
...
Seorang pria dengan pakaian serba hitam, kepalanya yang tertutup topi dan ia memakai masker juga tengah menatapku. Kami sama-sama kaget, diam.
Apa di rumah sakit ini ada pencuri? Ya ampun aku tidak pernah membayangkan harus bertemu dengan pencuri.
“Ohh kau ternyata.” Suara itu, terdengar familiar.
Lelaki jangkung ini berjalan menghampiriku, aku yang terlalu kaget seolah kakiku di pakaikan lem, aku tidak bisa bergerak.
“Padahal aku akan berkunjung ke kamar inapmu. Tidak menyangka akan bertemu di sini.” Dia membuka maskernya, sekarang aku bisa mengenali wajah menyebalkannya.
“REY!!”
“Wah wah wah.. Kau ternyata sangat senang bertemu denganku.” Pria yang memberiku racun itu sekarang ada di
hadapanku. Kenapa aku harus bertemu dengannya di jam 3 pagi seperti ini?? Apa dia akan memberiku lagi racun? Memaksaku untuk mengatakan semua hal tentang Bayu?
“Jangan mendekatiku!!”
“Sepertinya kamu baik-baik saja dan ternyata --gadis yang di pilih Bayu cukup kuat juga.”
“Apa?!” Aku melotot marah padanya, antara tidak terima dengan niatnya yang seolah memberiku racun adalah hal yang baik, atau aku marah padanya karena apa yang dia katakan sebenarnya menjadi pengharapanku? 'Gadis yang di pilih Bayu'.
“Jika kamu ingin bertemu denganku hanya untuk informasi tentang Bayu, lupakan! Aku tidak tahu!”
Lelaki yang kini hanya berjarak satu meter di hadapanku ini tampak menatap wajahku intens, seolah tidak ingin ada
yang di lewatkan. Aku menelan saliva susah payah, apa dia akan melakukan hal buruk?
Oh sial!! Sekarang aku merasa trauma bertemu dengannya. kedua tanganku yang tersembunyi di belakang punggung bergetar pelan. Jantungku berdetak lebih cepat. Bukan berdetak karena jatuh cinta padanya, tapi karena aku benar-benar takut sekarang.
Rey kembali melangkah mendekatiku perlahan tanpa mengalihkan pandangannya pada wajahku. Aku yang gugup perlahan melangkah mundur hingga aku menyentuh tembok pembatas.
“Wajahmu masih pucat—“
“Menyingkir!” Aku berhasil berlari melewatinya tapi belum sempat aku sampai di pintu, sebuah tangan melingkari perutku dari belakang dan menarikku cukup keras hingga punggungku membentur dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya di bahuku.
__ADS_1
Tidak! ini terlalu dekat! Aku tidak mau. Aku tidak mau merasakan sakit itu lagi, sakit karena racun yang dia berikan.
“Lepas!!”
“Ssst… Jangan berisik!” Dia menarikku dengan cepat ke belakang tumpukan kardus di sudut. Aku tidak sadar ada kardus di sana. Rey mendorongku ke tembok dan menutup mulutku dengan tangannya. Wajahnya sangat dekat sekali, dia menatapku sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir, pertanda aku tidak boleh berisik.
Aku yang tidak tahu apa yang terjadi mendengar beberapa suara langkah kaki di dekat kami. Itu pasti tim keamanan rumah sakit, mereka sedang mencari Rey.
Mungkin bukan keberuntunganku, pria-pria yang mengejar Rey berlalu begitu saja tanpa memeriksa di belakang tumpukan kardus ini. sekarang napasku sudah habis, lelaki ini terlalu kuat menutup mulutku.
Aku memukul tangannya, berharap dia melepaskannya. Rey yang sadar dengan pukulan kecilku langsung melepaskan tangannya. Aku segera meraup udara sebanyak-banyaknya sembari menatapnya marah.
“Kita harus bicara.”
“APA?!” Disaat seperti ini dia masih ingin mengajakku berbicara??
“Tidak di sini.” Aku tidak tahu kapan Rey mempersiapkan semuanya, dia melemparkan seutas tali yang sudah terikat kuat di besi di dekatnya. Kemudian dia memakaikan carabiner di celananya. Semuanya begitu cepat dan dia menarikku hingga sekali lagi keningku menabrak dadanya.
Sekuat tenaga aku mendorongnya untuk menjauh, tapi tangan kirinya yang kokoh sudah melingkar di pinggangku. Dia menatapku tajam yang mau tak mau membuatku menatapnya juga.
“Aku hanya ingin bicara. Sekarang diam—“
Rey menutup mulutku sangat kuat dengan tangannya, teriakkanku berhasil karena aku mendengar langkah kaki sepatu perlahan mendekat. Namun, sebelum mereka sampai, tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang dan angin berhembus sangat kencang.
