga rasanya sulit untuk di jelaskan. Yang pasti aku benar-benar bersyukur tuhan mempertemukanku dengan lelaki ini.
“Aku akan mengajakmu ke luar. Kita akan membeli bahan makanan karena teman-temanku akan datang ke sini, dan lagi Benny berhutang permintaan maaf padamu.” Aku melepaskan pelukannya, telapak tangan Bayu yang terasa sejuk menyentuh pipiku untuk menghapus jejak air mata di sana.
__ADS_1
\~\~\~