Aku menjerit ketakutan ketika Rey membawaku terjun bebas menggunakan tali yang tadi ia siapkan. Aku memeluk keras pinggang lelaki ini karena aku menyadari bahwa aku tidak memakai pengaman apapun. Hanya tangannya yang menahanku.
“APA YANG KAMU LAKUKAN!!”
“INI HUKUMAN KARENA KAMU BERTERIAK TADI!!”
Jantungku rasanya jatuh ke perut. Aku tidak habis pikir lelaki ini sangat berani melakukan semua ini. Tepat saat kakiku merasakan menyentuh rumput, aku jatuh terduduk dengan tubuh bergetar hebat.
Keringat membasahi wajahku. Aku ingin berlari menjauhinya tapi aku tidak bisa. Kakiku seolah seperti jelly, aku tidak sanggup. Jantungku masih berdetak tidak karuan.
Perlahan aku mendongak melihat dari mana tadi kami terjun dan aku semakin meringis ketakutan menyadari kami mungkin saja terjun dari lantai sepuluh.
“Ck. Ini tidak seberapa tinggi. Kau beruntung karena tidak berada di lantai paling atas.” Lelaki gila ini justru tertawa kecil sembari berjongkok menatapku.
__ADS_1
Dengan sisa tenaga yang ada, aku mendorongnya untuk menjauh tapi lagi-lagi itu tidak apa-apanya. Tubuhnya tidak goyah sama sekali.
“Seharusnya tadi aku mengambil foto, bagaimana kamu memelukku sangat erat.”
“Brengsek!!” Aku terisak pelan, tidak tahan lagi menghadapinya. Sekarang aku semakin takut menemuinya.
Belum sempat aku mengumpulkan kembali tenagaku, dia tiba-tiba menarikku untuk berdiri dengan kedua tangannya memegangi pinggangku. Dia melakukannya sangat mudah seolah aku adalah boneka. Benar-benar brengsek!
“Berhenti menyentuhku!!” Aku menyentakkan kedua tangannya itu, masih menatapnya tajam. Jika tatapan bias membunuh, dia pasti sudah mati dari tadi.
Rey mengangkat kedua tangannya dengan senyum menyebalkannya. Aku yang belum bisa berdiri tegak akan terjatuh lagi tapi lagi-lagi dia menahanku. Sekarang kedua tangannya sedang memeluk bahuku. Aku merasakan dagunya berada di atas kepalaku.
Apa-apaan ini?! Dia mencari kesempatan dengan memelukku seperti ini.
“Bagaimana keadaanmu? Racun itu menyusahkanmu ‘kan? Aku tidak menyuruhmu menyuntikkannya.”
Hei, kenapa suaranya itu? Kemana nada marahnya seperti kemarin lusa? Sekarang suara lembutnya menggelitik telingaku. Aku merasa geli dan jijik mendengarnya. Memangnya dia pikir ini di drama roman picisan? Ketika penjahat bersikap manis seperti ini dan gadis polos akan jatuh cinta padanya??
Ck.. Membosankan!
Kaki kananku dengan keras menendang kakinya dan berhasil membuatnya melepaskan pelukan. Rey merintih kesakitan di hadapanku. Tapi entah mengapa aku yakin reaksinya hanya akting, tidak mungkin dia kesakitan begitu saja.
Belum sempat dia mengeluarkan makiannya padaku, tiba-tiba Rey berbalik cepat dan semuanya terjadi begitu saja. Dia sedang menghindari pukulan orang di belakangnya. Aku segera mundur cepat dan mendapati seorang pria jangkung berusaha memukul Rey.
Suasana taman rumah sakit ini remang-remang oleh cahaya, aku hanya bisa melihat siluet dua lelaki yang sedang saling pukul di hadapanku. Memukul, menghindar.
Aku masih tidak percaya apa yang terjadi, biasanya aku menemukan semua adegan ini di dalam film atau novel tapi sekarang aku merasakannya sendiri. Keduanya tampak sengit menghadapi satu sama lain, aku menduga Rey mendapati lawan yang sepadan.
Tapi melihat dari cara berdiri dan postur tubuh lawan Rey, aku bisa menebak itu adalah--
“Bayu?!!” Benar, itu adalah Bayu. Akhirnya, Rey bertemu dengan Bayu setelah lelaki brengsek itu menggangguku. Karena tidak ingin menganggu urusan mereka, aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk pergi
dari sana.
Aku bukan karakter di film aksi yang akan melihat pertarungan mereka. Aku harus segera kabur dari mereka berdua. Aku yang menyeret kakiku susah payah perlahan mulai menjauhi mereka.
“ARRGGHHHH!!” Aku sangat kaget saat seseorang menarik leherku dari belakang, mengunciku agar aku tidak bergerak.
__ADS_1
Tak jauh di hadapanku, aku bias melihat bagaimana Bayu tengah mengacungkan pistolnya padaku. Dan aku merasakan Rey brengsek ini menempelkan ujung pistolnya di sisi kepalaku.
...